Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 124 (Gara-gara Noni)


__ADS_3

Keesokan harinya, aku bangun untuk menyiapkan kemeja Naufal, tumben Abay belum terbangun, padahal biasanya dia sudah terbangun.


Selesai Naufal mandi, dia langsung menghampiri Abay dan mengecup keningnya.


"Tumben Abay belum bangun Sayang," ucapnya.


"Biarin aja Mas, nanti dia bangun," kataku.


"Kamu jaga Abay bentar, aku mau mandi dulu," tuturku.


.


.


.


.


.


Selesai aku mandi, aku, Abay dan Naufal langsung turun untuk sarapan.


***(Di Ruang Tamu)


"Tumben Mbak, Dek Abay masih tidur," kata Bi Sarah.


"Iya Bi, dari tadi udah di uyel-uyel sama Mas Naufal tapi nggak bangun-bangun cuman matanya kebuka terus tidur lagi," ucapku.


"Semalem nangis terus Bi soalnya, Gia sama Naufal sampe kuwalahan," sahut Naufal.


"Waduh nggak bangunin Bibi aja Mas," kata Bi Sarah.


"Enggak Bi, ganggu nanti," kataku.


Kami segera menyantap hidangan sarapan pagi.


Selesai sarapan, Naufal langsung berpamitan padaku untuk pergi bekerja.


"Aku kerja dulu ya, kamu jaga Abay di rumah," ucap Naufal sambil mengecup keningku.


"Iya Mas, kamu jangan ngebut-ngebut," kataku.


"Iya Sayang, Assalamu'alaikum," pamitnya.


"Wa'alaikumsalam," jawabku.


Naufals segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke luar gerbang.


Aku kembali masuk ke kamar.


***(Di Kamar)


Aku memaksa Abay agar dia terbangun, karena dia harus segera di mandikan oleh Bi Sarah.


Tok....tok.....tok.


"Mbak Gia," panggil Bi Sarah dari depan pintu kamar.


"Masuk aja Bi," kataku.


Gleeekkk...


Bi Sarah membuka pintu kamarku.


"Abay belum bangun Bi," ucapku sambil menggoyangkan pipi Abay.


"Sini Mbak biar di gendong sama Bibi," ucap Bi Sarah.


Ku serahkan Abay pada Bi Sarah.


Tiba-tiba hatiku terdoronh untuk curhat pada Bi Sarah.


"Bi," panggilku padanya.


"Iya Mbak?" jawabnya.


"Salah nggak ya Bi, kalo Gia cemburu sama Mas Naufal," ucapku yang sangat terpaksa.


"Mbak Gia cemburu?? Memangnya Mas Naufal kenapa Mbak?" tanya Bi Sarah sambil memandikan Abay.


"Yaaaa kadang Gia cemburu aja Bi lihat Mas Naufal sama Noni sama Mamanya," jawabku.


"Tapi kan Noni anak yatik ya Bi, terus Mas Naufal juga dikasih amanah sama sepupunya itu," kataku.


"Kenapa ya Bi ya?" tanyaku pada Bi Sarah.


"Mbak Gia nggak salah, mungkin jika Bibi di posisi Mbak Gia pasti Bibi juga gitu Mbak, kadang Bibi juga lihat kedekatan Noni sama Mas Naufal lengket banget," ucapnya.


"Itu Bi yang buat Gia nggak nyaman, padahal kan Mas Naufal sekarang sudah punya Abay Bi," kataku.

__ADS_1


"Ah nggak papa Mbak, Mbak Gia jangan sungkan-sungkan sama Bibi, Mbak Gia selalu gitu, nggak mau cerita sama siapa-siapa," tutur Bi Sarah.


"Hehem Bibi tau aja," kataku.


Aku merasa lega sedikit cerita pada Bi Sarah, meskipun sebelumnya aku masih ragu karena hal seperti sangat membuatku tidak nyaman, karena aku tipikal orang yang tidak mudah percaya pada seseorang.


.


.


.


.


.


.


.


Siang harinya, setelah aku sholat, aku merasa rindu dengan Naufal. Aku mencoba untuk menghubunginya via video call.


Tut....tut....tut....


"Assalamu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikumsalam," jawabnya.


"Tumben Sayang kamu video call aku," ucapnya.


"Nggak papa, tiba-tiba aku pengen aja video call kamu, emangnya nggak boleh," kataku.


"Ya boleh lah Sayang, Abay mana?" tanyanya.


"Abay di," kataku teralihkan oleh Naufal karena sedang ada yang memanggilnya dan sepertinya itu pasti Noni karena memanggilnya Uncle.


Aku langsung mematikan video callku pada Naufal.


"Aku yakin, pasti itu Noni sama Mamanya," gumamku dalam hati.


"Mereka kenapa ya kesana?" tanyaku dalam hati.


Pikiranku semakin tidak tenang karena mendengar suara Noni tadi.


Berkali-kali aku juga melihat ponselku barangkali dia menelepon ku balik.


"Mbak Gia nggak salah, mungkin jika Bibi di posisi Mbak Gia pasti Bibi juga gitu Mbak, kadang Bibi juga lihat kedekatan Noni sama Mas Naufal lengket banget," ucapnya.


"Itu Bi yang buat Gia nggak nyaman, padahal kan Mas Naufal sekarang sudah punya Abay Bi," kataku.


"Ah nggak papa Mbak, Mbak Gia jangan sungkan-sungkan sama Bibi, Mbak Gia selalu gitu, nggak mau cerita sama siapa-siapa," tutur Bi Sarah.


"Hehem Bibi tau aja," kataku.


Aku merasa lega sedikit cerita pada Bi Sarah, meskipun sebelumnya aku masih ragu karena hal seperti sangat membuatku tidak nyaman, karena aku tipikal orang yang tidak mudah percaya pada seseorang.


.


.


.


.


.


.


.


Siang harinya, setelah aku sholat, aku merasa rindu dengan Naufal. Aku mencoba untuk menghubunginya via video call.


Tut....tut....tut....


"Assalamu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikumsalam," jawabnya.


"Tumben Sayang kamu video call aku," ucapnya.


"Nggak papa, tiba-tiba aku pengen aja video call kamu, emangnya nggak boleh," kataku.


"Ya boleh lah Sayang, Abay mana?" tanyanya.


"Abay di," kataku teralihkan oleh Naufal karena sedang ada yang memanggilnya dan sepertinya itu pasti Noni karena memanggilnya Uncle.


Aku langsung mematikan video callku pada Naufal.


"Aku yakin, pasti itu Noni sama Mamanya," gumamku dalam hati.

__ADS_1


"Mereka kenapa ya kesana?" tanyaku dalam hati.


Pikiranku semakin tidak tenang karena mendengar suara Noni tadi.


Berkali-kali aku juga melihat ponselku barangkali dia menelepon ku balik.


"Iya Si gak papa, seneng banget aku malah ada kamu disini," kataku.


Kami bercerita cukup lama.


Dan akhirnya hari semakin sore, Bi Sarah segera memandikan Abay.


"Si aku mandi dulu ya," kataku.


"Kamu kalo mau mandi gak papa mandi aja," ucapku padanya.


"Enggak Gi, aku nanti mandi di rumah aja, bentar lagi Mas Bastian pasti nyampek sini," jawabnya.


"Ya udah aku tinggal ke atas dulu ya," pamitku.


Aku segera berjalan menaiki anak tangga untuk ke kamar dan bergegas mandi.


Aku terus kepikiran tentang Mama Noni dan Noni yang menghampiri Naufal tadi.


"Mereka ada apa sih sebenarnya?" tanyaku dalam hati.


.


.


.


.


.


Aku tidak berlama-lama untuk mandi, karen ada Susi di bawah.


Setelah selesai mandi dan sholat, aku kembali turun menemui Susi.


Tampaknya di Ruang Tamu sudah ada Pak Bastian dan juga Naufal.


"Gi, aku pamit pulang ya," kata Susi yang berdiri bersamaan dengan Pak Bastian.


"Loh kok langsung pulang," ucapku.


"Hehehem, iya Gi nanti keburu malam, soalnya mau ada acara," jawab Susi.


"Oh gitu ya udah, makasih ya udah jagain Abay tadi Si," kataku.


"Ah gak papa Gi," ucap Susi.


Aku mengantarkan mereka ke depan Rumah dan melihatnya sampai mobil mereka melaju keluar dari gerbang Rumah.


.


.


.


.


.


***(Di Kamar)


Ku siapkan air untuk Naufal.


"Dari tadi Susi disini Sayang?" tanya Naufal sambil melepas kemejanya.


"Iya," jawabku singkat.


"Tumben dia kesini?? Ada apa??" tanyanya lagi.


"Cuman pengen aja," jawabku singkat.


Naufal sepertinya merasakan ada yang berbeda dariku, dia berjalan menghampiriku dan berdiri di belakangku.


"Kamu kenapa Sayang cuek gitu sama aku?" tanyanya.


"Enggak, siapa yang cuek, perasaan kamu aja kali," jawabku.


"Aku itu tau kamu, kamu marah, kamu sedih, kamu cuek, kamu ngambek, aku itu tau semua Sayang," ucapnya.


"Kamu kalo nggak mandi keburu airnya dingin," kataku mencoba mengalihkan pembicaran.


Tetapi Naufal malah menarik tanganku, dan aku pun jatuh dalam peluknya.


Deg deg....deg deg....deg deg

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2