
"Aku nanya Gi, bukannya marah emang gini kan muka aku," ucap Naufal.
"Teruskan waktu itu ujian nya tuh dicepetin jadi otomatis aku sering ketemu sama orang nya, dan ternyata lama kelamaan aku ngerasa beda sama Pak Kevin ini, kayak ada yang beda aja gitu Mas, terus juga banyak kejadian-kejadian sih diantara kita tuh, banyak yang jodohin juga apalagi Pak Kevin itu dosen super duper incaran mahasiswa di kampus aku dulu," kataku.
"Terus gimana lagi?" tanya Naufal singkat.
"Abis itu ada tuh waktu dia kayak nya lagi marah sama aku, eh tau-taunya waktu aku pulang ke kos, dia beliin aku es krim sama cofee latte Mas, itu minuman kesukaan aku banget, herannya kok dia tau minuman kesukaan aku," ceritaku pada Naufal.
"Habis itu ya gitu deh berhari-hari makin lama makin dekat aja kan kita cuma dekat, cuma DM aja gitu lewat IG," kataku lagi.
"Terus lama-lama kamu jadian sama dia, kamu suka sama dia," kata Noval bertubi-tubi.
"Dengerin aku dulu, jangan komen dulu, aku males nih malah ceritanya," rengek ku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Ya udah iya iya, tuh ngambekan kamu nih," kata Naufal.
Ku lanjutkan ceritaku lagi pada Naufal yang semakin memanas.
"Abis itu tuh orangnya bilang kayak nge-dm aku tapi udah beda bukan lagi posisi dosen sama mahasiswanya, terus beliau juga sempat bilang sama aku kalo beliau cinta sama aku waktu di mobilnya, terus kan aku bilang kita ini beda, anda dosen dan aku hanya mahasiswa jadi nggak mungkin kan Mas, jawabku gitu kan,"
"Terus aku sempet sih sempet mikir gini, bahwa kalo Pak Kevin itu tipe Papa aku banget, idah pinter, pendiamz rajin ibadah gitu-gitu deh pokoknya, otomatis wajar dong aku sebagai seorang wanita kagum sama beliau, ingat loh aku hanya kagum sama beliau !! Aku nggak jatuh cinta sama beliau soalnya kan pikirku gini Mas, Aku berusaha nahan banget buat jatuh hati sama seseorang ya karena apa? kalo aku simple karena aku udah dijodohin sama pria pilihan Papa aku, jadi aku nggak mungkin mengkhianati permintaan Papa aku," kataku.
"Ya udah deh, akhirnya setelah beliau nyatain perasaannya sama aku, dan aku cuman bilang sama beliau kalo aku hanya sekedar kagum sama beliau, ada satu kejadian tuh pokoknya kita udah nggak kontekan lagi, aku blok semua akun beliau, karena emang mungkin udah kondisinya kali ya, pacar Pak Kevin datang otomatis Aku kecewa dong Mas, masak iya beliau udah bilang gitu ke aku, tapi beliau udah punya pacar emang aku cewek apaan," kata ku dengan sangat ekspresif.
"Jadi gitu deh ceritanya," kataku dengan lega.
"Terus kalo kamu gimana Mas? sama Vela dulu, kok kamu bisa sahabatan sama lawan jenis gitu sih," ucapku yang sedikit mengejeknya.
"Ya nggak tau Gi, semuanya tuh ngalir," jawab Naufal.
"Dulu tuh, kan dia satu sekolah sama aku, dia kan dari luar negeri habis itu kan aku kasihan gak ada yang kenal sama dia, terus ada lagi yang ngebuat aku makin kasihan sama dia tapi kasihannya kenapa aku lupa, apa lupa banget, dulu kan kita tuh sering satu kelompok gitu loh, dia anaknya pinter juga kan jadi aku sekalian sama belajar belajar sama dia, ternyata kita semakin dekat makin sahabatan aku deket banget sama Neneknya juga, karena dia kan tinggal di sini sama Neneknya jadi aku berangkat dan pulang sama dia soalnya aku kasihan dia kan cewek terus banyak yang gangguin dia juga di sekolah, gitu deh setiap kali aku ulang tahun pertama kali aku dikasih kado jam tangan sama dia Gi, kan aku ngrasa wah anak ini perhatian banget sama aku, soalnya kan sebelumnya aku belum pernah di perlakukan kayak gitu sama cewek," cerita Naufal.
"Tunggu-tunggu!! Jangan-jangan jam tangan yang kamu pakai biasanya ya Mas," tebak ku.
"Kamu jangan marah bukan maksud apa-apa lagi Aku pakai jam tangan pemberian dari Vela, tapi emang itu tuh limited edition dan aku hanya punya jam tangan yang model gituan tuh hanya itu lagian itu model favorit aku Gi udah nunggu bertahun-tahun aku nya," penjelasan Naufal.
"Kok kamu gitu sih Mas, aku udah ceritain semua tentang Pak Kevin sama kamu, kok kamu gitu sih jahat banget tau nggak, katanya iya iya udah ngelupain Vela tapi barangnya masih kamu simpan, secara kamu masih ingat dia Mas, ah kamu nggak asik banget, nggak nyangka aku ya Mas," kata aku sedikit emosi.
"Aku mau bilang sama kamu gitu, tapi belum waktunya aja aku takut di saat kita bahagia kayak gini kita berantem lagi aku nggak mau," rengek Naufal seperti anak TK.
"Pokoknya mulai besok sampai selamanya Aku minta sama kamu jangan pakai jam tangan pemberian dari Vela, kamu apa-apaan sih kayak nggak punya jam tangan lainnya aja males aku," ucapku agak ngambek.
"Ya ampun Gi, iya iya besok pasti aku bakalan biang kok demi kamu lho ini limited edition jam kesukaan aku," ucapnya yang sepertinya gemas padaku dan ingin menerkam ku.
"Ya udah kamu tinggal pilih jam tangannya Vela apa aku," ucapku padahal dalam hatiku telah menertawakannya.
"Ya pilih kamu lah Gi, iya iya aku besok bakalan buang jam tangan itu," kata Naufal.
"Aku lanjut nggak nih ceritanya," ucap Noval padaku.
"Ya lanjut lah, orang Aku kepo banget," jawab ku.
"Teruskan kita sahabatan, sering-sering makan bareng, keluar bareng, nonton bareng, nge game bareng, dan rasa itu tiba-tiba tumbuh gitu Gi, ya Aku kagum banget sama cewek ini udah pintar, mandiri, nggak mau ngerepotin orang lain, mungkin aku kagumnya dari itu sih Gi," lanjut cerita Naufal.
"Tapi kamu kok bisa cinta sama dia?" tanyaku yang semakin kepo.
"Dia wanita pertama yang kamu cintai ya Mas," tanyaku lagi.
"Eemmm bisa jadi sih Gi, dia wanita pertama yang membuatku jatuh cinta setelah Mama aku, kan dulu kau udah pernah bilang sama kamu," kata Naufal sambil melihat ke atap-atap plafon kamar.
__ADS_1
Hatiku sedikit menciut setelah mendengar perkataan Naufal.
"Gitu ya, kalo aku sih nggak ada soalnya bagi aku cinta itu hanya datang sekali, pada Papaku aja," kata ku ganti membuat ciut hatinya.
"Loh, terus aku apa?" kata Naufal panik.
"Ya setelah Papa aku, kamu nomor dua, wkwkwk," kata ku menertawakan Naufal.
"Lanjut-lanjut, maaf, wkwkwk," kataku.
"Dia tuh dulu perhatian banget sih sama aku, setiap pagi nih aku selalu dibawain sandwich terus kita makan ke kantin bareng, pulang sekolah kita belajar bareng, tapi akhirnya dia pergi sebelum aku ungkapin perasaan aku ke dia," ceplos Naufal tanpa sadar.
"Indah ya Mas, indah banget, aku bisa rasain jadi kamu betapa sakitnya kamu waktu itu tapi apa kamu pernah mencoba di posisi aku sebagai orang ketiga dalam lingkup kisah cinta kamu dan Vela," ceplos ku juga tanpa sadar.
"Gi Gi, Aku nggak bermaksud buat nyakitin hati kamu loh, ini sumpah aku cuman cerita, lagian aku kebawa suasana aja tapi beneran aku udah nggak punya perasaan apa-apa lagi sama Vela," kata Naufal membela diri.
"Nggak apa-apa Mas, tapi sama sekali nggak mungkin kalo kamu nggak punya perasaan apa-apa lagi sama Vela, dari 100% pasti masih ada 15% nya karena dia cinta pertama kamu, andai saja Papa aku tidak memilihmu menjadi pria pilihannya, apakah kamu sekarang akan menikah dengan Vela dan tidak akan pernah ada disampingku," kataku ngaco.
"Mungkin aja Gi, bisa jadi," kata Naufal dengan santai.
"Tapi kenapa kamu mau dan menerima perjodohan dari Lapa aku sama Papa kamu," ucapku.
Naufal diam tidak menjawabnya.
"Mas jika nanti kamu sudah tidak dapat mencintaiku, dan kamu terpaksa untuk mencintaiku, kamu bilang ya, aku akan siap menerima semua itu," ucapku yang sebenarnya agak berat.
"Nggak Gi, aku bakalan gini terus sama kamu," bantahnya sambil memeluk ku manja.
"Maaf ya Mas jika aku memaksamu untuk mencintaiku," ucapku sambil menoleh dan tersenyum padanya.
"Aku bakal bayar semuanya ke kamu Fal, Aku bakal usahain apapun demi kebahagiaan kamu, karena kamu udah mampu mencintaiku," ucapku dalam hati.
"Siapa Mas malam-malam telepon kamu?" kataku.
"Nggak tahu Gi, coba aku angkat," ucap Naufal sambil meraih ponselnya.
"Halo Assalamu'alaikum," salam Naufal.
"Mas speaker dong biar aku kedengeran," ucapku.
Noval langsung menuruti permintaanku.
"Wa'alaikumsalam Nak Naufal, masih ingat sama Tante, Tante Mamanya Vela, ini Tante Firly," ucap wanita dalam ponsel Nauval.
Aku bingung dan masih ingin memahami maksud ini semua.
"Iiii iya Tante ini saya Naufal, ada apa ya Tante tumben Tante telfon saya udah sekian lama, dan masih ingat sama saya," kata Naufal.
"Apa kabar Fal? lama nggak ngobrol sama kamu," kata Tante Firly.
"Alhamdulillah baik Tante," jawab Naufal.
"Fal, Tante mau tanya, kamu lagi sama Vela nggak?" tanya Tante Firly.
"Kamu pasti jagain Vela di Indonesia kan, seperti janji kamu dulu," kata Tante Firly.
"Tapi Tante," ucap Naufal yang bingung.
"Soalnya dari tadi Vela nggak bisa di hubungi sama Tante, jadi Tante nelfon kamu, barangkali Vela sama kamu sekarang," kata Tante Firly.
__ADS_1
"Tapi Tante, Naufal sudah ," ucap Noval terpotong oleh Tante Firly.
Tut..tut..tut.
Tiba-tiba panggilan dari Tante Firly terputus.
"Halo Tante, halo?" ucap Naufal yang tanpa balasan.
Aku memandang Naufal lama.
"Ya Allah ada apa lagi ini, apakah memang Mas Naufal bukan jodohku, telah banyak masalah yang kita lalui Ya Allah," kataku dalam hati sambil memandangnya.
"Kamu pernah janji apa Mas sama Mamanya Vela," kataku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gi, aku nggak janjiin apa-apa sama dia, aku cuman bilang kalo, kalo aku bakalan jagain Vela itu aja nggak lebih," ucap Naufal.
"Kamu yakin cuma bilang gitu sama mereka," ucapku lagi.
"Iya Gi, aku yakin banget emang dulu aku deket sama Mamanya Vela ini, aku cuma janji itu doang kok aku nggak janji yang aneh-aneh sama Tante Firly," kata Naufal membela diri.
Aku meneteskan air mataku kembali hanya untuk pria satu ini.
"Mas apa memang ini takdir kita ya, apa memang kita nggak berjodoh, apa aku saja yang terlalu memaksa di sini sehingga keadaan semakin rumit," kata ku menyalahkan diriku sendiri.
Naufal meraih kedua pipiku.
"Gia Sayang, enggak, kamu nggak salah di sini, kita berjodoh gimanapun masalahnya kita tetap berjodoh Gi, Aku nggak mau kehilangan kamu, kita hadepin sama-sama setiap masalah yang menimpa keluarga kita," rayu Naufal dengan halus berucap padaku.
"Aku nggak tau lagi Mas, gimana kalo Papa aku sama Papa kamu tau dan dengerin semua ini, pasti mereka kecewa, apa kita nyerah aja sampe di sini ya Mas," ucapku.
"Nggak Gi!!! Kita nggak boleh nyerah!! aku nggak mau menyerah, Aku nggak mau berpisah sama kamu, aku gak mau nglepasin kamu, enak aja," kata Naufal yang terus merayuku.
"Kondisinya udah rumit seperti ini Mas, apalagi yang dipertahanin," kataku pasrah.
Naufal berusaha menelfon berkali-kali pada Tanye Firly, tapi tak ada jawaban apapun.
"Udahlah Mas, kamu tidur aja sekarang masalah itu nanti kita pikirin," ajakku.
"Aku gak bisa tidur lagi kalo masalah ini belum kelar, apalagi kamu pasti mikir macem-macem tentang aku," kata Naufal yang khawatir padaku.
"Enggak nggak, aku nggak akan mikir macam-macam sama kamu, aku akan terus bersama kamu, selagi Kamu benar aku pasti nemenin kamu sebagai istri kamu," kata aku.
"Aku harus gimana dong Gi, aku takut Papa kamu tau dan aku di kirain cowok yang gak bisa tanggung jawab sama janjinya, aku nggak mau dong ," kata Naufal yang sangat khawatir.
"Ya semoga aja Papa aku nggak tau, tapi aku pesan sama kamu jangan sekali-kali kamu buat kecewa Papa aku ya?" kataku dengan nada sedikit mengancam.
"Dan jika kamu buat kecewa sama Papa aku, sama saja kamu menyakiti hati aku dan aku sangat membencimu jika itu terjadi," kataku sinis.
"Jangan ngomong gitu dong aku semakin takut nih," kata Naufal.
"Ya emang gitu Mas, siapapun yang buat kecewa Papa aku, terutama cowok pasti aku akan membencinya meskipun aku pernah mencintainya," kataku dengan tegas tepat ditelinga Naufal.
"Pokoknya aku nggak mau tau, kamu harus selesain masalah ini, dan kamu harus segera ngomong baik-baik sama Mama nya Vela, sebelum keluargaku dan keluargamu tau," tuturku mengingatkan nya.
"Iya Gi pasti besok aku akan mencoba menghubungi dan menjelaskan semua pada Mama Vela," kata Naufal.
"Ya udah sekarang kamu tidur besok kamu kerja," tutur ku.
Bersambung...
__ADS_1