
Sampainya di Rumah.
Naufal menggendong Abay dari mobil karena Abay tertidur.
“Mas, berat nggak?” tanyaku.
“Enggak lah Sayang,” jawab Naufal.
“Aku gendong kamu aja nggak kerasa beratnya, apalagi gendong Abay Sayang malah nggak kerasa sama sekali ini,” kata Naufal.
“Iya iya yang berotot,” kataku ambil mengelus otot
lengannya.
Kaki kami melangkah menapaki anak tangga.
“Ya Allah aku lupa Mas,” kataku.
“Apa?” tanya Naufal.
“Makanan buat orang rumah,” jawabku.
“Oh iya Astagfirullah aku juga lupa, kamu ambil di mobil,
paling mereka di pos belakang,” kata Naufal.
“Iya, kamu langsung ke atas aja,” kataku.
Kami pun berjalan berlawan arah, Naufal menuju kamar Abay,
dan aku kembali ke mobil.
***(Di Garasi)
Ku buka pintu mobilku, lalu ku ambil beberapa tas makanan
yang ada di bagasi belakang.
Aku berjalan ke halaman belakang untuk mencari-cari Bi
Sarah.
Dan aku menemukan mereka di pos belakang.
“Bibi,” panggilku.
Bi Sarah yang asik mengobrol dengan Pak Rusdi dan dua pemuda yang bekerja disini langsung menoleh dan menghampiriku.
“Enggeh Mbak?” jawab Bi Sarah.
“Ini Bi makan malamnya,” kataku sambil memberikan empat tas
berisi makanan khas Italia.
“Makasih Mbak, makasih hehe,” kata Bi Sarah.
“Iya Bi, nanti Pak Joko di suruh makan sama-sama aja ya
soalnya kasihan sendiri di depan,” tuturku.
“Iya Mbak,” jawab Bi Sarah.
Aku melihat ke arah pos yang terdapat papan karambol disana.
Aku semakin tertarik dengan permainan karambol yang di
mainkan oleh Pak Rusdi dan dua satpamku itu.
“Itu main Karambol Bi?” tanyaku.
“Iya Mbak, yang kalah di jepret kayak Pak Rusdi itu,
hihihi,” jawab Bi Sarah.
“Kan harusnya berempat Bi,” ucapaku.
“Iya Mbak, yang satunya saya,” jawab Bi Sarah.
Aku semakin penasaran dengan kebersamaan mereka di pos jaga belakang, aku berjalan menghampiri mereka yang duduk duduk di pos kayu jati dengan pelitur hitam itu.
“Malam,” sapaku.
“Eh Ibuk, malam Buk,” jawab mereka.
“Kok berhenti mainnya, silahkan saja, saya hanya ingin
melihat,” kataku.
“Hehehem, ya gini Buk dunia malam kita,” kata salah satu
satpam muda disana.
“Asik banget ya kayaknya,” kataku.
“Wah gini aja udah bahagia banget Mbak,” sahut Pak Rusdi.
“Mbak Gia baru tau ya,” tanya Pak Rusdi.
“Enggak Pak, saya sudah tau permainan ini sejak saya masih
kecil karena dulu sering main saya Kakek saya almarhum,” jawabku.
“Ooww, Bibi kemana tadi Mbak?” tanya Pak Rusdi lagi.
“Bibi ke dapur bentar tadi Pak,” jawabku.
“Mbak Gia bisa main?” tanya Pak Rusdi lagi.
“Bisa Pak, saya bisa main ini,” jawabku.
“Monggo Mbak kalo mau main, gantiin Bibi bentar, heheh,”
ajak Pak Rusdi.
“Boleh,” jawabku.
Hanya 3 babak saja aku menggantikan Bi Sarah.
Aku tertawa lepas disana.
Saat Bi Sarah berjalan dengan membawa makanan ke Pos
belakang, Naufal menghentikan langkah Bi Sarah.
“Bi, Bibi,” panggil Naufal.
“Iya Pak?” jawab Bi Sarah.
“Gia mana ya Bi?’ tanya Naufal.
“Kayaknya masih di pos belakang Mas, soalnya tadi Bibi
langsung ke dapur Mas,” jawab Bi Sarah.
“Bibi juga mau ke belakang kan,” tebak Naufal.
“Enggeh Mas, monggo,” kata Bi Sarah.
Naufal dan Bi Sarah berjalan semakin dekat dengannku.
“Bi bentar Bi,” kata Naufal, langkah mereka terhenti sambil
mengamatiku dari jauh.
“Kenapa Mas?” tanya Bi Sarah.
“Kok saya baru lihat Gia ketawa lepas kayak gini ya Bi,” ucap
Naufal pada Bi Sarah.
“iya Mas, Bibi juga,” kata Bi Sarah.
Mereka terus mengamatiku.
“Bibi beneran belum pernah lihat Gia tertawa lepas kayak gini,” kata Naufal.
“Iya Mas, baru kali ini loh saya lihat Mbak Gia seperti ini
Mas, meskipun Bibi bekerja lama dengan keluarga Mbak Gia, apalagi sejak Mbak Gia masih kecil Mas,” kata Bi Sarah.
“Hehem, jadi seneng Bi lihatnya,” ucap Naufal sambil
mengelus dagunya.
“Mbak Gia juga kelihatan bahagia banget ya Mas,” kata Bi
Sarah.
“Iya loh Bi, beneran, Naufal juga masih nggak nyangka Bi,
meskipun Naufal suami Gia, tapi belum pernah lihat Gia seseneng ini Bi,’ kata Naufal.
Di pertengahan permainan, kepalaku terasa sakit secara
__ADS_1
tiba-tiba.
Pandanganku buram, aku berusaha kuat di depan mereka.
“Aduh pusing banget, kenapa ya,” gumamku dalam hati.
“Mbak, Mbak Gia nggak papa?” tanya Pak Rusdi.
“Eemmm…nggak papa Pak tenang aja,” jawabku.
Naufal yang melihatku kesakitan langsung berlari menghampiriku.
“Sayang sayang, kamu kenapa?” tanya Naufal sambil
memegangiku.
“Nggak tau Mas, kepalaku pusing banget,” jawabku.
“Ya udah kita masuk ya,” ajak Naufal.
Naufal menuntunku berjalan ke kamar.
“Ya ampun Sayang, tadi kamu harusnya langsung masuk ke
kamar, di luar dingin, kamu masuk angin mungkin,” tebak Naufal.
“Aku suruh Bibi buatin teh buat kamu ya,” kata Naufal.
"Jangan Mas, Bibi lagi makan, jangan di ganggu," kataku.
"Oiya ya aku lupa, ya udah aku buatin sendiri aja buat kamu," ucap Naufal.
***(Di Kamar)
Naufal merebahkan tubuhku di atas ranjang. Dia melepas
heelsku dan kerudungku, dan menaruh tasku di dalam almari.
“Kamu istirahat dulu, aku ke bawah dulu ya,” kata Naufal
sambil menutupi tubuhku dengan selimut.
Naufal turun untuk membuatkanku teh karena Naufal tau Bibi
sedang nongkrong di halaman belakang rumah.
***(Di Dapur)
Naufal sibuk membuatkanku teh, kebetulan Bi Sarah juga
datang ke Dapur.
“Eh Mas Naufal, mau buat apa Mas?” tanya Bi Sarah.
“Ini Bi buat teh,” jawab Naufal.
“Waduh Mas, makanan nya enak banget, Bibi pertama kali makan makanan ini Mas,” kata Bi Sarah.
“Iya Bi memang enak, soalnya itu masakan khas Italia, tapi
makanan Indo juga nggak kalah enaknya kok Bi,” ucap Naufal sambil menyeduh teh dalam cangkir pink punyaku.
“Pantesan enak banget Mas,” puji Bi Sarah.
“Kapan-kapan Naufal ajak Bibi kesana ya, hehehm,” kata Naufal.
Bi Sarah hanya tersenyum pada Naufal.
“Mas Naufal pasti buatin Mbak Gia ya,” kata Bi Sarah.
“Iya Bi, kok Bibi tau?” tanya Naufal.
“Cangkirnya warna pink Mas, hehem udah ketahuan, kalo di
rumah yang disana ada satu lusin cangkir yang semacam itu Mas, khusus untuk Mbak Gia aja,” jawab Bi Sarah.
“Kok aku baru tau ya, heeemm, ternyata banyak yang belum aku tau tentang Gia meskipun aku udah lama bersamanya,” gumam dalam hati Naufal.
“Benar kata aku, kalo Gia sebenarnya sangat sangat sangat misterius, menyimpan banyak rahasia tentang dirinya, bahkan aku aja sebagai suaminya belum tau sepenuhnya tentang dia, hehehm dasar aku,” gerutu Naufal.
“Mas Naufal kenapa senyum-senyum sendiri,” gertak Bi Sarah.
“Enggak Bi, ternyata masih banyak rahasia yang belum Naufal
tau tentang Gia,” jawab Naufal.
“Hehehm, ya memang seperti itu Mas Mbak Gia, banyak sekali
rahasia yang disimpannya sendiri, bahkan orang terdekatnya saja jarang tau, sekalipun Papa dan Mamanya Mas,” kata Bi Sarah sambil mengambil orange juice dalam kulkas.
“Ya begitulah Mas, Mbak Gia sangat berbeda dengan Adiknya,” ucap Bi Sarah.
“Mari Mas, saya mau ke belakang dulu nggeh,” kata Bi Sarah.
“Oh iya Bi, silahkan,” jawab NAufal.
Naufal kembali ke kamar dengan membawakan secangkir the
untukku.
***(Di Kamar)
Naufal membantuku untuk duduk.
“Minum dulu Sayang,” tuturnya.
Naufal membantuku meminum secangkir the itu.
“Sekarang aku tau Gi, kenapa kamu selalu memakai cangkir
ini,” ucap Naufal yang membuatku tersedak.
“Memangnya kenapa Mas?” tanyaku.
“Kata Bibi kamu menyimpan satu lusin cangkir yang sama
seperti ini di rumah kamu,” jawab Naufal.
“Setiap apa yang aku pake, pasti semua itu punya cerita masing-masing Mas,” kataku sambil tersenyum padanya.
“Memangnya cangkir ini ada ceritanya juga?” tanya Naufal.
“Ada,” jawabku.
“Memangnya apa?? Di kasih sama temen cowok kamu?” tebak
Naufal.
“Udah deh Mas, mulai deh kamu, jangan suudzon, nggak baik tau,” kataku.
“Ya terus apa?” tanyanya lagi.
“Ini itu, barang pertama yang Papa kasih buat aku, waktu aku
masih kelas 1 SD,” jawabku.
“Arrrghh se detail itu Gi kamu bisa ingat kejadian di masa
lalu dalam hidup kamu,” kata Naufal.
“Iya, setiap kejadian yang menurutku istimewa dan penting
buat aku, pasti bakalan terus aku inget,” ucapku.
“Termasuk sakit hati??” tanya Naufal.
Sesekali aku meneguk kembali teh manis buatan Naufal
sendiri.
“Pertanyaan kamu sulit Mas buat aku jawab," ejekku.
“Ayolah Sayang, jawab,” paksa Naufal.
“Eeemmm….kalo untuk itu sih, kayaknya nggak deh, kan aku
bilangnya kejadian yang istimewa dan penting,” kataku.
“Jadi kalo hal-hal yang buat aku sedih, pasti segera aku
paksa buat hilang dari pikiran aku,” jawabku.
“Kenapa?? Rata-rata cewek selalu inget loh kapan dia di
sakiti hatinya, kapan dia di khianati,” ujar Naufal.
“Ya karena bagi aku, itu menyakitkan sih Mas, aku juga nggak
bakalan sanggup kalo aku inget-inget terus, hehehm, mungkin jika aku sangat sering di sakiti atapun dikhianati, mungkin aku juga merasakan hal yang sama seperti wanita pada umumnya, tapi kan aku nggak tau caranya di khianati, kalo sama pasangan sih, yah tergantung individu masing-masing sih Mas, kita harus berprinsip kalo kata Papa,” jawabku.
“Terus sama Kevin?? Memangnya itu namanya kamu nggak di
khianati?” tanya NAufal.
__ADS_1
“Eemmm….kalo bagi aku ya Mas, enggak sih, karena aku kan
nggak ada rasa sama Pak Kevin, kecuali kalo aku jatuh cinta sama beliau, aku ngungkapin perasaanku sama beliau,begitu juga sebaliknya, terus Pak Kevin ternyata punya kekasih, eh kekasihnya balik lagi padanya dan Pak Kevin mau, itu baru Pak Kevin khianati aku, tapi kan kenyataannya enggak Mas, aku sama Pak Kevin just mahasiswa sama dosen, terus aku juga gak ada rasa apa-apa sama beliau, jadi ya kalo menurut aku belum bisa dikatakan suatu pengkhianatan sih Mas, itu kalo
menurut aku, kalo menurut yang lain beda lagi pastinya,” ujarku yang membuat Naufal terus menatapku dan mendengarkan ku dengan seksama.
“Kamu sendiri sama Vela gimana?” tanyaku padanya.
“Maksud kamu??” tanya Naufal yang kaget mendengar
pertanyaanku.
“Bukannya kamu melakukan pengkhianatan Mas, maksud aku kamu menghianati perasaan kamu sendiri," kataku.
“Ya……….itu dulu Sayang, tapi memang itu ya menurut kamu suatu pengkhianatan?” tanya Naufal.
"Iya lah Mas, mengkhianati perasaan sendiri itu jauh lebih sakit, ya kan" ucapku sedikit genit padanya.
"Hooaaammm,"
“Sekarang kita tidur ya,” ajak Naufal.
“Tapi aku mau ganti baju dulu,” ucapku.
“Mau aku bantu??” tanya Naufal.
Suasana hening seketika.
“Maksud aku, emmm aku bantu jalan gitu Sayang,” kata Naufal dengan gugup.
“Enggk Mas, nggak papa kok aku bisa sendiri,” jawabku.
“Oh ya udah, hehehm" ucap Naufal.
Aku turun dari ranjang dan berjalan masuk ke ruang ganti
baju.
Tak lama kemudian, aku menyusul Naufal untuk tidur.
“Sayang, aku mau tanya sama kamu,” kata Naufal.
“Apa??” jawabku.
“Kamu kok bisa baca buku agenda aku, padahal kan kamu
ogah banget kepoin buku yang menurut kamu biasa-biasa aja, apalagi cover buku aku yang sama sekali tidak menarik,” ucap Naufal.
“Kenapa kamu tiba-tiba bahas itu??” tanyaku.
“Aku mau nanya ini ke kamu sebenarnya, tapi aku lupa terus,”
keluh Naufal.
“Justru dengan cover buku kamu yang biasa-biasa aja loh aku jadi pengen tau, Aku penasaran aja sih Mas kalo itu, aku buka-buka buku kamu, eh tiba-tiba nemuin tulisan kamu, semakin penasaran kan aku, seorang Dokter Naufal nulis-nulis macam itu, hehehem, kalo di pikir-pikir kan nggak mungkin banget,” ejekku.
“Sayang…….jangan gitu dong, aku kan juga manusia, jadi ya
wajar aja kayak gitu, semua cowok pasti juga gitu, se-coolnya dia, sejaim nya dia, pasti juga gini kok, meskipun nggak di tulis kayak aku gini, pasti dia juga pernah seperti ini,” Naufal membela dirinya.
“Yeee malu ya,” ejekku agar membuat Naufal semakin malu.
“Enggak kalo aku mah biasa aja,” ucap Naufal.
“Tapi emang bener kan, apa yang aku tulis tentang kamu di buku aku,” kata Naufal.
“Emang iya aku gitu???” tanyaku sambil mengangkat satu
alisku.
“Iya kan aku bener, semua yang aku tulis itu sesuai fakta dari
lensa mataku, aduh duh,” ucap Naufal.
“Memang sih mata seseorang adalah cermin dari kita, tapi
nggak sepenuhnya benar sih,” tepisku.
“Memangnya apa yang nggak bener tentang kamu, berdasarkan yang aku tulis?” tanya Naufal.
“Masih banyak yang aku nggak tau tentang kamu ya Gi,” ucap
Naufal sambil berbalik menghadapku dengan menyangga kepalanya dengan satu tangannya.
“Eemmm……gak juga,” kataku sambil tersenyum pada Naufal.
“Oh iya Mas, katanya kamu mau cerita ama aku??” tanyaku
mengalihkan pembicaraan.
“Gi, jangan kebiasaan ngalihin pembicaraan,” tutur Naufal.
“Ngalihin pembicaraan gimana lagi sih Mas,” ucapku.
“Aku tau, masih banyak hal yang kamu sembunyiin dari aku,”
kata Naufal.
“Nggak ada, beneran kok,” jawabku.
“Pasti ada Gi,” paksa Naufal.
“Nggak ada Mas, kalo nggak ada aku gimana?? Masak maksain
ada, kan nggak bisa,” jawabku.
“Yakin ya nggak ada?” tanya Naufal lagi.
“Iya beneran Mas Naufal, percaya deh sama istri kamu,”
candaku.
“Oke deh aku percaya,” jawab Naufal.
“Aku terpaksa mempercayaimu Gi, padahal memang benar banyak yang masih belum aku tau tentang kamu, tapi aku juga gak bisa paksain kamu, huumm,” gumam dalam hati Naufal.
“Ayolah Mas cerita ke aku, gimana tadi cerita tetangga
sebelah kita,” paksaku.
“Tadi itu Sayang sebenarnya aku bohong sama kamu, maaf ya, sebenarnya bukan karena kucing atau apalah itu, nggak gitu ceritanya,” ucap Naufal.
“Nah terus?” tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.
“Aku bilang ke bawah buat minum itu sebenarnya aku nggak
minum Sayang, maaf ya, aku tau kok, waktu aku tidur di pangkuan kamu, kamu bisikin sesuatu kan ke aku,” kata Naufal yang membuatku tidak bisa berkutik.
“Hayo ngaku,” goda Naufal.
“Udah lah Sayang jangan malu-malu, aku tau semuanya, kamu
kan yang manggil-manggil aku Sayang tapi lewat bisikan, yak an,” kata Naufal.
Ku balikkan tubuhku untuk membelakangi Naufal, karena aku
sangat malu padanya.
“Aduuhh….aku jawab gimana ini??" gerutuku dalam hati.
Naufal berbisik di telingaku, dan kata-katanya sama persis
sepeti yang aku bisikkan padanya.
“Kamu bilang gitu kan di telinga aku,” ucap Naufal.
“Eemmmm……….eng,” jawabku terpoting oleh Naufal.
“Udah nggak usah alasan lagi, aku juga kerasa kali Sayang,
itu nyata atau bukan, dan tadi ke bukti kan kalo kamu bisikin aku, hehehem, kamu romantis banget sih Sayang, aku kan makin sayang sama kamu,” goda Naufal sambil menyelipkan tangannya pada pinggangku.
“Kamu….kamu tau dari mana semua itu?” tanyaku dengan gugup.
“CCTV lah Sayang,” jawab Naufal.
“Di balkon ada CCTV nya?” tanyaku.
“Ada dong, masak kamu lupa, bukan nya aku udah pernah bilang sama kamu,” kata Naufal.
“Nggak tau aku lupa,” jawabku singkat karena sangat malu pada Naufal.
“Udah lah masalah itu nggak penting Sayang, yang penting
sekarang,aku juga mencintai kamu melebihi kamu mencintai aku, love you much much more Gi,” ucap Naufal lalu mengecup keningku.
“Kamu jangan belakangin aku gini dong Sayang, hadap ke aku
dong,” tutur Naufal yang semakin membuatku malu dan hatiku berdegup kencang.
Naufal membalikkan tubuhku agar menghadapnya, lalu dia
mendekapku.
__ADS_1
“Bobok ya Sayang, selamat malam,” ucapnya.
Bersambung..............