
Sepulang dari kerja.
***(Di Rumah)
Ku lihat dari dalam mobil Abay yang sedang menaiki sepeda
pancal barunya di depan halaman rumah.
“Lihat tuh Mas dia seneng banget,” kataku.
“Hehehem, Abay Abay kayak nggak pernah naik sepeda pancal aja,” kata Naufal.
Mobil berhenti di samping taman Rumah.
Kami keluar dari mobil, Abay mengayuh sepedanya mendekatiku.
“Kenapa nggak goes ke luar?” tanya Naufal.
“Kan belum bilang sama Papa, takutnya nanti nggak di bolehin
sama Papa,” jawab Abay yang masih di atas sepedanya.
“Ya kalo sekitar kompleks sini nggak papa, jangan sampe ke
jalan besar bahaya nanti, banyak kendaraan gede-gede,” ucap Naufal.
“Boleh Pa?” tanya Abay yang sepertinya sangat sennag.
“Boleh kalo sekitar sini,” kata Naufal.
“Abay tadi kaget banget Pa, Pak Joko bilang sama Abay kalo
ada kiriman sepeda atas nama Papa, hehehe, Abay sempat lupa kalo Papa mau kasih Abay hadiah sepeda, dan Abay juga nggak nyangka kalo sepeda nya datang secepat ini Pa, kiranya Abay masih seminggu lagi,” kata Abay.
"Tadi Abay langsung panggil-panggil Bi Sarah yang lagi ada di dapur, hehehe, Bibi langsung lari ke depan Pa," sambungnya.
Abay turun dari sepedanya lalu memeluk Papanya.
“Makasih ya Pa,” ucapnay.
“Iya sama-sama, sana gih goes ke luar biar Abay pernah,” tutur Nufal.
“Memangnya kamu udah mandi Nak?” tanyaku.
“Belum Ma, kan ini masih jam 3, cuman goes bentaran Ma,
nanti jam 4 Abay balik lagi, kan Abay juga harus ngaji,” kata Abay yang sepertinya sudah sangat mengerti dan sedikit bertanggung jawab dengan manage waktunya sendiri meskipun dengan usia nya yang belum menginjak belasan tahun.
“Seharusnya beli satu lagi buat Papa, kan nanti bisa goes
berdua sama Papa,” ujar Abay.
“Ya nanti kapan-kapan ya, kan Papa kerja dan jarang bisa,”
jawab Naufal.
“Ya udah sana gih keburu sore nanti, hehehem,” tuturku.
Abay menaiki sepeda nya kembali dengan sangat girang,
aku berjalan masuk ke rumah bersama Naufal.
“Assalamu’alaikum,” ucap salamku.
Aku langsung meuju ke kamar bersama Naufal.
***(Di Kamar)
Ku buka pintu balkon, seperti biasa aku sedikit menikmati udara segar disana.
“Huuuumm….lega,” kataku.
“Kamu suka banget disitu?” tanya Naufal sambil melepas
sepatunya.
“Banget Mas, disini kalo kata orang jawa tuh ayem,” kataku.
“Hmmm jangan sok-sok an ngomong jawa,” ejek Naufal.
“Kan aku orang jawa Mas, ya aku bisa bahasa jawa,” ucapku.
“Ngomongin bahasa jawa jadi keinget Bi Sarah Mas, bentar aku mau cek Bibi dulu,” kataku.
Aku kembali turun ke bawah menghampiri Bi Sarah.
Ku cari Bi Sarah ke halaman depan, ke halaman belakang, dan ke pos belakang tapi tidak ada sosok nya di sana.
Tok….tok…tok…. ku ketuk pintu kamar Bi Sarah.
Bi Sarah langsung membukakan pintu kamarnya.
Gleeekkk….
“Monggo Mbak masuk,” tuturnya.
Aku berjalan masuk ke kamarnya.
“Bibi udah siap-siap?” tanyaku.
“Udah Mbak, ini,” jawabnya.
“Udah di masukin ke koper semua,” kataku.
“Udah Mbak, Bibi juga sudah mandi,” kata Bi Sarah.
“Mungkin bentar lagi udah datang travelnya,” kataku.
“Ini beneran udah semua ya Bi?? Nanti ada yang ketinggalan
loh, coba di inget-inget lagi,” tuturku.
“Sudah Mbak, sudah semua,” katanya.
“Ooo iya, Bibi udah makan belum?” tanyaku.
“Hehehe, Bibi nggak nafsu makan Mbak, saking senangnya mau ketemu sama keluarga di kampung,” jawabnya.
“Ya Allah Bibi, hehehem, Bibi harus makan dulu, nanti di
mobil tinggal tidur jadi enak,” tuturku.
“Hehehm, nggak nafsu makan Mbak, dari tadi cuman bayangin
wah seneng ya di rumah, gitu Mbak,” kata Bi Sarah malu-malu.
“Ya udah kalo Bibi nggak mau nanti beli di jalan aja ya,” ucapku.
“Sekarang Gia mau mandi dulu Bi,” ucapku.
“Emmm Mbak, sepeda nya Dek Abay baru ya?” tanya Si Bi Sarah.
“Iya Bi, itu hadiah dari Papanya karena dia dapat juara dua
lomba mengaji kemarin,” jawabku.
“Pantesan Mbak tadi Dek Abay girang banget, hehehem, waktu sepeda nya datang langsung manggil-manggil Bibi dan loncat-loncat meluk Bibi, seneng banget Mbak pokoknya,” ucap Bi Sarah yang membuatku sangat bahagia.
“Oh ya Bi?? Abay sampe kayak gitu??” kataku.
“Iya Mbak, beneran, Pak Joko aja sampe geleng kepala tadi
lihatnya, kalo Mbak Gia nggak percaya, lihat di cctv Mbak lucu banget Mbak Dek Abay, Bibi ikut seneng lihatnya,” ujar Bi Sarah.
Aku keluar dari kamar Bi Sarah untuk menuju kembali ke
kamarku.
***(Di Kamar)
Gleeekkk…..
__ADS_1
“Yah Mas Naufal duluan yang mandi,” kataku yang tau pintu
kamar mandi tertutup.
Aku menunggunya tidur di ayunan kayu yang ada di balkon
sambil membaca-baca majalah.
Saat aku sedang membaca majalah kemeja pria, aku melihat
salah satu model majalah yang tak asing bagiku.
“Kayak pernah lihat wajah ini, siapa ya?” tanyaku sendiri.
Ku ingat-ingat kuat siapa pria yang sepertinya ku kenal ini.
“Siapa ya?? Eemmmm….” Pikirku.
"Nggak asing banget, sumpah," kataku.
Saat aku mencoba mengingat-iingat Mas Naufal memanggilku dan menyuruhku agar segera mandi.
“Sayang, mandi gih,” tuturnya.
"Jangan nglamun disitu sendiri, nanti kalo ada hantu nya gimana," canda Naufal mengerjaiku.
“ii…iya Mas,” jawabku.
Ku lipat sisi pojok kiri bawah halaman majalah itu, lalu ku
tutup kembali dan ku letakkan di atas ayunan.
Aku berjalan masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
Setelah mandi, aku menemani Naufal yang sedang sibuk
teleponan dengan orang penting dari luar negeri.
Tak lupa aku menghampiri Abay, untuk melihatnya apakah dia
sedang mengaji atau belum.
Aku keluar dan mengecek ke dalam kamarnya.
Gleeekkk…..
“Belum nagji?” tanyaku.
“Belum Ma, Abay baru selesai mandi,” jawabnya.
“Mama kirain udah, Mama temenin ya ngajinya, Mama pengen
tau,” kataku.
“Aaaaa Mama, jangan, Abay malu,” rengeknya sambil memakai kopyah di kepalanya.
“Mama kan pengen tau anaknya ngaji yang dapat juara 2 ini,”
kataku.
“Boleh ya?? Sekali ini aja,” rayuku.
“Iya deh Ma,” kata Abay.
Aku merangkul pundaknya lalu kami turun ke bawah karena
Ustad Abay sudah menunggunya.
“Wah di temenin Mamanya ya Abay,” kata Pak Ustad.
“Iya Pak, saya pengen tau anak saya kalo tiap sore ngaji, biasanya kan saya cuman denger aja, ini saya mau temenin langsung,” kataku sambil tersenyum ramah pada Pak Ustad.
“Denger-denger Abay dapat juara 2 ya Bu?” tanya Pak UStad.
“Iya Ustad Alhamdulillah, ini juga berkat bimbingan Ustad
sejak Abay kecil sampai sekarang ini,” kataku.
“Alhamdulillah, nanti bisa giat lagi belajarnya, siapa tau
nanti jadi hafizh qur’an ya Bay ya,” kata Ustad.
“Aamiin, Aamiin Ustad,” kataku.
“Silahkan, boleh di mulai ngajinya,” kataku.
Abay duduk mendekat dengan Ustad yang mengajarnya mengaji, Abay mulai membawa Al-Fatihah. Lalu membuka Al-Qur’annya.
Aku menemaninya hingga selesai mengaji.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Abay selesai mengaji.
“Alhamdulillah, sudah mau juz 20 Buk,” kata Ustad.
“Alhamdulillah Ustad,” jawabku.
“Saya pamit pulang ya Buk, Assalamu’alaikum,” salam Pak
Ustad yang ku antar ke depan rumah.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku dan Abay.
Saat Ustad tengah mengendarai motornya untuk pulang, travel yang di pesankan untuk Bi Sarah datang.
“Ma, itu mobil siapa?” tanya Abay.
“Mama nggak tau Nak, mungkin travel yang di pesen Papa buat Bibi,” jawabku.
“Memangnya Bibi mau kemana Ma?” tanya Abay.
“Mau pulang kampung,” jawabku.
Mobil berhenti di depan Rumah.
Seorang laki-laki keluar dari mobil.
“Pagi Buk, ini benar alamat rumah Bapak Naufal?” tanya pria
itu.
“Iya Pak, benar, Bapak travel yang di pesan Bapak Naufal?”
tanyaku.
“Silahkan masuk Pak,” perintahku.
Pria itu ku persilahkan masuk, dan duduk di ruang tamu.
“Nak, panggilkan Papa kamu,” perintahku.
“Iya Ma,” jawabnya.
"Travel yang saya pesan tadi ya?" tanya Naufal pada pria paruh baya itu.
"Iya Pak," jawabnya dengan sangat sopan.
__ADS_1
"Sayang, kamu panggil Bibi," tuturnya.
Aku langsung memanggil Bi Sarah yang ada di kamarnya.
Kebetulan pintu kamar Bibi terbuka.
"Bi, travelnya udah datang," kataku.
Bi Sarah langsung beranjak berdiri.
"Sini Bi Gia bantuin," kataku.
"Nggak usah Mbak, Bibi cuman bawa tas sama koper
aja," ucap Bi Sarah.
"Nggak papa Bi, Gia bantu," kataku.
Aku berjalan masuk sambil mengangkat tas Bi Sarah, sedangkan Bi Sarah menarik kopernya.
Kami kembali berjalan ke ruang tamu.
"Bi, alamat yang Bibi kasih ke Naufal udah lengkap dan bener kan?" tanya Naufal.
"Udah Mas, udah," jawab Bi Sarah.
"Oh ya udah, nanti kan kalo Bibi ketiduran jadi Bapaknya nggak nanya-nanya lagi," kata Naufal.
"Bibi udah makan?" tanya nya.
"Ehehehm," Bi Sarah ragu untuk menjawabnya.
"Bibi tadi belum makan Mas," sahutku.
"Bibi nggak nafsu makan Mas Naufal karena saking senangnya Bibi pulang ke kampung," jawab Bi Sarah.
"Hehehm, Bibi ada ada aja," ucap Naufal.
"Nanti berhenti dulu ya Pak ke rumah makan," tutur Naufal pada sopir travel.
"Nanti Bibi di dalam mobil aja," tutur Naufal.
Pak Rusdi datang menghampiri kami.
"Nah ini nih Pak Rusdi, mau di tinggal istrinya loh
Pak, hehehe," canda Naufal.
"Saya baru saja selesai bersihin kolam Mas," jawab
Pak Rusdi.
"Apa nggak sekalian berangkatnya abis magrib saja Buk," kata Pak Rusdi pada istrinya yaitu Bi Sarah.
"Iya Pak, nunggu Ibuk nunggu magrib kok," kata Bi Sarah.
Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang.
"Loh kan udah magrib," kata Pak Rusdi.
"Mari Pak nanti sholat jama'ah dulu disini nggak papa," kata Naufal.
"Iya Pak," jawab sopir travel.
"Antarkan ke tempat wudhunya Pak," kata Naufal pada Pak Rusdi.
"Monggo Mas, saya antar," ucap Pak Rusdi pada sopir travel yang sangat sopan itu.
Aku berjalan ke atas bersama Naufal.
Kami bergegas mengambila air wudhu lalu sholat berjama'ah di
lantai bawah.
.
.
.
.
.
Setelah sholat, tibas saatnya kami melepas Bi Sarah untuk
beberapa hari.
Semua mengantarkan Bi Sarah ke depan halaman rumah.
"Bibi cepat pulang ya," rengek Abay.
"Iya Dek Abay, pasti, Bibi disana nggak lama,"
ucapnya.
"Nanti Abay kangen sama Bibi," ucap Abay.
"Bibi nanti juga pasti kangen sama Dek Abay," kata Bi Sarah sambil tersenyum padanya.
Bi Sarah berpamitan pada suaminya.
"Pak, kulo mantuk nggih (Pak, saya pulang ya)" ucap Bi Sarah dengan logat jawanya.
"Enggeh Buk, atos-atos (iya Buk, hati-hati)" jawab
Pak Rusdi.
"Salam kanggo kabeh keluarga ten kampung Buk (Salam
buat semua keluarga di kampung Buk)" sambung Pak Rusdi.
"Enggeh Pak, kulo tinggal rumiyen nggeh Pak (iya Pak,
saya tinggal dulu ya Pak)" jawab Bi Sarah.
Bi Sarah menyalami tangan Pak Rusdi. Lalu Bibi berpamitan
pada Naufal dan padaku.
"Hati-hati ya Bi, sampe rumah langsung sms Naufal, salam buat semua keluarga Bibi disana," tutur Naufal.
"Enggeh Mas, pasti Bibi langsung sms ke Mas Naufal, jangan lupa Mas Naufal main ke desa, ke kampung Bibi," jawab Bi Sarah.
"Hehehe, iya Bi, nanti kapan-kapan Insya'Allah pasti Naufal kesana," ujar Naufal.
Aku memeluk Bi Sarah.
"Jangan lama-lama ya Bi, nanti Gia kangen kalo tiap pagi masak sama Bibi," kataku di pundak Bi Sarah.
"Iya Mbak, Bibi nggak lama disana," kata Bi Sarah sambil mengelus-elus ku.
Giliran Bi Sarah berpamitan dengan Abay.
"Bibi pulang kampung dulu ya Dek Abay, Bibi nggak lama," ucapnya merayu Abay.
"Iya Bi, pokoknya Bibi nggak boleh lama-lama ya disana," kata Abay dengan manja.
Bi Sarah tersenyum pada Abay.
Koper dan semua barang-barang Bi Sarah sudah di masukkan ke bagasi mobil.
Bi Sarah masuk ke dalam mobil dan membuka pintu kaca jendela mobil.
"Daaaaaa Dek Abay," kata Bi Sarah sambil melambaikan tangannya pada kami.
"Daaaaa Bi,"
Mobil Bi Sarah melaju ke luar dari halaman Rumah, dan pintu gerbang di bukakan oleh Pak Joko.
Bersambung......
__ADS_1
Siapa yang bisa bahasa jawa kyak Bibi dan Pak Rusdi hayooo??? hehehehe