
Sampai di mushola kita langsung sholat bersama.
Setelah beberapa menit kita selesai sholat, Naufal membujuk Jihan untuk pulang.
"Non, kita pulang ya, soalnya sudah malam, besok Noni sekolah ," tutur Naufal.
"Tapi nanti kalo Noni libur, Noni ke rumah Uncle lagi ya? Kita jalan-jalan lagi ya sama Aunty juga," rayunya yang sepertinya tidak ikhlas untuk pulang.
"Iya Jihan pasti," sahutku.
Akhirnya kita memutuskan untuk pulang, tetapi di pertengahan jalan menuju parkiran, hatiku terpikat oleh boneka penguin yang terpajang besar di toko itu.
Aku mencolek lengan Naufal.
"Mas," panggilku lirih.
"Apa?" jawabnya.
"Pengen boneka itu," rengekku sangat lirih karena takut terdengar oleh Jihan.
"Yang mana?" tanya Naufal.
"Itu tuh, di toko itu, boneka penguin besar itu Mas," kataku.
"Kamu mau?" tawarnya sambil memelankan langakahnya.
"Mau," ucapku sambil menganggukkan kepalaku dengan manja pada suamiku.
"Ya udah ayo beli," ajak Naufal sambil menggiring kami ke toko yang ku maksud.
"Uncle, kita mau kemana lagi?" tanya Jihan.
"Ke toko boneka itu Non," jawab Naufal.
"Uncle mau beli boneka?" tanyanya lagi.
Aku memberi kode pada Naufal agar tidak keceplosan, tapi usahaku gagal.
"Aunty tuh yang mau beli boneka," jawabnya.
Jihan langsung menoleh padaku.
Aku tersenyum kaku padanya.
"Hehehemmm, Jihan mau? Gak papa nanti sekalian kembaran sama Aunty," ajakku karena menahan malu.
Di toko boneka, Naufal tanpa malu langsung membelikanku boneka penguin yang kembar dengan Jihan.
Setelah Naufal membayarnya, dan 2 pegawai mengikuti kami membawakan boneka seukuran manusia itu menuju parkiran mobil.
"Tumben kok kamu gak malu Mas? Gak gengsi, biasanya aja pasti udah rewel," ejekku.
"Ngapain malu beliin istri sendiri," ucapnya dengan tegas karena sedari tadi dilirik oleh pegawai toko yang membawakan boneka kami.
Segera ku gandeng erat tangan suamiku.
Tiba-tiba ponsel Naufal bergetar. Dan ternyata Fani yang telah menelfonnya.
"Halo, Fal kamu dimana?" ucap Fani.
"Ini lagi jalan ke parkiran," kata Naufal.
"Aku tunggu di parkiran mobil ya," kata Fani.
"Oke," jawab Naufal singkat.
***(di Parkiran Mobil)
Dan akhirnya kami sampai di parkiran mobil, tampak di sana Fani sedang menunggu mereka.
"Fan TVnya udah di kamu kan?" tanya Naufal.
"Udah Fal, itu udah dalam mobil," jawab Fani.
"Kamu beli boneka besar-besar kayak gini satunya buat siapa Fal?" tanya Fani.
"Oh ini, buat keponakan Gia," ucap Naufal yang sebenarnya tau jika ia berkata jujur pasti Gia akan malu.
"Noni ikut mobil siapa? Mama apa Uncle?" tanya Naufal pada Jihan.
"Uncle aja," jawabnya.
"Ya udah ayo pulang Fal, keburu malem banget besok kamu kerja sama Gia jadi gak bisa di rumahku," goda Fani padaku.
Aku hanya tersenyum padanya.
"Makasih ya Mbak udah diantar sampai sini," kataku pada 2 pegawai toko boneka.
"Ya Mbak terima kasih kembali," kata mereka bersamaan.
Akhirnya kami pun pergi ke rumah Fani.
Perjalanan dari Mall menuju rumah Fani lumayan memakan waktu yang cukup lama, hampir 1 jam karena rumah Fani yang berada di puncak.
Dalam mobil sebenarnya aku sangat lelah sekali dan ingin segera tidur pulang ke rumah tetapi dengan adanya Jihan yang sekarang tidur dalam pangkuan ku dengan manja semakin gemas aku melihatnya.
"Gi," panggil Naufal.
"Udah pantes tuh," ejek Naufal sambil mengarahkan bola matanya pada Jihan yang tertidur pulas di pangkuanku.
"Apanya yang pantes?" tanyaku dengan polos.
"Itu tuh," katanya lagi.
"Itu tuh Apa maksud kamu? Hm?" tanyaku lagi.
"Ya....ya kamu udah pantes, tuh kelihatannya Jihan udah mulai nyaman sama kamu, kamu juga dari tadi kayak sayang banget sama dia, perhatian sama dia," kata Naufal.
Aku tau maksud Naufal sebenarnya.
"Apa sih, Aku udah tahu maksud kamu sebenarnya apa," kataku malu-malu.
"Gitu dong peka, biasanya kamu nggak peka," ejeknya.
__ADS_1
"Ya Aku tau, bukan hanya kamu saja yang mengharapkan, tapi juga aku, Mama Papa aku, Mama Papa kamu, kita do'a aja, kapan pun aku siap," ucapku.
"Gitu dong Sayang," ucap Naufal sambil meraih tangan ku dan menciumnya.
"Tau nggak, tadi tun baru pertama kali aku beliin cewek boneka, parah kamu Gi, udah segede ini, udah punya suami, masih aja suka gitu-gitu an," ejeknya.
"Biarin lah, ngapain aku harus malu? Biarin kamu ngomong kayak anak kecil biarin, weekkkkk," ejek ku ganti pada Naufal.
Dan langsung ku buang pandanganku keluar jendela kaca mobil.
"Aku sih nggak keberatan Sayang, kamu ih lucu banget kalo gitu," puji Naufal.
Beberapa jam kemudian, akhirnya kami sampai di rumah Fani.
***(di Rumah Fani)
"Mari masuk, ya beginilah rumahku Gi," kata Fani mempersilahkan kami masuk.
Aku hanya menganggukkan kepala.
Tampak rumah yang sangat bersih dan rapi meskipun tidak seluas rumah Naufal.
Bini yang biasa merawat Jihan menghampiri kami dan menyapa kami dengan sangat ramah serta membawa jamuan makan malam.
"Ini Mbak Gia ya?" ucap Bi Lely sambil menyalamiku.
"Iya Bi," jawabku.
Aku menunggu Naufal yang sedang memasang TV di ruang tamu.
Di sana aku melihat foto yang terpajang besar, sepertinya itu foto saat Fani menikah dengan sepupu Naufal.
Wajahnya tidak beda jauhd dari Naufal.
Setelah hampir setengah jam Naufal selesai memasang TV, dia menghampiriku di ruang tamu
"Kasihan ya Gi, Fani," katanya sambil mengibas-ibas tangannya.
"Iya Mas, udah singgle parent, andai aja aku jadi, belum tentu aku bisa," kataku sambil meneguk jus jeruk di meja.
"Maksud kamu apa? Andai kamu jadi dia," ujar Naufal.
"Ya maksud aku, aku bakalan gak kuat jika ditinggal sama orang yang sudah membuatku jatuh cinta setelah Papaku," kataku agak pelan.
Naufal memandangku lama dan tersenyum mengejekku.
"Iiih iih kamu kenapa kok gitu ketawanya?" ejek ku ganti.
"Tumben kamu romantis sama aku Sayang," kata Naufal keceplosan ingin memelukku.
"He he sadar tempat dong ini di mana, ngaco kamu," kataku sambil menjitak keningnya.
"Abis kamu gemes kayak Jihan tuh," kata Naufal sambil melihat Jihan yang sedang asyik menikmati TV barunya.
"Enak ya Gi disini," kata Fani sambil menghampiri kami.
"Iya di sini hawanya nggak panas, dingin anginnya Mbak, coba aja kalo pagi pasti sejuk," ucapku.
"Gimana? Nginep di sini mau?" tawarnya.
"Itu foto suami saya Gi, wajahnya nggak beda jauh sama Naufal," kata Fani sambil sedikit melas.
Fani menceritakan semua kenangan bersama suaminya di masa lalu saat suaminya masih hidup, sampai- yang merasa simpati kepadanya sampai-sampai aku hampir meneteskan air mata.
Tak terasa waktu semakin larut malam, Aku mengajak Naufal untuk pulang.
"Fan, aku pulang dulu ya, udah malem belum perjalanannya," pamit Naufal,
Jihan yang mendengarkan kata Naufal langsung lari memeluknya.
"Uncle, nggak boleh pulang, di sini sama Noni," rengek Jihan sambil menangis.
"Jihan, kapan-kapan ya main sama Uncle sama Aunty lagi, ya Nak ya?" rayu Fina.
"Janji ya, Uncle akan kesini lagi," ucap Jihan untuk memastikan pada Unclenya.
"Iya Non, Uncle janji," kata Naufal yang menyanggupi janji Jihan.
Akhirnya Jihan melepas pelukannya dari Naufal, dan kami pun pulang.
Di pertengahan perjalanan, hujan membasahi mobil kami.
Jalanan sepi, dan hanya 2 mobil saja yang melintas.
"Kamu tidur aja Sayang, gak papa, kamu capek kan?" tanya Naufal sambil memegang daguku.
"Enggak, aku mau nemenin kamu nyetir," kataku.
"Mata kamu udah ngantuk itu loh nggak papa beneran," paksa Naufal karena kasihan dengan Gia.
Ku condongkan badanku ke lengan Naufal.
"Dasar kamu manja," ejek Naufal.
"Biarin," kata ku sambil sayup-sayup melihat jalanan di malam hari.
Meskipun aku sangatlah mengantuk, tapi aku tetap tak tega membiarkan suamiku menyetir sendiri di jalan sepi pelosok ini.
"Kamu ketip-ketip aja dari tadi, nggak tidur-tidur," ujar Naufal yang masih fokus menyetir.
"Nggak tega lihat kamu nyetir sendirian di jalan sepi kayak gini," kataku khawatir.
"Uluh uluh manja nya istriku," rayu Naufal.
"Boneka kamu tuh kasian di belakang sendirian," goda Naufal.
"Biarin, yang penting bukan kamu yang sendirian," ucapku yang sudah sangat kantuk.
"Eh eh eh, sejak kapan istriku pinter ngegombal gini? Ha? Di ajarin siapa kamu Sayang?" tanya Naufal yang senyum malu-malu melihatku seperti ini.
"Ini tuh ketularan kamu tau dari dulu," ucapku.
"Hmm tuh kan, jeleknya semua di aku, bagus nya di kamu, dasar ya," kata Naufal sambil mencubit hidungku.
__ADS_1
"Awwww, fokus nyetir sana kamu, main cubit-cubit aja," kataku.
"Lagian kamu, makin lama makin ngeselin, makin lama makin buat aku cinta sama kamu tau," ejek Naufal ganti.
"Masak iya? Dulu aja, aku di buang-buang, aku di sia-sia in, aku di biarin," luapan ku semua ku tumpahkan malam ini.
"Kamu bahas yang dulu mulu, dulu ya dulu Gi, sekarang kan udah enggak, malah aku gak bisa jauh-jauh dari kamu," kata Naufal membela diri.
Kami menikmati candaan malam sepi itu.
Sampai-sampai tak terasa pukul 23.00 WIB kami baru saja sampai di rumah.
***(di Rumah)
Setelah Naufal memarkirkan mobilnya di garasi mobil, tak lupa dia membawakan boneka penguin besar ku.
Rupanya semuanya sudah tidur, Naufal masuk terlebih dahulu untuk menyalakan lampunya karena dia tau bahwa istrinya takut akan kegelapan.
Kami berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
***(di Kamar)
Naufal langsung masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan mandi, tidak dengan aku yang langsung menuju balkon merasakan angin malam dan hujan lebat.
Saat aku sedang asyik menikmati guyuran air hujan yang tersapu oleh angin. Tiba-tiba hewan menjijikkan mendekatiku.
"Huwwaaaaa," aku berusaha berlari tetapi tetap saja aku jatuh tersungkur di lantai.
Brakkkkk.
"Aawwwwww," aku menangis meraung-raung.
Naufal yang keluar kamar mandi, lari histeris ke arahku.
"Sayang!!!!" ucap Naufal sangat syok melihat Gia yang terdiam dan menangis di lantai sambil kehujanan.
"Ya Allah, kok bisa kayak gini kamu? Kamu ngapain Sayang?" ucapnya sambil langsung menggendongku yang masih terus menangis meraung-raung.
Naufal mendudukkan ku di sofa, meskipun tubuhku telah basah kuyup.
"Mana yang sakit? Mana yang sakit Sayang, bilang sama aku," ucapnya khawatir sambil melihat setiap sisi kepala, tangan dan kakiku.
Naufal langsung memelukku dengan niat untuk menenangkanku.
"Punggungku sakit, huwaa huwa," keluhku.
Naufal langsung melepas peluk nya.
"Kaki ku juga sakit, huwa huwa huwa,"
"Mana Sayang? Yang ini? Apa ini?" tanyanya setiap memegang sisi pinggang dan kaki ku.
"Aawwww, jangan di pegang sakit," keluhku karena sisi yang memar terpegang oleh Naufal.
Naufal membalikkan tumit kaki ku yang memar dan bengkak.
"Ya Allah Sayang, sampe kayak gini, merah memar gini," Naufal sangat panik.
"Kamu sekarang ganti baju dulu ya, habis itu aku kompres kaki sama pinggang kamu yang sakit ya?" ucapnya sambil mengambilkan baju ganti ku.
"Tolong panggilin Bi Sarah Mas," perintahku sambil sedikit terisak-isak.
"Buat apa?" tanyanya.
"Buat aku buat ganti baju," jawabku sambil mengusap air mataku.
"Asshhh iiih, huuftt," ucap gemas Naufal tapi tidak bisa membantah kemauan Gia yang sedang menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya.
"Sabar Fal sabar," gumam dalam hati Naufal.
Naufal langsung turun membangunkan Bi Sarah dan membawanya ke kamar.
"Masya'Allah, Mbak Gia kenapa Mas?" tanya Bi Sarah yang syok melihat Gia yang tubuhnya basah dan matanya merah.
"Jatuh di balkon Bi, tapi nggak tau jatuhnya kenapa dia belum cerita," jelas Naufal.
"Bi bantuin Gia Bi, kamu keluar dulu bentar Mas," perintahku.
Kali ini Naufal mengalah dengan Gia dan menuruti apa kata Gia.
Setelah beberapa menit Bi Sarahs selesai membantu Gia, Naufal langsung masuk dan mengitrogasi padaku.
"Bibi buatin teh ya Mbak," kata Bi Sarah.
"Iya Bi," jawab Naufal.
Naufal menghampiriku yang sedang duduk di sofa.
Lalu dengan telaten dia mengopres kaki memarku dengan sangat pelan.
"Bisa-bisanya kamu kayak gini Gi, tadi kamu ngapain? Ha?" tanya nya.
"Tadi kan aku main air hujan di balkon, terus aku nggak tau ada kecoa, kecoa nya lari ke kaki ku, terus aku mau lari, eh tau-taunya kepleset," rengek ku pada Naufal.
"Gia Gia, kamu tuh nggak SD, SMP, SMA lagi loh bahkan kamu udah nikah loh Gi, masih aja kayak gini," kata Naufal.
"Kenapa? Kamu malu sama istrimu yang kekanak kanakan ini? Ha?" ucapku kesal dengan Naufal.
"Bukan gitu Gi, tuh kan marahnya dulu yang di nomor satuin, aku nggak keberetan meskipun sikap kamu kekanak kanakan, minta boneka lah, pake sprei minion lah, main hujan lah, its oke gak papa, tapi kamu juga harus mikirin diri kamu dong, itu bahaya apa enggak? Terus kalo udah kayak gini aku yang khawatir Gi," tutur nya panjang lebar.
"Iya iya maafin aku, aku ceroboh tadi, lagian aku nggak tau kalo bakalan ada kecoa di balkon," ujarku.
"Badanku sakit semua lagi," keluhku lagi.
"Besok kamu nggak usah kerja dulu aja, di rumah dulu," tutur Naufal.
"Nggak mau ah, pasti besok juga udah mendingan," bantahku yang kekeh tak ingin cuti.
"Tuh keras kepala banget kamu Sayang, maka nya jadi gini kan," ejek Naufal padaku.
"Ada alasan buat aku tetep gak mau cuti, aku udah ada janji," kataku.
Naufal langsung berhenti mengelus-elus kaki ku.
__ADS_1
Bersambung......