Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 93 (Positif)


__ADS_3

Naufal membalik tetspeck itu.


Naufal terkejut, kaget, campur aduk jadi senang karena melihat test pack bahwa aku positif hamil.


"Sayang!!! Ini beneran," kata Naufal.


Aku tersenyum sangat senang padanya.


"Wuhuuuuuuuu.........., aku jadi Papa Gi, yeay yeay yeay," ucap Naufal dan langsung memelukku erat sambil bersorak-sorai.


"Kamu pinter banget sih Sayang, pura-pura sedih tadi, sumpah Gi, aku syok tadi ngeliat kamu keluar kamar mandi sambil nangis, itu tuh aku udah gak berharap banyak tau nggak, iiiihhhh Sayang," kata Naufal di pundakku.


Berkali-kali Naufal memelukku lalu memegang kedua pipiku sambil terus besorak kegirangan menjadi seorang Papa.


"Sayang, sumpah aku nggak sengaja nyuruh kamu ginian, aku berharap aja di Anniversary kita ini, aku tadi mikir gini Gi, apapun hasilnya, aku nerima banget Sayang, dan ternyata Allah kasih kita ini Gi," kata Naufal dengan sangat ekspresif.


"Aaaaaaa Sayanggggggg," ucap Naufal kembali memelukku lalu mengelus-elus rambutku.


Aku juga tidak bisa berkata-kata, karena saking bahagianya.


"Ini Mama, harus tau Sayang, habis ini kamu mandi, langsung kita periksa, habis itu kita kasih kejutan buat Mama, kita ke rumah Mama ya," tutur Naufal.


"He'em," kataku sambil menganggukkan kepalaku.


Naufal berlutut di depanku, mengelus perutku lalu menciumnya.


"Ya Allah, Alhamdulillah, Naufal bahagia banget, terima kasih Ya Allah, ini yang selama ini kita tunggu-tunggu," ucap syukur dalam hatiku.


Naufal kembali berdiri, mengecup keningku lama.


"Sekarang kamu mandi ya, aku siapin, mau air hangat? Atau..," ucap Naufal.


"Mas, Mas nggak usah aku bisa sendiri," kataku.


"Enggak Sayang, aku harus lebih ekstra ngejagain kamu," ucap Naufal.


Tanpa berkata apapun Naufal langsung ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untukku.


"Sayang kamu mandi ya, habis itu ganti aku, kalo jalan pelan-pelan," tuturnya yang sepertinya sangat khawatir.


Aku tersenyum sambil menahan tawa karena sifat protektif Naufal.


"Hehehemm, Mas Mas, kamu ini," kataku.


"Kok kamu ngetawain aku Sayang," ucapnya.


"Hheehe, enggak enggak, aku mandi dulu ya," kataku sambil berjalan menuju kamar mandi.


***(Di Kamar Mandi)


Aku berdiri di depan kaca, mengelus perutku.


Air mataku mengalir deras di kedua pipi.


"Bahagianya keluargaku Ya Allah, aku sangat bersyukur, terima kasih, berkat sabar dan doa Kau kabulkan keinginan kami, aku sangat senang bisa membuat mereka bahagia, aku janji Ya Allah akan jaga benar-benar amanah yang Kau berikan pada kami," ucapku dengan isak tangisku.


"Terlihat sangat jelas di wajahmu Mas, kamu sangat sangat bahagia, aku tau selama ini, ini yang kamu inginkan, ini yang kamu harapkan, ini yang kamu mau, kamu sabar dan tetap mencintaiku," ucapku dalam hati.


"Papa sama Mama harus segera tau, pasti mereka sangat girang bahagia," kataku dalam hati.


.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, selesai mandi, Naufal langsung menyambutku.


"Sayang, pelan kalo jalan," tuturku.


"Iiiih kamu apa sih Mas, kan aku belum hamil tua, hahahaha, dasar ih kamu," ejekku.


"Aku khawatir Sayang," ucapnya.


"Nggak papa Mas, aku tetep hati-hati kok," kataku.


"Udah ammdi sana gih," tuturku.


Naufal berjalan ke kamar mandi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah beberapa menit kemudian, Naufal selesai mandi, kami bersiap-siap untuk pergi ke Dokter.


Tiba-tiba ponselku berdering.


Ternyata video call dari Papa.


"Assalamu'alaikum," salam Papaku.


"Wa'alaikumsalam," jawabku.


"Papa kok tau banget, padahal ini tadi Gia mau telepon Papa," kataku.


"Hehehe, Papa dari kemaren Nak pengen video call Gia, kangen sama Gia," kata Papaku.


"Gia juga kangen sama Papa, sama Mama, sama Johan," ucapku.


"Gia lagi apa sekarang?" tanya Papaku.


"Habis mandi ini Pa, Pa Mama mana?" tanyaku.


Mama muncul dari belakang Papaku.


"Hallo Nak, Mama nyiapin sarapan ini buat Papa," kata Mamaku.


"Ma, Gia ada berita bahagia buat Mama sama Papa," ucapku.


"Apa Nak?" tanya Mama ku sambil mengambilkan nasi untuk Papa.


"Gia hamil Ma, Pa," kataku dengan menaikkan kedua alisku.


Mama langsung menghentikan tangannya.


"Apa Nak?? Gia hamil??" tanya Mama lagi.


"Iya Ma," jawabku sambil terharu air mata menetes begitu saja.


"Alhamdulillah Ya Allah," ucap Mama dan Papaku.

__ADS_1


"Gia bentar lagi di panggil Mama Pa," ucap Mamaku.


"Hehehe, iya Ma, Gia seneng banget, Mama sama Papa pasti bahagia kan, sebentar lagi punya cucu dari Gia," tanyaku.


"Papa sama Mama bahagia sekali Nak, syukurlah Ya Allah," jawab Papa.


"Gia kamu jangan capek-capek loh, kamu udah periksa kandungan kamu??" tanya Mamaku.


"Belum Ma, habis ini mau ke Dokter sama Mas Naufal," jawabku.


"Suami kamu kemana Nak?" tanya Papaku.


"Lagi ganti baju Pa, habis mandi tadi," jawabku.


"Keluarga Naufal sudah tau Nak?" tanya Mamaku.


"Belum Ma, habis ke Dokter, Gia nanti kesana sama Mas Naufal," jawabku.


"Iya Nak, segera kabari mereka juga, pasti mereka juga sangat senang mendengar berita ini," tutur Mamaku.


"Pasti Mama sama Papa sudah lama ya pengen Gia segera hamil?" tanyaku.


"Maafin Gia ya Ma, Mama sama Papa harus menunggu lama," rengekku.


"Nak, memang Mama sama Papa pengen punya cucu, tapi kembali lagi Nak, kan Mama sama Papa juga nggak tau kapan Gia di kasihnya sama Allah, jadi kembali lagi Nak, kita juga harus pasrah," tutur Mamaku.


"Iya Ma, Gia juga seneng bisa buat Mama sama Papa bahagia kalo denger Gia hamil," kataku sambil mengusap air mataku.


"Iya Nak, Gia sehat-sehat ya," ucap Papaku.


"Iya Pa, maafin Gia ya Pa belum bisa langsung pulang kesana," kataku.


"Nggak papa Nak, kapan-kapan kan pasti bisa," ucap Papaku.


"Ya udah kalo gitu Gia tutup dulu ya Pa," kataku.


"Iya Nak, jaga benar kesehatan kamu, Daaa Sayang, Assalamu'alaikum," ucap Mama dan Papaku.


"Wa'alaikumsalam Pa, Ma," jawabku lalu menutup video call dari Papa.


Naufal keluar dari Ruang Ganti Baju.


"Siapa Sayang?" tanyanya.


"Papa Mas," jawabku.


"Kamu nggak panggil aku tadi Sayang, kalo Papa video call," ucapnya.


"Kamu kan ganti baju Mas," kataku.


"Kamu udah ngasih tau Papa sama Mama?" tanyanya lagi.


"Udah Mas," jawabku.


"Gimana??? Pasti mereka seneng banget kan Gi tau kamu hamil," tebaknya.


"Eemmm.....iya Mas, Mama sama Papa seneng banget," jawabku.


"Ya udah, ayo turun," ajak Naufal sambil menarik tanganku.


Ku tarik ganti tangan Naufal.


"Mas, kamu sangat bahagia?" tanyaku.


"Kok kamu nanya gitu?? Aku bahagia banget banget banget Sayang, bahkan lebih dari bahagia," jawabnya sambil meraih kedua pipiku.


"Pasti ini ya yang kamu tunggu-tunggu selama ini, maaf ya Mas," kataku.


"Hust hust hust, udah Sayang, kamu kenapa minta maaf??? Kan memang Allah ngasihnya ke kita sekarang, berarti memang siapnya kita sekarang Sayang, memang kita siap menerima dari dulu, tapi kan bagi kita siap tapi kalo Allah enggak, kan enggak Sayang," tuturnya.


"Udah sekarang kita turun ya, kitas sarapan dulu," ucapnya.


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


Saat menuruni anak tangga, Naufal memegang lenganku, karena takut jika aku terjatuh.


"Awas Sayang, hati-hati," tuturnya yang super duper khawatir.


"Iya Mas, ini aku pelan kok jalannya," kataku.


***(Di Ruang Makan)


Bi Sarah, Pak Joko dan Pak Rusdi sudah menunggu kami disana.


"Mas Naufal kelihatannya bahagia banget, kenapa??" tanya Bi Sarah.


"Bi, Naufal jadi Papa Bi," jawab Naufal dengan sangat bahagia.


"Mbak Gia hamil Mas??" tanyanya lagi.


"Iya Bi, huuuummm," kata Naufal yang gemas denganku.


"Alhamdulillah Gusti," ucap Bi Sarah yang berdiri langsung memelukku.


"Ya Allah, Alhamdulillah, akhirnya Mbak Gia hamil," ucap Bi Sarah sambil meneteskan air mata bahagianya.


Aku senang bisa membuat mereka semua bahagia.


"Bibi kok nangis?" tanya Naufal.


"Saya sangat bahagia sekali Mas jika melihat Mbak Gia bahagia, hati saya juga ikut tersakiti jika Mbak Gia sedih, karena sudah sejak kecil Mbak Gia sama Bibi," jawab Bi Sarah sambil mengusap air matanya.


Ku elus-elus tangannya.


"Bibi jangan nangis, kan ini hari bahagia Gia," ucapku.


"Sini Mbak, duduk," kata Bi Sarah memepersilahkanku duduk.


Aku dan Naufal duduk berdampingan.


"Selamat Buk, Pak," kata Pak Joko.


"Selamat Mbak, Mas," kata Pak Rusdi.


Satpam baru Naufal juga ikut berbahagia mendengar ini, padahal baru saja bekerja beberapa bulan disini, tapi sudah sangat akrab dengan semuanya.


"Makasih Pak," ucap kami berdua.


Segera kami menyantap bersama menu sarapan pagi dengan suasan bahagia ini.


"Habis ini kita ke Dokter dulu Bi, terus ke rumah Mama," kata Naufal.


"Pasti mereka senang Mas mendengar berita bahagia ini," ucap Bi Sarah.


"Hehehm, iya Bi, apalagi Mama suka banget sama bayi," kata Naufal.


Setelah selesai sarapan, kami berjalan ke garasi dan berpamitan dengan Bi Sarah.


"Mas pake mobil aku aja ya," kataku.


"Kenapa Sayang, gak papa pake mobil aku aja," ucapnya.


"Lagi pengen," rengekku.


"Ya udah aku turutin apapun yang kamu mau Sayang, mungkin ini bagian keinginan bayi kita," ucapnya.


"Apa sih kamu," kataku sambil malu-malu.


Sebantar saja Naufal memanaskan mesin mobilku.


Setelah selesai memanaskan mesin mobil, Naufal segera menancap Gas mobil ke Dokter spesialis kandungan.

__ADS_1


"Ini Dokternya temen aku Sayang, jadi enak kamu konsulnya bisa lewat WA kalo kamu lagi sibuk misalnya," ucapnya.


"Oooww iya, makanya kamu gercep banget Mas," kataku.


Tak lama kemudian kami sampai di sebuah klinik.


***(Di Klinik)


Setelah mobil terparkir, kami segera masuk menemui Dokter teman Naufal itu.


Meskipun kami sampat antri, tetapi hanya sebentar saja.


Setelah namaku terpanggil, kami masuk ke ruang periksa.


"Bel," panggil Naufal.


"Eh, Masya'Allah, Naufal, ini istri kamu," ucap Dokter Bela.


"Iya Bel, makannya aku nggak asing banget ini sama nama Naufal," ucapnya sambil sedikit bergurau.


Dokter Bela menjabat tanganku untuk perkenalan, Dokter Bela sangat ramah.


Sambil meminta data diri kami, Naufal dan Dokter Bela sambil bergurau menceritakan masa-masa kuliah dulu.


"Sini Mbak," ucapnya sambil mengarahkanku berbaring.


"Aduuuh, Fal Fal, istri kamu ah, kok bisa kamu," ejeknya.


"Bisa lah namanya jodoh Bel, suami kamu kerja dimana?" tanya Naufal.


"Lagi dinas di luar kota, biasa sebulan sekali pulangnya," jawabnya.


Dokter Bela segera memeriksaku.


Setelah diperiksa kami kembali duduk untuk konsultasi kesehatan bayi kami.


"Wah, rahim istri kamu sehat, ini masih 3 minggu ya usia kehamilannya," ucap Dokter Bela.


"Istri kamu kerja?" tanya Dokter Bela.


"Iya Bel, kenapa??? Harus cuti ya," tanya Naufal lagi.


"Enggak, gak papa untuk usia kehamilan yang masih sangat muda seperti ini, nanti kalo hamil tua ambil cuti aja," ucapnya sambil tersenyum padaku.


"Asupannya jangan lupa ya Fal nanti ingetin istri kamu," tutur Dokter Bela.


"Gak boleh terlalu kelelahan atau gimana Bel?? Ini baru pertama kalinya Bel, aku gak tau," kata Naufal.


Aku hanya tersenyum malu-malu.


"Hahahah, Naufal tetep aja dari dulu, biasanya bawaan bayi beda-beda Fal, jadi nanti lihat istri kamu dulu, atau kalo mau konsul bisa langsung WA aku nggak papa Mbak," kata Dokter Bela.


"Aku catat disini ya nomornya," ucapnya sambil menulis nomor ponselnya pada buku periksaku.


Setelah setengah jam kami konsul, segera Naufal kembali melajukan mobilnya untuk pergi ke Mama Feni.


Di perjalanan Naufal terus menasehati.


"Sayang, kamu jangan terlalu capek-capek ya," tuturnya.


"Iya iya Mas, iya," kataku.


Hampir satu jam kami sampai di rumah Mama Feni.


***(Di Rumah Mama Feni)


Gerbang di bukakan oleh satpam.


"Bang," sapa Naufal pada satpam itu.


"Wiiih Mas Naufal, Baru kesini Mas, lama banget udah gak keisni," ucap satpam itu.


"Iya Bang, hehehe, sibuk kerja," kata Naufal.


"Mari Bang," ucap Naufal dan aku tersenyum pada satpam itu.


Mobil berhenti di halaman Rumah Mama Feni.


Naufal menyalakan klaksonnya.


Tin...tin.


Ada seorang pria sepertinya tukang kebun disana sedang menata mini park di depan Rumah Mama Feni.


Kami segera turun.


Tukang kebun itu langsung berdiri menghampiri kami.


"Mas Naufal," ucapnya.


Naufal menyalami tukang kebun itu.


"Jangan Mas, kotor tangan saya Den," ucap tukang kebun itu.


"Hahaha, gak papa Mang," kata Naufal.


"Saya ke dalam dulu Mang, mau ketemu sama Mama," ucap Naufal.


"Oh silahkan Mas," kata Tukang kebun itu.


Kami masuk ke Rumah Mama Feni yang pintunya terbuka lebar.


"Assalamu'alaikum," salam kami.


Mama Feni turun dari tangga.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mama Feni.


"Akhirnya kesini anak ku, huuummm," ucap Mama Feni langsung memelukku dan memeluk Naufal.


"Masya'Allah, kangen banget Nak," ucap Mama Feni sambil menciumi kedua pipiku.


"Sehat Nak?" tanya Mama Feni.


"Alhamdulillah Ma, Mama sehat juga?" tanyaku balik.


"Mama sehat Nak, Papa sehat juga," jawabnya.


"Papa mana Ma?" tanya Naufal.


"Di atas Nak, ayo ke atas," ajak Mama Feni sambil menggandeng tanganku.


Kami bertiga berjalan menaiki anak tangga.


Tampak Papa Diki duduk duduk sambil membaca koran di pinggir kolam renang.


"Papa...," panggil Naufal.


Papa Diki menoleh ke arah kami.


"Pa, anakmu kesini," kata Mama Feni.


"Eh eh eh, menantuku," ucap Papa Diki.


"Menantunya aja nih Pa yang di kangenin," ejek Naufal.


"Hehehe, anak ku juga dong," ucap Papa Diki.


Kami menyalami Papa Diki, dan beliau memeluk kami.


Bersambung......

__ADS_1


Nantikan kejutan-kejutan selanjutnya kakak🖤😁🙏


__ADS_2