Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 54 (Beloved Husband)


__ADS_3

Naufal berhenti mengelus-elus kaki ku.


"Ada janji sama siapa kamu? Kok gak cerita sama aku?" ucap nya sedikit kesal.


"Ada janji sama pasien," jawabku.


"Pasien siapa? Jangan-jangan gebetan kamu dulu ya?" tebaknya.


"Bukan, pasien ini tuh spesial banget Mas, suka banget aku bahkan terharu," kata ku yang semakin membuat Naufal kesal dan penasaran.


Aku tau Naufal diam karena dia pasti mikir hal yang aneh-aneh tentang ku.


"Mas, ngantuk," kataku dengan manja padanya.


"Tidur?" tawar nya.


"He'em," jawabku mencoba untuk menghibur nya.


Tanpa aba-aba dan perintah Naufal langsung menggendongku dan di baringkan nya aku di ranjang.


Naufal mematikan lampu di atap-atap kamar, dan menyalakan lampu tidur di samping kanan dan kiri ranjang.


Di rebahkan tubuh nya langsung di sampingku, lalu menghadapku.


"Bobo yang nyenyak Sayang," bisik nya di telingaku.


Ku balikkan tubuhku menghadap nya pelan-pelan.


"Aku besok boleh kerja ya," rayu ku pada Naufal.


"Enggak, aku bilang nggak ya enggak, pinggang sama kaki kamu sakit Sayang, jangan aneh-aneh deh," bantah nya keras kepala.


"Ah Sayang, kamu mah gitu gak asyik," ceplosku untuk pertama kalinya memanggil Naufal dengan sebutan "Sayang".


"Apa tadi kamu bilang? Aku gak salah denger kamu tadi bilang gitu," ucap nya menggoda ku.


"Apaan? GR banget, tau ah," kata ku sambil membalikkan tubuh ku membelakanginya.


"Mulai, mulai, ngambek nya kambuh," ejek Naufal yang menarik lenganku.


"Aduh Gia, kamu ngaco deh, tadi keceplosan panggil sayang ke Naufal, malu aku," gumamku dalam hati.


Naufal tak sengaja menarik pinggangku.


"Aawwww sakit yang itu, kok kamu tarik sih," keluh ku sangat kesal dan langsung menangis seperti bayi yang bangun dari tidur nya.


"Maaf maaf, aku gak sengaja Sayang, sumpah, maaf ya," rayu nya untuk menenangkanku.


"Kamu gimana sih? Kan kamu udah tau, huwa huwa," ucap ku sambil menangis.


"Ya Allah aku gak sengaja ini tadi, masak iya aku mau nyakitin kamu, bisa-bisa nya kamu nih Sayang," bantah Naufal membela diri.


Naufal langsung memelukku pelan dan mengelus-elus rambutku.


"Maaf ya, suami mu nggak sengaja," ucap maaf Naufal.


"Pinggang kamu aja buat gerak dikit sakit, gitu besok tetep ngeyel gak mau cuti, kamu harus nurut sama aku Sayang," tutur nya.


"Iya iya, tapi sehari aja ya?" tawarku padanya.

__ADS_1


"2 hari dong, Memarnya parah loh," paksanya lagi.


"Kita lihat saja nanti, kalo sehari aku udah mendingan ya aku kerja aja," ucapku.


"Eh iya, tadi kamu panggil aku apa? Ulangi coba satu kali lagi," goda Naufal yang membuatku malu.


"Males ah, mau bobok," kata ku sambil memeluk Naufal dan langsung ku pejamkan kedua mataku.


"Huuu dasar kamu pinter banget alasan Gi," kata Naufal sambil mengecup keningku.


Kami tertidur sangat pulas dengan kenyamanan yang kami ciptakan malam ini.


Seperti biasa alarm Gia berbunyi tepat pukul 3 dini hari,


Ku buka pelan-pelan mataku, nafasku terasa berat karena dekapan lengan Naufal yang berat. Aku raih ponsel di meja samping tempat tidurku.


"Aaawww," keluhku karena menggerakkan pinggangku sedikit saja sudah sakit.


Naufal bangun karena terganggu dengan suara kesakitanku.


"Kamu udah bangun, mau ngapain?" tanya nya sambil masih samar-samar melihatku.


"Mau ngambil ini," ucapku.


Naufal langsung meraih ponselku dan mematikan dering dari alarm nya.


Naufal kembali memelukku.


"Kamu nggak usah masak, lanjut bobo aja, kamu masih sakit Sayang," tutur nya sambil mata nya masih terpejam nyaman.


Kali ini lagi-lagi a aku mengikuti kemauannya.


Naufal hanya tersenyum sambil matanya tetap terpejam rapat.


Dan kami melanjutkan untuk menjemput mimpi tidur kami.


Suara adzan shubuh berkumandang.


Naufal sebenarnya tak tega untuk membangunkan ku, tapi gimana lagi? Ini adalah kewajiban.


"Gi, bangun Sayang," kata Naufal sambil mengelus pipi tembem milikku.


"Eehmm apa?" kataku yang sudah terlanjur nyaman dan lelap dalam tidur.


"Udah shubuh, bangun ya, nanti aku gendong ke kamar mandi nya buat mandi dan wudhu," tuturnya lagi.


"He'em," jawabku singkat.


Naufal beranjak dari tempat tidrunya dan meninggalkan ku terbaring sendiri.


Aku melihat dia yang sedang menyiapkan mukenah dan sajadah untuk kita sholat bersama.


"Fal Fal, kamu nggak cinta sama aku aja aku bisa jatuh hati sama kamu, apalagi kamu kayak gini sama aku," gumamku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


Rupanya Naufal mengetahui saat aku tengah memikirkannya.


"Kok kamus senyum-senyum, kenapa?" tanya nya.


"Enggak, gak papa, lagi bahagia aja," jawabku dengan sumringah.

__ADS_1


"Bahagia kenapa? Hm?" tanya nya lagi.


"Kamu perhatian banget sama aku, apa aku harus kayak gini dulu biar kamu perhatian sama aku Mas?" tanya ku yang sengaja ingin mengerjainya.


"Hmmm ya enggak lah, udah bilangin aku udah berubah Gia, aku bukan Naufal yang dulu pertama kali kamu kenal, Naufal yang itu udan pergi gak tau kemana," jawabnya


"Akankah dia datang lagi dan menemui ku?" tanya ku lagi padanya.


"Gak akan, itu tidak akan pernah terjadi, karena sebelum dia kesini, aku yang akan pergi terlebih dahulu membawamu jauh darinya," kata Naufal bak pangeran dalam dongeng.


"Bisa aja nih Dokter Naufal," ejek ku padanya.


"Udah, ayo cepetan mandi terus ganti aku," ajak nya padaku.


"Kamu belum wudhu?" tanyaku.


"Belum," jawabnya.


Naufal langsung menggendongku ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit aku selesai mandi dan wudhu, Naufal langsung masuk ke dalam kamar mandi, aku berjalan pelan sambil kuraba setiap dinding untuk ku menyangga.


"Pelan-pelan Sayang nanti jatuh lagi," kata Naufal yang tak kunjung mandi karena memperhatikan ku.


Setelah aku berhasil berdiri tepat di atas sajadah dan Naufal selesai mandi dan wudhu, kamu memulai melaksanakan sholat.


"Kamu bisa kan?" tanya Naufal yang masih khawatir padaku.


"Iya bisa tenang aja," kataku dengan menahan sakit.


Sepertinya Naufal yakin dan lega dengan jawabanku.


Akhirnya kita memulai untuk segera sholat.


Setelah beberap menit selesai sholat, Naufal menggantikan peranku hari ini.


Dia menyiapkan gamisku, menyiapkan kemejanya sendiri.


"Mas, maaf ya, aku jadi ngrepotin kamu," ucapku karena tak enak hati dengan Naufal.


"Nggak papa, kamu gak perlu minta maaf, suami istri tuh emang gini Sayang , harus saling mengerti, jika satu tumbang maka satunya menguatkan," ucap bijak ala Naufal.


"Hem sok bijak kamu," ejek ku.


""Loh, emang bener kok Gi, harus gitu tuh dalam rumah tangga biar awet," tuturnya lagi.


"Kata siapa kamu? Dapet resepd dari mana kamu," tanya ku penasaran.


"Dari Papa aku, dulu waktu ke rumah kamu untuk ngelamar kamu," jawabnya sambil memakai kaos kaki nya.


"Beruntung ya Mama kamu dapetin Papa kamu," ejek ku padanya.


"Kamu juga beruntung dapetin anaknya Gi, hehehe," kata Naudal dengan PD nya.


"Aarrrghhhh, PD banget kamu," ucapku.


Naufal menuntunku berjalan menuju sofa dengan sangat pelan-pelan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2