
Saat Gia membuka pintu, Gia kaget melihat tamu malamnya itu.
“Ada perlu apa ya?” tanya Gia.
“Aku mau bertemu dengan Naufal,” jawab Vela.
“Ada apalagi?” tanya Gia lagi.
“Ada yang perlu aku omongin sama dia,” jawab Velalagi.
“Masuk,” ucap Gia singkat.
Gia dengan lapang dada mempersilahkan Vela masuk ke ruang
tamu, karena Gia tidak ingin larut dengan rasa bencinya pada Vela.
Gia menghampiri Naufal di ruang kerjanya.
Terlihat Naufal yang sangat sibuk menatap layar laptop.
“Fal,” panggil Gia.
“Iya ada apa?” tanya Naufal sambil masih tetap menatap layar
laptopnya.
“Ada Vela,” jawab Gia.
Jemari Naufal langsung berhenti mengetik, suasana hening
seketika, Naufal menatapwajah Gia, karena Naufal takut jika Gia akan pergi meninggalkannya.
“Suruh pulang aja,” perintah Naufal.
Gia mengelus-elus kedua pundak Naufal, karena ingin
menenangkan Naufal.
“Fal, kamu gak boleh gitu, kasihan Vela, lebih baik kamu
temui dia, barangkali ada hal penting Fal, kamu gak boleh merasa kesal atau benci sama dia, kita harus memaafkan dia Fal,” tutur Gia.
“Huuuffftt beneran gak papa?” tanya Naufal pada istrinya.
Gia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Naufal.
Gia dan Naufal berjalan menuju ruang tamu.
***(di Ruang Tamu)
Naufal duduk di depan Vela sedangkan Gia pamitan untuk ke atas kamarnya saja.
“Aku ke atas dulu ya,” pamit Gia.
“Enggak, kamu harus disini nemenin aku,” perintah Naufal.
Gia langsung duduk di sebelah Naufal.
“Ada apa lagi Vel?” tanya Naufal.
“Fal, aku masih mencintaimu, aku ingin memilikimu, udah
cukup aku nahan waktu kita SMA dulu Fal, aku udah coba nglupain kamu tapi aku gak bisa,” ucap Vela sambil meneteskan air matanya.
Vela sama sekali tidak tau malu padahal ada Gia disana.
Naufal menoleh ke arah Gia, Gia hanya menundukkan kepalanya.
Naufal meraih tangan Gia, dan mengenggamnya.
“Vela gini ya, kamu juga harus ngerti posisi aku sekarang,
kamu juga harus tau kondisi Vel, sekarang aku sudah beristri, aku harap kamu ngerti itu Vel,” ucap Naufal dengan nada sangat halus karena Naufal memang tidak bisa membentak-bentak seorang wanita.
“Tapi kamu dijodohkan kan sama istrimu?” bentak Vela.
“Kamu gak mungkin Fal cinta sama dia,” sahut Vela lagi.
Naufal hampir saja ingin memarahi Vela, tapi Gia kembali
menenangkannya.
“Udah udah,” ucap Gia lirih.
“Semudah itu kamu menghapus semua kenangan kita Fal, kamu
jahat Fal sama aku!” ucap Vela dengan tegas.
“Itu semua masa lalu Vel, memang aku pernah mencintaimu,
tapi sekarang aku udah milik istriku Vel, bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap bersamanya,” kata Naufal.
“Aku harap kamu ngerti ya Vel, udah ya, lupain semua masa
lalu kita, aku yakin kamu pasti mendapatkan laki-laki yang terbaik Vel melebihi aku,” tutur Naufal.
“Aku mau kamu Fal! Kamu ngerti itu!” teriak Vela sambil
langsung pergi keluar dari rumah Naufal.
Naufal memijat-mijat keningnya.
__ADS_1
“Kenapa rumit seperti ini,” ucap Naufal.
Gia kembali mengelus-elus Naufal.
“Sabar ya, mungkin aku yang salah telah hadir di kehidupanmu,” ucap Gia.
“Enggak Gi, kamu nggak salah apa-apa,” kata Naufal sambil mengangkat dagu Gia.
“Ya udah sekarang istirahat dulu ya, kamu pasti capek,” tutur
Gia.
Mereka berjalan menuju kamarnya, dan membaringkan tubuhnya di atas kasurnya.
Naufal mendekap tubuh Gia, dan sepertinya dia tidak bisa
tidur.
“Kamu kenapa? Gak bisa tidur?” tanya Gia.
“Iya, padahal udah ngantuk banget,” rengek Naufal.
“Mikirin Vela ya?” tanya Gia lagi.
“Enggak, aku mikirin presentasi besok,” jawab Naufal.
“Pasrah aja Fal, Bismillah, sekarang kamu istirahat dulu
biar besok presentasinya maksimal,” tutur Gia.
Naufal tersenyum mendengar omelan istrinya.
“Iya iya,” jawab Naufal.
Akhirnya mereka berdua tertidur.
Keesokan harinya setelah sholat shubuh, seperti biasa Gia
kembali memasak untuk suaminya tetapi kali ini dibantu oleh Bi Sarah.
***(di Dapur)
“Mbak Gia, biar Bibi aja yang masak,” tutur Bi Sarah.
“Enggak Bi, Gia pengen jadi istri yang baik buat Naufal,
jadi Gia pengen Naufal makan masakan Gia, sepeti keluarga pada umumnya Bi, nanti Bibi sebutin bumbunya apa aja biar Gia yang racik sendiri,” ucap Gia sambil memotong-motong sayur.
“Bibi jadi kangen suami Mbak,” keluh Bi Sarah.
“Kenapa suami Bibi gak ikut kerja disini aja,” tawar Gia.
“Boleh ya Mbak?” tanya Bi Sarah dengan senang hati.
Gia sambil tersenyum pada Bi Sarah.
“Takut Mas Naufal Mbak,” ucapBi Sarah.
“Gak papa Bi, pasti Naufal setuju, sebenarnya dia baik Bi,”
tutur Gia.
Rupanya Bi Sarah masih ragu dengan keputusan Gia.
“Gini deh, nanti Gia yang akan ngomong sama Naufal, biar
Bibi percaya, nanti kalo Naufal setuju, mulai minggu depan, suami Bi Sarah langsung datang ke sini aja, biar jadi tukang kebun,” kata Gia.
“Makasih ya Mbak Gia, Bibi seneng banget,” jawab Bi Sarah.
Mereka berdua kembalimelanjutkan aksinya memasak, setelah
memasak, Gia memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.
***(di Ruang Makan)
Naufal duduk di depan hidangan yang sudah disiapkan Bi
Sarah.
Naufal mengendus aroma masakannya.
“Wah kayaknya enak banget ini masakan nya Bi,” puji Naufal.
“Pak Joko kemana? Kok nggak ikut sarapan sama kita,” tanya
Gia.
“Bentar lagi pasti datang, tuh kan orangnya,” jawab Naufal
sambil mengarahkan bola matanya ke arah Pak Joko.
“Mari makan sini Pak,” perintah Gia.
“Iya Bu,” jawab Pak Joko.
Gia duduk di sebelah Naufal, dan Bi Sarah duduk di depan
Gia.
“Mari makan semua,” ucap Naufal mempersilahkan semuanya
__ADS_1
untuk sarapan.
Naufal memakan sesendok sayur capcay.
“Pasti Bibi yang masak ya ini,” ucap Naufal.
“Itu…” kata Bi Sarah terpotong oleh Gia.
“Iya Bibi yang masak,” sahut Gia dengan tersenyum ke arah Bi Sarah.
“Pantesan enak banget Bi, kalo Gia sih gak bisa masak Bi,
kapan-kapan Bibi ajarin masak ya Gianya Bi, tapi meskipun Gia gak bisa masak, saya tetep sa…..” Naufal menghentikan ucapannya, dan menutup mulutnya sambil
melototkan bola matanya.
Semua mata memandang ke arah Naufal.
“Sa apa?” tanya Gia.
“Salut maksudnya, hehehe,” jawab Naufal sambil
tersenyum.
“Untung aja gak keceplosan Ya Allah,” gumam Naufal dalam
hatinya
Naufal belum siap mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan pada Gia, bisa dibilang Naufal gengsi sama Gia.
Setelah mereka menyantap habis sarapannya, Gia dan Naufal
berpamitan untuk pergi bekerja.
***(di Rumah Sakit)
Sampai di Rumah Sakit, Gia dan Naufal keluar dari mobilnya,
mereka berjalan beriringan, Naufal langsung menggandeng tangan Gia.
Gia heran dengan sikap suaminya itu.
Saat mereka memasuki lorong rumah sakit, semua mata tertuju pada mereka, terutama para perawat dan petugas lainnya.
“Fal, lepasin ah ini rumah sakit loh,”ucap Gia lirih.
“Biarin, biar semuanya tau Gi,” ejek Naufal.
“Iiiih kamu mah gitu kalo dibilangin,” tutur Gia yang agak kesal
dengan Naufal.
“kalo gak kamu lepas, aku gigit ni ya tangan kamu,” ancam
Gia pada Naufal.
“Gigit aja weeekk,” ejek Naufal ganti.
“Beneran nih ya,” ucap Gia sambil mengangkat tangan Naufal.
“Iiii…iya iya, ini aku lepasin, kamu galak banget sih pagi
ini,” rengek Naufal.
“Kamu sih keras kepala banget,” keluh Gia.
“Tapi kamu cinta kan?” goda Naufal.
“Iiiih apaan sih, udah ah sana ke ruangan kamu,” perintah
Gia.
Mereka berjalan berpisah, Gia yang sedari tadi
tersenyum-senyum sendiri Karena ulah suaminya.
Kebetulan kali ini Gia memeriksa pasien yang satu ruangan dengan Naufal dan Bastian.
Bastian bingung kenapa sikap Naufal dan Gia tidak seperti suami istri pada umumnya.
Seorang pasien lansia bertanya pada Naufal.
"Dokter Naufal, sudah menikah?" tanya Pasien itu.
mereka bertiga saling menatap.
"Sudah dong Nek, mereka ini pengantin baru," sahut Bastian.
"Mereka?" tanya Pasien itu lagi.
"Ya Dokter Gia sama Dokter Naufal Nek, mereka pengantin baru," ejek Bastian.
Naufal dan Gia hanya menahan tawanya.
"Nenek suka banget sama Dokter Naufal, sebenarnya mau Nenek jodohkan sama cucu Nenek, tapi ternyata Dokter Naufal sudah menikah," ceplos Pasien itu.
Gia pergi meninggalkan ruangan itu, saat melewati taman , Gia melihat seorang wanita yang tengah duduk disana sambil menangis dan melamun. Gia merasa kasihan dengan wanita itu, lalu Gia menghampirinya.
bersambung.........
Jangan lupa like, comment dan vote ya 😁🙏
__ADS_1
Tunggu episode selanjutnya, Terima kasih