Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 11 (Keputusan Gia)


__ADS_3

Gia memikirkan kata-kata Pak Kevin, dan mempertimbangkan untuk mengambil keputusan yang tepat.


"Gi, jawab saya," rayu Pak Kevin yang sedang memandangi Gia.


"Maaf Pak tapi saya tidak bisa," ucap Gia yang meneteskan air matanya sambil sesekali melirik ke arah Pak Kevin.


Pak Kevin langsung menepuk pahanya dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Suasana hening seketika, Pak Kevin mencoba tenang dan melamunkan dirinya sebentar karena tidak menyangka akan keputusan Gia yang diberikan padanya, tetapi malah terdengar jelas suara isak tangis Gia.


"Gi, kamu beneran Gi? Kamu nggak peduli sama saya?" ucap Pak Kevin yang masih tidak percaya dengan jawaban dari Gia.


Gia menganggukan kepalanya dan mengusap air matanya yang ada di dagu nya itu.


"Gi sedikitpun kamu nggak pernah cinta sama saya?" tanya Pak Kevin lagi.


Gia hanya menggelengkan kepalanya.


"Nggak mungkin Gi, kamu pasti bohong sama saya!" ucap Pak Kevin dengan menatap Gia.


"Maaf Pak, selama ini saya hanya kagum sama Bapak, saya hanya menahan agar tidak pernah jatuh cinta pada Bapak," kata Gia.


"Lalu siapa Gi yang kamu cintai kalau bukan saya?!" kata Pak Kevin yang mencoba melihat wajah Gia yang semakin menunduk.


Gia mencoba memberanikan diri untuk menghadap balik Pak Kevin dan mejelaskan semuanya, agar Pak Kevin percaya pada Gia.


"Saya disini berniat hanya untuk kuliah Pak, saya fokus kuliah, saya menahan bahkan mengubur semua perasaan saya, entah itu rasa cinta ataupun sayang, saya hanya ingin fokus Pak disini, saya tidak ingin main-main, saya tidak bisa seperti mahasiswa Bapak yang lain, saya berniat untuk belajar disini, tidak untuk yang lain, saya harap Bapak mengerti !!" kata Gia dengan sangat gugup karena harus menahan semua marahnya pada dirinya sendiri.


"Oke baiklah jika ini yang kamu minta, saya menerimanya, maaf akan semua kesalahan saya," ucap Pak Kevin yang langsung meninggalkan Gia di dalam mobil dan menutup mobil Gia. Karena Pak Kevin sudah berjanji pada Susi akan menerima apapun jawaban Gia.


Gia menangis sejadi-jadinya di dalam mobil, Susi langsung menghampiri Gia dalam mobil dan langsung memeluk Gia.


"Gi, maaf ya," ucap Susi dalam pelukan mereka.


"Ini rencanaku Gi, aku ingin memperbaiki semuanya, agar kamu juga lega begitu juga dengan Pak Kevin," ucap Susi yang mengelus-elus pundak Gia.


Mereka melepaskan pelukannya.


"Nggak papa Si, kamu bener," ucap Gia yang mengusap ingusnya dengan tissue.


"Maaf ya Gi, aku jadi nggak enak sama kamu," kata Susi yang kembali memenangkan Gia.


"Udah santai aja," jawab Gia mencoba untuk memberikan senyum pada Susi.


"Kalo gini aku lega banget Si, gak nyangka kamu bisa nyusun rencana se-ekstrim ini, pake acara kunci mobil segala, takut aku tuh," ejek Gia.


"Gi kamu ini lagi sedih loh, kamu gak galau apa gimana gitu," tanya Susi yang heran dengan temannya yang cepat banget mengubah mood jeleknya.


"Apaan sih kamu," jawab Gia sambil mendorong badan Gia.


"Aawww dasar ah kamu," kata Susi.


"Tadi gimana Gi respon Pak Kevin?" tanya Susi.


"Udah ayo pulang dulu, dari tadi di parkiran gak pulang-pulang takut di curigai tau, tuh cctv," ucap Gia sambil mengarahkan bola matanya ke arah cctv.


Susi menyalakan mesin mobil dan langsung keluar dari parkiran Mall, mobil melaju sangat santai karena Gia sambil menceritakan kejadian tadi pada Susi. Di dalam mobil masih sempatnya Susi mengerjai Gia.


"Udah ya jangan main perasaan lagi," ejek Susi sambil menertawakan cerita Gia.


"Enggak, aku nggak main perasaan Si, aku kan cuman kagum sama beliau," jawab Gia.


"Inget pesen Papa kamu, kamu disini ngapain," kata Susi sambil fokus melihat jalan depan.

__ADS_1


"Ingetlah Si, bahkan setiap detik pun aku inget," jawab Gia.


"Tunggu aja tuh pria idaman pilihan Papa Mama kamu," ejek Susi.


"Apa sih, masih lama kali Si, kayak tau aja kamu," jawab Gia dengan malu.


"Ya tau lah, aku gitu," jawab Susi sok tau.


"Udah jangan ngomong terus, nyetir yang bener," canda Gia.


"Iya ndoro," jawab Susi sambil ketawa.


Dalam mobil mereka saling membuang canda satu sama lain, apalagi Susi sangat mengerti betul isi hati Gia sebenarnya.


Mobil menuju rumah nenek Susi untuk mengantarkan Susi pulang.


***(Di rumah nenek Susi)


Tampak disana Nenek Susi sedang menyirami bunga-bunga yang di tanamnya. Susi keluar dari mobil Gia. Begitu juga dengan Gia, ingin menyapa Nenek Susi karena kemaren tidak bertemu dengan beliau.


"Nek ada Gia nih," ucap Susi sambil mengambil ponselnya di tas.


Gia bersalaman dengan nenek Susi dan mencium tangannya.


"Lo nak Gia, kok jarang ke sini," kata nenek Susi.


"kemaren Gia ke sini Nek, tapi Nenek sudah tidur," jawab Gia dengan memberikan senyum manisnya.


"Ooo iya, Nenek kemaren agak kurang enak badan Gi, masuk angin, untung cucu-cucu nenek ini jadi dokter, jadi Nenek tidak perlu susah-susah dan bingung mau konsultasi kemana," ucap Nenek Susi yang tidak melepaskan tangan Gia di genggamannya.


"Hehehe," senyum Gia dan Susi.


"Kalo gitu Gia pulang dulu ya Nek," ucap Gia.


"Enggak Si, mau belajar," jawab Gia.


"Ya udah Si aku balik dulu, Assalamu'alaikum," salam Gia pada Susi dan Neneknya.


"Iya Gi hati-hati, Wa'alaikumsalam," jawab Susi.


Gia berjalan menuju mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya, Lalu menekan klaksonnya.


Tin....


Susi dan Neneknya melambaikan tangan ke arah Gia. Gia memutar balikkan mobilnya dan mobil melaju sangat pelan.


Gia agak melamun di dalam mobil, tetapi dia juga sadar hanya buang-buang waktu saja untuk hal yang tidak harus dipikirkan oleh Gia.


***(Di Kos Gia)


Gia memarkirkan mobilnya, dan langsung menuju kamarnya.


Tanpa berfikir apapun dan ingin melupakan kejadian tadi, Gia meletakkan tasnya, tanpa melepas kerudungnya Gia memutuskan untuk tidur saja.


Adzan ashar berkumandang, Gia bangun dan sesekali mengecek ponselnya apakah ada pesan masuk, dan ternyata tidak ada sama sekali, Gia berniat untuk memblokir semua akun dari Pak Kevin. Agar beliau tidak bisa menghubungi Gia lagi.


Gia bergegas menarik handuk dan mandi.


Setelah mandi kebetulan haid Gia sudah berhenti dan Gia melaksanakan sholat ashar, Gia berharap agar dia bisa fokus untuk kuliah tanpa memikirkan hal lain.


Setelah sholat Gia meraih bukunya, Gia belajar untuk ujian mata kuliah besok.

__ADS_1


Sampai adzan magrib Gia belajar, Gia mengambil air wudhu.


"Mau wudhu Gi?" tanya Kak Nia dari arah belakang Gia yang juga ingin wudhu.


"Iya, Kak Nia duluan gak papa," jawab Gia.


"Udah Gi kamu aja dulu," ucap Kak Nia sambil mempersilahkan Gia.


"Makasih Kak," kata Gia.


"Ih dasar Gia kayak apa aja," ejek Kak Nia.


"Hehehe," senyum Gia.


Setelah Gia berwudhu dan melaksanakan sholat magrib, Gia berdo'a dengan isak tangisnya, dia ingin fokus kuliah dan tenang, selalu diberikan kemudahan atas semua usaha yang dilakukannya. Gia hanya ingin Papa dan Mamanya bangga padanya.


Setelah selesai sholat dan mengaji. Gia kembali belajar lagi.


setelah belajar Gia mencoba untuk video call Susi.


Tut...tut...tut.


ponsel Gia hanya berdering dan tidak ada jawaban dari Susi, mungkin dia sedang sibuk. Gia memesan makanan online seperti biasa, tetapi Kak Nia menghapiri kamar Gia.


Tok..tok..tok.


"Gi," panggil Kak Nia.


"Iya Kak Ni masuk aja," jawab Gia.


Kak Nia masuk ke kamar Gia dan duduk di sebelah Gia.


"Gi, beli mie pedas yuk," ajak Kak Nia karena mereka pemburu makanan-makanan pedas.


"Boleh Kak, beli dimana?" tanya Gia.


"Online aja Gi, mager banget," keluh Kak Nia yang sepertinya sangat lelah sekali.


"Oke Kak," jawab Gia.


Mereka memesan mie pedas kesukaan mereka. sambil menunggu mie datang, mereka saling curhat, tapi tidak dengan Gia, Gia hanya sebagai pendengar saja.


"Kak Ni, ini Bapaknya udah di bawah deh," ucap Gia dengan membaca pesan di ponselnya.


"Ya udah aku aja yang turun Gi," jawab Kak Nia.


"Gia aja Kak, udah nggak papa, Kak Nia duduk manis aja disini," kata Gia sambil beranjak turun kebawa dan mengenakan kerudungnya.


Mereka menyantap makanannya dengan sangat lahap, kamar Gia dipenuhi suara canda tawa mereka berdua.


"wkwkwkwkw," ketawa Kak Nia.


"Ya udah Gi aku ke kamar dulu, ngantuk mau tidur," kata Kak Nia sambil membawa sampah makanannya tadi.


"Iya Kak Ni, Gia juga mau tidur," jawab Gia.


Setelah Kak Nia keluar dari kamar Gia, Gia mengunci kamarnya, merebahkan tubuhnya, menarik selimutnya, sesekali Gia menghembuskan nafas panjang nya.


"Terima kasih Ya Allah untuk peristiwa hari ini," ucap Gia dalam hati.


Tunggu episode selanjutnya yang lebih seru kakak.

__ADS_1


Terima kasih sudah setia membaca novelkuđź–¤.


jangan lupa vote, like, komen dan gabung ke grup, agar tidak ada jarak diantara kita hehehe (author dan pembaca).


__ADS_2