
"Bukan berarti aku diam dan tidak melakukan apa-apa bukan berarti aku tidak tegas sama kamu Gi, bukan begitu? Aku hanya ingin tau terlebih dahulu, sebenarnya apa yang sedang kau cari, makanya aku membiarkan ini semua. Jadi kamu jangan kira aku nggak peduli sama kamu ya, aku sangat sangat peduli sama kamu," kata Naufal.
"Hatiku sangat sakit jika melihatmu bersama Vela," kataku.
"Lantas mengapa kamu menyuruhku untuk menemani Vela Sayang?" tanya Naufal yang tetap memelukku.
"Aku bingung ketika aku berada dalam pilihan antara benar dan salah atas rencana diam-diamku ini, aku kira mungkin bahagiamu memanglah dengan nya," ucapku yang semakin menangis.
"Kamu juga nggak kasih kabar aku sama sekali, kamu gak peka dasar," kataku sambil memukul halus Naufal.
"Aku nggak peka sama kamu gimana Sayang? Aku peka dengan perubahan sikap kamu sama aku, tapi aku sengaja nggak langsung nanya sama kamu, aku pengen selesain masalah ini dulu, nanti kalo Mamanya Vela udah ke sini, aku bakalan jelasin semuanya sama beliau," kata Naufal kembali.
"Bagaimana dengan janji yang kau buat dengan Mamanya Vela?" tanya ku sambil menengadahkan kepala melihat Naufal yang lebih tinggi dariku.
"Ya aku tetep jagain dia, tapi kan beda udah gak bisa kayak dulu lagi, cuman mantau aja, kalo dia baik-baik aja ya udah, dia butuh bantuan atau minta tolong, ya kita bantu sama-sama," tutur Naufal.
Aku kembali menyenderkan kepalaku tepat di dada Naufal.
"Kamu jangan buat rencana aneh-aneh gini lagi ya, aku udah terbuka loh sama kamu, masak kamu masih diem-dieman sama aku, rahasia-rahasia an sama aku, kan gak baik Sayang," tuturnya.
"Kamu kenapa sih Gi susah banget di bilangi, susah banget percaya sama aku, kan aku udah bilang berkali-kali kalo aku gak bakalan ninggalin kamu," kata Naufal.
"Semua laki-laki bisa janji untuk tidak meninggalkan, tetapi belum tentu bisa untuk tetap saling menjaga perasaan Mas," kataku lirih.
"Aku, mencintaimu dengan tulus Gi, aku mencintaimu," bisik Naufal di telingaku.
"Aku siap buat ngomong beribu kali bahwa aku cinta sama kamu, aku nggak keberatan jika memang kamu menginginkan itu," kata Naufal yang mencoba menggodaku.
Ku lepas pelukan dari Naufal, ku hapus air mataku.
"Kamu beneran? Kamu tulus? Nggak kepaksa karena udah terlanjur nikah sama aku, kalo kamu bahagia sama dia aku nggak papa, aku ikhlas," kataku dengan manja.
Naufal menertawakan ku.
"Wahahahah, Sayang Sayang kok gitu sih kalo ngomong," ucap Naufal.
"Ya enggaklah, aku tuh meskipun dari awal nikah sama kamu, gak ada sedikitpun rasa terpaksa, semua itu di syukuri aja, kalo kita bersyukur pasti kita ngrasa bahagia, karena kita ngrasa cukup, ya kayak aku sama kamu, udah cukup kamu yang kayak gini, aku bersyukur, aku nggak minta yang lebih-lebih lagi, kan," tutur Naufal.
"Iya iya kok kamu malah ngetawain aku sih," rengek ku.
"Hehehe, udah sekarang ayo tidur dulu," kata Naufal sambil menggiringku untuk tidur.
Naufal mematikan lampu kamar, dan hanya lampu tidur saja yang menyala.
Seperti biasa Naufal selalu memelukku.
"Sayang, kamu harus janji ya, kamu gak boleh buat rencana konyol kayak gini lagi," kata Naufal.
"He'em," jawabku.
"Aku tuh bingung tau sama kamu, dalam hati nyesek aku Gi, aku mikir gini beberapa hari ini kok anak ini beda sih, biasanya aja manja-manja banget, tapi ini beda banget, terus ngomongnya juga gitu, pake bilang carilah tempat ternyaman mu Mas, iiih apa sih kamu Gi? Tempat paling nyaman aku kan ada di kamu, kenapa aku harus nyari-nyari lagi, buang-buang waktu lah Sayang," kata Naufal yang membuatku tersipu malu.
"Kan aku cuman pengen tau kebenarannya aja, aku takut, aku nggak tau lagi mau ngomong sama siapa, aku gak mungkin curhat ke Papa Mamaku kan gak mungkin Mas," kataku.
"Nahhh, ini loh Gi yang perlu kamu perbaiki, kamu boleh tertutup sama siapa aja, sama temen kamu, sama rekan kerja kamu, asalkan kamu harus open kalo sama aku sama orang tua kamu Sayang, itu gak baik kalo kamu memendamnya sendiri," tutur Naufal.
"Kata siapa? Aku open banget kok kalo sama Mama sama Papa, aku deket banget sama mereka," bantahku.
"Bukan begitu Gi, aku aja yang belum lama banget sama kamu, udah bisa menyimpulkan kok, terbuka bukan berarti deket Sayang, ya cobalah kamu mengutarakan apa gitu pendapat kamu, apa yang kamu pengen dari mereka, kasih saran sama mereka, gak pernah kan kamu?" tanya Naufal.
Aku menatapnya sambil menggelengkan kepalaku.
"Nah, ini sifat buruk kamu, bahkan kamu sama suami sendiri aja gak bisa terbuka, pasti rencana yang kamu buat ini Papa sama Mama nggak tau kan?" tanyanya lagi.
"Ya habis mau gimana lagi, aku nggak pengen membuat mereka sedih, biarin aku aja yang berkorban sendiri mereka jangan, jadi mereka nggak tau," kataku.
__ADS_1
"Gia Sayang, nggak selamanya kamu harus mengalah, hidup bukan hanya soal berkorban, tapi juga kebahagiaan," tutur Naufal.
"Kamu kan orangnya selalu diem, kalo diajak gini iya iya aja, di giniin di gitu in mau-mau aja, ya kan? Jangan gitu dong Sayang, kamu harus punya pilihan, aku tau, aku juga ngerti dari kamu lahir semuanya terkontrol sama Papa kamu, ibarat rumah udah di bangun dari bawah sampek udah jadi bertingkat, ya itu kamu, hidup kamu dibangun oleh Mama Papa Kamu, jadi kamu harus gini gitu atas apa yang dikatakan mereka, itu bagus Sayang, bagus banget, tapi inget kamu punya pilihan, bukan berarti jika kamu punya pilihan, kamu membantahnya, tidak Sayang, selagi itu baik ya di utarakan aja, tapi jika tidak di setujui ya kamu memang harus berlapang dada, ya?" ucap Naufal lagi.
"Aku sudah punya pilihan, aku tetap ingin menjadi orang yang seperti ini Mas, dulu Papa pernah bilang jangan pernah menyesal menjadi seorang penyabar dan pandai berkorban, memang kau mungkin akan selalu di kecewakan, tapi...percayalah pasti nanti kau akan menang, dan aku udah membuktikan itu Mas," kataku.
"Iya sih Gi, tapi kamu jangan mau-mau aja, jangan polos-polos banget, jadi kamu harus menyeleksi dan harus punya filter buat diri kamu sendiri Sayang," tuturnya lagi.
"Iya iya Mas," kataku.
"Jadi kamu jangan mikir yang aneh-aneh lagi ya sama aku, kalo kamu bilang enggak pasti aku juga akan enggak Gi, kamu bilang iya pasti aku juga iya, aku akan nurutin apa kata kamu kok, semisal nih ya kamu nggak ngebolehin aku nemenin Vela, pasti aku juga gak akan nemenin kok Gi," ucap Naufal.
"Jangan dong, kasihan tau," ucapku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Aku mau nemenin Vela, asalkan kamu gak mikir aneh-aneh sama aku," kata Naufal.
"Iya, enggak-enggak," jawabku.
"Kamu tuh ikhlas sama gak ikhlas gak ada bedanya Sayang, soalnya, aduuuuhh... gimana ya? Emang udah dari sananya kayak gini, ikhlas aja wajahnya datar, gak ikhlas pun juga gak ada bedanya," keluh Naufal yang mendadak jadi kritikus malam ini.
"Ya habis gimana lagi? Emang udah terlatih kayak gini kok," kataku.
"Kamu beneran ya ikhlas? Pokoknya aku mau nemenin Vela asalkan kamu gak mikir aneh-aneh sama aku, lagian aku disana nemenin nya juga gak di kamar dia terus kok, aku nemenin nya di luar kadang di ruang kerjaku, kalo Vela butuh apa-apa baru aku nemenin dia tapi bentaran doang," ucap penjelasan Naufal.
"Oh iya aku tadi mau tanya sama kamu, tadi ban mobil aku lumpur semua, emang kamu dari mana Sayang?" tanya Naufal.
Deegggg.
"Aku....aku dari.....aku dari puncak Mas," kataku dengan gugup karena takut dengan Naufal.
"Dari puncak? Kamu ngapain kesana?" tanya Naufal lagi.
"Aku...aku, Mas kamu jangan marah ya, maafin aku maaf..." kataku terpotong oleh Naufal.
"Aku ngerasa sepi banget Mas tanpa kamu di rumah, terus kamu juga gitu kalo nemenin Vela gak kasih kabar buat aku, aku suntuk Mas, udah sakit hati di rumah sepi, ya udah aku lari aja ke puncak," jawabku.
"Kamu ke puncak kemana emangnya? Kok berani banget, gak bilang sama aku pula," ujar Naufal.
"Nggak tau tadi tuh tempatnya bagus banget Mas," jawabku.
"Bentar, kok kamu tau ini semua? Dari mana?" tanyaku.
"Emmm....ya ada lah pokoknya yang ngasih tau aku, mata-mata ku ada di mana mana Gi buat ngawasin kamu," kata Naufal yang berbohong
"Setiap kali aku nemenin Vela kamu pasti nangis kan di rumah?" tanya Naufal dengan setengah mengejek ku.
"Ya nangis lah, orang suaminya nemen cewek lain, gak punya perasaan banget sih kamu, ngebiarin aku sampe malem banget di sini sendiri, aku pergi tau rasa kamu," ucapku sambil kembali meneteskan air mata.
"Sayang Sayang, udah ya jangan nangis, kan kamu yang nyuruh aku, Mamanya Vela juga gitu nekan aku banget, ya aku bingung dong, mau gimana lagi, mau gak nemenin Vela kamu juga kasihan, makanya kalo aku nemenin Vela, kamu ikut ya," tuturnya lagi.
"Udah ah jangan cengeng," ejek Naufal.
"Nggak cengeng gimana? Aku yang ngrasain sakitnya perihnya bukan kamu, kamu gak tau kan kemaren badanku dingin banget kenapa?" tanyaku.
"Kenapa emangnya?" tanya Naufal balik.
"Berendam tau malem-malem, showernya aku nyalain terus, hampir 1 jam nunggu kamu pulang, biarin sakit kamu juga gak peduli," kataku agak judes.
"Hey hey, kok kamu ngomong gitu Sayang, aku peduli bangetlah sama kamu, kamu ngapain pake acara berendam malam-malam, Astagfirullah Sayang, kalo kamu yang sakit ya malah lebih panik lah aku, jangan gitu lagi dong Sayang, ya? Kamu jangan nyiksa diri sendiri," tuturnya lagi dan lagi.
"Ya udah berarti besok kamu harus ganti semuanya," kataku.
"Loh loh loh, ganti apanya?" tanya Naufal.
"Iiiih kamu nih pura-pura gak tau aja, ya kamu harus gantiin seharian sama aku, kamu dulu juga gitu kan, ya sekarang ganti aku," kataku nyolot.
__ADS_1
"Aduh duh duh, kok balas dendam sih Sayang," ucap Naufal sambil menertawakan ku.
Ku pukul Naufal dengan guling.
"Kok mukul sih, Ha? Kok mukul," ucap Naufal sambil mencegah kedua tanganku agar tidak memukulnya kembali.
"Tau ah, kamu gak bisa di ajak ngomong serius," kataku sambil berbalik membelakanginya.
Naufal mendekatkan mulutnya pada telinga ku, sepertinya dia ingin berbisik.
"Love you too," bisik Naufal.
Aku tersenyum dengan tingkah ngeselin Naufal, ku membalikkan badan kembali menghadap Naufal.
"Aku kan gak bilang sama kamu aku mencintaimu, kenapa tadi kamu bilang kayak gitu," kataku.
"Kan tadi kamu mukul aku, satu pukulan satu kata I love you berarti, kan kita udah sepakat gitu dulu," kata Naufal.
"Mana ada? Kamu aja yang sepakat, wekkkk," ejek ku ganti.
"Oh gitu ya kamu, lihat saja balasanku," ancam Naufal yang bangun dan langsung menggelitiki ku.
Canda dan tawa kami memenuhi ruang kamar kami.
"Mas udah stop, whaahhaha," ucapku yang tak kuat lagi menahan rasa gelitik.
Naufal berhenti menggelitiki ku, dia tidak langsung kembali tidur, dia menatapku lama tapi juga serem.
"Kamu ngapain lihatin aku kayak gitu?" tanyaku.
Tanpa menjawab dan hanya tersenyum Naufal mendaratkan ciumannya pada keningku.
Aku sangat merasa tenang sekali.
"Dulu setiap malam, setiap kali aku tidur bersama Papa di depan TV, beliau selalu menanyakan bagaimana tentang study ku, dan aku bisa mengatakan keluhku semua pada beliau, dan beliau selalu mencium keningku, tapi sekarang sangat jarang sekali, dan sekarang kamu Mas yang gantiin Papaku," gumamku dalam hati
Setelah lama Naufal mencium keningku, dia kembali merebahkan tubuhnya di sampingku.
"Mikirin apa tadi kamu Gi?" tanya Naufal.
"Aku keinget Papa setiap kali kamu mencium keningku, beliau juga seperti itu jika tidur bersamaku dulu, tapi semenjak aku kuliah udak gak pernah, terakhir nyium aku kemaren waktu aku nikah," kataku.
"Kan sekarang udah ada aku, yang siap siaga untuk mencium keningmu setiap harinya," kata Naufal.
"Yeeeeee, bisa aja kamu tuh, udah sana tidur, dari tadi becanda terus gak tidur-tidur," tuturku.
"Udah lama loh Gi kita gak becanda gini, rindu tau momen-momen kaya gini," kata Naufal sambil melihat langit-langit atap kamar.
"Kan kemaren-kemaren kamu lagi ngambek diam-diam sama aku," ucap Naufal lagi.
Aku tersenyum, dan menoleh padanya, begitu juga dengan Naufal yang membalas menolehku.
Ku raih pipi Naufal.
"Aku nggak ngambek, cuman.....cuman aku mau ngebuktiin aja, tapi aku juga nyesek banget," kataku.
"Kamu jadi nyesek, terus kamu ngejauh dari aku, kamu diem, kamu simpen sendiri, terus terbongkar, terus ngambek, gitu kan siklusnya?" ejek Naufal lagi.
"Wkwkwkwkw, kok pake siklus sih Sayang," ceplosku.
Upppssss. Aku berhenti tertawa dan langsung menutup mulutku sambil membilatkan bola mataku.
"Hayooo, kelepasan lagi kan tadi, wahahahaa," ucap Naufal yang menertawakan ku.
Bersambung.
__ADS_1