
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa minggu kemudian, Mas Naufal baru saja pulang dari luar negeri lagi selama satu minggu.
Tepat Mas Naufal Sampai di Rumah, aku masih berada di perjalanan pulang dari Rumah Mamaku.
Sore ini hujan gerimis, awannya mendung dan juga angin. Aku berniat untuk membelikan Mas Naufal makanan dari luar. Karena tidak ada masakan Di Rumah, Bi Sarah ikut bersamaku.
"Bi, kita mampir ke tempat biasanya dulu ya, Gia juga mau beli cemilan," ujarku.
"Iya Mbak, katanya Mbak Gia juga mau ke Mall bentar," ucap Bi Sarah.
"Ooo iya Bi, Gia lupa," jawabku.
Mobil pun berbelok ke arah tempat makan yang biasanya dan sering kita datangi.
Disana aku menunggunya di mobil, dan Bi Sarah tinggal mengambil makanan yang kita pesan ke dalam karena aku sudah memesannya dari beberapa jam yang lalu.
Tak lama kemudian, Bi Sarah kembali membawa makanan itu. Di letakkannya di kursi belakang mobil.
Mobil melaju menuju Mall yang dekat dengan Rumah kita.
"Mas Naufal sudah sampai Rumah Mbak??" tanya Bi Sarah.
"Belum Bi, masih di perjalanan juga," jawabku.
Kami berbincang-bincang di sepanjang perjalanan menuju Mall.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Satu jam setengah kamis sudah berada di perjalanan. Mobil langsung melaju masuk menuju pakiran bawah tanah.
Setelah mobil terparkir rapi, aku dan Bi Sarah langsung menuju lantai 5 untuk berbelanja kebutuhan bulanan kita.
Teng tong.......pintu lift terbuka.
Bi Sarah berjalan beriringan denganku dan masuk ke Supermarket besar dalam Mall itu.
Ku ambil trolly dan kami pun memilih-milih barang belanjaan disana. Mulai dari kebutuhan dapur, dan juga rumah.
Saat aku tengah mengambil pengharum ruangan dengan bau yang Mas Naufal sukai yang letaknya lumayan tinggi, aku mencoba meraihnya dengan pelan-pelan.
Dan tiba-tiba.........
Beberapa isi ulang pengharum ruangan itu ada yang tersenggol siku tangannku dan hampir terjatuh.
Namun, yang membuatku syock.
Seorang laki-laki berhasil menangkap beberapa kaleng pengharum ruangan itu.
"Eeeh eh...." Ucapku.
Pria itu mengambilkan ku pengharum ruangan yang ku inginkan lalu meletakkan di trollyku.
Saat dia sudah tidak menengadahkan wajahnya ke atas, dia menunduk sambil meletakkan benda yang ku inginkan itu di trolly.
Disitulah aku melihat wajah sosok pria yang menolongku.
Deeeggggg.........
Pak Kevin!!!!!!! Pria itu Pak Kevinn!!!!
Aku langsung melongo dan membulatkan kedua mataku. Berdiri kaku dan bingung mau mengatakan apa. Seorang Pak Kevin yang membenciku kini menolongku.
Pak Kevin sepertinya sudah tau, jika yang ditolongnya itu adalah aku, aku Gia.
Tidak tampak wajah terkejut di raut wajah Pak Kevin.
Wajahnya tampak datar dan biasa saja, namun terus mengalihkan pandangan matanya dariku.
"Butuh berapa??" tanya Pak Kevin yang akhrinya bicara padaku meskipun sangat judes.
"Pak Kevin bicara sama akuuu??!!!" gumamku dalam hati.
"Eemmm...eee...ee lima," jawabku terbata-bata.
Pak Kevin mengambilkan 4 kaleng pengharum ruangan lagi.
Setelah 5 kaleng sudah masuk ke dalam trolly, seperti tengah menolong orang yang tidak dikenalnya.
Beliau langsung nyelonong pergi dengan kernyitan dikedua alisnya. Padahal aku tak sempat berterimakasih kepadanya.
Saat aku ingin mengejarnya dan bilang terimakasih padanya, Bi Sarah datang menemuiku.
"Siapa tadi Mbak??" tanya Bi Sarah.
"Itu.....itu tadi....eemmm,"
"Itu dosen Gia dulu Bi, yang dulu Gia pernah ceritain sama Bibi," jawabku terbata-bata.
Bi Sarah langsung meletakkan semua barang belanjaan di trolly.
__ADS_1
"Oooo itu orangnya Mbak, Bibi tadi lihatin Mbak Gia dari jauh, tapi pria itu sebenarnya dari tadi sudah melihat Mbak Gia," ucap Bi Sarah.
"Masak Bi??"
"Bibi beneran??" tanyaku yang terkejut.
"Iya Mbak beneran," jawab Bi Sarah.
"Tadi Gia ditolongin sama orangnya Bi, tapi beliau langsung nyelonong pergi, padahal Gia belum minta maaf," ucapku.
"Kenapa orangnya begitu Mbak?? Bukannya kata Mbak Gia orangnya baik," tepis Bi Sarah.
"Hehehm, tapis sekarang sudah berubah Bi," jawabku.
"Eeehmmm sudahlah Bi, kita lanjutkan saja," ajakku.
Aku pun melanjutkan aktivitas berbelanja kami berdua dan melupakan kejadian tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Perjalanan pulang, kami di hadang dengan hujan yang sangat lebat. Pada sebagian orang, katanha Hujan selalu membawa kita pada kenangan, terutama kenangan yang tidak enak.
Dan aku merasakan hal itu, tiba-tiba terlintas di pikiranku tentang Pak Kevin.
"Kenapa Pak Kevin memperhatikanku??" tanyaku dalam hati.
"Padahal kan Pak Kevin benci banget sama aku," ucapku spontan.
"Haa? Kenapa Mbak?? Siapa yang benci sama Mbak Gia??" tanya Bi Sarah.
"Ha?? Apa Bi??"
"Eehhmm.....eng.... enggak kok Bi, nggak ada yang benci,"
"Nggak ada," tepisku.
"Giiiaaaa, mikirin apa sih, nggak penting banget," gerutuku dalam hati.
"Hehehem, kirain Mbak Gia ngomong apa tadi," ucap Bi Sarah.
"Mbak Gia mikirin dosennya tadi ya," tebak Bi Sarah.
"Enggakkk....enggak Bi, ngapain Gia mikirin Pak Kevin, hehehem," tepisku dengan tegas.
"Gia sudah memiliki Mas Naufal untuk selamanya Bi, tidak akan ada yang menggantikan," tegasku lagi.
"Eeehmm, ciyeee Mbak Gia," ejek Bi Sarah.
"Pasti Bibi juga seperti itu kan sama Pak Rusdi, hayo ngaku," ejekku ganti.
"Hehehehe, sudah pasti Mbak, Bibi sama Pak Rusdi cinta mati," jawab Bi Sarah dengan banyolannya.
"Bibi bisaaaa aja," kataku.
Kami bercanda sepanjang perjalanan yang menerpa hujan dan angin ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Pak, Mas Naufal sudah pulang??" tanyaku.
"Sudah Mbak, barusan saja Mas Naufal pulang," jawab Pak Rusdi sambil membawa payung itu.
Mendengar jawaban dari Pak Joko, aku sangat senang dan ingin menemui suamiku itu.
Mendengar jawaban dari Pak Joko, aku sangat senang dan ingin menemui suamiku itu.
Karena mobilku yang basah, jadi mobil terparkir diluar. Setelah mobil berhenti, aku langsung kegirangan membuka mobil dan meninggalkan Bi Sarah sendirian disana.
Aku langsung berlari masuk ke dalam Rumah.
"Assalamu'alaikum," ucapku sambil mencari Mas Naufal.
"Mas, i'm home," kataku sambil menaiki anak tangga .
Aku bertingkah seperti anak kecil yang mendapatkan oleh-oleh mainan dari Mamanya yang habis pulang dari berwisata.
Aku sangat senanggg, Mas Naufal ada kembali di Rumah. Bagiku, berita buruk adalah ketika Mas Naufal pergi meninggalkanku lama ke luar negeri.
"Mas....." Panggilku.
Tidak ada jawaban selama aku memanggil-manggil nama Mas Naufal.
"Maassss...., Aku pulang nih," ucapku.
Gleekkk.....ku buka pintu kamar kami.
"Baaaaaa......" ucapku mengagetkan Mas Naufal.
Tapi di dalam kamar tidak ada Mas Naufal dan kopernya, biasanya jika Mas Naufal pulang dari luar negeri, pasti kopernya ada di ruang ini.
"Loh, kok nggak ada apa-apa??" ucapku.
Aku mencarinya di kamar mandi, di ruang ganti baju dan di balkon. Hasilnya tetap sama.
Aku tidak menemukan pangeranku.
"Mas Naufalll.." panggilku lagi.
Aku kembali keluar dari kamar, turun ke bawah.
Mencari Mas Naufal ke semua ruangan di rumah ini.
Ke Dapur, Mini Gym nya, ruang makan, bahkan gudang. Aku tidak mau jika Mas Naufal berhasil mengerjaiku kembali.
"Masss...."
"Mas Naufal," panggilku terus menerus.
"Apa aku tadi salah denger ya,"
"Mas Naufal sebenarnya belum pulang, tapi Pak Joko tadii....."
Aku menyerah mencari-cari Mas Naufal, Bi Sarah sibuk mengangkat barang belanjaan ke Dapur bersama Pak Rusdi.
"Astagfirullah Bibiiiiii,"
"Maafin Gia Bi, Ya Allah Gia lupa," kataku sambil mengetuk keningku.
"Heheheh, ndak papa Mbak, sudah tugasnya Pak Rusdi ini, Mbak Gia jangan angkat-angkat yang beginian," ucap Bi Sarah.
"Nggak papa Bi, sini Gia bantu," tepisku lalu mengambil dua kantung kresek besar dari tangan Bi Sarah.
"Jangan Mbak, jangan," ujar Bi Sarah.
"Sudah Bi, nggak papa,"
"Gia sudah terbiasa seperti ini, hehehem," ucapku.
Setelah semua barang-barang sudah di pindahkan ke Dapur, giliran Bi Sarah yang menata barang-barang itu.
"Bi, Gia mandi dulu ya," kataku.
"Iya Mbak, monggo,"
"Biar Bibi yang menata semuanya," jawab Bi Sarah yang mempersilahkanku mandi.
Aku menaiki anak tangga dengan sedikit kekecewaan karena tidak menemukan Mas Naufal.
"Kenapa tadi aku nggak nanya sama Pak Rusdi aja ya," kataku dalam hati.
"Huummm, sudahlah,"
"Kayaknya aku yang salah dengar," ucapku menyerah sambil membuka pintu kamar kembali.
__ADS_1
Ku buang tasku ke ranjang.
"Hhhmmmm, Mas Naufal belum sampe rumah ternyata," gumamku dengan wajah cemberut.
Dan tiba-tiba........
Buuukkkkk........
"Surpriseeeee......" ucap Mas Naufal yang memelukku dari belakang.
Aku langsung membalikkan tubuhku dan membalas pelukannya erat-erat.
"Mas Naufalllll......"
"Aku rindu sama Mas," rengekku yang sudah menahan rindu padanya selama satu minggu ini.
"Sama Sayang, Mas juga rindu sama kamu," ujar Mas Naufal.
"Mas sengaja ya ngerjain aku lagi,"
"Aku nyariin Mas dimana-mana, katanya Pak Joko Mas tadi udah sampe rumah, tapi aku cari-cari nggak ada, jahat banget sih Mas," kataku di pundaknya.
"Kamu ini kayak nggak tau Mas aja Sayang, Mas kan suka ngerjain kamu, biar romantis, hehehm," jawab Mas Naufal.
Aku melepas pelukan dari Mas Naufal, aku merasakan suhu dingin saat memeluk Mas Naufal.
"Tubuh kamu dingin banget Mas??" tanyaku.
"Iya lah Sayang, Mas kan habis mandi di kamarnya Abay, hehehehe," jawab Mas Naufal.
"Jadi Mas sembunyi di kamarnya Abay??"
"Kok aku nggak tau," kataku.
"Ya iyalah Sayang, waktu kamu ke kamar Abay, kan kamu cuman di depan doang, nggak lihat kamar mandinya," jawab Mas Naufal.
"Terus koper kamu dimana Mas??" tanyaku lagi.
"Mas masukin ke almari nya Abay, heheheh, pintar kan Mas," ujarnya sambil tersenyum menyeringai padaku.
"Uuuhhmm, dasar Mas Naufal,"
"Dicariin istrinya, malah ngumpet,"
"Sini peluk Mas lagi," tutur Mas Naufal lalu memelukku lagi.
"Kangeeeennnnn bangetttttt," ucapku dengan manja dan ingin terus menempel dengan Mas Naufal.
Mas Naufal memelukku sangat lama, kami sama-sama melepas kerinduan kami yang sudah satu minggu tidak bertatap muka.
Dalam pelukan kami, Mas Naufal bercerita saat dia bertemu dengan Abay disana, dia menceritakan semuanya.
"Kangen juga sama Abay," kataku.
"Iya nanti kita kesana, tunggu Mas ada waktu luang lagi ya Sayang," tutur Mas Naufal.
Aku mengangguk-angguk di pundak Mas Naufal.
Aku mengendus-endus pundak Mas Naufal yang memberikan kenyamanan.
"Aku tadi lari-lari dari mobil kesini, berharap langsung ketemu Mas, langsung pelukan sama Mas,"
"Eeehh, malah ada drama nya dulu, ngos-ngosan tau Mas," keluhku padanya.
"Ututututututuuuuu istrinya Mas Naufal manja nih, hmm??" kata Mas Naufal.
"Pusing tau nggak Mas naik turun tangga," keluhku lagi.
"Mana yang pusing?? Mana??" tanya Mas Naufal sambil meraih kedua pipiku dan menciumi keningku.
"Ehehehehm, bisa aja sih," kataku.
"Tuh udah Mas obatin, udah nggak sakit lagi kan??" tanya Mas Naufal sambil menatapku.
Aku tersenyum padanya.
"Aku mandi dulu ya Mas," kataku.
"Kamu belum mandi Sayang??" tanya Mas Naufal.
"Udah mandi tadi waktu mau on the way kesini, tapi mau mandi lagi Mas," jawabku.
"Eeehhmmm pantesan bau-bau acem dari tadi apa ini," ejek Mas Naufal sambil menjepit hidungnya.
"Aaaaaaa Mas Naufal gitu,"
"Aku kan nggak keringetan Mas, lagian ini juga hujan, hawanya dingin, di mobil kena AC, di Mall kena AC, di rumah juga kena AC, tau ah," kataku sambil mengernyitkan keningku.
"Hahahahaha, enggak-enggak Sayang....langsung kannnn panjang kali lebar udah ngomongnya," kata Mas Naufal sambil memelukku kembali.
"Katanya bau acem, ngapain peluk-peluk lagi??" ucpakus sedikit kesal dan manja pada Mas Naufal.
"Mas bercanda, hehehe," ujarnya.
Aku pun segera mandi, dan Mas Naufal memilih untuk menonton televisi sendirian.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, selesai aku mandi.
Aku menyusul Mas Naufal dan duduk di sampingnya.
"Mas,"
"Coba tebak aku tadi ke Mall ketemu sama siapa??" tanyaku.
"Ketemu sama siapa??" tanya Mas Naufal sambil mengganti chanel tvnya.
"Ayo tebak," jawabku.
"Siapa?? Meira??" tebak Mas Naufal.
"Bukannnn, ayo lagi, siapa cobak??" tanyaku lagi.
"Eeemmm siapa ya?? Suster Andini??"
"Susi?? Irene??" tanya Mas Naufal.
"Bukan bukan bukan, salah semua Mas," jawabku.
"Jangan bilang, kamu ketemu ini ya," ucap Mas Naufal yang langsung menatapku.
"Siapa??" tanyaku dengan serius.
"Pasti kamu habis ketemu sama........sama Vela ya" tebak Mas Naufal.
"Kok tiba-tiba Vela Mas?? Bukann," jawabku.
"Kan namanya nebak Sayang, siapa aja boleh kan," tepis Mas Naufal.
"Iya tau, tapi bukan Vela," kataku.
"Terus siapa dong kalo bukan mereka," ucap Mas Naufal yang rupanya sudah menyerah.
"Pak......Kev....in," jawabku.
"Kevin??" jawab Mas Naufal yang langsung meletakkan remote nya di meja dengan kernyitan dua alis tebalnya.
Aku hanya menjawab dengan anggukan kepalaku saja.
"Kok Kevin sih Sayang??" tanya Mas Naufal yangs sepertinya cemburu.
Terlihat dari raut wajahnya yang mulai agak kesal saat mendengar nama Pak Kevin di telinganya.
"Kan aku juga nggak tau Mas, masak iya aku bisa milih hari ini aku mau ketemu sama ini ini ini aja, kan nggak bisa Mas," kataku.
"Ketemu Kevin dimana??" tanya Mas Naufal yang agak jutek.
"Mas marah??" tanyaku.
"Enggak, Mas nggak marah," jawabnya.
"Ehehehem, Mas cemburu yaaas," godaku agar Mas Naufal riang kembali.
"Sayang, namanya suami sudah pasti cemburu, kalo Mas nggak cemburu, berarti Mas nggak cinta dong sama kamu, ini Mas cemburu banget sama kamu,"
"Sampe rumah, eeeh malah denger nama Kevin," kata Mas Naufal.
"Kok Mas Naufal tiba-tiba sinis gini sih, kan biasanya Mas Naufal santai-santai aja,"
"Nggak seperti ini," gumamku dalam hati.
"Apa aku salah ceritain ini ya?? Tapi kan, Mas Naufal harus tau, biar nggak ada yang aku tutup-tutupi,"
"Apa waktunya tidak tepat??" tanyaku dalam hati.
Bersambung........
__ADS_1