Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 156 (Aku Kira Aku Salah)


__ADS_3

Ku ketuk pintunya beberapa kali.


“Mas…….Mas Naufal, kamu nggak papa kan di dalam?” tanyaku namun taka da jawaban.


Benar-benar keras saat ku ketuk pintu ruang kerjanya.


Tok…..tok……tok…..


Akhirnya Naufal pun membuka pintu kamarnya.


Gleeekk…..


“Mas Naufal, aku kan udah panggil-panggil kamu dari tadi,


kamu ngapain di dalem???” tanyaku pada Naufal.


“Maaf Sayang aku ketiduran,” jawabnya.


“Ketiduran? Kamu masih bentaran udah ketiduran,” kataku.


“Iya Sayang soalnya aku ngantuk banget,” keluhnya.


“Kenapa kamu nggak tidur aja di kamar, kenapa harus disini??


Kan bisa laptopnya di bawa ke kamar,” ucapku.


“Nggak enak nanti aku ganggu kamu,” jawabnya.


“Nggak papa lah Mas, biasanya juga kamu gimana, nugas di kamar kan, aku yang temenin,” kataku.


“Udah kamu ngerjainnya di kamar aja,” tuturku.


“Dari pada kamu disini, nanti ketiduran sampe besok,”


ucapku.


“Mana, aku bawain laptop kamu,” sambungku.


“Nggak usah Sayang, aku bisa bawa sendiri,” jawabnya.


“Ya udah aku ke kamar dulu,” ucapku.


Aku berjalan menapaku anak tangga sambil menggerutu sendiri.


***(Di Kamar)


Aku duduk di atas Kasur, Naufal duduk berselonjor di sofa.


“Aku kira kamu marah tadi sama aku,” kataku.


“Marah?? Marah kenapa?” tanya Naufal.


“Ya kali aja aku salah ngomong ke kamu,” jawabku.


“Enggak, kamu nggak salah apa-apa,” ucap NAufal.


“Ya aku kira karena tadi gara-gara kita ketemu Vela,”


keluhku.


“Sayang, nggak lah, apaan cuman karena Vela aja gini, aku


tuh udah lupain dia, udah lupa 100%, jadi ya aku biasa aja sama dia Sayang, udah gak ada gimana-gimana nya, ya biasa aja, wajar lah ya kalo canggung, secara kan aku spontan kaget, lagian lama banget nggak ketemu dia kan, kecuali kalo


tadi kita nggak sempat ngobrol sama anaknya Si Vela pasti kan aku biasa-biasa aja, masak iya anaknya Vela ngomong terus nggak aku dengerin, kan kita harus menghargai semua orang,” ucapnya.


“Iya iya Mas,” jawabku.


“Kamu jangan ngerasa salah, orang aku udah biasa aja sama


dia, kan aku punya kamu,” ujar Naufal.


Ku sunggingkan bibirku untuknya.


“Udah gih tidur sana kamu,” perintah Naufal.


“Mau nungguin kamu aja,” kataku.


“Lama loh ini Sayang, kamu tidur duluan aja,” tuturnya.


“Nggak mau, kasihan nanti kamu udah ngerjain tugas,


sendirian lagi,” kataku.


“Pokoknya aku mau nemenin kamu sampe aku ngantuk,” kataku.


Ku rebahkan tubuhku di atas Kasur, laluku Tarik selimut


tebalku.


“Mas, katanya kamu mau beliin Abay sepeda pancal,” kataku.


“Iya, aku tadi udah sempet bilang sama Pak Joko, jadi besok


langsung kirim ke sini, tanpa kita datang ke tokonya,” ucapnya.


“Yakin sesuai yang kamu mau?” tanyaku.


“Yakin lah Sayang, kan aku belinya langsung di ini nya, di owner nya,” kata Naufal.


“Hoooaamm, pasti Abay seneng banget tuh, kan dia jarang


banget naik sepeda gituan Mas,” kataku.


“Kamu mau sekalian?” tanyaku.


“Iiihh nggak lah, aku nggak mau,” jawabku.


“Besok ke rumah Mama ya,” ajak Naufal.


“Sekalian sama kasih kerudung ke Mama ya Mas,” sanggah ku.


“Iya, tapi malem aja jangan pulang kerja, aku pulang kerja


ada callingan dari luar negeri,” ucap Naufal.


“Iya Mas, aku nurut kok, kamu maunya kapan,” kataku.


Naufal sangat serius mengetik dan memandang layar laptop.


Aku hanya memandangnya dengan tangan yang ku sanggahkan di pipiku, berkali-kali aku tersenyum melihat hidung mancungnya yang terlihat dari samping, bulu mata lentiknya yang terlukis bayang-bayangnya di dinding.


Naufal terlalu fokus, sampai dia tak mengetahui bahwa aku


sedang memperhatikannya.


“Dia milikku, dan hanya milikku,” kataku dalam hati sambil


terus tersenyum melihat Naufal yang semakin malam semakin menawan.


Hingga saat jari-jemari Naufal mulai berhenti untuk menekan


satu per satu huruf yang terpasang di keyboard laptopnya, Naufal menoleh padaku, tersenyum dan terus menatapku, laptop langsung di tutup olehnya, di letakannya laptop di


sofa, lalu dia berjalan pelan-pelan ke arahku.


Deg-deg…..deg-deg……deg-deg…


Naufal membelai pipiku.


Aku tau apa yang diinginkan Naufal padaku, bibirku gemetar,


ujung kaki dan jemariku dingin tiba-tiba, jantungku berdegup kencang, Naufal semakin mendekat padaku dan semakin mendekat.


Naufal semakin membuatku salah tingkah karena ulahnya.


Dia mendekatkan hidungnya pada pipiku, hembusan nafas


hangatnya menyoleh kulit wajahku.


Aku hanya mampu memejamkan kedua mataku.


Samapai akhirnya, malam ini tiba, malam dimana Naufal


mengambil semua hak nya, yang hampir lumayan lama dia tidak mengambilnya dariku.


Kami pun tenggelam dalam malam yang sangat manis ini.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Adzan shubuh berkumandang.


"Allahuakbar Allahuakbar......"


Ku dengar suara adzan yang terlantun merdu di masjid sebelah rumahku yang lumayan agak jauh.


"Uuggghhh....."


Alarm dari ponselku juga ikut berdering, tak kusadari


ternyata aku masih berada di dekapan Naufal.


Wajah Naufal yang tepat ada di atas kepalaku, dan kepalaku


yang sedari malam menempel di dada bidangnya.


Aku tersenyum memandang wajahnya, ku sentuh hidung


mancungnya.


Ku elus-elus pipi kirinya.


"Terima kasih Mas," kataku.


Ku kira Naufal belum bangun dan masih menikmati mimpi-mimpi


malamnya. Tapi ternyata dia tersenyum saat mendengar aku mengucap kata terima kasih padanya.


"Sama-sama Sayang," jawab Naufal dengan kedua


matanya yang masih terpejam.


"Aku mandi duluan ya," kataku.


Naufal hanya menganggukkan kepalanya dan tetap tersenyum


padaku.


Aku turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Dalam kamar mandi, aku tersenyum-senyum sendiri.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, setelah aku dan Naufal selesai


mandi, kami melaksanakan sholat shubuh bertiga dengan Abay.


Selesai sholat, aku turun untuk membantu Bi Sarah memasak


seperti biasanya.


***(Di Dapur)


“Gimana Bi suka nggak sama dasternya?” tanyaku sambil


merebus air untuk membuatkan susu Abay, Naufal dan juga diriku sendiri.


“Wah Bibi suka banget Mbak,” jawab Bi Sarah yang sedang


menyiapkan sayur-mayur di atas meja.


“Kain nya adem banget Mbak,” kata Bi Sarah.


“Eeeemmm…….Mbak, Bibi mau ngomong sama Mbak Gia sama Mas Naufal juga, tapi Bibi takut Mbak,” kata Bi Sarah.


“Loh kenapa Bi?? Ngomong aja nggak papa, Bibi amu ngomong


apa?? Ada masalah apa?” tanyaku sambil menghadapnya dan ingin mendengarkan apa yang akan keluar dari mulutnya.


“Eemmm….seb……sebenarnya besok Bibi pengen pulang kampung Mbak, karena keluarga Bibi yang dari luar Jawa juga pulang, mau ada acara khitanan keponakan saya Mbak,” ucap Bi Sarah sambil menundukkan kepalanya di depanku.


“Ya Allah Bibi, Bibi mau bilang itu sama Gia,” kataku.


“Iya Mbak, tapi Bibi nggak enak mau ngomongnya gimana,” ujar Bi Sarah.


kalo nggak di bolehin sama Gia atau Mas Naufal ya Bi?? Hehehehe,” tebakku.


“Iii….iya Mbak,” jawab Bi Sarah dengan gugup.


“Ya pasti Mas Naufal ngebolehin lah Bi, apalagi Gia, jelas


di bolehin, nggak mungkin enggak, Bibi kan jarang banget pulang ke kampong, setahun aja bisa dihitung cuman 5 kali nggak sampe, ya kan,” kataku.


“Berarti besok Bibi di bolehin pulang Mbak?” tanya Bi Sarah.


“Ya boleh lah Bi,” kataku.


“Tapi cuman Bibi Mbak yang pulang, Pak Rusdi nggak ikut,”


ucap Bi Sarah.


“Kenapa Bi?” tanyaku.


“Nggak tau Mbak kemaren Bibi ajak orangnya nggak mau, malah nyuruh Bibi pulang sendiri aja, nggak enak katanya Mbak sama Mas Naufal,” jawab Bi Sarah.


“Mas Naufal pasti bolehin kok Bi, apalagi mau ketemu sama


keluarga kan Bi, siapa yang nggak kangen sama anaknya, nanti coba Gia bilang sama Mas Naufal ya,” ucapku.


“Jangan Mbak, jangan, biar Bibi mawon yang pulang,” ucap Bi


Sarah.


“Heeemmm, ya udah Bi, kalo itu mau Bibi,” kataku sambil


tersenyum padanya.


.


.


.


.


.


Setelah selesai memasak, aku kembali ke kamar, membersihkan kembali badanku yang terselimuti oleh keringat.


***(Di Kamar)


Terlihat Naufal yang duduk-duduk di sofa sambil memainkan


ponselnya.


“Mas, Bibi mau pulang kampong besok,” kataku.


“Tadi Bibi bilang sama aku soalnya keluarganya kumpul semua


di kampong, mau ada acara apa gitu katanya,” sambungku.


“Bibi nggak berani bilang ke kamu, takut kalo nggak kamu


bolehin pulang. Bibi ngerasa nggake enak,” sanggahku.


“Hehehehm, pasti aku bolehin lah Sayang, nggak mungkin


enggak, siapa yang nggak pengen ketemu keluarganya di acara penting-penting gitu,” jawab Naufal.


“Terus besok Bibi pulangnya naik apa??” tanya Naufal.


“Nggak tau Mas, pastinya ya pake transportasi umum,”


jawabku.


“Kenapa nggak naik travel aja,” kata Naufal.


“Mungkin Bibi nggak tau begituan Mas,” tepisku.


“Ya udah nanti aku cariin travel buat Bibi sama Pak Rusdi,”


ucap Naufal.


“Eh eh eh, Pak Rusdi nya nggak ikut Mas, Bibi pulang

__ADS_1


sendiri,” kataku.


“Kenapa Pak Rusdi nggak ikut?? Ini kumpul-kumpul keluarga


mereka loh Sayang,” kata Naufal.


“Ya iya Mas, tadi kata Bibi Pak Rusdi nggak mau, karena


ngerasa nggak enak sama kamu,” jawabku.


“Astaga, hehehem, memangnya aku kelihatan garang ya Sayang,


segitu nggak enaknya mereka sama kita,” ucap Naufal.


“Enggak, wajah kamu juga nggak jahat kok, ramah malahan,”


pujiku.


“Heeem, ya udah nanti biar aku yang bilang ke Pak Rusdi,”


ucap Naufal.


Ku rapikan kerudungku di depan cermin yang memantulkan mulai ujung kepala hingga ujung kakiku.


***(Di Ruang Makan)


“Pak, Pak Rusdi kenapa nggak ikut Bibi pulang,” tanya


Naufal.


“Enggak Mas, saya nggak enak nanti di rumah sini jadi sepi,


saya juga nggak enak sama Mas Naufal, Mas Naufal sudah sangat baik sama saya, Mbak Gia juga, nanti kalo saya sama Bibi pergi kan siapa yang ngurus semuanya Mas,” jawab Pak Rusdi.


“Oh kalo masalah itu, saya bisa Pak, hehehm,” sahutku sambil


tersenyum pada Pak Rusdi.


“Enggak Mbak, Mbak Gia kan istri seseorang yang


memperkerjakan saya disini, nggak mungkin Mbak Gia jadi begituan heheh,” kata Pak Rusdi.


“Nggak papa Pak, nanti saya bisa suruh orang untuk beberapa


hari, lagian Pak disini kita sama, nggak ada yang bedain, Pak Rusdi sama Bi Sarah disini sudah saya anggap keluarga sendiri, bukan orang yang saya pekerjakan seperti halnya majikan da pembantu, bukan Pak, yang lain juga, saya


tidak pernah menganggapnya seperti itu, kita sama, kita sederajat, jadi jangan merasa ada benteng antara majikan dan pembantu atau apalah itu, ya,” kata Naufal.


“Hehehe, tapi saya tetep merasa nggak enak Mas,” kata Pak


Rusdi.


“Ya sudah keputusan ada di Bapak,” kata Naufal sambil


tersenyum pada Pak Rusdi.


“Dan untuk Bibi, besok naik travel aja ya, Naufal udah


pesenin buat Bibi besok, besok Bibi mau pulang jam berapa?” tanya Naufal.


“Bibi besok pulangnya malam juga nggak papa Mas, atau nunggu Mas Naufal sama Mbak Gia pulang kerja saja,” jawab Bi Sarah.


“Sore Bibi mau?” tanya NAufal.


“Boleh Mas,” jawab Bi Sarah.


“Ya udah nanti Naufal bilang sama travel nya,” kata Naufal.


“Mari lanjut makan,” tutur Naufal.


.


.


.


.


.


Setelah selesai makan, aku dan Naufal berangkat bekerja,


karena hari ini minggu, jadi kami tidak mengantar Abay ke sekolahnya.


“Nak, Mama sama Papa kerja dulu ya,” pamitku sama Abay.


“Iya pa,” jawabnya.


Ku kecup kening Abay, dan dia menyalami tanganku dan tangan Papanya.


“Assalamu’alaikum,” salamku.


“Wa’alaikumsalam Ma, Pa.” jawab Abay.


Aku masuk ke dalam mobil bersama Naufal, ku buka kaca jendela mobil.


“Daaaaa Abay,” kataku.


“Daaaa Mama,” jawabnya.


Mobil melaju ke luar lingkungan rumah.


Tin tin……..sapa Naufal pada Pak Joko.


“Nanti Abay pasti kaget tuh Sayang, tiba-tiba ada kiriman


sepeda ke alamat rumah kita,” kata Naufal.


“Pagi ini datangnya?” tanyaku.


“Iya pagi ini, sebenarnya nanti malem, tapi aku bilang sama


orangnya, kalo malem saya nggak di rumah, pagi bisa nggak, eh akhirnya bisa,” jawab Naufal.


“Seneng tuh pasti dia Mas,” kataku.


“Eeeemmm….Sayang, nanti aku punya rencana buat Abay,” ucap Naufal.


“Apa?? Kasih dia hadiah lagi??” tanyaku balik.


“Bukan, ini soal pendidikan Abay,” jawabnya.


“Kenapa?? Mau pindahin sekolahnya Abay??” tanyaku lagi yang semakin penasaran dengan jawaban yang akan keluar dari mulut Naufal.


“Nanti kalo Abay udah SMP aku punya rencana buat sekolahin


dia ke luar negeri,” jawabnya,


Aku kaget mendengar jawaban Naufal.


“Ha?? Yang bener kamu Mas?” tanyaku sambil melotot menghadapnya.


“Ya beneran lah Sayang, emang wajah ku kelihatan bohong, aku tuh mau kasih yang terbaik buat Abay Sayang, gimana menurut kamu?” tanya Naufal.


“Eeeemm…..ya kalo aku sih tergantung anaknya aja Mas, kalo


Abay berminat, Abay mau ya gak papa, aku malah seneng,” jawabku.


“Iya Sayang, tadi aku juga gitu, aku sih nggak maksa mau nya


Abay sekolah diaman, cuman kan nanti aku berpendapat sama Abay, kalo dia mau ya syukur kalo dia nggak mau ya nggak apa Sayang, ehehhem aku nggak pengen maksa Abay, dia juga punya dunia nya sendiri, aku nggak mau terlalu nuntut sama dia,” ceplos Naufal.


Aku tersenyum menyeringai padanya.


“Eeeemmm Sayang aku nggak bermaksud,” kata Naufal terpotong olehku.


“Iya aku tau, hehehm, nggak apap Mas, itu juga kok yang aku


harapin, aku juga nggak mau terlalu nuntut dia, dia punya pilihannya sendiri, kita sebagai orang tua abay cuman bisa kasih support aja selagi itu baik dan positif,” sahutku.


“Kita sepemikiran dong Sayang, hehehe,” ujar Naufal.


“Ya nanti kamu coba ngomong sama dia, emangnya kamu mau


sekolahin dia dimana?” tanyaku.


“Kalo eropa nggak mungkin kan Sayang, terlalu jauh dan pasti


berat buat dia, jadi ya di asia sini aja,” jawabnya.


“Kan kalo eropa harus banyak prepare Mas,” kataku.


”Maka nya itu Sayang,” sambung Naufal.

__ADS_1


Bersambungg......


__ADS_2