
Dokter Anton sudah keluar dari ruangan Dokter Naufal.
“Fal, Lo harus nyusul Gia nih Fal, bisa barabe Lo,” ucap Pak
Bastian.
“Iya Bas, bentar ya,” ucap Dokter Naufal yang langsung pergi
untuk menyusul Gia.
Dokter Naufal menuju ke ruangan kerja Gia. Dan ternyata
disana tidak ada Gia melainkan ada Riana, Dokter Naufal bingung apakah harus
dia menanyakan keberadaan Gia pada Riana. Wajah Riana bingung menatap wajah
Naufal yang rupanya kebingungan.
“Ada yang bisa saya bantu Dok?” tanya Riana pada Dokter
Naufal.
Naufal berusaha tenang agar tidak kelihatan panik dan di curigai oleh Riana.
“Eemm.. Gia mana ya?” tanya Naufal.
“Bukannya tadi ke ruangan anda Dok,” jawab Riana.
Dokter Naufal semakin bingung atas jawaban yang diberikan
Riana.
“Ya udah makasih ya,” Kata Dokter Naufal sambil meninggalkan
Riana.
“Iya Dok sama-sama,” jawab Riana heran.
Dokter Naufal berlari ke semua sudut ruangan di rumah
sakit untuk mencari Gia, tapi tak kunjung menemukan Gia.
Gia menangis di kamar mandi, sesaat kemudian, Gia mencuci
mukanya agar mata sembabnya tidak terlalu terlihat karena sebenarnya dia habis
menangis sampai terisak-isak. Gia kembali ke ruangannya dengan memasang raut
wajah yang biasa-biasa aja seperti tidak terjadi apa-apa.
“Huuufftt,” suara nafas Gia, dan melangkahkan kakiknya
keluar kamar mandi untuk kembali ke ruangannya.
Riana yang melihat Gia kembali dengan masih membawa
berkas-berkas di tangannya langsung memberi pertanyaan padanya.
“Gi, habis dari mana kamu?” tanya Riana khawatir.
“Ada apa Na?” tanya Gia balik.
“Tadi kamu di cariin sama Dokter Naufal,” jawab Riana.
Deegg…..
Gia berusaha untuk tenang.
“Ooww..oo mungkin ini Na, beliau cari berkasnya mungkin,”
jawab Gia dengan menyunggingkan kedua pipinya agar Riana tidak curiga.
“Gia, nanti kalo kita di marahi gimana Gia Azimaika,” rengek
Riana.
“Hehehe iya iya Na, ini mau aku kasihkan ke beliau,” jawab
Gia.
“Soalnya tadi aku habis ke kamar mandi bentar benahin
kerudung,” alasan Gia.
“Pantesan lama Gi,” ucap Riana.
“Ya udah aku ke ruangan Dokter Naufal dulu ya Na,” pamit
Gia.
Gia berjalan menuju ruangan Dokter Naufal.
Tepat di depan pintu ruangan Dokter Naufal, hati Gia semakin
sakit dan sebenarnya ingin menangis tapi Gia menahannya.
“Hufftttt Bismilllah,” ucap Gia.
Tok…tok….tok.
Gia masuk ke ruangan Dokter Naufal, tampaknya disana hanya
ada Pak Bastian. Pak Bastian memandang Gia dengan wajah takut campur dengan
panik, tetapi Gia mencoba agar seakan-akan semua terlihat baik-baik saja.
“Dokter Naufal dimana ya Pak?” tanya Gia dengan memberikan
senyum manisnya.
“Eee…oooh bentar saya WA dulu ya,” jawab Pak Bastian gugup
karena merasa tak enak hati pada Gia.
Belum sampai Pak Bastian mengirim pesan, Dokter Naufal sudah
masuk ke ruangannya. Ruangan hening seketika, Gia memandang tajam Dokter
Naufal. Dan Pak Bastian ijin pamit keluar ruangan.
“Aku keluar dulu Fal,” bisik Pak Bastian.
Dokter Naufal hanya menganggukkan kepalanya.
Gia dan Dokter Naufal berdiri berhadapan dan saling
memandang. Dokter Naufal tak enak hati pada Gia, beliau mencoba untuk
mencairkan suasana dan membuka obrolan terlebih dahulu pada Gia.
__ADS_1
“Eeeemm…Gi,” ucapnya terpotong oleh Gia.
“Ini semua berkas yang anda minta Dok,” ucap Gia sambil
memberikan senyumnya kembali.
Dokter Naufal semakin heran akan sikap Gia.
“Kok dia biasa-biasa aja sih? apa dia tidak dengar obrolanku
dengan Bastian? tapi kata Dokter Anton tadi bilang dia menangis dan
meninggalkan ruangan ini,” gerutu dalam hati Dokter Naufal yang bertanya-tanya.
“Dok,” panggil Gia yang membuyarkan lamunan Dokter Naufal.
“Eeemm…iya, maaf saya gak fokus,” ucap Dokter Naufal sambil
menerima berkas dari Gia.
“Berkasnya sudah di terima, Kalo gitu saya permisi Dok,”
ucap Gia dengan senyumnya.
Gia membalikkan badannya karena matanya sudah berkaca-kaca,
tetapi Dokter Naufal memanggilnya kembali.
“Eee Gi,” panggil Dokter Naufal merasa canggung dengan Gia.
“Iya Dok ada lagi yang perlu saya bantu?” tanya Gia yang tetap
membelakangi Dokter Naufal karena pipinya sudah di basahi oleh air mata. Gia
tak ingin Dokter Naufal mengetahui hal ini.
“Eeemmm maaf gak jadi Gi,” ucap Dokter Naufal yang gengsi.
“Baik Dok,” jawab Gia sambil mengusap air mata dipipinya.
Gia langsung meninggalkan ruangan Dokter Naufal dan kembali
menangis. Sepanjang lorong menuju ruangan kerjanya, Gia terus mengusap air mata
di pipinya agar tak seorang pun mengetahuinya.
Dalam ruang kerja Gia, Riana melihat ke arah Gia yang sedari
tadi menundukkan kepalanya.
“Gi, kamu habis nangis ya? Kenapa Gi? Dokter Naufal marah
sama kamu?” tanya Riana khawatir melihat mata merah Gia.
“Ee...eemm enggak Na, beliau nggak marah, ini tadi gatel banget
terus aku kucek-kucek, jadinya gini deh,” alasan Gia dengan senyumnya.
“Ini aku bawa obat tetes mata Gi,” ucap Riana.
“Nggak usah, Cuma gini doing nanti paling udah kelar,” jawab
Gia.
“Haduh Gi, kamu ini ngobatin pasien mau, tapi ngobatin kamu
sendiri ogah-ogahan,” ejek Riana.
“Kalian kok masih disini, ayo pasien nya udah pada nunggu,”
sontak Rama.
Mereka bertiga seperti biasa melakukan tugasnya sampai waktu
pulang tiba.
Seharian ini Gia berusaha menghindar dari Dokter Naufal
karena ingin menghilangkan rasa sakit hatinya pada beliau.
Hari sudah semakin siang, waktunya mereka untuk pulang.
***(di Kos Gia)
Sampainya di kos, Gia mencoba menghubungi Susi kembali, tapi
ternyata hasilnya tetap sama, tidak ada balasan dari Susi.
“Aduh Susi kemana ya padahal aku pengen cerita banyak sama
dia,” ucap Gia sendirian.
Gia melepas kerudungnya dan mengganti bajunya lalu
merebahkan tubuh di kasurnya. Gia melamun menatap langit-langit atapnya. Air
mata Gia menetes dengan sendirinya.
“Gia kamu harus kuat, kamu pasti bisa lewatin ini semua,
ingat Papa sama Mama kamu Gi,” gerutu Gia dalam hatinya sendiri.
Gia ingin sekali bertemu dengan Susi, tanpa memikirkan
apapun, Gia memakai kerudungnya kembali, dan langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi ke kos Susi.
Mobil Gia melaju sangat kencang.
***(di Kos Susi)
Sampai di kos Susi
Gia mengetuk pintu kos Susi.
Tok…tok…tok.
“Masuk,” ucap Susi dari dalam kamar.
Gia langsung masuk ke kamar Susi. Gia melihat Susi yang sedang
fokus mengetik di depan laptop dan tak melihat ke arah Gia.
“Susi,” panggil Gia sambil menangis dan duduk di sebelah
Susi.
“Gia, Ya Allah kamu kenapa? Sory sory aku terlalu fokus Gi,”
ucap Susi yang sangat khawatir dengan wajah sembab sahabatnya.
__ADS_1
“Kamu kemana aja Si, aku WA nggak kamu bales sama sekali,
terus kamu gak ngehubungi aku,” rengek Gia.
“maaf Gi, aku sibuk banget 3 hari ini, aku mau video call
kamu aja gak sempet. Soalnya aku mau ada program ke Thailand jadi aku sibuk
ngurusin itu Gi,” ucap Susi sambil memegang kedua pipi Gia.
“Kamu cerita dulu, kamu kenapa? Nanti aku bakal cerita ke
kamu lagi,” tutur Susi.
“Kan kemaren aku bilang sama kamu kalo aku pulang, kata Papa
aku, ada hadiah yang sangat berarti untukku, dan ternyata Si, hadiah itu adalah
perjodohan antara aku dan pria pilihan Papaku, terus kan beberapa minggu lalu
yang mimpin aku koas itu ganti Si, namanya Dokter Naufal, aku kagum kan tuh
sama si Dokter ini, aku berandai-andai jika nanti beliau adalah jodohku, dan
ternyata malamnya kan acara perjodohan jadi keluarga dari pria itu datang ke
rumahku kan Si, eh ternyata anak dari temen Papaku ini adalah Dokter Naufal
tadi, dan aku dikasih cincin ini,” ucap Gia sambil terbata-bata.
“Bentar Gi bentar, terus kenapa kamu nangis? Kan bagus dong,
Allah dengerin do’a kamu,” kata Susi.
“Terus gini Si, temen aku koas Riana itu kan ngefans banget
sama beliau, dia sampai ngorek-ngorek info tentang Dokter Naufal ke Kakaknya,
dan dia cerita ke aku Si, kalo Dokter Naufal pernah punya seorang sahabat cewek,
beliau suka sama sahabatnya itu. Terus kan kemaren aku jalan tuh sama Dokter
Naufal buat beli baju pernikahan kita, selesai beli baju kita rencananya mau
makan tapi aku nggak mau, soalnya kayaknya temen-temen Dokter Naufal lagi bahas
kisah lamanya beliau sama sahabatnya, otomatis sakit hati kan Si aku ngedengernya,”
ucap Gia sambil mengusap air matanya dengan tissue.
“Ooww gitu Gi, Ya ampun kasihan banget kamu, sabar ya,” kata
Susi sambil mengelus-elus lengan Gia.
Gia menceritakan semua tentang Dokter Naufal, dari kapan dia menikah sampai
peristiwa tadi pagi di rumah sakit. Gia tak bisa berhenti menangis.
“Kamu gak bilang sama Papa kamu?” tanya Susi.
“Tadinya aku mau bilang Si, tapi aku gak mau Papa Mama sedih
terus khawatir sama aku,” jawab Gia.
“Ya ampun Gi, kamu gak bisa gini terus dong, ini aja kamu
belum nikah loh sama dia, dari pada nanti kalo udah nikah, 2 bulan lagi juga
kita malu lulus koas,” tutur Susi.
“Enggak Si, gak papa aku gini, asalkan Papa sama Mama seneng
Si,” bantah Gia.
“Gi gini ya, Papa sama Mama kamu pasti juga ngerti kok
posisi kamu, kamu ngomong aja Gi, aku ngerti kamu gak mau bantah Mama Papa
kamu, tapi kamu sharing dong sama mereka, aku gak tau ya mau sedih apa
seneng, senengnya aku denger kamu mau nikah, tapi sedihnya kamu jadi kesiksa
hati Gi,” paksa Susi.
“Enggak Si, aku nggak papa, Allah itu Maha Membolak balikkan
hati manusia kan Si, kita khusnudzon aja sama Allah Si, siapa tau nanti
perasaan Dokter Naufal bisa berubah ke aku,” ucap Gia yang positif thinking.
“Aku kasihan Gi sama kamu, salut banget aku sama kamu,” ucap
Susi yang ikut terharu.
“Ya udah nanti kalo ada apa-apa pokoknya kamu harus cerita
sama aku, janji ya Gi?” kata Susi sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
Gia hanya menganggukan kepalnya dan menyatukan kedua jari kelingking mereka.
“Udah ah jangan nangis,” tutur Sus.
Lalu Gia tersenyum.
“Sekarang ganti aku ya yang cerita, maaf kalo aku gak bales pesan
kamu Gi, 2 hari lagi aku mau ke Thailand Gi, aku ada program disana, jadi ya
aku sendiri yang ngurus ini itu, makanya aku sibuk banget,” ucap Susi.
“Aaaaaa Susi, kamu bakal lama ya disana?” rengek Gia yang
tak ikhlas jika sahabatnya meninggalkan dia sendiri.
“Nggak lah Gi, cuman satu bulan aja,” ucap Susi.
“Itu lama Si, aku ikut ya,” rayu Gia.
“Ngaco kamu, nanti kamu dicariin calon suami kamu loh,” goda
Susi.
Mereka saling bercanda malam itu, sampai tak terasa sudah
larut malam. Gia memutuskan untuk pulang ke kosnya.
Bersambung.....
Terima kasih semuanya🖤
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, dan vote ya🙏😁
Nantikan episode selanjutnya