
Sampai di Rumah Sakit, aku dan Naufal langsung berjalan
cepat menuju ruang meeting.
***(Di Ruang Meeting)
Sudah ada beberapa yang hadir disana, terutama Si Suster dan Dokter Irene.
“Assalamu’alaikum,” salam kami.
“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka.
Aku berniat untuk duduk di sebelah Dokter Irene, namun
Naufal menarik tanganku agar aku duduk di sebelahnya.
“Sini aja Sa….eh Gi,” ucapnya yang hampir keceplosan di
depan teman-temannya.
Aku menuruti apa maunya Naufal.
Kami menunggu agar kursi di dalam ruang meeting terpenuhi
semua.
Tak lama kemudian, akhirnya semua sudah berkumpul.
“Mas, bukan kamu yang mimpin?” tanyaku lirih dan agak
menjauh darinya.
Naufal malah mendekatkan telinganya padaku, membuat semua salah fokus pandangannya ganti menuju padaku dan Naufal.
“Apa?? Aku nggak kedengeran,” ucap Naufal.
“Bukan kamu yang mimpin meeting?” tanyaku sambil menutupi
mulutku agar lebih terdengar oleh Naufal.
“Ya aku Gi, tapi yang pembukaan masih Dokter Anton,”
jawabnya.
“Yaelah Mas, kamu ninggalin aku dong, apalagi aku nggak kenal
ini siapa yang duduk di sebelah ku, tau gitu tadi aku duduk sebelah sana,” gerutuku.
“Hehehehe, nggak papa, kalo nggak kenal, kenalan aja, kan
tak kenal maka tak sayang, tapi kalo udah kenal, jangan sampe sayang, apalagi suka, terus jatuh cinta, jangan dongg, suami mu cemburu nanti,” goda Naufal yang masih sempat-sempatnya, membuatku ingin memukulnya.
Beberapa pasang mata disana memeperhatikanku yang ada di sebelah Naufal.
“Jadi nggak nyaman aku duduk di sebelah Naufal, banyak banget yang melototin, tapi nggak semua sih, malah ada yang senyum ramah juga sama aku, bingung aku sama para fans nya Naufal,” kataku dalam hati.
Akhirnya Dokter Anton pun memulai meeting pagi ini.
“Pagi semua, salam sejahtera bagi kita semua, disini saya
hanya sebagai pembuka dari meeting pagi ini, nanti akan di lanjutkan oleh Dokter Naufal selaku pimpinan di Rumah Sakit, sekali lagi puji syukur dan Alhamdulillah sampai detik ini kita masih di berikan kesehatan, oke, langsung ke inti saja, meeting kali ini adalah meeting lanjutan tentang daftar nama para relawan dan juga ……..” ucap Dokter Anton yang sangat panjang.
Kemudian di lanjutkan oleh Naufal yang menampilkan semua
nama-nama relawan yang akan di kirim ke lokasi bencana di layar presentasinya.
Saat Naufal menampilkan slide demi slide, disitulah tepat di
barisan ke 5 tertera nama Dr. Gia Azimaika, yah itu namaku, dugaanku benar, dan tidak melesat sama sekali, tepat pada sasaran.
“Aaasshh bener kan namaku ada,” gerutuku dalam hati.
Disini ada dua sisi yang berbeda, aku senang bisa menjadi
relawan untuk pertama kalinya, tapi aku juga sedih jika harus meninggalkan Abay lama-lama, apalagi selama ini dia sangat jarang ku temani meskipun di Rumah.
“Oke, untuk saran nya atau yang keberatan bisa langsung di
suarakan disini, barangkali ada yang kurang setuju dengan nama-nama yang sudah saya tampilkan,” kata Naufal.
"Setuju Dok," teriak mereka.
Mereka langsung ramai mengangkat tangannya masing-masing, ada yang benar-benar serius bertanya dan ada juga yangagak becanda.
“Nggak ada yang keberatan Dok pastinya disini, apalagi Pak
Direktur nya ikut, Hahahaha, maaf Bu Direktur saya bercanda,” ucap salah satu Dokter laki-laki yang sepertinya teman Naufal.
Aku hanya tersenyum pada mereka, karena sudah menjadi hal biasa untuk meeting yang seperti ini.
“Kalau sudah semua saya kembalikan lagi pada Dokter Anton,
silahkan,” ucap Naufal.
Dokter Anton menutup meeting pagi ini.
“Bisa saya akhiri, selamat pagi, jangan lupa bersemangat untuk pasien-pasien kita,” kata Dokter Anton.
“Pagi,” jawab semua yang menghadiri meeting.
Aku berjalan keluar terlebih dahulu dari ruang meeting,
Naufal berjalan bersamaku.
“Bener kan Gi apa kataku, nama kamu pasti ada,” kata Naufal.
“Iya iya Mas aku tau, firasatku juga bilang gitu,” ucapku.
“Keputusan ada di tanga kamu, kalo kamu nggak mau ikut nggak papa, udah nggak usah dengerin omongan orang lain,” ucapnya.
“Iya nanti aku pikiran, dua hari lagi kan kita berangkatnya?” tanyaku.
“Iya, nggak usah di pikirin dulu, fokus kerja dulu aja, kasihan pasien kamu,” tuturnya sambil mengelus-elus lenganku.
“Hehehem iya,”ucapku.
“Fans kamu banyak banget ya Mas, sampe-sampe aku duduk di sebelah kamu aja nggak nyaman, gara-gara banyak kamera mata yang menyorot ke kita, tapi nggak papa lah, hehehem,” adu ku.
“Bahahaha, bisa aja kamu ngomongnya, ya aku nggak tau lah
Sayang, masak aku bilang gini sama mereka, hey kalian jangan lihatin aku sama istriku, gitu,” canda Naufal.
“Hehehhe, ya nggak lah Mas, aku sih nggak keberatan sama
sekali, namanya juga fans Mas, aku juga pernah punya idola, udah biasa kali, dari dulu koas juga udah kebal,” kataku.
“Nah iya, yang penting kan mereka udah tau kalo kamu istri
aku, apa lagi yang di khawatirin,” ucap Naufal.
“Hati kamu, aku khawatir sama hati kamu yang nanti tiba-tiba
udah nggak cinta sama aku, hehehe, nggak-nggak aku bercanda,” ucapku sambil tersenyum kecut padanya.
“Aaah Sayang, jangan bercanda dan bilang gitu, ucapan adalah doa, kalo terjadi beneran gimana kamu hayooo,” goda Naufal.
“Kok gitu jawabnya, emang iya ya bakalan terjadi?? Emang
kamu udah ngrencanain, jahat banget sih kamu,” ucapku dengan kesal sambil mengernyitkan kedua alisku.
“Hahahaha, enggak-enggak Gi, siapa juga yang mau kayak gitu, aku cuman bercanda kali,’ tepis Naufal.
“Jangan bercanda dan suka bilang gitu, ucapan adalah doa,
kalo terjadi beneran gimana, weekkk,” kataku langsung berjalan meninggalkannya.
Naufal sepertinya menertawakanku yang sedang nagmbek
darinya.
“Hahaha, Gia Gia, hobby banget kalo ngambek-ngambek gini,
tapi nggak papa, aku seneng, apalagi kalo ngambeknya malem-malem tuh, hahaha,” kata Naufal sambil mengelus dagunya.
Pak Bastian menepuk pundak Naufal dari belakang.
“Apa Lo senyum-senyum sendiri?? Kesambet Lo???” tanya Pak Bastian.
“Mana istri Lo, Gue panggilin nih biar nggak senyum-senyum
lagi,” ejek Pak Bastian.
“Apa sih Lo kepo, panggilin sana, orang dia nya ngambek,”
kata Naufal.
“Lo suka banget ya buat sitri Lo ngambek, suruh tidur luar
tau rasa Lo,” ucap Pak Bastian.
“Itu nggak mungkin, nggak bakalan terjadi, Gia mah nggak
mungkin sekejam itu, orang kita aja pertama kali nikah tetep tidur sekamar, seranjang juga, tapi di tengahnya Bas, dikasih bonekanya yang gede banget, sempet Gue mau komplain sih, tapi gimana lagi??? Kan Gue juga harus mikirin perasaan dia,
nggak harus gerak cepat kan, hahaha,” kata Naufal.
“Hahahaha bisa aja Lo, dia ngambek Lo apain tadi??” tanya Pak Bastian.
“Biasa lah, aku ngerjain dia tadi, emang sengaja aku mau buat dia ngambek, sehari aku nggak buat Gia ngambek tuh rasanya nggak enak Bas, nggak ada gregetnya sama sekali, kalo menurut Gue sih,” jawab Naufal.
“Gila ya Lo, istri ngambek malah seneng, Hahahaha, wah udah
gesrek nih syaraf nya, sana ke Dokter syaraf Fal,” canda Pak Bastian.
__ADS_1
“Yeee kayak Lo nggak aja,” ejek Naufal balik.
“Tapi kan Gue nggak sesering Lo Fal, Gila ya Lo, tiap hari buat istri ngambek, ngidam Lo,” canda Pak Bastian lagi.
“Istri ya istri Gue, yeeeee, udah sana kerja,” kata Naufal.
.
.
.
Aku yang sedang berjalan menuju ruang ICU bersama Si Suster, sedang memikirkan keputusan yang ku ambil nantinya.
“Yeeaay akhirnya kita masuk ke daftar nama relawan nya Dok, hehehem,” kata Si Suster.
“Hehehe iya Sus,” jawabku sambil tersenyum kecut padanya.
“Dokter kenapa?? Kelihatannya nggak suka gitu?” tanya Si
Suster.
“Hm?? Apa?? Eng……enggak kok, seneng, saya seneng Sus,”
jawabku menutupi separuh kesedihanku.
“Hayo pasti Dokter lagi galau ya, harus ikut apa nggak,” tebak Si Suster.
“Enggak Sus, Hehehem,” tepsiku.
“Udah deh Dok, jangan di tutup-tutupin saya tau kok,” kata
Si Suster.
“Pasti Dokter khawatir ya nanti sama anaknya,” tebaknya lagi.
Aku hanya tersenyum padanya.
“Dokter belum bilang sama anaknya?” tanya Suster.
“Udah Sus,” jaawabku.
“Anaknya kasih ijin nggak Dok?” tanya Si Suster lagi.
“Kasih ijin sih Sus, tapi kan hati seorang Ibu ya Sus, rasanya masih nggak tega aja,” kataku.
“Tapi nanti ada yang jagain dia kan Dok di rumah,” kata Si
Suster.
“Ada sih Sus, ada Bibi di rumah, ada suaminya juga, terus
ada 3 satpamnya Mas Naufal,” jawabku.
Si Suster melotot mendengar jawabanku dan meneguk banyak
salivanya.
“Itu rumah apa pabrik Dok,” candanya.
“Iya beneran Sus, 2 di belakang yang satu di depan,” kataku.
“Saya harus ke rumah Dokter nih, pokoknya harus, banyak
banget yang jagain, hehehe,” ucap Si Suster.
“Nah itu udah banyak yang nemenin anaknya Dokter, apalagi
yang di khawatirin Dok,” sambunya.
“Hehehee, rasanya ada yang ngeganjel aja gitu Sus, saya
juga nggak tau apa, padahal ada Mama yang siap jagain Abay,” kataku.
“Ooow Mama nya Dokter nantinya ke rumah?” tanyanya.
“Bukan Mama saya asli Dok, Mama mertua saya,” kataku.
“Berarti Mama nya Mas Naufal Dok? Baik banget ya Dok mau
jagain, baik kayak anaknya, hehehe,” puji Si Suster.
“Maaf ya Dok, masih pagi puji-puji dikit nggak papa lah ya,”
kata Si Suster yang mencoba menghiburku agar aku tidak terlalu kepikiran.
“Hehehehe, Suster ini ada aja, dan bisaaaaa aja ngelawaknya,” kataku.
“Ini sesuai fakta loh Dok saya bilangnya, Dokter Naufal kan
juga baik Dok, baikkk banget,” pujinya lagi.
Langkah kami semakin dekat dengan ruang ICU yang sudah
“Masih pagi loh Dok, kita udah aja masuk ruangan ini, sumpah
pertama kali masuk sini takut banget Dok lihat orang di pasangin alat-alat medis beginian,” gerutu Si Suster.
“Tapi sekarang udah terbiasa kan Sus?” tanyaku.
“Hehehe, udah Dok, kan sudah makanan kita Dok,” kata Si
Suster.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sepulangnya dari Rumah Sakit, kami langsung menjemput Abay.
Sampainya di rumah, aku sudah sangat lunglai langkah kaki ku
untuk masuk ke rumah.
“Assalamu’alaikum,” ucap salam kami.
Bi Sarah keluar dari dapur.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bibi dengan sangat senang.
“Bibi, udah pulang,” kataku yang terkejut melihat Bi Sarah.
“Hehehehe, Mbak Gia nggak tau kalo saya pulang sekarang,”
kata Bi Sarah.
“Nggak tau Bi, memangnya Mas Naufal tau?” tanyaku.
“Hehehe, aku tau Gi, tapi nggak bilang sama kamu, sengaja,”
jawab Naufal sambil menggaruk kepalanya.
“Aaaaa Mas Naufal, kamu itu nggak bagi-bagi informasi,”
ujarku.
“Gimana Bi? Udah puas pulang kampung hehehe, apa masih
kurang Bi,” canda Naufal.
“Sudah sangat puas Mas, walaupun beberapa hari disana,”
jawab Bi Sarah.
“Syukurlah,” kata Naufal.
“Bibi bawain pisang raja Mbak, terus ada labu kuning juga,
ada palapendem juga,” kata Bi Sarah yang menggandengku untuk ke dapur.
“Apa itu Bi palapendem?” tanya Naufal.
“Itu loh Mas, kayak misal singkong terus talas, gitu gituan, terus ketela, kamu Jawa KW ya, hehehe,” candaku.
“Sayang……kan lupa, Bahasa jawa dulu cuman sampe SMP, SMA nya nggak ada,” kata Naufal.
“Maka nya ngomong sama Bibi pake Bahasa Jawa coba, kamu
bahasi inggris bisa, italia bisa, masak Jawa nggak bisa Mas, aduuh parah ya Bi,” ejekku.
Bi Sarah hanya menertawakanku dan Naufal. Sedangkan Abay sudah langsung berlari menuju kamarnya.
***(Di Dapur)
“Ini Mbak, Bibi bawa banyak banget, hehehem,” kata Bi Sarah.
Di bawah lantai dapur banyak oleh-oleh khas desa yang
__ADS_1
biasanya di bawakan Tanteku yang rumahnya di bawah kaki Gunung Kelud pada orang tuaku jika berkunjung ke rumahnya. Seperti buah kelapa hijau, pisang, palapendem (Singkong dan talas) serta beberapa buah sirsak.
“Masya’Allah Bibi banyak banget loh,” kata Naufal yang kaget
melihat oleh-oleh khas desa.
“Nggak pernah ke desa ya kamu Mas?? Nggak udah kaget, memang gini Mas Naufal,” ucapku.
“Ya aku kaget aja Gi, Mamaku dari desa, tapi nggak ada gini-gini an Gi,” ujar Naufal.
“Mungkin pedesaannya beda sama Bibi, kalo rumah Bibi tuh
desa nya desaaaaa banget, jadi nggak ada pabrik gede-gede di sana, masih asri, nggak ada pencemaran, original banget,” kataku.
“Hehehe, ini sirsak kesukaan Bapak Mbak,” kata Bi Sarah.
“Huuumm iya Bi, ini kan kesukaan Papa,” kataku.
“Makasih ya Bi, udah bawa sebanyak ini, tadi Bibi bawanya
nggak berat?? Naik apa Bi?” tanyaku.
“Nggak keberatan sama sekali Mbak, tadi Bibi balik kesini di
jemput sama travelnya yang dulu,” jawab Bi Sarah.
“Aaarrrgghhh, Mas Naufal, kamu nggak kasih tau aku lagi ya,
dasar kamu Mas,” ucapku sambil meliriknya dengan kedua bola mataku yang agak ku lebarkan.
“Hehehe, kan aku udah bilang, aku sengaja nggak bilang kamu,
biar kamu seneng kalo tiba-tiba lihat Bibi di rumah, dari siang tadi aku WA sama Bibi loh,,” kata Naufal.
“Bi habis ini, kita masak aja ya Bi, singkongnya kita buat
kolak atau gethuk Bi bisa, Bibi kan jago banget buat gituan, biar Gia nanti yang buatin, Gia cuman minta resepnya aja, hehehe, buat ngilangin stress Bi , biar nggak suntuk-suntuk banget,” kataku.
“Hehehehe, iya Mbak,” kata Bi Sarah.
“Ini kelapa hijau nya bisa langsung di pecah saja Mbak, biar
Mas Naufal bisa tau rasanya yang ngambil angsung dari pohonnya, hehehe,” kata Bi Sarah.
“Tuh, kamu mau?” tanyaku.
“Hehehem, mau dong, itu yang dalemnya warna pink kan?’ tanya Naufal.
“Iya Mas, di jamin seger banget nih Mas sumpah,” pujiku.
“Emang kamu udah pernah minum buah kelapa khas desa Bibi?” tanya Naufal sambil menaikkan satu alisnya.
“Udah lah Mas, nggak mungkin aku bisa bilang seger kalo aku
aja belum pernah coba, ya Bi ya, tempatnya nggak ada yang berubah kan Bi, masih banyak sawah-sawah sama terasering, gitu-gitu kan Bi?” tanyaku.
“Masih tetap sama seperti yang dulu Mbak, seperti waktu Mbak Gia kesana sama Ibuk sama Bapak,” jawab Bi Sarah.
“Terakhir kesana kapan kamu Sayang?" tanya Naufal lagi.
“SMA kelas 3 kalo nggak salah ya Bi, pokoknya waktu libur
lulusan sekolah, terus pengumuman dari kampus, langsung deh aku diajak Papa kesana,” jawabku.
“Monggo Mas, kapan-kapan saged tindak mriko, dateng ten
griyone Bibi (Silahkan Mas, kapan-kapan bisa ke sana, datang di rumahnya Bibi)” kata Bi Sarah.
“Oohh eemmm iya Bi, iya pasti,” jawab Naufal.
“Ngerti kamu Mas tadi Bibi bilang apa?” tanyaku.
“Ngerti lah Gi, aku agak-agak sedikit ngerti, tapi nggak
mendalami, tapi kalo di suruh ngomong Jawa nggak bisa aku,” ucap Naufal.
“Emang tadi artinya apa hayo??” tanyaku lagi untuk mengetes
kemahiran Naufal dalam berbahasa daerah.
“Intinya, Bibi suruh aku kapan-kapan ke rumahnya, gitu kan
Bi?" tanya Naufal pada Bibi.
“Enggeh Mas, betul sekali Mas Naufal,” jawab Bi Sarah sambil
mengacungkan ibu jarinya pada Naufal.
“Hehehem, nggak salah kamu Mas nikah sama Jawa nya, bagus bagus,” pujiku.
“Gia mandi dulu ya Bi, habis ini kita buat gethuk singkong,”
kataku.
“Iya Mbak, Bibi mau beli bahan nya dulu,” kata Bi Satah.
“Nggak usah BI, nanti aja sama Gia, di antar Gia,” tepisku.
“Nggak papa Mbak, Bibi beli di toko depan kompleks sana,”
ujarnya.
“Nggak apap Bi, beneran nanti Gia antar,” ucapku.
“Biar nanti kalo Mbak Gia selesai mandi, biar kita langsung
bisa buatnya Mbak,” kata Bi Sarah.
“Oh ya udah Bi, kalo Bibi maunya gitu, naik motor kan Bi,”
tebakku.
“Jalan kaki Mbak, hehehe,” jawab Bi Sarah.
“Jangan Bi, jauh loh, biar di antar Pak Rusdi aja,” sahut
Naufal.
Naufal memberikan beberapa lembar uang pada BI Sarah untuk membeli bahan di toko sebrang.
“Pak Rusdi….Pak,” teriak Naufal memanggil-manggil Pak Rusdi.
Dengan cekatan Pak Rusdi langsung ke Dapur.
“Iya Mas Naufal?" jawab Pak Rusdi.
“Anterin Bibi ke toko sebrang ya Pak, pake motor aja Pak,”
tutur Mas Naufal.
“Baik Mas,” jawab Pak Rusdi.
“Nanti kalo Bibi jalan, nggak takut istrinya kenapa-napa
Pak,” canda Naufal.
“Hehehehe,” pak Rusdi tertawa mendengar candaan Naufal.
“Kalo gitu saya pergi dulu ya Mbak, Mas, monggo loh,” kata
Bi Sarah.
“Iya monggo-monggo,” jawab Naufal yang sok JAwa.
Kami berjalan menapaki anak tangga untuk menuju ke kamar
kami.
“Huuumm, sok sok an pake Bahasa jawa kamu Mas,” ejekku.
“Biar nggak dikatain istri terus, Bahasa daerahnya aja masak
nggak bisa, nanti nggak di terima dong sama keluarga Suwariman (Nama Almarhum Kakek ku)” kata Naufal.
“Hehehem, bisa aja, masak iya keluargaku menilainya dari
situnya,” kataku.
“Ya mungkin aja kalo Kakek kamu belum almarhum, kata Papa
aja dulu Kakek kamu Jawa nya kentel banget kan,” ucap Naufal.
“Iya juga sih Mas, heheh,” jawabku.
“Nah iya, masak aku di tolak dari segi ketatabahasaan aja, Hahaha,” canda Naufal.
“Masss…..kok di terusin,” kataku.
“Hahahaha, enggak-enggak,” kata Naufal.
.
.
.
.
.
Bersambung........
Tunggu ya hari ini bakalan up 2 eps hehehe😁🙏
__ADS_1