Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 104 (Bad Night)


__ADS_3

Naufal memulangkan Pak Bastian.


***(Di Rumah)


Sesampainya di rumah, Naufal memarkirkan mobilnya dan langsung keluar dari mobil.


Dia berlari langsung masuk ke rumah dan menaiki anak tangga, sampai permukaan anak tangga bersuara karena hentakan kaki Naufal.


Bi Sarah yang melihat hal itu hanya melongo dan melihat Naufal sampai dia menghilang masuk dalam kamar.


Naufal langsung membuka pintu kamar.


***(Di Kamar)


Naufal melihatku yang menangis dan duduk bersimpuh di tepian ranjang.


"Huhuhuhuhuh haaah," suara isak tangisku.


Aku yang mendengar pintu kamar terbuka, langsung berdiri menghadap Naufal.


Naufal menatapku, begitu juga dengan aku dengan wajah sembabku.


Naufal berjalan menghampiriku dan langsung jatuh tersimpuh memeluk kakiku.


"Gi, maafin aku Gi, maaf," ucapnya sambil memeluk erat kakiku.


"Aku salah menilaimu Gi, maafkan aku, aku tidak mau mendengarkan penjelasan mu terlebih dahulu Gi, karena aku......aku sudah terlanjur cemburu Gi, aku sakit hati melihatmu keluar dari mobil Kevin," ucapnya.


Aku hanya diam dan terus menangis.


"Tau dari mana dia dengan semua yang sudah terjadi," gumamku dalam hati.


"Gi jawab aku!!!! Aku mohon," ucapnya sambil menengadah kan wajahmu untuk melihatku.


"Kamu berdiri Mas," ucapku singkat.


"Enggak Gi, aku nggak mau Gi, sebelum kamu memaafkan aku, aku bodoh Gi, aku bodoh!!!" kata Naufal yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Pliiisss Gi, jawab aku, maafin aku gak mau mendengarkan penjelasanmu Gi, karena aku begitu mencintaimu Gi, aku gak bisa lihat kamu sama pria lain, apalagi sama Kevin Gi, gak bisa Gi!!!!" tekan Naufal.


"Ya Allah, kenapa begini, hatiku sudah terlanjur sakit dengan sikap Naufal terhadapku, tapi bagaimana pun juga dia suamiku," ucapku dalam hati.


"Kamu nggak mau maafin aku Gi???!! Hm?? Kamu gak papa gak maafin aku Gi, tapi aku nggak mau berdiri Gi, aku akan memohon terus sama kamu Gi, sampai kapan pun," ucapnya.


"Kamu jangan dendam Gi sama aku!!! Aku gak bisa Gi, sikapku yang diam terhadapmu karena hatiku kacau Gi, aku sudah merasa gagal mencintaimu Gi, jika hatimu terisi oleh pria lain, pikiranku kacau karena itu Gi, aku mohon maafin aku!!!!" kata Naufal.


"Bukan tentang memaafkan Mas, bukan soal dendam juga, aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sama kamu, seperti tadi yang sudah aku bilang sama kamu," kataku sambil terus menangis.


"Aku sudah bilang, kamu jangan menyesal," kataku untuk menegaskan Naufal lagi.


"Aku sekarang menyesal Giiii, aku menyesal, aku benar-benar menyesal," ucapnya.


Aku melepaskan tangan Naufal dari kakiku.


"Aku memaafkan kamu, tapi aku?? Aku akan tetap seperti apa yang aku katakan terhadapmu tadi, aku dengan egoku dan kamu dengan egomu," kataku melangkah mundur menjauh dari Naufal.


"Gi, Giaa, aku mohon ya, tolong maafkan aku, aku tidak bisa hidup dengan sikapmu yang seperti itu, aku ingin kita kembali seperti awal lagi," rayunya.


"Kamu pikir aku bisa Mas hidup seatap denganmu, tapi aku merasa jauh, apa yang kamu rasakan saat ini, itu yang sudah aku rasakan," kataku dalam hati yang tak mungkin kuucapkan di depan Naufal.


"Sudah malam, lebih baik tidurlah," tuturnya yang langsung masuk ke kamar mandi.


Aku menangis terisak-isak di dalam kamar mandi.


"Kenapa hatiku sulit bersikap manis lagi pada Naufal, memang aku sangat mencintainya, tapi......hatiku sudah terkomit dengan kata-kata yang telah aku lontarkan pada Naufal, huhuhuhu," kataku dalam hati.


"Hatiku masih sakit dengan sikap Naufal yang diam padaku, aku tidak ingin balas dendam, tidak, tapi ini terjadi di luar naluriku," kataku.


.

__ADS_1


.


.


.


Saat aku keluar dari kamar mandi.


Ku lihat Naufal yang sudah tertidur di atas ranjang, segera aku matikan lampu dan menyusulnya untuk tidur.


Aku tidur dengan posisi membelakangi nya, meskipun tidak semua yang terjadi padaku diketahui oleh Naufal.


Tapi untuk saat ini, aku juga tidak ingin menjelaskan padanya lagi, aku akan membiarkan dia agar mengetahui semuanya dengan sendirinya.


Aku merasakan gerakan dari tubuh Naufal.


Sepertinya saat ini dia sedang menghadapku, tapi aku tetap membelakanginya.


"Giaaaaa, aku cintaaaaaaa banget sama kamu, kenapa kamu tega seperti sama aku Gi," ucapnya.


"Memang aku salah Gi, tapi itu semua spontan Gi, semua terjadi begitu saja, aku mohon Gi, jangan seperti ini padaku, aku gak bisa!!!" ucapnya.


"Apakah kamu bisa membiarkan suamimu seperti ini, bukankah dalam suatu hubungan kita harus saling memaafkan, dan memberi kesempatan, apalagi sekarang Gi??? Tentang bayi kita," ucapnya.


Kata-kata Naufal kembali membuatku menangis.


"Gi, kamu beneran akan seperti ini sama aku??? Hm??! Kamu nggak serius kan Gi, iya kan," ucapnya.


"Aku mohon, sekaliiiiii aja kamu jawab aku Gi, aku mohon," kata Naufal.


Naufal terdiam, aku berusaha membuka mulutku untuk berbicara padanya.


"Aku sudah terlanjur melepasmu," kataku singkat.


"Aku harap kamu mengingat atas apa yang sudah ku bicarakan padamu," ucapku.


Dan sekarang Naufal mengingat semua yang telah ku katakan padanya.


Telingaku sangat panas mendengar ocehan Naufal.


"Sudah ku bilang Masss, aku melepasmu, itu yang saat ini aku lakukan," kataku.


Deeggggg......


"Ternyata Gia sungguh-sungguh dengan kata-kata yang tadi dia ucapkan, Ya Allah, aku harus bagaimana??? Apa lagi yang harus aku lakukan," kata Naufal.


Tangan Naufal mencoba untuk membelai rambutku, tapi tangannya menggenggam dan berhenti karena sepertinya dia tau aku sangat muak padanya.


Aku tidak tau sekarang bagaimana raut wajah Naufal, menangis atau tidak aku tidak tau.


Tiba-tiba Naufal tak tahan, dan langsung memelukku dari belakang.


"Aku rindu Gi sama kamu!!! Aku rindu," ucapnya dengan pelukan yang sangat erat.


Aku hanya diam dan terus menangis.


"Sebenarnya aku juga sangat merindukanmu Mas, tapi jika hatiku sudah terlanjur terluka dan dalam sakitnya, akan sulit untuk pulih kembali, sekalipun dia manusia yang sangat aku cintai," kataku dalam hati.


"Aku memang akan berdosa jika harus terus diam padamu, tapi aku? Aku akan tetap menjadi istrimu seperti biasanya, yang berubah hanyalah hatiku," kataku dalam hati.


Aku menangis terus menerus.


"Gi, aku mohon lihat aku," ucap Naufal.


Sebenarnya aku tak tega, tapi harus gimana lagi.


Dan akhirnya Naufal mengatakan sesuatu yang membuatku ingin melakukan.


"Gi, meskipun nanti hatimu berubah padaku, kamu tak lagi dalam genggaman ku, aku dengan egoku, dan kamu dengan egomu, aku mohon, untuk malam ini, aku ingin bicara banyak padamu, untuk malam ini saja, apa aku tidak bisa mendapatkan hak ku seperti saat kamu berbicara banyak padaku," kata Naufal.

__ADS_1


Telingaku semakin panas mendengar kata-kata Naufal, hatiku bergerak untuk mendnegarkannya kali ini saja.


Aku berbalik menghadapnya.


Naufal mentapku dengan wajah sedihnya, aku hanya diam dengan isak tangis dan air mata yang tersisa di pipi.


Naufal menghapus air mataku.


"Gi, aku sayangggggg......banget sama kamu, tapi untuk sekarang? Huufft mau gimana lagi, semua sudah terjadi, aku cuman mau buat pengakuan Gi sama kamu," ucapnya sambil membelai pipiku.


"Sebenarnya aku ini cintamu atau bukan Gi? Kenapa kali ini kamu tega seperti ini sama aku? Ha? Bukankah dalam suatu hubungan kita tidak boleh seperti ini," ucapnya yang membuat hatiku kesal dan marah.


"Apa kamu sudah menemukan cinta yang baru Gi, sehingga sudah bisa melepasku," kata Naufal.


"Sama sekali kamu tidak menyadari kesalahanmu Mas, kamu jahat Mas!!!" kataku dalam hati.


"Aku ini suamimu Gi, bukan orang lain, aku mohon kamu jangan seperti ini," ucapnya.


Aku tidak tahan ingin memuntahkan semua unek-unek ku padanya.


"Kalo misal kamu seperti itu, itu wajar-wajar saja, tapi jika aku bukan suamimu," kata Naufal.


Deeeegggg....


"Cukup ya Mas!!! Hatiku semakin sakit mendengar setiap kata yang kamu katakan, aku ini istrimu, pasti aku juga akan merasakan hal yang sama yang kamu rasakan saat ini, tapi kamu sungguh keterlaluan Mas!!! Kamu.......sama sekali tidak memikirkan perasaanku, apakah hatiku baik-baik saja atau tidak??!! Apalagi ketika melihatmu pulang tengah malam tanpa alasan, bukankah kamu juga menemukan cinta yang baru sehingga tak perlu menjelaskannya padaku lagi, jika kamu menganggapku sebagai istri, pasti kamu akan jelaskan, akan cerita sama aku, tapi ini????!! Nggak kan, terus kamu nganggep aku apa??!!" kataku dengan penuh amarah.


"Akhirnya aku berhasil membuatmu seperti ini lagi Gi, setelah kamu berhasil diam padaku, aku sengaja membuatmu kesal atas ucapanku, karena aku ingin ini Gi, ingin ini??? Ingin kamu pedulikan aku lagi, ingin kamu tanya-tanya i lagi, aku ingin, aku rindu hal ini Gi," ucapnya.


"Dan sekarang aku akan ceritain semua sama kamu, maaf Gi maaf, karena kemaren aku tidak ingin menceritakan langsung padamu bukan karna aku tidak menganggapmu sebagai istri atau menemukan hati yang lain, tidak Gi!!!! Tidak. Aku.....pulang selarut itu, karena aku ngejagain Noni Gi, kan kamu tau sendiri Gi Mamanya Noni single parent, Noni sakit, aku di telepon Bibinya Noni, karena Mamanya masih ngurusin bisnisnya, dan Noni juga manggil-manggil aku terus, aku temenin Noni disana, sampai dia tertidur, handphone aku lowbatt Gi, aku gak sempat mikirin itu, karena aku terlanjur khawatir sama Noni, sumpah Gi, aku gak bohong sama kamu," kata Naufal.


"Aku gak akan melakukan hal yang melewati batas Gi, karena cintaku cuman ada di kamu, tapi nggak tau lagi kalo hati kamu yang sekarang??? Mungkin...," kata Naufal terpotong olehku karena aku merasa tak terima.


"Ya Allah Mas......Kamu gitu banget ngomongnya sama aku!!!! Gitu banget kamu nuduh aku, Astagfirullah Mas......Jika saat itu Pak Kevin tidak menolongku, mungkin sekarang aku sudah mati Mas, asal kamu tau ya Mas, aku......di Rumah Sakit nyari kamu!!! Nunggu in kamu!!!! Nyari-nyari mobil kamu di parkiran!!!!! Kamu gak sadar itu Mas, Ha??!! Kepalaku pusing, aku sedang hamil pulang larut malam di jalanan yang sepi, dan pada saat itu aku terus mencoba menghubungi kamu, dimana Mas kamu pada saat aku ketakutan seperti itu??!! Gak ada kan, kamu sempet gak mikirin aku waktu sama Noni, Ha???!! Sekarang siapa yang lebih kamu khawatirkan??!!" kataku semakin meledak-ledak.


"Sekarang siapa yang telah membagi hati, aku atau kamu???!!" kataku yang semakin memojokkan Naufal.


Naufal diam tanpa berkata apa-apa.


"Sekarang terserah ya Mas, kamu terserah mau kapanpun sama Noni, mau kemanapun, silahkan, itu hak kamu, aku tidak akan pernah bertanya, dan aku akan berusaha agar tidak mengkhawatirkan mu lagi, sekarang semuanya sudah sendiri-sendiri seperti awal yang ku katakan padamu Mas," kataku terbata-bata karena menangis.


Aku sangat terpaksa mengatakan itu semua bukan karena maksud lain, aku hanya agar Naufal menyadarinya dan lebih peka padaku.


Aku kembali berbalik badan membelakangi Naufal.


Sepertinya Naufal merasa sangat bersalah sampai tidak mengeluarkan kata-kata apapun lagi padaku.


Malam itu, menjadi malam yang sangat buruk bagi kami.


Tapi Naufal sepertinya tak terima dengan kata-kata ku.


Tanpa meminta padaku, dia langsung membalikkan tubuhku, wajahku berada di bawah wajahnya, aku berhenti menangis, karena bingung apa yang akan dilakukan oleh Naufal.


Dia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi keningku, dia mendekatkan bibirnya pada keningku, entah kenapa keningku spontan ingin ku tarik ke bawah.


Naufal tau dengan ekspresi yang ku tunjukkan padanya.


Dia sempat menghentikannya, tapi dia tidak peduli dengan itu semua, dia tetap langsung mendaratkan bibirnya pada keningku.


Aku merasa sangat nyaman sekali saat itu, tapi hatiku juga masih sangat sakit dan sulit untuk kembali pulih.


Akan sangat lama jika ingin sembuh, meskipun aku sudah menerima perlakuan baik darinya.


Aku tau apa yang akan dilakukan Naufal padaku malam ini, meskipun saat ini hubungan kami sedang tidak baik-baik saja, tapi aku sudah janji, aku akan tetap menjadi istri seperti biasanya, tapi hatiku yang sudah berubah tidak seperti dulu lagi, meskipun Naufal bersikap manis padaku malam ini dengan mengambil haknya padaku sebagai suami.


Bersambung.....


jangan lupa vote yang banyak kakak hehehe😁👍


Tinggalkan komentar selalu

__ADS_1


Teruma kasih


__ADS_2