
Mas Naufal tipe orang yang ingin menyelesaikan masalahnya sekarang juga, dan tidak ingin berlarut-larut hingga berhari-hari. Sedangkan aku, untuk sembuh pun kadang tidak secepat itu.
"Mas nggak mau kalo kita tengkar Sayang, Mas minta maaf, Mas salah, Mas nggak tau," ujarnya lagi.
"Sampe sekarang aku masih mikir, kok bisa gitu???"
"Jangan-jangan emang Mas sengaja," tuduhku.
"Astagfirullah Sayang, sumpah Mas nggak sengaja, kalo nggak percaya ayo sekarang kita kembali kesana, Mas buktiin sama kamu, kalo Mas benar-benar nggak sengaja," bela Mas Naufal.
"Mas, wanita itu nggak mungkin begitu saja saat Mas menariknya, huhuhuhu," kataku.
"Mas coba jadi aku tadi, aku bela-belain nyariin Mas di tempat gelap kayak gitu, tapi Mas malah.......malah enak-enakan dengan wanita lain,
Mas Naufal berpindah, dia bersimpuh memohon di depanku yang sedang menangisi perbuatannya.
"Mas tau, Mas sudah keterlaluan, Mas buat kamu terluka lagi dan lagi, Mas ini manusia biasa Sayang," ucapnya.
"Mas harus gimana?? Biar kamu bisa maafin Mas??"? tanyanya dengan sedih.
"Nggak ada istri yang nggak maafin suaminya Mas,"
"Dan buat pulih itu nggak semudah membuangnya begitu saja, aku maafin Mas, tapi aku masih cemburu, masih ingat kelakuan Mas tadi," jawabku dengan halus.
"Tapi, aku juga tau jika Mas tidak mungkin melakukan itu semua dengan sengaja, aku tau Mas, Mas tidak seperti itu, Mas setia sama aku, Mas nggak sejahat itu sama aku, Mas ini baik,"
"Aku percaya sama Mas," kataku terbata-bata.
Mas Naufal langsung memelukku setelah mendnegar jawabanku tadi.
Meskipun aku tetap saja cemburu. Mas Naufal tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja, aku tau suamiku. Dia selalu berkata apa adanya. Karena kami tidak ingin saling menutupi.
Terutama aku, aku yang mencoba memulai untuk terbuka padanya, yaaahh pada suamiku.
Suamiku yang mengajarkan aku agar tidak memendam semuanya sendiri.
kami semua ini manusia biasa, tidak selalu bisa menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Dulu, aku terlalu egois jika seperti itu..
"Sayaanggggg........Mas bener-bener salut sama kamu, Mas nggak akan mainin percaya kamu sama Mas," gumam dalam hati Mas Naufal.
Saat Mas Naufal memelukku, aku merasa sedikit tenang. Ini jurus ampuh Mas Naufal saat menenangkanku.
"Mas janji, Mas nggak akan pernah mainin percaya kamu sama Mas, makasih Sayang, kamu udah percaya sama Mas,"
"Sudah berkali-kali Mas membuat kamu seperti ini, tapi tetap aja kamu percaya sama Mas, karena memang Mas ngomong apa adanya, nggak ada yang Mas tutupi dari kamu," kata Mas Naufal.
"Sudahlah Mas, memang seharusnya seperti ini.....harus saling mengerti, tidak egois sendiri, aku mencintai Mas, aku nggak mau melihat Mas kayak tadi lagi, aku nggak mau," rengekku.
"Itu nggak akan terjadi lagi Sayang, nggak akan," tepisnya sambil mebgelus tangannku.
Mas Naufal melepas pelukannya padaku.
Dan dia meraih kedua pipiku.
"Padahal hari ini Mas mau buat kamu seneng, apalagi dengan game tadi Sayang, tapiii.....malah jadi seperti ini, semua kacau, pasti kamu tadi juga pengen ikut game nya kan Sayang??" tanyanya.
"Iya lah, maka nya tadi aku cariin Mas," ucapkus sedikit jutek.
Mas Naufal menghapus kedua air mata di pipiku.
"Jangan nangis lagi, Mas malah terus merasa bersalah sama kamu," ujarnya.
"Gimana nggak nangism?? Lihat Mas kayak gitu," rengekku lagi.
"Lupakan Sayang, Mas kan udah jelasin sama kamu," kata Mas Naufal.
Aku hanya mengangguk di depannya.
Lalu Mas Naufal menempelkan bibirnya di keningku dengan lama.
"Makasih ya Sayang, kamu udah percaya sekarang sama Mas?? Mas salut sama kamu, kamu udah mau berubah demi Mas," ucap Mas Naufal.
"Iya Mas," jawabku lalu meraih tangannya dan mencium tangannya.
"Habis ini Mas bakalan mandi kok Sayang," ujarnya.
"Kenapa Mas mandi semalam ini??" tanyaku.
"Biar bersih, biar kamu juga nggak ingat kejadian tadi lagi," jawabnya.
"Ya udah aku siapin air dulu buat Mas," kataku.
Mas Naufal beranjak berdiri dari depanku dan melepas kancing kemeja nya satu per satu.
Setelah selesai aku menyiapkan air untuk Mas Naufal, aku memanggil Mas Naufal agar segera mandi.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Mas Naufal tak kunjung selesai mandi. Aku sangat lapar sekali. Hingga perutku keroncongan.
Akhirnya, aku turun ke bawah untuk memasak sesuatu yang nantinya bisa memenuhi isi lambungku ini.
***(Di Dapur)
Ku buka almari es, lalu ku ambil roti maryam instant di dalam rak almari es. Ku panaskan pan lalu ku panggang roti itu.
Sambil menunggunya, suasana sepi disini semakin menakutkan, aku mencoba mengabaikannya.
Apalagi sekarang musim hujan, tadi saat aku pulang saja langitnya mendung, tidak ada bintang sama sekali, pasti sebentar lagi bakalan hujan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Dan akhirnya, dugaan ku benar.
Hujan deras membasahi seluruh kota ini. Aku melihat daun yang tertesi air hujan dari jendela Dapur.
"Huuummm, enaknya....." Ucapku saat menghirup tanah dan genting yang terbasahi oleh air hujan.
Karena aku tergoda dengan hujan kali ini.
Setelah membalikkan roti maryamku. Aku beralih ingin ke halaman ke belakang.
Greeekkkk....
Ku geser pintu kaca untuk menuju halaman belakang rumahku. Angin dingin langsung berhembus mneyambutku dan membuat gamisku bergoyang-goyang.
Aku tidak begitu takut, karena ada 2 satpam yang berjaga di belakang.
Bayangin, malam-malam sendirian, dengan angin yang berhembus lambat, sambil menikmati suara hujan yang jatuh ke bawah.
"Kayaknya enak banget ini disini," kataku dalam hati.
Aku kembali mengambil roti maryam dari pan.
Ku letakkan di atas piring ceper, dan ku seduh coklat panas. Lalu ku bawa mereka ke halaman belakang.
***(Di halaman Belakang)
Untung saja hujan ini tidak disertai petir, andai saja iya.....pasti aku tidak akan berani nongkrong di belakang sendirian dan malam-malam seperti ini.
Huuuuummmm enaknya, sendirian tidak ada yang mengganggu sambil merenungi semuanya.
Kenapa jika melihat hujan, bawaannya sendu....
Terus, ingat kenangan yang sedih-sedih. Padahal suasana hati sedang baik-baik saja.
Apa memang hujan itu waktu yang tepat dimana kita menyadari semua? Entah itu kesalahan atau salah paham?? Apa iya ya??
Itu sebabnya kenapa?? Akus sangat suka dengan suasana seperti ini.
Andais saja bisa, aku tidak ingin melewati suasana seperti ini, aku juga tidak ingin suasana seperti ini berakhir.
Apalagi, jika hujannya saat pagi hari. Huumm pasti aku yang absen paling pertama untuk datang menikmatinya.
"Huuumm enaknya hujan-hujan begini, serasa refleksi ngilangin semua penat dalam hati, hehehem," kataku dalam hati.
Ku nikmati roti maryam dan secangkir coklat panas sendirian. Sungguh nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan.
Saat roti pertama ku potong dan akan ku masukkan ke dalam mulutku. Tiba-tiba......
"Sayanggg!!!"
Aku langsung menoleh ke belakang.
"Astagfirullah Mas Naufal, ngagetin aja," kataku.
"Ya Allah Sayanggg......Mas ini nyariin kamu loh, Mas kira kamu masih ngambek, masih marah sama Mas, terus pergi,"
"Mas udah mikir macem-macem, apalagi saat tau sekarang hujan, eeehh....ketemunya disini," ujar Mas Naufal.
Mas Naufal berjalan mendekatiku, dengan baju tidurnya, Mas Naufal duduk di sampingku.
"Kamu masih marah sama Mas Sayang?? Ha??" tanya Mas Naufal sambil menatapku.
"Sudahlah Mas, nggak usah dibahas lagi, nikmatin aja suasana sekarang ini loh," jawabku.
"Mas ini nanya Sayang,"
"Kamu masih marah sama Mas?? Mas salahnya dimana lagi?? Mas siap kok minta maaf ke kamu untuk beribu kali, Mas nggak keber...."
Ku tutup mulut Mas Naufal dengan tanganku.
"Mas, aku udah nggak marah sama Mas, kan aku udah maafin Mas, udah lah Mas, jangan berlarut-larut,"
"Jangan juga di perpanjang, katak SIM aja, hehem," candaku.
"Mas ini lagi serius Sayang, kamu malah jawabnya gitu," kata Mas Naufal.
"Kan aku udah nggak mempermasalahin kelakuan Mas yang tadi, aku menerima, aku percaya sama Mas, Mas tidak mungkin seperti itu, udah kan," ujarku.
"Sekarang mending Mas makan rotinya, aku mau buatin coklat panasnya buat Mas," sambungku lagi lalu beranjak berdiri.
Mas Naufal memegangi tanganku.
"Kamu nggak udah kemana-mana Sayang, temani Mas disini, bukannya lebih baik jika secangkir untuk berdua," kata Mas Naufal.
"Iiisshh Mas Naufal bisa aja buat aku deg-deg an dan tersipu malu begini," gumamku dalam hati.
"Yak.....yakin Mas Naufal nggak mau dibuatkan sendiri??" tanyaku lagi.
"He'em, udah kamu balik duduk aja disini, sebagai penggantinya yang tadi Mas nggak jadi nyenengin kamu, kita nikmati berdua disini," jawab dan tuturnya.
Okeee...aku pun kembali duduk memenuhi perintah Rajaku ini.
Tiba-tiba, aku merasa grogi ada di dekat Mas Naufal.
Deg deg.....deg deg....
"Waduh, kok aku jadi deg-deg an kayak gini ya," gerutuku dalam hati.
"Sini Mas suapin," ujar Mas Naufal.
"Adduuuhh, Mas Naufal pake acara begini segala lagi," kataku dalam hati.
"Eemmm....nggak usah Mas, aku bisas sendiri," jawabku.
Lalu Mas Naufal sudah tidak tahan dengan sikapku, tangan kirinya menarik dagu ku agar menghadap ke arahnya.
Aku semakin deg-deg saat itu.
Apalagi Mas Naufal tak kunjung memasukkan garpunya ke dalam mulutku. Malah dia melihatiku saja dengan mata indahnya itu.
Jangan semakin membuat aku terpikat padamu malam ini Mas, malam ini kan aku ingin menikmati suasana hujan ini, bukan menikmati tatapan mu yang membuatku sesak nafas begini.
"Mmm....Mas,"
__ADS_1
"Bentar, aku mau lihatin kamu kayak gini Sayang,"
Kemudian, Mas Naufal mengarahkan garpunya pada mulutku. Disaat bersamaan, saat aku menggigit garpu itu, Mas Naufal mendaratkan ciumannya di keningku.
Aduuuuhhhh.......
Nggak kuat!!!!!!!!!
Rasanya aku ingin pingsan sekarangggg ini.
Dengan suasana sepi yang mendukung seperti ini, Mas Naufal bertindak dengan sikap romantisnya.
Klopp sudah.
Malam ini Mas Naufal membuatku jatub cinta kembali.
Bibirnya tak kunjung lepas dari keningku.
Dan keningku juga seperti tidak bisa ditarik dari sana.
Dia begitu menikmati.
"Masss....." panggilku yang membuatnya melepas bibirnya dari keningku.
"Ehemm......Mas kelepasan Sayang," ucap Mas Naufal.
"Nanti di lihatin 2 satpam kamu loh," godaku ingin membuat dia malu dan salah tingkah.
"Mereka nggak tau, lagian jaraknya juga jauh, mereka di ujung sana, jangan ngerjain Mas ah kamu, nggak mempan Sayang," tepis Mas Naufal.
"Hehehehe, lagian Mas sih nggak dilihat situasi dan kondisi, langsung ajaaa," ejekku.
"Namanya juga spontan Sayang, kebawa sama suasana hujan ini loh," ucap Mas Naufal.
"Udah, kamu nggak usah makan sendiri, Mas yang suapin terus, daannn...kamu nggak boleh nolak," perintah Mas Naufal.
"Huuumm iya-iya Mas," jawabku.
Saat aku sedang akan mengambil secangkir coklat panasnya. Tanganku tersenggol dengan vas bunga yang ada disana, akhirnya secangkir coklat panas itu tumpah di tanganku.
"Aaaawwhhhh....."
"Huuuffttt huufttt,"
"Ya Allah Sayang !!"
Mas Naufal dengan cekatan langsung meraih tanganku dan membersihkannya dengan tissue dan meniupinya, lalu dia menarikku karena ingin mengguyur tanganku dengan air dingin.
"Uuppssss hehehheheehmmmmm, kena prankkkkk, weekkkk," kataku yang sengaja mengerjainya.
Aku terpingkal-pingkal menertawakan Mas Naufal.
"Sayang.....kok kamu malah ketawa?? Bukannya kamu kepanasan ini tangannya??" tanya Mas Naufal dengan kesal sambil mengernyitkan keningnya.
"Hehehehe, ini tuh anget Mas, udah nggak panas, coba deh kamu pegang deh," ucapku sambil memberikan cangkirnya tadi.
Mas Naufal menempelkan tangannya dan juga meminum coklatnya.
"Tuh kan anget, nggak panas, Heheheheh," candaku sambil memegang perutku yang sakit karena melihat ekspresi Mas Naufal yang panik tadi.
"Iya ya, ini anget,"
"Uuuummm kamu ngerjain Mas ya Sayang???"
"Tega banget kamu sama Mas Sayang," ucapnya dengan kernyitan alisnya seperti orang yang marah.
"Mas panik loh, kok kamu malah kayak gini, jangan becandain yang beginian Sayang," ucapnya.
"Oooo......oooww sepertinya Mas Naufal marah beneran sama aku," gumamku dalam hati.
"Kalo kamu kenapa-napa beneran gimana? Sayanggg......Sayanggg," gerutunya.
"Aku minta maaf Mas, kan aku cuman pengen ketawa sama kamu, aku juga pengen manja di kamu," kataku sambil menundukkan kepalaku karena takut Mas Naufal marah seperti ini.
"Kamu mau manja sama Mas???"
"Bukan gini caranya, tapi ini..." Ucap Mas Naufal lalu membopong tubuhku.
Dia malah tersenyum padaku, aku kira dia marah, malahan dia balik mengerjaiku dengan berpura-pura marah padaku.
"Hehehem, enak kan dikerjain ganti,"
"Kalo mau manja itu gini Sayang, jangan asal," bisik Mas Naufal di telinga.
Aku tersipu malu pada saat itu.
"Aku kira Mas marah beneran,"
"Udah ah Mas, turunin aku, aku malu," kataku sambil menggerakkan tubuhku agar menambah beban berat di otot Mas Naufal.
"Nggak mau, udah terlanjur Sayang, salah sendiri mau ngerjain Mas, hehehe, jadi manja nya??" tanya Mas Naufal.
"Apa sih Mas...." Ucapku dengan malu-malu.
"Ayolah Mas.....turunin aku," ucapku.
"Kalo Mas nggak mau gimana dong Sayang??"
"Nggak boleh maksa loh," sambung Mas Naufal.
Mas Naufal tidak menuruti perintahku, malahan dia membawaku ke lantai atas menuju kamar kita.
Sepertinya semesta tau. Dan tiba-tiba....
Duuuaarrrr......
Suara halilintar menyambar telingaku.
"Aaaaa....." Teriakku langsung melingkarkan tanganku di leher Mas Naufal untuk memeluknya.
Padahal tadi sama sekali tidak ada kilat ataupun petir, tapi kenapa semakin malam, hujannya semakin deras ditambah dengan petir.
Glleerrr........suara halilintar lagi.
"Mmmmmmmas, kok tiba-tiba ada petir?? ayo Mas di kamar aja, aku takut," ucapku sambil menyembunyikan wajahku di dada Mas Naufal.
__ADS_1
"Heheem, semesta aja tau Sayang," kata Mas Naufal.
Bersambung..........