
Satu bulan kemudian........
Hari ini aku sangat sedih mendapat pesan dari Naufal, karena dia akan pergi ke luar negeri untuk pekerjaannya nanti sore.
Aku menangis saat menyiapkan baju-baju yang ku masukkan ke dalam koper miliknya.
"Kenapa dia harus pergi lagi? Huhuhum," kataku dalam hati.
Hatiku sakit setiap kali melipat kemejanya, tapi bagaimana lagi, ini memang pekerjaannya.
.
.
.
.
Siang harinya, Naufal pulang.
Aku sedih berdiri di tepian balkon, dan dia memelukku dari belakang.
"Sayanggg," rengeknya di pundakku.
"Harus ya Mas kamu pergi lagi?" tanyaku.
"Iya Sayang, maafin aku ya, ini nggak bisa di wakilkan," jawabnya.
"Ya udah kamu mandi sana," kataku.
"Kamu kok gitu bilangnya sama aku," ucap Naufal sambil mengernyitkan alisnya.
Aku melepas tangannya dan berjalan masuk ke Kamar.
"Berkali-kali Naufal meninggalkanku ke luar negeri, tapi kenapa untuk kali ini aku benar-benar sedih," kataku dalam hati.
Naufal kembali menghampiri ku.
"Sayang, aku salah sama kamu?" tanyanya.
"Maaf kalo aku ada salah sama kamu," ucapnya.
Aku langsung berbalik dan memeluknya.
"Kamu jangan pergi," ucapku dengan air mata yang terus menetes di kedua pipiku.
Naufal mengelus-elus rambutku.
"Sayang.....cuman 3 hari, aku akan pulang secepatnya, jika urusan disana sudah selesai, pasti aku akan kembali secepatnya," tuturnya.
"Kamu jangan nangis, tiap hari pasti aku ngabarin kamu Sayang," tuturnya lagi.
Aku tidak mendengarkan kata-kata Naufal, yang aku mau sekarang hanyalah dia ada di sampingku dan tidak pergi kemana-mana.
"Gia, kamu nggak boleh egois kayak gini Gi," gertakku pada diriku sendiri dalam hati.
Aku terus menangis di pelukan Naufal.
"Habis ini Bastian jemput aku, aku mandi dulu ya Sayang," ucapnya.
"Naufal benar-benar akan meninggalkanku," kataku dalam hati sambil melepas pelukan darinya.
Dan akhirnya, perlahan aku mencoba memaksa hatiku untuk mengizinkannya pergi.
Naufal bergegas untuk mandi.
Aku menyiapkan kemeja yang akan dipakainya.
Setelah dia mandi, Naufal langsung bersiap-siap karena jam juga sudah mepet.
Beberapa menit selesai bersiap-siap, Naufal menarik kopernya, lalu berjalan turun bersamaku ke Ruang Tamu.
***(Di Ruang Tamu)
Pak Bastian sudah menunggunya disana, aku semakin sedih.
"Udah Fal?" tanya Pak Bastian.
"Udah," jawab Naufal.
Aku mengantar mereka ke depan halaman Rumah, mereka segera memasukkan kopernya ke dalam mobil.
Naufal memelukku sampai menghela nafasnya.
"Huummm, baik-baik ya Sayang," tuturnya lalu mencium keningku.
Aku menyalami tangannya.
"Aku berangkat ya Sayang," ucapnya.
"Jagain Gia ya Bi," kata Naufal pada Bi Sarah yang berdiri di belakangku.
"Enggeh Mas, siap," jawab Bi Sarah dengan logat Jawa nya yang medok.
Naufal segera berangkat pergi untuk pekerjaannya.
Sesekali klakson mobil Pak Bastian menyapa kami.
Mobil Pak Bastian berjalan meninggalkan halaman Rumah, Aku uduk-duduk santai di tepi kolam renang.
Aku melamun sambil memegang perutku. Air mataku menetes seketika.
Bi Sarah datang membawakanku vitamin dan segelas air putih, segera ku hapus air mataku.
"Ini Mbak silahkan di minum," kata Bi Sarah.
"Makasih ya Bi," ucapku.
"Iya Mbak," jawabnya sambil berjalan meninggalkanku.
Segera ku minum segelas air dan kapsul vitamin itu.
.
.
.
.
.
Hari sudah menjelang malam, setelah selesai sholat magrib dan mengaji, Bi Sarah memanggilku.
Tok....tok....tok.
"Mbak Gia, ada Mbak Susi di bawah," ucapnya.
Segera ku bukakan pintu untuk Bi Sarah.
Gleeekkkk.
__ADS_1
"Susi suruh naik aja ya Bi," ucapku.
"Baik Mbak," jawab Bi Sarah.
Ku bawa Susi ke ruang yang jarang sekali di jamah oleh penghuni rumah ini, tepat di sampingku ada ruangan yang cukup luas, dulu kata Naufal ruangan ini yang biasa digunakannya untuk kumpul sama teman-teman nya.
"Kamu tau banget Si kalo aku kesepian," kataku.
"Aku sengaja kesini karena aku juga kesepian Gi di rumah Mas Bastian," kata Susi.
"Heheheem," aku menertawakan Susi.
"Kenapa kamu ketawa gitu?" tanya Susi.
"Ooo jadi sekarang panggilnya Mas Bastian ya," ejekku.
"Aaaaaa Gia, jangan gitu dong, aku malu tau," rengeknya.
Bi Sarah datang membawa beberapa toples cemilan dan juga minuman.
"Makasih Bi," ucap Susi.
"Ya Mbak Susi," jawab Bi Sarah dengan senyumnya.
"Kamu gimana Si? Betah tinggal di Rumah Pak Bastian?" tanyaku.
"Sebenarnya aku nggak betah Si, tapi gimana lagi?? Awalnya aku pengen di kos terus, hhhmm tapi nggak mungkin kan," jawabnya.
"Kok bisa gitu?? Pasti rumah Pak Bastian luas kan Si, kok bisa nggak nyaman," tanyaku lagi.
"Luas sih luas Gi, tapi disana sepi, kalo disini kan kamu masih punya Bi Sarah, Pak Rusdi terus yang lainnya, kalo disana gak ada Gi, cuman ada satpam aja di depan," jawabnya.
"Dulu awal Rumah ini juga gitu Si, terus Mama ngirim Bi Sarah kesini, eeeh sekalian aku minta suaminya Bi Sarah kesini sekalian, waah jadi rame Si, belum nanti keponakannya Mas Naufal kesini," ucapku.
"Huuummm gitu ya Gi, enak kalo gitu, disana kalo udah habis magrib, ya udah di kamar mulu Gi," bantahnya.
"Udah lama kelaman kamu juga bakalan betah, hidup sama seseorang yang kamua anggap bisa kau andalkan untuk membahagiakanmu," ceplosku.
"Aghem, iya iya Guru, xixixix," canda Susi.
"Apa sih kamu Si," kataku.
Susi menceritakan semua nya padaku.
"Kadang aku kangen Mama Gi," keluhnya.
"Kangen Mama kamu? Bentar, kan selama ini kamu kos, kenapa saat sekarang ini kamu tinggal sama Pak Bastian tiba-tiba kamu kangen beliau," kataku dengan heran.
"Hehehe, nggak tau Gi, terus pernah kan Gi sekali, aku ada buka IG nya Mas Bastian, eh ternyata banyak dm cewek Gi," kata Susi.
"Tapi nggak ada yang dibales kan sama Pak Bastian?" tebakku.
"Yah nggak ada sih Gi, tapi rasanya sesak gitu Gi," jawabnya.
"Cemburu wajar Si, tapi kan Pak Bastian nggak respon hayo," ucapku.
"Heheh iya sih," ucapnya sambil tersenyum menyeringai.
.
.
.
.
.
Saat Susi berpamitan pulang, tiba-tiba perutku terasa sakit dan sangat kencang.
"Aaaaaawww, Si perutku tiba-tiba sakit Si," kataku yang tak mampu berjalan mengantarkan Susi.
"Gi kenapa Gi??!!" tanya Susi yang panik dan merangkul lenganku.
Tiba-tiba kakiku basah seperti di guyur oleh air.
"Gia!!!" teriak Susi.
"Si bawa aku ke Dokter Bela Si, cepetan Si!!!" perintahku dengan panik.
"Iya iya bentar tas kamu dimana?" tanya Susi.
"Panggil Bi Sarah Si, Bi Sarah tau semuanya," kataku sambil merintih merasakan kesakitan.
"Iii...iya Si bentar ya," kata Susi.
Susi segera memanggil-manggil Bi Sarah, Bi Sarah panik ketika melihat kaki ku basah.
"Astagfirullah Mbak," ucap Bi Sarah panik.
"Bibi ke kamar Gia ya ambil semua keperluan Gia, Susi mau bawa Gia ke mobil, nanti Bi Sarah langsung nyusul kesana aja," ucap Susi dengan panik.
Susi menuntunku menuruni anak tangga.
Ketika semua sudah di dalam mobil, Susi langsung menancap gas mobil dengan sangat kencang, sedangkan aku terus merengek karena rasa sakit yang sangat luar biasa.
"Sabar ya Gi, aku coba telfon suami kamu," kata Susi yang menyetir sambil membuka ponselku.
"Aaarrghh, handphone nya nggak aktif Gi, coba aku telfon Mas Bastian," ucapnya.
Dan ternyata ponsel Pak Bastian juga tidak aktif.
"Mbak Susi gimana Mbak?!" tanya Bi Sarah yang terus mengelus-elus perutku karena Bi Sarah sangat panik dan sepertinya Bi Sarah tau apa yang terjadi padaku.
"Semua handphone mereka nggak aktif Bi, coba aku telfon Mama kamu ya Gi," ucapnya.
Tut...tut...tut.
"Hallo Assalamu'alaikum Tante," ucap Susi.
"Wa'alaikumsalam, ada apa Sus?" tanya Mamaku.
"Tante, maaf banget ganggu waktunya malam-malam gini, Gia Tante, Gia, Gia kayaknya mau lahiran, dan ini Susi sama Bi Sarah nganter Gia ke Dokternya," kata Susi dengan sangat gugup.
"Masya'Allah, Naufal dimana??!!" tanya Mamaku dengan nada agak sedikit meninggi.
"Naufal ada pekerjaan di luar negeri Tante, jadi Gia sendiri di rumah, kebetulan tadi Susi main ke rumahnya," jawab Susi.
"Ya udah sekarang juga Tante sama Om langsung kesana ya," kata Mama.
"Iya Tante," jawab Susi langsung mematikan teleponnya.
Susi melihatku dengan raut muka yangs sangat sedih dan dia juga sempat menangis.
"Si...," panggilku dengan lirih.
"Iya Gi???" jawabnya.
"Tolong kamu telfon Mamanya Mas Naufal pake handphone aku," perintahku.
"Iya Gi iya, kamu sabar ya, habis ini kita sampek," tuturnya.
__ADS_1
Susi langsung menelepon Mama Feni.
"Assalamu'alaikum Tante," ucap Susi.
"Wa'alaikumsalam, ini siapa?" tanya Mama Feni.
"Ini saya Susi temannya Gia Tante, Tante ini Gia nya mau lahiran sepertinya, sedangkan Naufal tidak ada di rumah Tante, dan ini saya perjalanan ke Rumah Sakit," jawab Susi.
"Astagfirullah, ya sudah Tante segera ke sana, kirim alamatnya ya," jawab Mama Feni.
Tidak banyak bicara Susi langsung menutup teleponnya.
"Haduh Gi sabar ya, mana macet lagi," keluhnya sambil mengusap air matanya.
***(Di Rumah Sakit)
Akhirnya kami sampai di Rumah Sakit.
Disana, mobil kami langsung di sambut oleh Dokter Bella, karena sebelumnya Susi sempat menelepon Dokter Bella.
Mereka segera membawaku ke Ruang Bersalin.
Susi dan Bi Sarah menungguku di luar.
Mama Feni dan Papa Diki akhirnya tiba disana.
Beberapa menit kemudian, semua nya masuk menemuiku, Susi dan Bi Sarah terus mengelus tulang belakangku yang sangat sakit sekali. Aku hanya bisa menangis merintih kesakitan.
Mama Feni segera menanyakan keadaanku Dokter Bela.
"Dok, gimana Dok cucu saya sama menantu saya?" tanya Mama Feni pada Dokter Bela.
"Ini harus dilakukan operasi Caesar Bu, dan suami nya dimana ya Bu?" tanya Dokter Bela balik.
"Suami nya lagi ada kerjaan di luar negeri Dok, tolong secepatnya tangani menantu saya," ucap Mama Feni yang menangis.
"Tapi terlebih dahulu harus ada yang menandatangi surat perjanjian ini dulu Bu," tutur Dokter Bela.
"Iya Dok iya, yang terpenting menantu saya segera di tindak lanjuti," kata Mama Feni.
Tak berfikir lama, Dokter Bela memberikan surat perjanjian itu padaku.
Sebenarnya berat untukku, tapi bagaimana lagi, ini jalan satu-satunya.
Dokter Bela membawaku ke ruang operasi.
Semua panik dengan keadaanku. Susi terus berusaha menelepon Naufal dan Pak Bastian.
Beberapa jam kemudian, tepat saat Dokter Bela keluar dari Ruang Operasi. Mama Feni langsung bertanya pada Dokter Bela.
"Dok bagaimana Dok??!!" tanya Mama Feni.
"Begini Bu, sebenarnya saya snagat berat mengatakan hal ini pada Ibu," jawab Dokter Bela yang membuat semuanya semakin panik.
"Dok ada apa Dok?? Kenapa Dok??!!" sahut Susi.
"Maaf saya sudah melakukan semaksimal mungkin untuk menolong bayi nya Bu, tapi hanya Ibunya yang bisa tertolong, karena usia kehamilan Ibu Gia yang masih 8 bulan dan pastinya jika selamat bayi itu akan lahir prematur, namun bayi nya terkena infeksi Bu, jadi hanya Ibu nya saja yang bisa tertolong," jawab Dokter Bela.
Degggg.....
Mama Feni langsung terjatuh, dan Papa Diki segera menyangganya.
"Ya Allah, huhuhuhu," ucapnya.
Susi dan Bi Sarah turut sedih mendengar hal itu.
"Astagfirullah Giaaa," ucap Susi.
Mereka semua menangis mendengar kabar buruk itu.
Setelah dilakukan operasi, aku di pindahkan ke ruang rawat inap.
Saat Mama dan Papaku tiba disana, melihat semua menangis di depan kamarku, Mamaku sempat menebaknya jika terjadi hal buruk padaku.
"Si, Gia gimana Si??!!" tanya Mamaku.
Susi langsung memeluk Mamaku.
"Bayi Gia nggak selamat Tante," jawab Susi.
"Astagfirullah, huhuhuhu, Ya Allah anakku....," ucap Mamaku.
Papaku yang mendengar hal itu langsung masuk ke kamarku.
Glekkkkkk.
Papaku langsung memelukku, dan aku pun tersadar.
"Papa, ada apa ini??" tanyaku dengan lirih.
"Bayi aku mana Pa?" tanyaku.
Papa hanya diam dan melihat sambil menangis.
"Gia sabar ya Nak, semua yang terjadi adalah takdir yang di kasih Allah sama Gia," tutur Papaku.
Deeeeggggg, perasaanku sudah sangat tidak enak mendengar jawaban Papaku.
"Paaaa!!! Dimana bayi Gia???!!!" teriakku.
Papaku kembali memelukku untuk menenangkanku agar tidak berontak.
"Bayi kamu tidak tertolong Nak," ucap Papaku.
Aku semakin menangis meraung-raung, ingin ku melepas pelukan Papa dan lari menemui bayiku, tapi aku apa? Aku hanyalah umat yang hanya bisa menjalankan bukan menuliskan.
"Huhuhuhuhuuu enggak Pa!!!! Enggak!!!!" teriakku sambil berontak.
Mamaku langsung berjalan menghampiriku dan memelukku, aku merasa sangat bersalah pada mereka.
Aku sangat stress dengan kejadian ini, seperti orang yang sudah hilang akal.
Aku terus menangis, hanya Papaku yang bisa menenangkan ku saat itu.
Keesokan harinya, hanya sekali aku di pertemukan dengan anakku, aku menciuminya untuk pertama dan terakhir kalinya, Susi sempat memotretnya, dengan keadaanku yang sekarang, aku sama sekali tidak mengingat Naufal.
Papaku yang mengurusi semua pemakaman anakku.
Aku depresi, hanya diam, menangis dan melamun.
"Ya Allah, begitu berat cobaan yang Kau berikan, hamba sangat sedih kehilangan ini Ya Allah, huhuhuhu, kuatkan hamba, huhuhu," gumamku dalam hati.
Susi berjalan menghampiriku.
"Gi, aku pulang dulu ya," pamitnya.
"Aku harus kerja pagi ini, nanti pulang kerja, aku bakalan kesini lagi," ucapnya.
Aku tidak mendengarkannya, dan aku tidak menajwabnya, sepertinya Susi mengerti jika aku mengizinkannya untuk pulang.
Aku hanya mampu dan mau berbicara pada Papaku saja kala ini.
__ADS_1
Bersambungg......