Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 186 (Movie Time)


__ADS_3

Hari esoknya, sepulang kami kerja, Noni bertamu lagi ke


rumah kami bersama Mamanya.


***(Di Ruang Tamu)


Noni, Naufal dan Abay keluar bertiga, meninggalkan aku dan


Mama Noni.


“Aku pusing Gi, Noni sekarang jadi kayak gitu,” keluh Mama


Noni.


“Sabar Mbak, memang anak usia Noni itu meledak-meledaknya


pergaulan, jangan terlalu di marahi terus-terusan Mbak, kasihan nanti anaknya,” ucapku.


“Padahal aku nggak minta lebih loh Gi sama dia, aku cuman


mau dia nurut aja, udah itu aja,” kata Mama Noni.


“Nurutnya cuman di bilangi Naufal aja,” sambung Mama Noni.


“Eheemm, iya Mbak, kemaren juga sudah di bilangi sama Mas


Naufal, kan dari kecil Noni deket sama Mas Naufal,” kataku.


“Apa Noni kayak gini gara-gara aku gak bisa nurutin dia juga


ya Gi, kan selama ini dia pengen aku nikah lagi,” ujarnya.


“Tapi aku yang nggak bisa Gi, aku nggak bisa khianati


Almarhum suamiku, aku sudah bilang padanya dulu,” ucap Mama Noni.


Tin tin….. Mobil Naufal berhenti di depan Rumah, Noni dan


Abay langsung turun menemui kami.


“Beli apa tadi??” tanyaku.


“Kesukaan Mama,” jawab Abay.


Naufal keluar dari mobil sambil membawa beberapa kantung


kresek makanan.


“Ini ada salad sama apa itu tadi aku lupa,” ucap Naufal.


“Dimakan Mbak,” tuturku.


Aku mengambilkan piring untuk kami.


Naufal membeli sebuah cake besar .


“Udah rambutnya gini aja, nggak usah di warna lagi,” ucap


Naufal pada Noni.


“Kalo sama kamu nurut kan Fal,” sahut Mama Noni.


Noni tidak memperdulikan kami malah asik memakan cake.


“Noni, lihat Mama kamu,” ucap Naufal.


Noni melihat Mamanya.


“Lihat Mama kamu Noni, kamu nggak kasihan, Mama kamu udah semakin tua, bertambah umurnya, kerja sendirian ngidupin kamu, kamu masih bersyukur bisa dikasih hidup nggak usah, apa-apa bisa beli, kamu minta ini Mama kamu langsung beliin tanpa bilang enggak, cuman kamu loh yang Mama kamu miliki, Mama kamu juga cuman punya kamu, seandainyakalo Mama kamu nggak ada gimana??? Kamu harus memikirkan itu, kasihan Mama kamu, nurut sama dia, masih beruntung kamu punya Mama, dari pada mereka yang yatim piatu, jangan buang-buang waktu buat nyusahin orang tua, buat sedih Mama kamu, ya, nurut ya sama Mama kamu,” tutur Naufal panjang lebar.


Noni hanya diam dan menundukkan kepalanya.


“Seharian loh Mama kamu kerja, kalo kamu pengennya ini, di


omongin baik-baik sama Mama kamu, jangan asal main, inget, kamu masih SMP, masih panjang jalan pendidikan kamu, ayo bilang sama Mama kamu, kamu pengen Mama kamu gimana??” tanya Naufal.


Noni menangis karena di nasehati oleh Naufal.


“Noni cuman pengen Mama menikah, kalo Mama nggak mau nikah lagi, Noni akan tetep kayak gini terus,” jawab Noni sambil terbata-bata.


Abay hanya diam memperhatikan Noni.


“Mama nggak…..” sahut Mama Noni langsung di hentikan oleh


Naufal.


“Noni, kalo kamu pengennya kayak gitu, sabar, luka di hati


Mama kamu belum sembuh karena kehilangan Papa kamu, do’ain Mama kamu, semoga segera di bukakan hatinya, saling mendo’akan, nggak boleh saling maksa saling egois,” tutur Naufal.


“Dan semuanya juga nggak bisa instant Noni, Mama kamu nggak bisa langsung nikah gitu aja, apalagi Papa untuk kamu, pasti Mama kamu harus milih yang terbaik, ya….” Tutur Naufal lagi.


“Mas udah Mas,” sahutku.


“Uncle nggak marah loh, Uncle cuman menasehati kamu, Uncle


kaya gini karena Uncle peduli sam kamu,” ucap Naufal.


“Udah nggak boleh nangis,” sambung Naufal.


“Kemaren udah minta maaf sama Mama kamu??” tanya Naufal.


“Udah,” jawabnya sambil terisak-isak.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Malamnya, setelah sholat magrib, Noni dan Mama nya pun


pulang.


Aku dan Naufal duduk berdampingan di halaman depan Rumah


sambil menikmati the tawar.


“Mas…..jangan terusin omelannya Mas, Noni kasihan nanti


tertekan,” kataku.


“Aku nggak ngomelin Sayang, aku kasih nasehat ke dai, biar


ngerti sama Mamanya, pastinya Mama nya kan ngajarin baik-baik, nggak mungkin kayak gitu,” ucap Naufal.


“Namanya juga puber Mas, sabar-sabarin Mamanya,” ucapku lalu meneguk the di cangkir putih.


Ponsel Naufal pun menyala di atas meja.


Aku tak sengaja melihatnya saat ku letakkan cangkir tehku


kembali.


“Alvi,” ucapku dalamhati melihat pesan masuk di ponsel


Naufal.


NAufal alngsung membaca pesan dari Alvi.


“Alvi…..Alvi,” ucap  Naufal.


“Kamu masih kontakan sama Alvi??” tanyaku.


“Iya, kenapa emangnya?? Kok kamu nanya nya gitu??" tanya

__ADS_1


Naufal balik.


“Ya….ya nggak papa, kali aja udah enggak Mas,”jawabku.


“Ini nih dia nanyain barang yang aku pesenin di temen aku, buat ulang tahun calon istrinya,” ujar Naufal.


“Kamu kenapa sih?? Kayak nggak suka gitu sama Alvi??” tanya


Naufal sambil menatapku.


“Ha?? Eemmm……enggak, aku baisa aja,” jawabku.


“Yakin biasa aja??” tanya Naufal lagi.


“Iya lah Mas, kenal aja baru kemaren,” jawabku.


“Dia mau gabung sama kajian islam di grup kita loh Sayang,


kamu kenapa sih nggak mau di tanya-tanya in sama dia,” ucap Naufal yang mulai curiga.


“Ayo lah Sayang, kasihan dia loh,” paksa Naufal.


“Kan ada kamu, kenapa harus aku,” ucapku.


“Kan aku biasanya sibuk banget Sayang, aku nggak enak kalo


di tanyai dia terus baru besoknya aku jawab, atau malamnya pas mau tidur, mau ya??” paksa Naufal lagi.


“Aku nggak mau Mas,” tolakku.


“Kenapa?? Cerita sama aku,” kata Naufal.


“Sebenarnya aku udah tau siapa Alvi,” kata Naufal.


Deeeggggggg.


Aku langsung diam kaku, aku langsung menoleh pada Naufal.


“Maksud kamu??" tanyaku.


“Aku tau kalo Alvi temen kamu,” jawab Naufal.


Deeegggg.


“Jadi, jadi Naufal tau semuanya,” ucapku dalam hati.


“Aku juga tau dia tetangga sekaligus teman masa kecil kamu,”


smabung Naufal lagi.


“Alvi yang cerita sama aku, terus alasannya apa Sayang kamu


nggak mau kasih kajian islami ke dia, dia kan juga teman kamu,” kata Naufal.


“Sepertinya Naufal belum tau semuanya tentang aku dan Alvi,” gumamku dalam hati.


“Aku nggak mau kamu sakit,” ucapku to the point.


“Sakit?? Sakit kenapa??” tanya Naufal.


“Aku sama Alvi……….lama bersama, bahkan melebihi teman, dia


cinta sama aku,” jawabku namun tidak lagi menatap Naufal.


Naufal kaget mendengarkan penjelasanku, ternyata benar,


Naufal belum tau semua tentang aku dan Alvi.


“Aku nggak mau kamu sakit hati Mas, kamu segalanya, aku


nggak mau ada lagi masalah di antara kita berdua,” kataku.


“Jadi……Alvi??” ucap Naufal.


“Yah……sedekat itu aku sama dia, maka nya dari awal kita


ketemu disana, kamu memperkenalkan aku sama dia, itu aku sudah bertemu dia sebelumnya di puncak,” kataku.


“Maafin aku, sebenarnya aku udah nggak mau bahas dia


lagi, aku juga nggak pernah ada niatan buat ceritain Alvi ke kamu, karena udah cukup Pak Kevin sama Vela aja, jangan ada yang lain lagi,” ujarku.


berteman, sejak setelah kamu ninggalin aku sama Alvi, Alvi cerita ke aku, bahwa kalian dulu berteman baik, bahkan keluarga kamu sangat mengenal Alvi, dan saat kita makan berempat, itu aku juga sudah tau kamu keceplosan bilang ke Alvi kalo Alvi nggak suka makanan yang terlalu manis, aku sengaja ngebiarin itu semua Sayang,” ucap Naufal.


“Dari situ aku tau, kamu tidak lagi ada rasa sama Alvi,


tujuan kamu hanya ke aku, tanpa sepengetahuan kamu, aku mengintai kamu sendirian, Alvi juga baik, dia sangat sungkan jika berada di antara kita, dia terus saja menolak ajakan kita, sampai akhirnya aku minta sama Alvi, kalo memang kalian hanya berteman dan tidak ada yang lebih, dan ternyata benar, kamu mencintai aku, kamu snagat menjaga perasaan aku Gi,” sambung Naufal.


“Nggak ada yang lain Mas selain kamu, nggak akan ada yang


bisa gantiin kamu, aku udah nggak bisa jelasin perasaan aku ke kamu, semuanya nggak bisa di ungkapin, kamu sudah memberikan semua kebahagiaan buat aku,” ucapku.


“Kamu yakin??? Kamu sudah sangat bahagia sama aku?” tanya


Naufal.


“Sangat sangat bahagia, cuman kamu yang bisa buat aku jatuh cinta, cuman kamu yang bisa mematahkan bahwa tidak semua laki-laki itu jahat Mas,” kataku.


"Aku sengaja maksa-maksa kamu, aku cuman pengen tau, kamu udah lupain dia apa belum," kata Naufal.


Naufal langsung mengelus-elus kepalaku.


“Jangan bahas Alvi lagi ya Mas, sekarang dia teman kamu, aku


bukan Gia yang dulu Mas,” kataku.


“Dan jangan paksa aku buat berhubungan ataupun terlibat lagi


sama dia ya Mas, aku takut kamu cemburur atau sakit hati,” kataku.


“Yaa….meskipun Alvi itu baik, nggak kayak Kevin yang serba


ngotot buat bisa jadi sama kamu itu, Alvi suka sama kamu, tapi kan dia nggak maksa buat milikin kamu, apa alasan dia pindah agama itu kamu ya Sayang,” tebak  Naufal.


“Mas Naufal, ya enggak lah, dia mau pindah agama ya emang


karena hatinya mau, bukan karna aku, dia udah lama tau kalo aku udah nikah, kalo karena aku pasti jadi mualaf nya sebelum aku nikah Sayang, la ini sudahnya kita nikah,” ucap penjelasanku pada Naufal.


“Dia hebat loh Sayang, santun banget sama aku, ngehargain


banget kalo aku suami kamu, bahkan dia minta maaf berkali-kali sama aku,” kata Naufal.


“Aku juga udah tau, kalo dia bilang dia dulu cinta sama


kamu, jujur kan dia, tapi sekarang dia udah bisa lupain kamu,”  sambungnya.


Ku raih tangan Naufal, dan ku ciumi tangannya.


“Aku milikmu Mas,” ucapku sambil mengeluskan tangan nya di


pipiku.


Naufal tersenyum bahagia padaku.


“Maaf, selama ini aku belum,” Naufal langsung memotong


kata-kataku.


“Belum apa?? Belum bisa sedewasa yang aku minta, masih ke


kanak-kanakan,” kata Naufal.


“Hehehehem, maaf ya,” kataku sambil tersenyum kecit sambil


menaikkan kedua pundakku.


“Aku nggak butuh itu, kamu sudah sangat dewasa bahkan di


depan orang lain, bisa mengalah demi orang lain, kalo kamu mau manja ke aku, silahkan aja, malahan aku seneng Sayang, hehehem, gemes,” ucap Naufal.


Aku jadi tersenyum-senyum dibuatnya.


“Ketika orang lain melihatku terlalu kekanak-kanak an di


umurnya ini, tapi kamu selalu tau sisi kedewasaan aku Mas,” gumamku dalam hati.


Ku sandarkan kepalaku di pundak Naufal.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Abay memanggil-manggil aku.


“Mama….” Panggil Abay.


Langsung ku angkat kepalaku dari Naufal.


“KAlo mau romantic-romantisan, di atas aja udah Sayang,


jangan disini, di lihatin cctv loh,” ejek Naufal.


“Mas Naufal,” ucapku malu-malu.


“Mama di bawah Nak,” kataku.


Abay dan Guru lesnya menemui kami di depan.


“Sudah les nya??” tanyaku.


“Sudah Ma,” jawab Abay.


Guru Les Abay berpamitan pulang dengan kami.


Lalu kami pun masuk ke rumah.


“Pa, waktunya movie time,” ucap Abay.


“Movie time, mau nonton apa kamu??" tanya Naufal.


“Eemmm, kali ini Papa yang milih film nya,” jawab Abay.


“Oke, tapi sholat isya’ dulu ya,” kata Naufal.


“Oke pa,” jawab Abay.


Adzan isya’ berkumandang.


“Allahuakbar…..Allahuakbar…”


Kami sholat berjama’ah bertiga.


.


.


.


Setelah sholat, Abay dan Naufal sudah stand by di depan TV


lantai bawah.


Aku sibuk di Dapur menyiapkan mereka cemilan.


Ku bawakan pudding mereka yang sudah ku buat sore tadi.


***(Ruang Keluarga)


Abay duduk di tengah-tengah di antar kami.


“Nonton apa ini??” tanyaku.


“Nggak tau Ma, Papa yang milih film nya,” jawab Abay.


“Film kesukaan kamu Sayang, The Day After Tommoroww,” sahut Naufal.


“Tapi bohong, hehehe, ini loh, nonton film yang Dinosaurus


itu loh Sayang, moral nya kan bagus itu amanatnya,” kata Naufal.


Naufal mulai menyalakan film, aku menyuapi sendok demi


sendok pada Abay.


Abay dan Naufal fokus menonton TV.


Tangan Naufal disandarkan di atas sanggahan atas sofa san


merambat ke kepalaku, mengelus-elus kepalaku sambil dia tersenyum-senyum menonton film, padahal bukan film genre komedi.


“Mas, apa sih??” ucapku lirih.


“Huuustt,” Naufal malah menyuruhku membungkam mulutku.


Jari jemari Naufal terus saja memainkan pipiku, membelaikan


dari jauh, meskipun Abay di tengah-tengah kami, tapi itu bukan jadi penghalang buat Naufal.


Dan akhirnya, Naufal tertangkap basah senyum-senyum sendiri.


“Papa kenapa senyum-senyum??” tanya Naufal.


Dia langsung menarik tangannya dari pipiku.


“Oh eemm…..enngg….enggak, itunya tadi loh Nak lucu,” alasan


Naufal.


Abay bingung dengan sikap Papanya itu, dan dia kembali dokus


menonton TV tidak memikirkan Papanya yang lagi senyum-senyum sendiri.


Setelah ketahuan, kami pun saling tatap-tatapan di antara


Abay dan saling menimpal senyum satu sama lain.


Naufal tidak ada kapok-kapoknya, dia mengulangi nya kembali,


meskipun tadi sudah di ketahui oleh anaknya, namun perbuatannya yang kali ini tidak ketahuan oleh Abay, karena Abay sudah sangat fokus memakan pudding dan menonton Film nya.


.


.


.


.


.


.


.


1 jam setengah film berakhir.


“Yeeeee selessai,” ucap Abay.


“Movie time nya udah selesai, sekarang kamu langsung tidur


ya,” tutur Naufal.


“Iya Pa,” jawab Abay.


Abay langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Naufal langsung tertawa saat sudah aman dari Abay.


“Hahahaha, Sayang…….Sayang…” kata Naufal.


“Kamu sih Mas, ngaco, bisa aja cari kesempatan dalam


kesempitan,” ejekku.


Sepertinya dia tidak terima karena aku telah mengejeknya,


Naufal menggeser duduknya mepet denganku, dia menghadapkan wajahku ke wajahku


dan begitu dekat.


“Memangnya kenapa?? Kan udah sah, udah halal kan Sayang,”


kata Naufal tepat di depan wajahku dan bgitu dekat.


Ku jorok tubuh Naufal agar sedikit menjauh dariku.


“Mas Naufal……” kataku.


“Hehehem, takut kan,” ancam Naufal.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2