Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 137 (Buku Agenda)


__ADS_3

"Ooo kirain ada acara," kata Raka.


Saat kami sedang berbincang-bincang, Mama dan Johan tiba di rumahku.


"Assalamu'alaikum," ucap Mamaku dan Johan.


"Wa'alaikumsalam," jawabku langsung berlari memeluk Mama dan Johan.


"Ayo Ma duduk," ajakku.


Johan dan Mamaku duduk bersama Raka dan istrinya.


"Kenalin Ka, ini Adik ipar sama mertua aku," kata Naufal setelah bersalaman dengan Mamaku dan Johan.


"Ini teman kamu Nak?" tanya Mamaku pada Naufal.


"Iya Ma, ini teman Naufal waktu kuliah dulu," jawab Naufal.


"Abay dimana Kak?" tanya Johan.


"Di atas, mau Kakak antar ke atas, sekalian sama Mama," ajakku.


"Boleh," jawab Mamaku.


Aku mengantarkan Mama dan Adikku ke atas.


Kami berjalan menaiki anak tangga.


***(Di Kamar Abay)


Tok....tok....tok.


"Abay," panggilku.


Glekkkk.....


Abay membuka pintunya.


"Ada Eyang sama Om Johan," kataku.


"Beneran Ma?" tanyanya dengan girang.


"Baaaaaa," gertak Johan.


"Om Johan," teriak Abay langsung memeluk Johan.


"Saliman dulu sama Eyang sama Om Johan," tuturku.


Abay segera menyalami mereka.


"Ini Om bawain hadiah yang kamu mau," kata Johan sambil menyodorkan hadiah yang kemaren sempat Abay minta.


"Beneran Om??!!" tanyanya yang tidak menyangka Omnya benar-benar membelikan hadiah yang langka dan harganya lumayang berbunyi itu.


"Iya, coba buka," kata Johan.


Abay langsung membuka isi kantung yang berisi Ironman mark.


"Waaaah, bagus banget Om," ucap Abay yang sangat senang rupanya.


"Dan ini hadiah dari Eyang," ucap Mamaku sambil memberikan hadiah untuk Abay.


Abay langsung membuka isi hadiah Eyangnya. Yang ternyata isinya sebuah sajadah dan kopyah.


"Waaaaaaah, bagus banget Eyang," puji Abay.


"Biar kamu makin rajin sholatnya," kata Mamaku yang langsung menciumi Abay.


Bi Sarah memanggilku dari belakang.


Bi Sarah kaget melihat Mamaku dan Johan.


"Ibuk," panggil Bi Sarah.


Bi Sarah langsung berlari dan memeluk Mamaku.


"Gusti Allah, Bibi kangen banget sama Ibuk, Alhamdulillah, Johan juga udah besar Ya Allah," ucap Bi Sarah yang terharu bisa bertemu Mamaku dan Johan.


"Hehehem, sama Bi," kata Mamaku.


"Pak Rusdi dimana?" tanya Mamaku.


"Di belakang Buk, masih siapain arang," jawab Bi Sarah.


"Ooww, Bibi sehat kan sama Pak Rusdi?" tanya Mamaku lagi.


"Alhamdulillah Buk, Bibi sehat, Ya Allah, Bibi nggak nyangka Ibuk kesini, Bibi seneng banget Buk," kata Bi Sarah yang gugup karena menangis.


"Hehehem, udah Bi jangan nangis," tutur Mamaku.


"Ibuk sehat terus kan sama Bapak?" tanya Bi Sarah.


"Iya Bi, sehat semua yang di rumah," jawab Mamaku.


"Alhamdulillah Buk," kata Bi Sarah.


"Oh iya, Bibi tadi manggil Gia kenapa?" tanyaku.


"Oh iya Mbak Ya Allah sampai Bibi lupa saking senangnya ketemu Ibuk, tadi Mbak ada Mas Bastian sama Mbak Susi di bawah," jawab Bi Sarah.


"Oh Susi juga kesini?" sahut Mamaku.


"Iya Ma sama suaminya," jawabku.


"Gia mau turun, Mama mau turun?" tanyaku.


"Enggak Nak, Mama disini aja dulu, mau sama Abay," jawab Mamaku.


"Oh ya udah Gia ke bawah dulu ya Ma," kataku.


"Ibuk sama Mas Johan mau minum apa?" tanya Bi Sarah.


"Udah Bi nanti aja nggak papa," jawab Mamaku.


Aku turun bersama Bi Sarah ke bawah.


"Bi, nanti Gia minta tolong ya, bawain Coklat panas dua buat Mama sama Johan," ucapku.


"Iya Mbak, terus nanti minum untuk tamu di bawah apa Mbak?" tanya Bi Sarah.


"Yang seger aja Bi, lemon tea aja nggak papa," jawabku.


***(Di Ruang Tamu)


Susi sudah tersenyum-senyum melihatku, aku duduk di sampingnya.


"Anak kamu mana Si?" tanyaku.


"Masih di mobil Gi, belum mau keluar, ngambek dia," jawab Susi.


"Kok bisa ngambek?? Kamu apain tadi," tanyaku.


"Itu Papanya," jawab Susi.


"Wah Lo Bas, onar aja," sahut Naufal.


"Hahaha, iya Lo Bas, dari dulu gak berubah," kata Raka.


"Lo udah punya anak berapa Ka?" tanya Pak Bastian.


"Ada deh," jawab Raka.


"Gue nih mau dua," ucap Pak Bastian.


Semua tertawa terbahak-bahak mengingat masa kuliah mereka.


.


.


.


.


.


Adzan isya' berkumandang, kami sholat berjama'ah di Rumah.


Setelah sholat, kami berpindah ke halaman belakang yang sudah rapi sejak sore di persiapkan.


***(Di Halaman Belakang)

__ADS_1


"Wiiih enak nih," kata Pak Bastian.


Bi Sarah membawakan beef dan juga saos dan minyak wijennya.


Mamaku sedang asyik berbincang-bincang dengan Susi, sedangkan Johan bermain dengan Abay dan anak Susi.


Naufal terus menemaniku.


"Sayang, enak ya rumahnya rame," bisik Naufal di belakangku.


"Mas jangan deket banget gini, nanti di lihatin," kataku sambil memanggang beef.


"Apa sih Sayang?? Mereka juga pernah kali," kata Naufal.


"Ada Mama Mas," kataku.


Naufal langsung agak menjauh dariku.


"Lupa Sayang, maaflah," ucap Naufal.


Naufal berjalan meninggalkanku untuk menghampiri temannya.


Sedangkan aku dan Susi serta suami Raka memanggang beef dan juga sosis.


Mamaku ngobrol asik di pojok kolam bersama Bi Sarah.


.


.


.


.


.


Setelah semua matang, dan sudah tertata rapi di meja.


Kami berkumpul dan duduk di kursi yang sudah kami siapkan.


Dari Spaghetti, beef, ramen, sosis, omelette, dan tak lupa ada ayam kecap disana, dengan minum fresh lemon yang hadir melengkapi makanan kami.


"Mari makan semua," kata Naufal.


Tak lupa kami juga mengajak para pekerja kami di rumah.


"Huumm, enak Nak enak," puji Mamaku.


"Hehemm, beneran Ma?" jawabku.


"Iya beneran loh, ya kan Bi?" kata Mamaku pada Bi Sarah.


"Iya Buk, sekarang Mbak Gia pandai memasak, Bibi saja kalah," kata Bi Sarah.


Semua memuji masakan lezatku.


"Makin cinta aja sama kamu," bisik Naufal di telingaku.


"Mass," desisku dengan lirih karena takut ketahuan yang lain.


Untung saja Abay duduk di pangkuan Johan.


Setelah kami makan-makan, Raka dan istrinya berpamitan pulang pada kami.


"Fal, Gue pulang ya," pamitnya.


"Makasih jamuannya," ucapnya lagi.


"Aduh Lo buru-buru banget Ka, ngapain??" tanya Naufal.


"Udah malem gini, ada adik Gue di rumah sendiri," jawab Raka.


"Lo punya Adik?" tanya Naufal pada Raka yang sangat tertutup tentang keluarganya.


"Iya satu," jawabnya singkat.


"Oh ya udah, kasihan nanti," kata Naufal.


"Pamita ya Tante, Bas, semuanya," kata Raka menyalami kami satu per satu.


"Assalamu'alaikum," pamit Raka dan istrinya.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami.


Susi memberikan hadiah besar pada Abay.


"Abay, ini ya dari Tante sama Om," kata Susi.


"Makasih Tante," jawab Abay.


Tak lama kemudian, Naufal kembali berkumpul bersama kami. Naufal duduk di samping Pak Bastian.


"Diem kan Lo di depan Mama Gue," bisik Naufal di telingan Pak Bastian.


"Jaga image lah Gue," kata Pak Bastian lirih.


Aku melihat mereka yang sedang berbisik-bisik.


"Kata Gia kamus sudah hamil lagi Si?" tanya Mamaku.


"Iya Tante, Alhamdulillah," jawab Susi.


"Wah, Alhamdulillah," sahut Mamaku.


"Johan sekarang berarti sekarang udah kerja ya Tante," tebak Susi.


"Iya, Mama khawatir mau biarin dia kerja di luar kota, nggak boleh sama Papanya," kata Mamaku.


.


.


.


.


.


.


Sangat lama kami berbincang-bincang hingga malam.


Beberapa jam kemudian, Mamaku dan Johan pamit untuk pulang.


"Mama nggak nginep aja disini," kata Naufal.


"Iya Eyang," sahut Abay.


"Hehehm, nggak bisa Nak, besok Johan kerja," jawab Mamaku.


"Iya loh Ma, sehari aja," rayuku.


"Lain kali Nak, kasihan nanti Johan nggak istirahat," kata Mamaku.


"Huuummm ya udah deh Ma," kataku menyerah.


"Aku juga mau pamit pulang Gi sekalian, udah malem," kata Susi.


"Susi, kamu masih nanti aja," kataku.


"Hehehem, lain kali Gi," jawabnya.


"Yaah, sama aja kayak Mama," ucapku.


Akhirnya mereka berpamitan untuk pulang, kami mengantarkan ke depan halaman Rumah, mobil Susi melaju terlebih dahulu di banding mobil Mamaku.


"Mama pulang ya Fal, Gi," kata Mamaku.


"Iya Ma," jawabku.


"Eyang pulang ya Abay," pamit Mamaku pada Abay.


"Hati-hati ya Eyang," ucap Abay.


"Om Johan jangan kencang-kencang nyetirnya ya," kata Abay.


"Iya Abay, hehehe," sahut Johan.


"Assalamu'alaikum," salam mereka.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami.

__ADS_1


Mamaku dan Johan berjalan masuk ke dalam mobil, dan mobil pun melaju semakin menjauh dariku.


"Yah sepi lagi Mas," gerutuku.


"Mama jadi tidur sama Abay?" tanya Abay.


"Oh ya jadi dong Nak," jawabku.


"Sama Papa juga," sahut Naufal.


"Ya udah sekarang kita masuk, udah malem juga, udah jam 10," ucap Naufal sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


Kami berjalan menapaki anak tangga, Naufal mengunci pintu rumah.


Di depan kamar, Abay menarik tanganku agar ke kamarnya.


"Abay masuk dulu ke kamar, Mama sama Papa nanti menyusul, soalnya Mama mau nemenin Papa selesain tugasnya bentar," kataku.


"Iya Ma," jawab Abay lalu berjalan meninggalkanku.


***(Di Kamar)


Setalah aku mengganti baju tidur, ku lihat Naufal yang duduk di sofa sambil memangku laptopnya.


"Sayang, aku minta tolong ambilkan buku di laci ruang kerjaku, soalnya aku pernah catat data data disana waktu meeting," kata Naufal.


"Bukunya nanti ada tulisannya buku agenda, sampulnya hitam nggak terlalu tebal," ucap Naufal.


"Di bawah?" tanyaku.


"Iya Sayang," jawabnya.


"Iya bentar aku ambilin," jawabku.


Aku langsung bergegas keluar dari kamar dan turun ke bawah.


Sebenarnya aku takut untuk turun ke bawah, karena sepi dan mungkin Bi Sarah sudah tidur.


Di atas anak tangga, langkahku terhenti seketika.


"Ambil nggak ya," tanyaku dalam hati.


"Aaarrghh, tapi ini yang minta Mas Naufal, aku harus ngambilin," kataku.


"Tapi sepi banget," gerutuku dalam hati.


"Uhuk...uhuk," aku mendengars suara batuk dari arah halaman rumahku.


Dan ternyata, Pak Rusdi dan Pak Joko bermain catur disana.


"Huuufttt, syukurlah masih ada yang belum tidur," kataku dalam hati.


Ku lanjutkan langkah kaki ku menuju ruang kerja Naufal yang sangat jarang di jamah olehnya.


***(Di Ruang Kerja Naufal)


Glllekkkk.....ku buka pintu yang lumayan tinggi itu.


"Buku di laci, tulisan agenda, warna hitam," kataku sendiri sambil membuka laci meja kerja Naufal.


Aku langsung menemukan buku yang di maksud oleh Naufal, karena memang hanya itu isinya di dalam laci.


"Ha???! Isinya cuman ini doang?" tanyaku dalam hati.


Meskipun di sekelilingku banyak buku yang tertara rapi dan bersih dan menjulang tinggi ke atas.


Tapi aku heran karena hanya satu buah buku saja yang ada di dalam laci mejanya.


"Garing banget Naufal," ejekku dalam hati.


"Emang isinya data apa sih kok di taruh sini, biasanya di kamar," kataku.


Ku buka buku agenda milik Naufal itu.


Aku duduk di kursi putar miliknya.


Aku mendapatkan sesuatu yang menjanggal menurutku.


Ada sebuah tulisan yang tidak begitu apik, ya maklum lah dia terbiasa menuliskan resep untuk para pasiennya.


Isi tulisan dalam agenda Naufal.


[###################]


Untuk pertama kalinya aku melihat dia, aku sama sekali tidak bisa jatuh cinta padanya.


Yah dengan dia yang jauh dari tipe wanita yang aku inginkan.


Aku tidak pernah menyangka aku hidup berdampingan dengan sosok wanita yang punya berjuta-juta rahasia ini. Menyimpan banyak misi rahasia dalam hidupnya.


Dia misterius dan sangat tertutup, sangat sulit untuk masuk ke dalam dunia yang menurutku berbeda dengan gadis seusianya.


Dia punya dunia sendiri, bahkan dengan dunia yang dimilikinya, dia pemilih untuk memasukkan seseorang yang berhak masuk ke dalamnya, termasuk aku, aku yang memaksa masuk.


Sampai saat ini pun aku tidak tau, aku sudah diizinkan atau belum memasuki koridor dunianya.


Akan banyak hal yang tidak terduga di balik sikap pendiam dan dunianya.


Dia lucu, aku gak nyangka bisa suka dan cinta dengan gadis manja ini, semakin hari semakin aku mencintainya, semakin dia manja, semakin aku jatuh hati pada dia.


Gia namanya, sejak berminggu-minggu pernikahan yang aku lewati bersamanya, untuk kedua kalinya hatiku berdebar melihat seorang wanita.


Hehehem, aku harap kamu baca ini, tapi nggak mungkin, karena kamu bukan tipe orang yang pengen tau, hahahha.


Kamu cuek, dan bersikap bodoh amat dengan hal receh seperti ini


Aku harap, kamu juga mencintaiku saat ini.


Si Gadis Manja.


[Ada gambar seorang anak gadis manja dengan ayahnya]


[##############################]


Dari awal hingga akhir, aku berhasil membaca curahan hati Naufal yang di torehkan pada buku agendanya.


Aku tersenyum-senyum sendiri seperti ABG yang lagi kasmaran.


"Hehehehem, ternyata di balik sok coolnya dia juga bisa menye-menye gini," kataku dalam hati menertawakannya.


"Fal Fal ternyata kamu gini sebenarnya, baru tau aku, padahal aku udah nikah 10 tahun lebih sama kamu, tapi aku baru tau ini tadi, hehehehm, awas aja nanti kamu Mas, sekarang ketauan kan kamu," ancamku dalam hati yang terus-menerus menertawakannya.


Ku peluk buku itu erat-erat.


"Hummmm, kapan ya Naufal nulis ini??" kataku yang menyenderkan kepalaku di kursi putar milik Naufal yang sangat nyaman.


"Fal Fal, kamu gini banget, segitunya kamu mendeskripsikan istrimu ini," kataku dalam hati.


Aku sudah terlanjur nyaman membaca buku agenda itu, sampai-sampai aku lupa jika Naufal menunggu buku ini.


Sedangkan Naufal yang ada di kamar, menungguku lama.


"Gia lama banget cuman ambil buku," gumamnya.


Naufal melanjutkan kembali memainkan jari jemarinya di atas papan keyboard.


Tiba-tiba, Naufal teringat bahwa di dalam buku agenda miliknya, ada satu halaman yang menceritakan isi hatinya tentangku.


"Ya Allah, buku agenda??!!!" ucap Naufal sambil menepuk keningnya dan melotot memandang layar monitor.


Pikirannya sudah kacau, tak karuan, sampai-sampai sudah tidak fokus lagi memandang layar monitor komputer.


"Gia baca gak ya???" tebak Naufal dalam hati.


"Aduuuuhhhhh........mati aku kalo ketahuan, sumpah !!!!! Tengsin banget," kata Naufal dalam hatinya yang duduk terpaku.


"Aku samperin dia apa gimana ya ini?" tanya Naufal dalam hatinya.


"Kalo aku samperin, aduuuuhhhh malu lah kalo dia udah baca tulisanku yang receh dan gak guna itu," ucap Naufal sendiri.


Naufal meletakkan laptopnya. Mondar mandir di samping ranjang karena memikirkan buku agenda yang sedang dalam pelukanku sekarang.


"Aaassshhh, gimana nih," desis Naufal.


Bersambung..........


Terima kasih Kakak semua, jangan lupa like, komen, dan vote nya.....😁🙏🖤


Terus dukung Author yaaaa....


See youu

__ADS_1


jangan lupa kasih komen buat Gia dan Naufal hehhe


__ADS_2