
Tiba dimana hari ini kita sangat pagi-pagi sekali, berangkat berlibur ke kampung halaman Bi Sarah.
"Sayang, Mama udah kamu WA?" tanya Naufal.
"Udah kok Mas, katanya Mama 5 menit lagi nyampe kesini," jawabku.
"Mama sama Papa pake sopir kesini?" tanya Naufal lagi.
"Iya lah Mas, kan jauh," jawabku.
"Ya udah takut Papa nanti kasihan kecapek an," ujar Naufal.
Abay sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil, sampai-sampai dia tidak ingin sarapan.
"Abay, sarapan dulu Nak," ucap Naufal.
"Nggak mau Pa, Abay nanti sarapan di mobil aja," ucapnya.
"Ya udah," jawabku.
Pak Rusdi sibuk memasukkan koper dan bawaan kami yang sangat banyak ke dalam bagasi.
Akhirnya, tafsiran Mamaku benar, 5 menit lagi mobil Mama melaju masuk ke dalam Rumah kami.
"Itu Mas Mama," ucapku.
"Bisa pas loh Sayang, 5 menit nyampe sini," ucap Naufal.
"Iya lah, sopir Mama aku gitu," kataku.
Aku menunggu mereka di depan halaman Rumah.
Mobil Mama berhenti, Mama ku dan Papa ku keluar dari mobil.
Sopir Mama ku menurunkan koper dari dalam mobil.
Dengan sigap aku langsung menyambut Mama dan Papa ku yang sudah lama kami tidak bertemu.
"Uuuhmmm Mama," ucapku.
"Papa," panggilku sambil memeluk Papaku.
"Ma, Pa," sapa Naufal sambil menyalami Mama dan Papaku.
Bi Sarah masih sibuk di Dapur, kalo Bi Sarah tau Mama sudah tiba disini, pasti Bi Sarah juga akan senang.
"Masuk Pa, Ma," ucap Naufal.
Kami membawa Mama dan Papaku ke ruang tamu.
***(Di Ruang Tamu)
"Abay kemana Gi??" tanya Mamaku.
"Itu Ma di dalam mobil, nggak mau keluar, nggak mau sarapan juga saking girangnya ke rumah Bibi," jawabku.
"Oh iya Gia lupa, bentar ya Ma, Gia panggilin Bibi," ucapku.
Aku berjalan ke Dapur untuk memanggil Bi Sarah.
"Bi.....Bibi," panggilku.
"Nggeh Mbak (Ya Mbak)" jawab Bi Sarah.
"Bi, Mama sama Papa udah dateng," jawabku.
"Alhamdulillah Mbak, ya sudah Bibi kesana dulu ya Mbak," ucap Bi Sarah yang sangat senang.
"Iya Bi, di tungguin loh sama Mama," ucapku.
Dengan senang hati, Bi Sarah menemui Papa dan Mama.
"Ibukkkkk....Masya'Allah, sugeng enjing Buk (Selamat pagi Buk)" ucap Bi Sarah yang langsung memeluk Mamaku.
"Sugeng enjing Pak (Selamat Pagi Pak)" sapa Bi Sarah pada Papaku.
"Bibi malah gemuk loh ini," ucap Mamaku.
"Beneran Buk?? Pantesan badan Bibi kayak berat banget, baju juga agak sesak Bu, hehehem," ucap Bi Sarah.
"Ayem Buk ten mriki (Damai Buk disini)" ucap Bi Sarah.
"Alhamdulillah Bi," jawab Mamaku.
"Bapak gimana?? Sehat Pak??" tanya Bi Sarah pada Papaku.
"Alhamdulillah sehat sehat Bi," jawab Papaku.
"Alhamdulillah sehat sedoyo (sehat semua)" ucap Bi Sarah.
Bi Sarah kembali ke Dapur untuk mmebuatkan minuman hangat buat Papa dan Mamaku.
Kami berbincang-bincang tidak lama, karena kami harus segera berangkat untuk menghindari macet, apalagi rumah Bi Sarah sangat jauh dari kota ini.
Kami semua sudah memenuhi mobil.
Namun Mama dan Papa tidak bisa satu mobil dengan kami, Bi Sarah dan Pak Rusdi naik mobil Naufal, sedangkan Mama dan Papaku naik mobilku dan di sopir i oleh Pak Joko.
Mobil memulai petualangan ke desa.
Mobil Naufal melaju sangat kencang, karena kebetulan jalanan masih sepi.
Abay duduk di belakang bersama Bi Sarah dan Pak Rusdi.
"Abay, jangan lupa makan loh Nak," ucap Naufal.
"Iya Pa," jawab Abay sambil membuka kotak makan dan memakannya.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu Sayang?" tanya Naufal.
"Nggak papa," jawabku sambil tersenyum padanya dan kembali melihat ke arah luar jendela.
"Kenapa sih?? Kalo bahagia bagi-bagi dong," ucap Naufal.
__ADS_1
"Seneng aja bisa liburan bareng-bareng gini, kapan lagi kan.....ini pertama kali nya, rasanya bahagia nya nggak bisa di ungkapin Mas, makasih yaaaa," ucapku.
Naufal tersenyum padaku.
"Gia bahagia banget, kayak burung yang lagi keluar dari sangkarnya, hehheehm, bahagia ya Sayang," gumam dalam hati Naufal.
Beberapa jam kemudian.
Kami sudah melalui jalan naik turun layaknya jalanan menuju puncak.
"Jauh ya Sayang ternyata," ucap Naufal.
"Iya lah Mas, orang kampungnya Bibi dalem banget, desaaaa banget," ucapku.
Naufal mengajak kami semua untuk berhenti di sebuah Rumah Makan di dekat sana.
"Makan dulu ya," ucap Naufal.
Mobil berhenti di depan Rumah Makan.
Kami keluar dari mobil, suhu dingin langsung menusuk-nusuk pori-pori kulit kita.
"Enak loh disini, dingin banget udaranya," ucapnya.
"Iya lah 16 derajat ini Mas," sanggahku.
Mama dan Papaku menghampiri kami.
Kami semua masuk ke dalam rumah makan.
Aku duduk di samping Naufal dan di depan Papaku.
"Dingin ya Fal disini," ucap Papaku.
"Heheheh, iya Pa, enak disini, nggak perlu ac," ucap Naufal
"Hahahaha, daerah sini emang dingin, kan lereng gunung, ya gitu Fal, jam 11 an aja udah hujan kadang," kata Papaku.
"Loh iya Pa??" tanya Naufal.
"Iya, tanya Bibi kalo nggak salah, ini kurang dikit ini kalo ke kampung Bibi," jawab Papaku.
"Jauh juga ya Pa, Naufal kira nggak jauh banget," ucap Naufal.
"Jauh, dulu kita kesini masih ini Fal, masih banyak hutannnnnnn ini sampe atas, tapi sekarang udah ada resta area nya jadi enak," ucap Papaku.
"Memangnya Papa pernah dulu ke rumah Bibi??" tanyaku.
"Pernah Nak waktu kamu masih kecil banget," sahut Mamaku.
Sambil makan siang kamu sambil bercerita-cerita.
Setelah selesai mengisi kenyang perut kami masing-masing, kami kembali melanjutkan perjalanan ke kampung halaman Bi Sarah.
"Ma, disini enak banget ya Ma, hutan semua ini Ma," ucap Abay.
"Iya Nak, sampe atas kita ketemu gini an, tapi nanti dia atas ada sawah-sawah nya," ucapku.
"Kita nggak pernah lihat beginian loh Ma," ucap Abay yang sangat heran untuk pertama kalinya berlibur ke desa.
Memang disini kita melihat pemandangan yang elok dan sangat hijau.
Mobil Naufal semakin melaju ke atas, banyak sawah dan terasering yang terbentang sangat sangat luas, airnya mengucur dari sumber mana saja.
"Tuh Dek Abay buka jendela nya," ucap Bi Sarah.
Mobil kami sudah melaju memasuki sebuah desa.
Kita melewati sungai yang sangat besar namun tidak ada pagar pelindung di kanan dan kirinya.
"Itu orang bajak sawah yang pake kerbau ya Bi?" tanya Abay pada Bi Sarah.
"Iya Dek Abay, disini masih pake begituan," jawab Bi Sarah.
"Itu Dek, di bawah ada orang nyuci tuh di sungai," sahut Pak Rusdi.
Naufal juga sangat senang dan terheran-heran berada disana, AC dalam mobil kami matikan, dan jendela mobil kami buka semua, Naufal menoleh ke kanan ke kiri melihat pemandangan hijau nan asri di desa Bi Sarah.
"Dek Abay mau bermain disitu??" tanya Pak Rusdi.
"Mau Pak, Abay mau banget, Abay mana pernah main-main yang disitu," ucap Abay.
"Ya nanti Bapak ajak kesana, sama lihat orang bajak sawah pake kerbau, kan Dek Abay lihatnya cuman di buku sekolah kan hehehe," kata Pak Rusdi.
"Kan Mas, sesuai kan sama yang aku bilang ke kamu, enak kan disini," ucapku.
"Pa bangun rumah disini aja Pa enak," kata Abay.
"Hehehem, iya nanti," jawab Naufal.
"Masih alami banget ya disini, masih pake alat-alat jaman dulu loh ini," kata Naufal yang kagum dengan kampung halaman Bi Sarah.
"Kalo gini jadi nya nggak perlu keluar negeri Sayang, ke kampung halaman Bibia aja udah enaknya kayak gini," sambung Naufal.
"Hehehem, sangat boleh sekali Mas," jawab Bi Sarah.
Abays senang melihat kerbau yang sedang di giring oleh pemiliknya, sampai-sampai dia mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil.
Beberapa orang disana melihat ke arah Abay, karena tingkah Abay yang tidak pernah berlibur ke desa.
Ada satu wanita paruh baya memanggil Bi Sarah di dalam mobil.
"Bek Sar (Bik Sar)" panggil wanita paruh baya itu.
"He Menik, aku muleh Nik (Aku pulang Nik)" ucap Bi Sarah dari dalam mobil.
"Temen Bibi ya??'" tanya Naufal.
"Hehem, enggeh Mas (Iya Mas)" jawab Bi Sarah.
"Maklum Mas, disini kalo orang bawa mobil, pasti banyak yang melihat, dulu Bibi waktu di antar travel juga gitu Mas, di kirain mobilnya Bibi, padahal bukan hehehehem, soalnya disini sangat jarang orang bawa mobil Mas," sambung Bi Sarah.
Kami benar-benar di suguhi pemandangan yang sangat memanjakan kedua mata kami, dari gaduh suasana kota, panas nya udara dari pabrik, hiruk pikuk kondisi di kota, di kampung halaman Bi Sarah ini, semua nya damai, air sungai pun masih sangat jernih, orangnya ramah-tamah.
__ADS_1
Udara nya begitu segar dan bersih.
"Pa, berhenti bentar Pa disini," ucap Abay.
"Ini jalan nya kecil Abay, nggak bisa nanti buat jalan orang-orang," ucap Abay.
"Nanti Pak Rusdi ajak kesini Dek Abay tenang saja, nanti Bapak bonceng pakai sepeda onta," ucap Pak Rusdi.
"Ha sepeda onta Pak??? Sepeda yang gimana itu Pak?" tanya Abay.
"Sepeda pancal nya orang jaman dulu Dek Abay, nanti kita main-main kesini," ucap Pak Rusdi.
"Padahal ini siang loh ya Pak, tapi udaranya nggak panas, tetep dingin enak," kataku.
"Hehheem, iya Mbak, disini memang begini Mbak udara nya, jarang sekali orang kota kesini Mbak, di kampung saya berbeda Mbak, kalo di pedesaan lain pasti mengadu nasib ke kota, kalo disini enggak Mbak, disini pasti mengolah sawah sendiri, ya meskipun hasilnya nggak seberapa," ucap Pak Rusdi.
"Eeemmm gitu Pak," kataku.
"Sebenarnya banyak yang mengincar lokasi ini Mbak, tapi orang sini susah, pasti nggak di kasih, disini nggak ada Supermarket besar, Mall-mall seperti di kota, nggak ada disini Mbak, ya seadanya saja, " jelas Pak Rusdi.
"Tuh, bisa kamu disini Sayang??" tanya Naufal yang seakan-akan menantangku.
"Bisa lah Mas," jawabku.
"Kalo mau makan, disini memetik dari kebun sendiri Mas, ya nanti Mas Naufal jangan kaget kalo malam hanya suara jangkrik saja yang terdengar, dan sangat gelap disini Mas, setelah adzan magrib, pasti sudah pada menutupr rumahnya masing-masing, kalo anak kota kesini, pasti nggak betah Mas," kata Pak Rusdi.
"Kalo saya pasti betah ini Pak, hehehehm," sahut Naufal.
"Masak??" tanyaku ganti sedikit menantang.
"Iya lah Sayang, aku dimana aja bisa, tapi kan pekerjaan ku disana, jadi nggak bisa ditinggalin," jawab Naufal.
"Papa kamu Bay, hehehem kayak bisaa aja," ejekku.
Abay ikut menertawakan Papanya.
Akhirnya kami tiba di Rumah Bi Sarah.
Rumahnya tetap sama, bangunan Rumah lawas yang sangat menjulang tinggi, kanan kiri pekarangan yang sangat luas, rindang dan banyak hijau an, depan Rumah mengalir air gemercik di sungai.
Disana keluarga Bi Sarah sudah menunggu kami di depan halaman Rumah Bi Sarh yang sangat luas.
"Loh Sayang, di rumah Bibi ada apa?? Kok banyak orang??" tanya Naufal yang baru pertama kali kesini.
"Nggak ada apa-apa Mas, memang keluarga nya Bibi gitu kalo ada tamu, bener-bener disambut," kataku.
"Banya ya keluarga nya Bibi," ucap Naufal sambil melepas seatbelt nya.
"Iya Mas, hehehe, ya begini rumah nya Bibi," ucap Bi Sarah.
Kami semua turun dari mobil.
Mama dan Papaku menghampiri kami.
Bi Sarah langsung membawa kami masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamu'alaikum," ucap salam kami.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serentak.
Mereka menyambut hangat kami semua, keluarga Bi Sarah sangat sangat ramah.
Kami duduk lesehan di ruang tamu Bi Sarah.
Di sana sudah banyak makanan tradisional yang jarang sekali bahkan sulit ku temukan jika berada di kota.
"Monggo monggo, dhahar riyen (Silahkan Silahkan, makan dulu)" kata Mbak Sari (Adik dari Bi Sarah).
"Iya Mbak," jawabku.
"Loh ini yang siapa Mbak Sar??" tanya Mbak Sari pada Bi Sarah.
"Ini Mbak Gia anak majikan Bibi dulu," jawab Bi Sarah.
"Masya'Allah, yang jadi Dokter itu ya," ucap Mbak Sari.
"Iya, dan sebelahnya itu suaminya, namanya Mas Naufal," ujar Bi Sarah.
Aku dan Naufal tersenyum pada Mbak Sari.
"Subhanallah, sudah sebesar ini loh, Mbak Sari terakhir ketemu kan waktu kamu masih SMA apa kuliah itu ya," kata Mbak Sari.
"Hehehe iya Mbak," jawabku.
"Dulu ketemu nya kans sebelum menikah Mbak Sari, sekarang kan udah, dan udah punya anak satu, hehem," sahut Mamaku.
"Loh anaknya kemana ini Mbak Gia??" tanya Mbak Sari.
"Nggak mau masuk Mbak, itu di luar sama Pak Rusdi," jawabku.
"Woooo iya Mbak, biar betah disini," ucap Mbak Sari.
"Monggo nggeh (Silahkan ya), seadanya makanan desa ya seperti ini, hihihi," ucap Mbak Sari mempersilahkan kami makan.
"Hehehem, sama saja Mbak," jawab Naufal.
Kami pun menikmati jamuan terenak dan langka disini.
Apalagi Naufal, yang sangat lahap karena sangat jarang dia memakan makanan seperti ini.
"Suka Fal??" tanya Papaku.
"Hehhem, suka Pa, makanan jaman dulue enak-enak ya Pa, kalo jaman sekarang, mau cari yang begini susah, pasti udah di mix sama yang lain," jawab Naufal.
"Iya Fal, orang sekarang memang gitu," ujar Papaku.
Aku menghampiri Abay yang sedang sibuk bermain di depan sungai dengan Pak Rusdi.
"Abay, sini Nak, makan dulu," kataku.
"Ma, nanti aja ya," jawab Abay.
Bersambung.......
__ADS_1