Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 195 (Kembali Ke Kota)


__ADS_3

Setelah selesai makan, Bi Sarah dan Pak Rusdi di bantu oleh Mbak Sari menyelesaikan tanam-menanamnya.


Aku duduk berdua dengan Naufal dan Abay asik bermain-main disana.


"Coba sana Mas nyebur," kataku.


"Kan aku nggak pake celana panjang Gi," jawab Naufal.


"Kan nggak harus pake celana pendek Mas Naufal," paksa ku lagi.


"Itu kebanyakan mereka pake celana pendek," alasan Naufal.


"Hahaha, pasti kamu nggak mau yaaaa," godaku.


"Mau lah, cuman ginian doang, lihat aku besok ya, hmmm kamu tadi ninggalin aku, mana bisa aku ikut nyebur ke sawah," ujar Naufal.


"Nggak jadi ke luar negeri ya, kalo butuh liburan, refreshing, nenangin pikiran, di sini aja," ucap Naufal.


"Eeemmm iya nggak papa kok," kataku.


"Hehehem, kamu iiih Sayang, iya iya aja, enggak-enggak, kalo ke Swiss wajib dong, kan kamu pengen banget kesana," ujar Naufal.


Aku menoleh dan tersenyum padanya.


"Bisa-bisa nya kamu Mas," kataku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku, Naufal dan Abay memutuskan untuk pulang ke rumah Bi Sarah terlebih dahulu, mereka masih sibuk merawats sawahnya.


"Bi, Gia balik dulu ya," ucapku.


"Enggah (Iya) Mbak," jawab Bi Sarah.


Kami pun berjalan menyusuri jalan kecil di Sawah, dan pastinya kite bertemu dengan Mbak Menik.


"Pagi, Mbak siapa ini namanya?" tanya Mbak Menik yang lupa.


"Gia Mbak," jawabku.


"Hehehem, lupa an Mbak saya ini," ucap Mbak Menik.


"Kok basah??? Habis ikut Bibi nyemplung ke sawah sampean (kamu)" ujar Mbak Menik.


"Hehehe, iya Mbak," jawabku.


"Jarang loh, orang kota mau nyemplung kotor-kotoran di sawah Mbak," kata Mbak Menik.


"Nggak papa Mbak Menik, bisa buat pengalaman," kataku.


"Benerrr banget Mbak, la ini....Mas nya nggak ikut nyemplung sekalian," ceplos Bi Sarah.


"Eemmm pasti nggak mau ya," sambung Mbak Menik.


"Eemmm oooo ini tadi saya di tinggal Gia Mbak, jadi saya nggak bisa ikutan nyemplung ke sawah," jawab Naufal yang mengikuti kata nyemplung yang terucap dari mulut Mbak Menik.


"Wooooo hahahaha gitu Mas," ucap Mbak Menik.


"Ya sudah, ini mau kemana lagi toh???" tanya Mbak Menik.


"Mau ke rumah Bibi Mbak," jawabku.


"Sampun monggo-mongg (udah silahkan-silahkan) saya ada job Mbak, hihihihi," kata Mbak Menik yang sangat jenaka.


"Hehehehe, iya Mbak," jawabku dengan ramah.


Aku melanjutkan keluar dari area sawah untuk menuju jalan aspal yang agak besar.


"Mbak Menik lucu ya Sayang, baru kenal udah ramah banget," puji Naufal pada Mbak Menik.


"Iya Mas, bener kata Bibi, Mbak Menik kayak orang yang nggak pernah sedih," ucapku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah Bi Sarah)


"Assalamu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mama dan Papaku yang sedang duduk di Ruang Tamu.


"Kamu habis ngapain Nak basah semua??" tanya Mamaku.


"Ikut nyebur ke sawah sama Bibi Ma," jawabnya.


"Memangnya kamu bisa??" tanya Mamaku.


"Ya gitu deh Ma, tadi di ajari sama Bi Sarah," jawabku.


"Loh, Abay nggak ikut nyebur sama Mama kamu sekalian tadi Bay," sahut Papaku yang selalu mencari kesempatan dan merayu Abay agar lebih dekat dengannya.


Abay hanya menggelengkan kepalanya saja pada Papaku.


"Papa sama Mama tadi habis dari mana??" tanyaku ganti.


"Jalan-jalan, refreshing, cari udah segar, biasa kalo Mama disini kan nggak tahan diem di rumah Bibi, hehehem," jawab Mamaku.


"Awas loh, Papa jangan capek-capek, nanti kecapek an lagi," ucapku.


"Papa sehat Nak, jadi ya kemana pun Mama kamu ajak Papa jalan-jalan, langsung aja," kata Papaku.


"Ya udah Gia mandi dulu," ucapku.


Aku pun bergegas mandi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Sudah beberapa hari kami di Rumah Bi Sarah.


Dan sore ini, tiba waktu nya untuk kami kembali pulang ke kota.


Abay menangis karena sebenarnya dia tidak ingin pulang dan masih sangat ingin tetap menetap di Rumah Bi Sarah.


Mbak Menik selalu hadir disana dan menepati janji nya untuk membawakan kami oleh-oleh khas buatannya.


“Mbak, kapan-kapan sering-sering kesini yaaa,” kata Mbak Menik padaku.


“Iya Mbak, Insya’Allah,” jawabku.


Mbak Sari sangat sedih melihat keluargaku pulang.


“Pasti rumahnya akan sepi lagi Mbak,” sahut Mbak Sari.


“Mas Sari yang ikut ke kota dong,” sahut Mamaku.


“Hehehem, ndak bisa Buk, nanti siapa yang menggarap sawahnya,” kata Mbak Sari.


“Kapan-kapan liburan ke kota ganti Mbak Sar,” sahut Papaku.


“Hehehehe, enggeh (Iya) Pak, sebenarnya saya juga sangat pengen kesana, tapi kan nanti Si Embok bagaimana?? Siapa yang merawat,” ucap Mbak Sari.


Bawaan dan oleh-oleh sangat banyak kami bawah dari kampung.


“Abay, sudah Nak jangan nangis, nanti bakalan liburan kesini lagi kok,” bujukku.


“Papa sama Mama kan harus kerja,” sambungku lagi.


Abay terus saja menangis, tak rela jika harus kembali ke kota.


“Mbak, saya kasihan loh sama Anak nya, nangis dari tadi,” kata Mbak Menik.


“Hehehem, ya begini Mbak, nggak mau pulang,” kataku lirih.


“Nambah satu hari loh disini,” kata Mbak Menik.


“Gak iso Nik, Mbak Gia karo Mas Naufal iki kerjo, ngko di enteni pasien e (Gak bisa Nik, Mbak Gia sama Mas Naufal ini bekerja, nanti di tunggu pasiennya)” sahut Bi Sarah.


“Woooo…..Dokter toh ini Sar??” tanya Mbak Menik yang baru tau identitas kami berdua.


“Iyo Nik (Iya Nik)” jawab Bi Sarah.


“Lagek ero Sar (Baru tau Sar)” ujar Mbak Menik.


Kami menyalami mereka satu per satu.


“Mbak, Gia pulang ya, makasih buat oleh-olehnya, jamuan nya,” kataku pada Mbak Sari.


“Enggeh Mbak, sami-sami (Iya Mbak, sama-sama)” jawabnya.


“Mbak Menik, saya juga makasih banyak sudah di kasih oleh0olehnya,” ucapku.


“Mboten nopo-nopo Mbak (Nggak papa Mbak)” jawab Mbak Menik.


Semua barang-barang sudah rapid an aman masuk ke bagasi, kita pun juga masuk ke dalam mobil.


“Balik yo (Balik ya)” ucap Bi Sarah dari jendela mobil.


“Iyo Sar, atos-atos (Iya Sar, ati-ati)” jawab Mbak Sari.


“Sampun sedoyo (sudah semua), Assalamu’alaikum,” pamit Bi Sarah.


“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka bersama-sama.


Mobil kami melaju keluar dari halaman Rumah Bi Sarah, mereka sampai mengikuti mobil kita dan melambaikan tangannya sambil berdiri di depan pagar.


Bi Sarah mencoba menenangkan Abay.


“Sudah Dek Abay nggak papa, nanti pasti Mama sama Papa ngajak kesana lagi, kan kalo Mama sama Papa Dek Abay nggak bisa, bisa sama Bibi dan Pak Rusdi,” bujuk Bi Sarah.


“Huhuhuhuhu, beneran Bi??” jawab Abay.


“Iya Dek Abay,” jawab Bi Sarah.


Karena tadi dari awal aku sudah berkompromi dengan Bi Sarah agar membujuk Abay, karena bujukan ku dan bujukan Naufal sudah tidak mempan.


Abay pun agak tenang dengan jurus bujukan dari Bi Sarah.


“Kenapa Mas diem aja dari tadi??” tanyaku.


“Nggak rela pulang Gi, Hahaha,” jawab Naufal.


“Keenakan ya di Rumah Bibi??’ tanyaku.


“Iya lah Gi, siapa yang nggak nyaman sama tempat ginian, stress tuh langsung berasa ilang semua,” ujar Naufal.


“Waaaah salon Mama bisa-bisa sepi kalo semua liburan ke tempat ginian, hehehehem,” canda Naufal.


“Kapan-kapan nanti kita kesini lagi ya,” ajak Naufal.


Aku langsung tersenyum dan menoleh ke belakang untuk melirik Bi Sarah.


“Tumben banget kamu suka liburan??” tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.


“Ya kalo tempatnya kayak gini, siapa yang nggak mau Gi,” jawab Naufal.


“Kalo di kota kan mungkin juga cuman gitu-gitu doang, mall gede, gak ada sawah-sawah an,” jawab Naufal.


“Mau ke kampung Bibi atas dasar apa?? Ketemu Mbak Menik ya, hehehehe,” ejekku.


“Hehehem, kamu ini iiihhhh,” ucap Naufal yang gemas.


“Hehehehe, ya siapa tau kan ya Bi,” ucapku.


“Ya nggak lah Sayang, ada-ada aja kamu ini,” ucap Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Seperempat perjalanan telah kami tempuh, Abay sudah tertidur karena lelah menangis tadi.


“Tidur Mbak Dek Abay,” ucap Bi Sarah lirih.


“Capek dia Bi, disini kan dia main terus, tadi malam aja dia nggak bisa tidur gara-gara hari ini pulang,” ujarku.


“Lo hiya??? Emangnya Abay tidur jam berapa semalam??” tanya Naufal.


“Jam setengah 12 an kayaknya Mas, kamu udah tidur duluan, aku nungguin dia sampe tidur, aku elus-elus juga nggak bisa tidur katanya,” jawabku.


“Ya Allah Abay sampe segitunya nggak mau pulang,” gumam Naufal.


“Pantes lah Mas, dai di rumah juga nggak pernah main-main yang sebebas di kampung Bibi, main sungai, layangan, kejar-kejaran sama kambing,” kataku.


“Ya disana mana ada gituan Sayang, maka nya disini aku bebasin dia, kasihan biar nggak suntuk,” ucap Naufal.


Hari sudah mulai gelap, adzan magrib bersuara di ponsel milik NAufal.


“Sholat dulu ya, cari Mushola, abis itu kita makan,” ucap Naufal.


“Iya Mas,” jawabku.


Mobil yang di tumpangi oleh Mama dan Papa membuntuti di belakang mobil kami.


Naufal mencari-cari Mushola di pinggiran jalan. Akhirnya dia pun menemukan nya.


Dua mobil masuk ke halaman Mushola itu.


“Bangunin Abay Sayang,” perintah Naufal.


Aku langsung membangunkan Abay untuk ikut kami sholat.


“Abay……..Abay…” kataku.


Bi Sarah juga membantu membangunkan Abay, akhirnya dia pun terbangun dengan kedua matanya yang bengkak.


“Sholat dulu Nak,” kataku.


“Dimana ini Ma??” tanya Abay.


“Nggak tau Nak, sholat gih,” jawabku.


“Masih jauh ya Ma??" tanya Abay lagi.


“MAsih lah Nak, ini aja masih seperempat perjalanan,” jawabku.

__ADS_1


Kami semua turun dari mobil dan bergegas mengambil air wudgu lalu sholat berjama’ah.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah sholat, kami kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan untuk pulang.


Tak lupa Naufal mengajak kami ke Resto terlebih dahulu untuk mengisi perut kita semua.


.


.


.


.


.


***(Di Resto)


Kami memesan makanan serba ikan laut, kecuali Papa dan Mama karena takut kolesterol.


Tak lama kami menunggu, makanan pesanan kami datang.


Kami pun langsung melahap habis semua menu makanan serba ikan laut disana.


“Enak banget Mas makanan disini, kamu tau dari mana??” tanyaku.


“Aku juga nggak tau Sayang kalo masakan nya bakalan seenak ini, ini aja tiba-tiba mobil ku kayak mau belok kesini sendiri,” jawab Naufal.


“Hehehem, ada-ada aja,” kataku.


.


.


.


.


.


.


Selesai makan, pastinya kami kembali ke mobil dan NAufal melajukan mobilnya sangat kencang karena kebetulan jalanan sepi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, kami pun sampai di Rumah.


Sedih pasti ada, tapi bagaimana pun juga disini lah tempat kita mengadu nasib.


Untuk mala mini Mama dan Papa ku menginap disini.


***(Di Rumah)


Pak Rusdi dan Naufal menurunkan semua barang-barang yang ada di mobil.


Kami semua masuk ke dalam Rumah.


Aku langsung naik ke atas karena harus menyiapkan kamar untuk Mama dan Papaku.


***(Di Ruang Tamu)


“Ma, Mama langsung istirahat aja sama Papa,” tuturku.


“Iya Ma, pasti Mama sama Papa capek, biar Gia sama Naufal nanti yang beresin semuanya,” ucap Naufal.


“Nggak papa Mama disini dulu aja,” ucap Mamaku.


“Ma, nanti Mama sama Papa kecapek an, Gia nggak mau,” rengekku.


Akhirnya Mama dan Papa menurutiku, aku mengantarkan mereka ke atas.


“Nanti kalo Mama sama Papa butuh apa-apa bisa panggil Gia,” kataku.


“Atau telfon ke Bibi juga bisa Ma,” sambungku.


“Mama sama Papa langsung tidur ya, Abay juga langsung tidur kok Ma di kamarnya,” ucapku lagi.


“Iya Nak, Mama sama Papa tidur dulu ya,” kata Mamaku.


“Iya Ma,” jawabku.


Aku kembali menemui Naufal di Ruang Tamu.


Kami membongkar semua isi koper yang penuh dengan oleh-oleh, dibantu dengan Bi Sarah.


Pastinya ada oleh-oleh khas daerah kampung Bi Sarah.


Kami akan membagikan ke dua pekerja Naufal yang sudah beberapa hari menjaga rumah kita.


“Apa aja ini Sayang??? Banyak banget, hehehem,” ucap Naufal dengan senang.


“Baru tau ya oleh-oleh dari kampung, maklumin aja Bi, anak kota,” ejekku.


Bi Sarah tersenyum menyeringai padaku.


“Iiiihhh nggak Bi, Gia tuh gitu, sama aja lah,” kata Naufal.


Kami membagi rata oleh-oleh yang sangat banyak ini.


Sebagian kami simpan di kulkas.


.


.


.


.


.


Satu setengah jam kemudian, kami selesai membereskan dan membersihkan isi dari koper kami masing-masing.


“Besok Mama pulang jam berapa Sayang??” tanya Naufal.


“Kayaknya sopirnya Mama jemputnya pagi deh Mas, jam 10 an,” jawabku.


“Berarti pas kita kerja dong,” tebak Naufal.


“Iya lah Mas,” jawabku.


“Hoooaaammm, udah Mas, dilanjut besok lagi, aku udah ngantuk banget, belum lagi besok kita kerja loh,” kataku.


“Mbak Gia sama Mas Naufal monggo tidur dulu, biar Bibi yang nyapu ini nya,” kata Bi Sarah.


“Nggak papa Bi??” tanyaku.


“Nggak papa Mbak, Mas Naufal juga pasti capek nyetir tadi Mbak, tilem riyen mboten nopo-nopo (Tidur dulu nggak papa)” tutur Bi Sarah.


Aku dan Naufal beranjak berdiri, dia menarik pundakku dan mengajakku berjalan menaiki anak tangga.


“Naufal ke atas ya Bi,” ucap Naufal.


“Enggeh Mas (Iya Mas)” jawab Bi Sarah.


***(Di Kamar)


Tak lupa aku selalu melakukan rutinitasku cuci muka dan gosok gigi, kali ini berdua bersama Naufal.


“Tiap hari tuh gini dong Sayang seharusnya,” ucap Naufal.


“Hhmmm, nggak mau weeekkkk,” ucapku.


“Iiisshhh dasar kamu,” ucap Naufal.


Selesai cuci muka, langsung ku rebahkan tubuhku di atas ranjang.


Naufal mematikan lampunya dan menyusulku tidur.


Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa hari ini up dua episode yaaaa😁


tunguuuu hehehe🙏☺️


__ADS_2