Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 241 (Dinner)


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Malam harinya, aku bersiap-siap pergi dinner dengan Mas Naufal. Aku dandan secantik mungkin seperti perintah Mas Naufal.


Saat aku sedang mengoleskan eye shadow di mataku, Mas Naufal datang dan mengurungku dengan tangannya yang bersanggahan dengan meja riasku.


"Mas Naufal," ucapku kaget.


"Kamu lihat ke cermin," perintahnya.


Ku buka mataku dan ku lihat ke arah cermin, wajahku tepat berada di samping wajah Mas Naufal.


"Kenapa?" tanyaku.


"Kamu kelihatan bahagia banget,"


"Kamu cantik Sayang," puji Mas Naufal yang membuat pipiku memerah.


Aku jadi teringat dengan Papa, saat akan akadku dulu, Papa memujiku cantik.


"Malam ini, malam kita, malam ini, hanya milik kita berdua," ucap Mas Naufal.


"Udah gih, lanjutin," sambung Mas Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sesaat kemudian, dengan anggun ku kenakan gamis polosan baby pink favoritku dan hijab pashmina simple dengan warna yang senada.


"Ayo Mas, aku sudah siap," kataku sambil membawa dompet dengan brand terkenal di Australia ini.


Untuk ke berkian kalinya Mas Naufal tercengang melihatku, dari atas hingga bawah, secuwil sisi pun tidak terlewatkan dari pandangan matanya.


"Sayanggggg," ucap Mas Naufal.

__ADS_1


"Kenapa Mas? Jelek ya? Atau nggak cocok? Apa aku ganti aja ya," tanyaku.


"No Sayang, enggak,"


"Ini memang yang Mas minta, look so beautiful Sayang," puji Mas Naufal lagi.


"Hehehem, katanya Mas minta nya gini, nurutin suami itu kan juga pahala Mas," kataku.


"Pinter bangettt," kata Mas Naufal.


"Berangkat ya sekarang," ucap Mas Naufal.


Mas Naufal menggandeng tanganku, dan kami menuruni anak tangga berdua.


"Aduh duh duh duh, mau kemana ini Mas Naufal dan Mbak Gia yang sedang berbahagia, hehehe," kata Bi Sarah.


"Dinner dong Bi, kan Naufal sama Gia baikan ini," jawab Mas Naufal.


"Alhamdulillah Ya Allaha akhirnyaaaaaaa, Bibir rindu loh Mas pemandangan seperti ini, hehehem," ujar Bi Sarah yang selalu bisa membuat kami berdua tersenyum lebar.


"Monggo-monggo Mas (Silahkan-silahkan) biar Bibi yang jaga rumah ini, monggo Mas Naufal dan Mbak Gia bersenang-senang," sambung Bi Sarah dengan senang hati.


"Makasih Bi," ucap Bi Sarah.


Mobil Mas Naufal sudah mulus bersih menyambut kita berdua.


"Sudah Pak?" tanya Mas Naufal pada Pak Rusdi yang sedang mengelap mobilnya.


"Sudah Mas," jawab Pak Rusdi.


"Nitip rumah ya Pak," kata Mas Naufal.


"Siap Pak beres," jawab Pak Rusdi lagi yang berdiri di samping mobil Mas Naufal.


Mas Naufal membukakan pintu mobilnya untukku, aku tersenyum memandangnya sambil masuk ke dalam mobil.


Sungguh bahagianya hatiku, diperlakukan bak seperti seorang Putri di negeri dongeng yang akan mendatangi sebuah pesta dengan Sang Pangeran.


Mobil melaju mendekati gerbang rumah Mas Naufal.


Pak Joko sudah berjaga membukakan gerbang untuk mobil Mas Naufal.


"Makasih Pak," kata Mas Naufal.


"Iya Pak, hati-hati," kata Pak Joko.


Mobil ini membawa kami pergi ke tempat dinner.


Akhirnya kami tiba di sebuah tempat makan yang sangat mewah. Mobil sudah terparkir rapi berjejer dengan para pasangan dinner yang datang kesini.


Mas Naufal menggandeng tanganku dan kami berjalan beriringan menuju lift.


.


.


.


.


Teng tong....lift berhenti di lantai 4.


Kami langsung di sambut oleh seorang pelayan dan dipersilahkan duduk di bangku yang sudah Mas Naufal pesan.


"Tuan Naufal?" ucap pelayan tua itu.


"Yes," jawab Mas Naufal.


Kami pun duduk berdua disana, sungguh ini moment dinner ke berapa kali yang selalu aku rindukan, Mas Naufal selalu tau apa yang aku mau.


Desain tempat ini sangat megah seperti sedang makan di benua Eropa, semua serba modern, namun dengan alunan musik klasik yang menambah kenyamanan tempat makan ini.


Cat serba mengkilat disini, suasana nya sangat cocok untuk para pasangan yang ingin memperbaiki hubungan mereka.


"Mas, makasi," kataku sambil mengelus-elus tangan Mas Naufal.

__ADS_1


"Kamu suka?" tanya Mas Naufal dengan senyum dan menyunggingkan lesung pipinya.


"Im very happy, this is very nice," jawabku.


"Ya ya ya, Mas tau apa yang kamu mau," kata Mas Naufal.


Saat kami sedang bergurau berdua, Mas Raka datang dari belakangku.


"Hey, Bro," kata Mas Raka.


Aku menyalami mereka (Mas Raka dan Istrinya)


"Disini juga?" ucap Mas Raka.


"Iya, biasa rutinitas sama istri," jawab Mas Naufal.


"Gabung boleh Fal?" tanya Mas Raka.


"Boleh dong," jawab Mas Naufal.


"Eh bentar ya, nanti Gue kenalin sama adik Gue," ujar Mas Raka.


"Lo punya adik?" tanya Mas Naufal.


"Punya, tapi bukan adik kandung, ini adik sambung Fal," jawab Mas Raka.


"Kok Lo nggak pernah cerita ke Gue?" tanya Mas Naufal yang sepertinya tidak tahu apa-apa.


"Memang jarang sama Gue Fal dia, yaaa biasa kalo bukan kandung kan kayak gitu," kata Mas Raka.


"Temen-temen Gue banyak kok yang belum tau dia, emang sengaja nggak Gue kenalin," sambung Mas Raka lagi.


"Sama pacarnya juga Adik Lo?" tanya Mas Naufal lagi yang sepertinya penasaran dengan Adik Mas Raka ini.


Dalam hatiku ada sedikit api cemburu, karena aku berpikir bahwa adik Mas Raka adalah perempuan.


"Cewek cowok Adik Lo?"


"Cowok lah," jawab Mas Raka lagi.


Sambil menunggu kedatangan Adiknya Mas Raka yang tak kunjung datang, semua makanan yang kami pesan pun datang.


"How are you Tuan Naufal (apa kabar Tuan Naufal)?" ucap pelayan tua itu.


"Very Fine, this is my wife (sangat baik, ini istriku)" kata Mas Naufal pada pelayang tua itu yang sepertinya sangat akrab dengannya.


"Ooh, yes," jawabnya.


Setelah pelayan tua itu pergi, aku sedikit berbisik pada Mas Naufal.


"Mas, perasaan Mas kok dimana-mana kenal semua sih," bisikku sangat lirih.


"Ya iya lah, siapa yang nggak ngenalin suami kamu, hahaha, ya Fal ya," sahut Mas Raka yang rupanya mendengar bisikanku.


"Naufal sama siapa aja temen, dari muda sampai tua di sikat semua sama dia, hahaha," sambung Mas Raka lagi.


"Hahaha yok makan yok," ucap Mas Raka.


"Ini nggak nungguin Adik Lo dulu Ka?" tanya Mas Naufal.


"Iya juga sih ya, padahal tadi dia udah bilang on the way," jawab Mas Raka.


"Macet kali Mas," sahut istri Mas Raka.


"Beneran loh Gue kaget Lo punya Adik, Gue temenan sama Lo udah lama," kata Mas Naufal.


"Iya lah Fal, lulus kuliah, bokap Gue kan cerai sama nyokap, eh terus ketemu jodohnya punya anak laki, jadi adik Gue dah," jawab Mas Raka.


Mas Raka tidak tenang dan terus menengok ke samping kanan dan kirinya, kebetulan tempat dudukku dan Mas Naufal membelakangi pintu lift. Jadi pandangan Mas Raka tertuju ke belakang kami berharap yang keluar dari lift adalah adiknya.


Tak lama kemudian, adiknya Mas Raka pun tiba.


"Nah itu dia," ucap Mas Raka.


Aku dan Mas Naufal yang penasaran langsung menengok ke belakang, dan ternyata......

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2