
Beberapa jam setelah mereka berbincang , Meira berpamitan
untuk pulang karena merasa tak enak dengan Gia.
Gia berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
Gia mengganti sprei tempat tidurnya.
Naufal ingin segera merebahkan tubuhnya.
“Kok ini sih Gi sprei nya,” keluh Naufal karena Gia sengaja
mengganti spreinya dengan nuansa minion itu.
“Kenapa? Kamu nggak suka? Lucu loh ini,” jawab Gia.
“Kita udah nikah loh Gi, masak iya spreinya beginian, aduuuh
kamu nih ah,” ucap Naufal dengan nada kesal.
“Ya udah aku ganti,” kata Gia singkat dengan memonyongkan
mulutnya.
“Tuh kan mulai ngambek,” ejek Naufal.
“Enggak, siapa yang ngambek coba,” bantah Gia.
Naufal meraih kedua pipi Gia, Naufal mengecup kening Gia.
“Ya udah dong kalo gak mau diganti gak usah marah gini, iya
iya pake ini aja spreinya,” tutur Naufal dengan sangat lembut.
Gia tersenyum pada suaminya dan langsung melingkarkan
tangannya di pinggang Naufal, Gia memeluk erat suaminya.
Keesokan harinya, setelah mereka sholat shubuh, seperti
biasa Gia selalu memasak makanan untuk suaminya sarapan.
Setelah sarapan, mereka langsung pergi bekerja.
***(di Rumah Sakit)
Gia pergi ke ruang periksa karena ada pasien yang ingin
diperiksa olehnya.
Sampai di ruang periksa, Gia melihat tubuh Meira terlentang
lemas di atas bed pasien.
“Mbak Meira!” panggil Gia.
“Ada apa Mbak? Mbak kenapa?” tanya Gia panik.
“Tifus saya kambuh Dok,” jawab Meira dengan lemas.
“Ya udah ya bentar saya periksa tekanan darah kamu dulu,”
tutur Gia.
“Ini Mbak harus di rawat inap,” tutur Gia setelah memeriksa
keadaan Meira.
“Iya Dok, saya udah lemes banget nggak kuat,” keluh Meira.
Perawat telah memasangkan infus pada tangan Meira. Tiba-tiba Meira menarik tangan Gia.
“Iya ada apa Mbak?” tanya Gia.
“Dok tolong hubungi tunangan saya ya, ponsel saya lowbat,”
ucap Meira.
“Oh iya silahkan,” Gia menyodorkan ponselnya ke Meira.
Setelah Meira mencatat nomor ponsel tunangan nya, Meira
memberikan kembali ponsel Gia.
“Dok, kali ini saya bener-bener minta tolong banget sama
Dokter, tolong hubungi tunangan saya karena dia pasti nyari saya di rumah,” perintah Gia.
“Iya Mbak, habis ini segera saya hubungi tunangan Mbak ya,”
jawab Gia.
Meira dipindahkan ke ruang rawat inap, sedangkan Gia mencoba menghubungi tunangan Meira.
Tut…..tut…..tut.
“Hallo Assalamua’alaikum,” salam Gia.
“Iya Wa’alaikumsalam,” jawab tunangan Meira.
Deggggggg. Sepertinya Gia pernah mendengar suara ini.
__ADS_1
“Hallo, ini dengan siapa ya?” tanya tunangan Meira.
Gia masih tetap melamun dan mengingat-ingat suara yang
sepertinya pernah di dengar olehnya.
“Hallo,” ucap tunangan Meira lagi.
“Maaf ini saya Dokter dari rumah sakit ***\, ingin memberi
tahu kepada anda, Mbak Meira sekarang sedang di rawat di rumah sakit ini Pak,” ucap Gia.
“Oooo iya Dok, terima kasih atas informasi nya, saya segera menyusulnya kesana,” kata tunangan Meira.
“Baik Pak terima kasih,” ucap Gia langsung mematikan
telfonnya.
“Seperti suara dia,” gumam Gia dalam hatinya.
Gia tak ingin berlarut-larut memikirkan siapa tunangan Meira, Gia segera kembali pergi bertugas.
Setelah beberapa jam Gia selesai melakukan pekerjaannya,
begitu juga Naufal.
Hari juga sudah sore, tiba-tiba ponsel Gia bergetar dalam
sakunya.
Gia membuka ponselnya, ternyata telfon dari tunangan Meira.
“Hallo Dok, Assalamu’alaikum,” salam tunangan Meira.
“Iya Wa’alaikumsalam,” jawab Gia.
“Ruangannya dimana ya Dok, soalnya saya baru pertama kali
kesini,” tanya tunangan Meira.
“Bapak dimana sekarang biar saya antarkan sekarang,” ucap
Gia.
“Saya masih di depan admin Dok,” jawab tunangan Meira.
“Bapak lurus aja, ini saya di depan ruang operasi saya
memakai jilbab putih Pak,” ucap Gia.
Tunangan Meira bergegas menemui Gia.
“Ini saya sudah di depan ruang operasi Dok, saya memakai
Gia melihat pria yang sedang membelakanginya memakai kemeja abu-abu sambil menelfon seseorang, jarak
mereka kurang lebih 10 meteran.
“Bapak coba lihat ke belakang ada saya Pak,” tutur Giia.
Tut….tut…tut.
Naufal menelfon Gia yang sedang berada di panggilan lain.
“Kemana sih anak ini,” ucap Naufal kesal.
Naufal mencari-cari Gia.
“Tuh dia anaknya,” ucap Naufal setelah menemui Gia, tapi
langkahnya terhenti seketika melihat istrinya tangah menelfon seseorang. Naufal mengintip di balik dinding ruang operasi.
Tuanangan Meira membalikkan badannya, mereka saling berjalan berhadapan sampai langkah mereka hanya berjarak 2 meter saja.
Gia syok dan sangat sangat kaget melihat Tunangan Meira itu,
begitu juga dengan Tunangan Meira yang kaget dengan Dokter yang sedari tadi di telfonnya.
Mereka terpaku disana, mereka menjadi kaku seketika
Mata Gia mulai berkaca-kaca melihat Tunangan Meira yang
ternyata dosen di masa lalunya yaitu Pak Kevin.
Tepat di tengah-tengah lorong depan ruang operasi mereka
saling menatap hingga beberapa menit.
Pak Kevin tau sepertinya Gia memandangnya dengan raut muka yang sepertinya membencinya.
Pak Kevin mencoba bertanya pada Gia tapi Gia membantahnya.
“Eeemm ak…” ucap Pak Kevin di potong oleh Gia.
“Maaf saya tidak bisa mengantarkan anda!” ucap Giasingkat
sambil meneteskan air matanya.
Gia langsung berlari dengan tangisannya, Naufal yang melihat
hal itu merasakan rasa sesak di dadanya karena sakit hati melihat istrinya bertatapan dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Naufal langsung pergi ke mobilnya.
“Siapa sih laki-laki itu?” gumam dalam hati Naufal.
Gia melihat ponselnya dan tau bahwa tadi Naufal menelfonnya.
Gia membereskan meja kerja nya dan mengusap air matanya,
lalu pergi ke parkiran.
Di dalam mobil Gia hanya diamdan melamun karena tidak
menyangka bahwa tunangan Meira adalah Pak Kevin.
“Kamu tadi telfon siapa?” tanya Naufal dengan sinis.
“Oh tadi, tadi keluarga dari pasien aku,” jawab Gia kaku.
Naufal lebih memilih diam karena jika terus membahas hal itu
hatinya sangat sangat hancur.
***(di Rumah)
Sampai di rumah, Gia langsung menuju kamarnya tanpa basa
basi, Gia teringat semua tentang masa lalunya.
Gia bergegas untuk mandi.
Ponsel Gia bergetar di atas Kasur, Naufal mencoba menjawab
telfon dari nomor tanpa identitas itu.
Naufal hanya diam ketika menerima telfon itu.
“Hallo,” ucap Pak Kevin.
Naufal sangat syok mendengar suara priadi dalam ponsel Gia.
Deggggggg.
Naufal langsung mematikan telfon tersebut. Rupanya kali ini
dia sangat marah dengan Gia.
“Gia selingkuh dari aku,” gerutu dalam hati Naufal.
Selesai Gia mandi, Gia berniat untuk menghubungi Susi karena
ingin menceritakan kejadian di rumah sakit tadi.
Sedangkan Naufal yang ada di dalam kamar mandi rupanya
menguping pembicaraan Gia dan Susi.
“Hallo Assalamu’alaikum,” salam Gia.
“Wa’alaikumsalam, ada apa Gi,”jawab Susi.
“Si, aku mau cerita,” ucap Gia.
“Cerita apa?” tanya Susi.
“Aku tadi ketemu Pak Kevin Si,” jawab Gia.
“Whaaaat sumpah demi apa Gi kamu ketemu sama Pak Kevin,”
kata Susi kaget.
Gia menceritakan semuanya pada Susi mulai dari dia bertemu
dengan Meira sampai pada akhirnya bertemu dengan Pak Kevin.
“Aku jadi keinget semuanya Si,” keluh Gia dengan nada suara
sedih.
“Gia, kamu harus inget sekarang kamu udah punya suami, cinta
kamu cuman buat Naufal kan,” tutur Susi.
“Bukan masalah cinta nya Si, cuman kalo aku lihat Pak Kevin
tiba-tiba rasanya hati aku sakit banget Si, kayak kesel gitu sama beliau,” keluh Gia.
Dari awal Gia dan Susi telfonan sampai pada akhirnya Gia
menutup telfonnya, Naufal mendengarkan semua apa yang telah mereka bicarakan.
“Pak Kevin, Pak Kevin siapa?” gumam dalam hati Naufal di
dalam kamar mandi.
Hal itu membuat Naufal semakin penasaran siapa Pak Kevin
tersebut.
Bersambung........
Jangan lupa like, comment dan vote yang banyak ya🙏😁
__ADS_1
Tunggu episode selanjutnya readers
terima kasih sudah setia sampai sejauh ini🖤