
Dengan kecepatan mobil Naufal yang sangat cepat dan juga jalanan tidak macet, akhirnya kami tiba di Rumah Sakit.
***(Di Rumah Sakit)
Setelah mobil Naufal berhasil terparkir, dia ingin segera berlari keluar dari mobil karena sudah membuka pintu mobilnya dan menurunkan satu kakinya, tetapi dia lupa bahwa di sana dia tidak sendirian, melainkan bersama aku, jadi dia mengurungkan dan menarik kembali kakinya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kamu lari aja nggak apa-apa," kataku.
"Nggak aku jalan aja sama kamu," ucap Naufal.
"Udah nggak papa, kamu lari aja, kan ini darurat banget, apalagi menyangkut nyawa Noni loh," tuturku.
Sepertinya hati Naufal bergerak untuk segera pergi menemui Noni.
"Ya udah aku duluan ya," ucapnya.
Akhirnya Naufal turun dari mobil dan langsung berlari mencari Noni.
Aku berjalan sendiri.
"Pasti sekarang ini Noni masih ada di ruang periksa," gumamku dalam hati.
Aku berjalan menuju ruang periksa.
Dan akhirnya benar dugaanku tampak di sana Mama Noni, Bibi Noni, dan Naufal yang berdiri disana mondar mandir mengkhawatirkan keadaan Noni.
Tiba-tiba aku melihat Mama Noni yang berlari mendekat pada Naufal dan akan memeluk Naufal sambil menangis, tapi untung saja Mama Noni tidaks sampai memeluk Naufal dia sudah tersadar bahwa Naufal bukan suaminya.
Saat aku datang, mereka semua menoleh padaku, aku segera memeluk Mama Noni, dari sisi lain Naufal bingung dengan keadaan Noni dan dari sisi lain juga Naufal takut aku marah dengan kejadian tadi, untung saja Naufal agak mundur menghindari Mama Noni.
Aku memeluk Mama Noni yang menangis terisak-isak.
Setelah beberapa menit, Noni di pindahkan ke ruang rawat inap dengan tubuhnya yang sudah terpasang infus.
Kami semua mengikuti arah bed Noni yang sedang di gelinding.
***(Di Ruang VIP Rawat Inap)
"Loh Dokter Naufal disini, shift malam Dok?? Sama Dokter Gia juga?" ucap Dokter Mike (salah satu Dokter yang bertugas shift malam)
"Enggak Dok, ini keponakan saya," jawab Naufal.
"Owhh, jadi ini keponakannya Dok, ini hanya demam tinggi saja Dok karena kurang seimbangnya elektrolit dalam tubuh," ucap Dokter Mike.
Mama Noni langsung jatuh lemas, untung aku bisa menyangganya.
Segera ku dudukkan beliau di sofa.
"Syukurlah Ya Allah," ucapnya sambil makin menangis.
"Makasih Dok," ucap Naufal.
"Ya Dok, saya kembali dulu ya Dok, mari Dokter Gia," pamit Dokter Mike sambil menepuk lengan Naufal.
Dokter Mike berjalan keluar dari ruang rawat inap Noni.
"Syukurlah hanya demam Aku kira epilepsi Fal," kata Mama Noni.
"Aku nggak tau lagi kalo tadi Dokter nya bilang kena epilepsi, Aku nggak tau lagi harus gimana pasti aku sangat hancur," ucap Mama Noni.
"Udah gak papa paling juga cuman beberapa hari di sini kamu tenang aja," kata Naufal.
Hampir 1 jam kami menunggu Noni bangun tapi dia juga tak kunjung bangun sepertinya dia tertidur.
"Meski kamu nggak nungguin nanti di sini," tanyaku.
"Nggak usah Gi, biar aku sama Bibi aja yang jagain Noni," sahut Mama Noni.
"Yakin nggak papa Mbak?" tanyaku.
"Heem gak papa kok Gi," jawab Mama Noni.
"Ya udah bentar aku mau menemui Dokter Mike dulu habis ini kita pulang ya Gi," tutur Naufal.
"Iya Mas," jawabku.
Setelah Naufal keluar dari ruangan Noni, Mama Noni meminta maaf padaku karena kejadian tadi.
"Maaf ya karena tadi aku bertingkah seperti itu pada Naufal, seharusnya aku tidak pantas melakukan itu tapi sumpah Gi itu di luar kontrol aku, yang terbayang di wajahku saat-saat seperti ini adalah wajah suamiku Gi, aku single parent, karena tidak ada pendamping seorang laki-laki dalam situasi seperti ini, jadi aku......aku membayangkan wajah Naufal adalah wajah suamiku, aku maaf banget sama kamu, tapi aku gak punya maksud lain Gi, tadi juga aku ngga sampe meluk dia Gi," ucapnya yang sangat merasa bersalah padaku.
"Iya nggak papa kok aku ngerti," kataku sambil mengelus-elus lengannya.
"Maaf ya Gi kalau aku sering ngerepotin Naufal karena Noni, semua kulakukan demi Noni Gi bukan karena aku, jadi kamu jangan pernah mikir aneh-aneh tentang aku sama Naufal," ucapnya.
"Enggak kok Mbak, tenang aja nggak papa, aku juga tau," kataku.
"Aku cinta banget sama suamiku Gi meskipun Sekarang dia sudah tiada tapi aku tidak ingin menghianati cintanya," kata Mama Noni dengan isak tangisnya.
Dan akhirnya Naufal datang kembali.
"Udah Gi, aku udah urus semua jadi kita bisa pulang sekarang," ajak Naufal.
"Maaf ya aku gak bisa jagain ataupun nemenin Noni," kata Naufal.
"Iya nggak papa kok Aku juga ngerti kamu juga udah berkeluarga apa lagi sebentar lagi Kamu punya anak" kata Mama Noni.
"Maaf ya udah menyita waktu kalian maaf banget," ucap Mama Noni mohon maaf pada kita.
"Enggak, nggak papa kok, ya kan Mas," kataku sambil melihat ke arah Naufal.
"Iya bener," ucap Naufal sambil tersenyum pada Mama Noni.
"Ya udah kalau gitu aku sama dia pamit pulang dulu ya kan besok aku sama dia juga kerja di sini pasti juga bakalan sering-sering nengokin Noni kok," pamit Naufal.
"Iya Fal," jawab Mama Noni.
"Aku pulang ya, Assalamu'alaikum," salam Naufal lalu menggandeng tanganku untuk keluar dari ruangan itu.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka.
Naufal menggandeng tanganku dan kita berjalan menuju parkiran mobil.
Sampainya kita di parkiran kita langsung masuk ke dalam mobil dan Naufal langsung melajukan mobilnya untuk pulang.
Dalam perjalanan Naufal terus-menerus meminta maaf padaku.
"Sayang, maaf ya, kamu pasti kecewa ya sama aku karena kita nggak jadi nonton hari ini," kata Naufal.
"Enggak, udah nggak papa, lagian kan cuma nonton kapanpun kita itu bisa Mas, yang penting nyawa Noni, kesehatan Noni, keselamatan Noni," kataku.
"Terus tadi maaf juga ya karena tadi kamu pasti lihat ya kalau Mamanya Noni mau meluk Aku," kata Naufal dengan terbata-bata.
"Iya, emang aku lihat, kenapa?? Nggak papa lah, toh kan tadi nggak jadi meluknya, kamu juga ngehindar kan," kataku sambil mengangkat kedua alisku dan menatapnya.
"Tadi juga beliau udah jelasin kok sama aku, betapa cintanya beliau sama suaminya, meskipun suaminya itu udah tiada, katanya dia tidak akan pernah menghianati cinta suaminya, keren ya Mas," pujiku.
"Hehem, Iya Gi, coba aja Aku udah tiada, kamu gimana Gi?? Ingin terus mencintaiku?? Atau kamu menemukan cinta yang baru??" tanya Naufal.
"Kamu apa-apaan sih ngomong gitu, kamu akan hidup sama aku seribu tahun lagi, kamu nggak boleh ninggalin aku," bantahku.
"Hehehe kan seumpama Sayang," kata Naufal.
"Ya enggaklah, enggak, pokoknya nggak mau, kamu nggak boleh ninggalin aku," ucapku lagi dengan tegas.
"Ya Allah Sayang, gemes banget aku jadinya," kata Naufal sambil mencubit daguku.
"Kamu ngomongnya aneh-aneh gitu, gak baik tau," kataku dengan cemburut.
"Astagfirullah, gini ngambek kamu, seumpama Sayang seumpama," ucap Naufal diperjelas lagi.
"Sebenarnya aku gak mau jawab, tapi kamu maksa, yaaaa pasti aku tetep cinta sama kamu lah, kalo aku nikah lagi, aku nanti gak bisa ketemu kamu di surga, gak mau lah aku," jawabku.
__ADS_1
"Eh eh eh uluhhh istriku setia banget sama suaminya," kata Naufal menarik pundakku untuk di peluknya.
"Maka nya kamu nggak usah tuh ngomong aneh-aneh, setiap kata adalah doa," ucapku.
Naufal hanya tertawa manis padaku.
.
.
.
.
Tak lama kemudian kami sampai di Rumah.
***(Di Rumah)
Sesampainya di rumah setelah mobil Naufal terparkir kami langsung masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," salam kami.
Tidak ada yang menjawab satupun orang di dalam rumah, sepertinya mereka sudah tidur.
"Sayang, aku pengen spaghetti," rengek Naufal.
"Ya udah kamu naik dulu ke atas, aku buatin kamu spaghetti bentar," tuturku.
"Makasih Sayang," kata Naufal sambil membawakan tasku untuk dibawanya ke kamar.
***(Di Dapur)
Di dapur segera aku membuatkan spaghetti untuk kami berdua.
"Huum sudahlah meskipun hari ini tidak jadi nonton sama Naufal, yang penting dia gak khawatir sama Noni," ucapku dalam hati saat merebus mie pasta.
Semua kulakukan dengan penuh perasaan, dari mengiris bawang bombai, menumis bumbu, dan juga memarut keju.
Tak lupa aku buatkan dua gelas minuman dingin untuk kita.
Beberapa kemudian, setelah bumbu sudah matang dan ku masukkan mie yang sudah ku rebus, Naufal datang menghampiriku.
Memelukku dari belakang.
"Hmmm enak banget Gi bau nya," ucapnya.
"Iya lah kan ini spesial buat kamu," kataku.
"Penuh perasaan nih buatnya?" ejek Naufal.
"Nggak cuma penuh perasaan Mas, ini juga penuh cinta," ucapku.
"Maaf ya," bisiknya di telingaku.
Aku menoleh melihatnya.
"Maaf untuk?" tanyaku padanya.
"Maaf karena aku sudah ngecewain kamu tadi," jawabnya.
"Ngecewain apa sih?? Kamu jangan ngrasa bersalah gitu dong," tuturku.
"Setelah beberapa hari kamu marahnya serius sama aku, aku jadi takut Gi, takut kamu tinggalin, takut kejadian itu terulang lagi," kata Naufal di pundakku.
"Enggak Mas, kan situasinya emang darurat tadi," kataku.
"Ya tapi tetap aja, aku nggak enak sama kamu," rengek Naufal.
"Ya udah iya iya udah nggak usah nyeselin, nggak usah merasa bersalah," tuturku.
"Mas jangan gini ah, ini udah siap spaghetti nya, gimana aku ngangkat nya kalau kamu kayak gini," kataku sambil menggoyang-goyangkan pundakku.
Akhirnya Naufal melepas pelukannya.
"Loh Gi, ini buat siapa minumannya?" tanya Naufal.
"Buat kita lah Mas kan cukup 2," jawab ku.
"Kirain ada tamu malam-malam, kok kamu buat minuman dingin kayak gini," kata Naufal.
"Ya nggak lah Mas kalau ada makanan pasti ada minuman, ada sendok juga ada garpu, ada piring juga ada gelas, masak iya ya ada makanan nggak ada minuman kan kurang pas," kataku pada Naufal.
"Dan kurang satu lagi, ada aku pasti ada kamu, pasti udah pas," ucap Naufal dengan menaikkan satu alisnya yang membuat pipi ku mulai memerah.
"Apa sih," kataku sambil menyenggol lengannya halus.
"Hehehe merah kan tuh pipi," ejek Naufal yang semakin membuatku malu.
"Udah jangan gombal, bantuin aku bawa ini, kamu bawa minum nya aku bawa makanannya," tuturku.
Naufal membawa 2 gelas minuman dingin dan aku membawa dua piring spaghetti yang kubuat spesial untuk kita.
Kami berjalan menaiki anak tangga.
Saat nelpon membukakan pintu kamar aku sangat terkejut melihat mini bioskop yang sudah terpasang di depan ranjang.
"Mas ini apa?" tanyaku sambil melongo melihat layar yang sudah terpanjang dan juga tempat duduk yang sudah disediakan.
"Ini......karena tadi kita nggak jadi nonton bioskop, jadi aku buat mini bioskop sendiri buat kamu, eh buat kita maksudnya," jawab Naufal.
"Kamu beneran ini mas ngerancang sendiri?" tanyaku.
"Iya beneran lah Sayang, soalnya aku udah punya dari dulu cuman nggak kepakai aja jadi ya udah, ini buat kita," jawab Naufal.
"Ya Allah Mas......aku melongo loh lihatnya," kataku lalu duduk di kursi itu.
"Sini Mas sini duduk sini," kataku pada Naufal.
Dan Naufal berjalan mendekatiku, lalu duduk di sampingku.
"Bisa-bisanya kamu buat kayak gini Mas, sumpah aku nggak nyangka banget sampai segini nya kamu," kataku yang masih tidak menyangka dengan hal yang dilakukan Naufal padaku.
"Demi kamu apa sih yang enggak, yang penting kamu bahagia meskipun terkadang aku aku buat kamu kecewa, buat kamu sakit hati, buat kamu cemburu, tapi aku selalu berusaha buat bahagiain kamu gimanapun caranya," jawab Naufal sambil mengelus kepalaku.
"Ya udah ya udah aku ganti baju dulu ya," kataku.
"Gia kelihatan seneng banget," gumam dalam hati Naufal.
Aku berjalan untuk menuju ruang ganti baju.
Tak butuh waktu lama aku segera kembali duduk di samping Naufal.
"Ini kita mau nonton film apa Mas," tanyaku padanya.
"Kan kamu tadi minta nya nonton film horor keutuhan Aku punya beberapa CD film horor," kata Naufal sambil menyerahkan sekotak CD padaku.
"Mas Naufal kamu kok bisa sih mikirnya sampai sejauh ini," kataku yang masih tidak menyangka pada saat ini juga.
Naufal mendekatkan wajahnya pada aku lalu mengelus pipiku.
"Kalo untuk kamu semuanya bisa Gi, kecuali satu yang nggak bisa," ucap Naufal.
"Apa?" tanyaku.
"Aku nggak bisa pergi dari kamu, itu yang aku nggak bisa," jawab Naufal.
Mataku mulai berkaca-kaca mendengar jawaban Naufal, aku tersenyum penuh bahagia padanya lalu aku memeluknya, memeluknya sangat erat.
Setelah ku lepas pelukan dari Naufal, aku memilih film yang lumayan seram kata Naufal.
"Yang ini bagus nggak Mas?" tanyaku.
__ADS_1
"Kalo yang itu aku belum tau Sayang, soalnya kadang aku asal beli, tapi yang nontok Bastian, hehehehe," jawab Naufal.
"Ya udah kita nonton ini aja ya," kataku.
Naufal segera menyalakan DVD lalu memainkan filmnya.
Dari musik pembukaannya saja aku sudah sangat merinding.
Aku mulai mendekat pada Naufal karena sebenarnya aku takut tapi aku suka.
Kami tercengang menonton film itu, dengan menikmati spaghetti yang kubuat tadi.
Berkali-kali aku memalingkan wajahku pada dada Naufal.
Naufal selalu siap siaga menutup telinga dan mataku saat aku ketakutan.
Berkali-kali aku teriak karena kaget dan juga takut, sedangkan Naufal hanya datar saja tidak ada rasa takut ataupun kaget, dasar aneh.
"Kok kamu biasa aja sih Mas?" tanyaku dengan polos.
"Ya abis aku harus gimana?" tanya balik.
"Ya seenggaknya kamu kaget atau apalah gitu," jawab ku
"Sayang......Sayang itu kan kamu bukan aku," ucap Naufal dengan sedikit menertawakanku.
Satu jam lebih kami menikmati film itu.
.
.
.
.
.
Dan akhirnya film itu berakhir.
"Yaaaah berakhirnya sad ending Mas," kataku.
"Kamu takut gitu kok suka banget nonton film horor," kata Naufal yang heran.
"Meskipun aku penakut, meskipun aku cengeng, meskipun aku terlihat lemah, tapi aku masih suka tantangan, ya contohnya hal seperti ini kan tantangan," jawab ku.
"Ya udah aku mau nurunin ini dulu ke bawah," kataku sambil membawa dua piring dan dua gelas.
"Emang kamu berani?" tanya Naufal.
"Hehehm, enggak sih Mas," jawabku sambil menyeringai.
"Aduh Sayang nggak pernah gitu kok mau nurunin ini. Ya udah ayo aku antar," tutur Naufal.
"Bentar aku mau ngambil kerudung dulu," kataku sambil mengambil kerudung lalu ku kenakan di kepalaku.
Akhirnya Naufal pun mengantarkanku untuk turun ke bawah.
.
.
.
.
Setelah kuletakkan piring kotor dan kelas kotor itu di di dapur aku dan Naufal kembali ke kamar.
***(Di Kamar)
Di kamar aku langsung masuk kedalam kamar mandi untuk cuci muka gosok gigi dan memakai lotion malam seperti biasanya.
Tak lama kemudian aku keluar dari kamar mandi, dan aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang, giliran Naufal yang masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Naufal mematikan lampu dan kembali menyusulku untuk merebahkan tubuhnya.
Tiba-tiba ranjang Naufal bergerak menjadi sebuah sofa.
"Loh Mas, aku baru tau loh kalo ranjang kamu bisa diginiin," kataku.
"Masak iya? Kamu aja udah tidur sama aku 1 tahun lebih masak baru tau sih Sayang," ucapnya.
"Mana pernah kamu kasih remotenya ke aku," kataku membela diri.
"Hehehe, padahal remote nya aku taruh laci loh, masak kamu nggak tau," kata Naufal juga membela dirinya.
"Terus rannjangnya kamu gini in, emang kita mau nonton lagi?" tanyaku.
"Iya, tadi kan udah film kesukaan kamu film horor. Sekarang gantian kita nonton film romance, meskipun aku sukanya film action sih, tapi aku lagi pengen aja lihat film romantis sama kamu," ucap Naufal.
Naufal langsung menekan remote yang sudah terhubung dengan proyektor yang di pasangnya.
Naufal memilih film yang sangat booming dan terkenal di luar negeri bahkan seluruh dunia.
"Pasti kamu suka film ini, dan pasti kamu baru pertama kali lihat film ini," kata Naufal.
Aku menyandarkan kepalaku di lengan Noval yang sedang merangkul pundakku.
Kami bertingkah seperti orang yang yang seperti orang yang sedang berpacaran.
.
.
.
.
.
Di pertengahan film, aku sempat menengadahkan wajahku untuk menatap Naufal.
"Aku baru pertama kali kayak gini cuma sama kamu Fal, bisa romantis kayak gini nonton bioskop berdua, meskipun di mini bioskop, tapi aku lebih nyaman, dulu aku selalu melihat orang seperti ini saat aku sedang menonton bioskop dengan temanku, tapi untuk kali ini aku bisa merasakan apa yang sudah mereka rasakan," gumamku dalm hati.
Naufal menatapku kembali, lalu aku langsung memalingkan pandanganku darinya.
Naufal menarik dagu ku agar aku dapat menatapnya kembali.
Wajah Naufal semakin dekat padaku, hingga tidak ada jarak di antara hidung kami.
Deg deg deg......
Jantungku berdebar-debar setiap Naufal bertingkah seperti ini padaku.
"Mas filmnya itu itu nggak ditonton," tanyaku.
Naufal tidak menjawabnya tetapi malah membungkam bibirku dengan telunjuk jarinya.
"Huuusstt," kata Naufal.
Naufal mencium keningku dan setiap inci wajahku.
Aku tau apa yang sedang diinginkan oleh Naufal. Dan ternyata benar dugaanku. Malam yang manis akan di hadirkan kembali oleh Naufal.
Dengan hawa ruangan yang dingin karena AC dan juga alunan musik romantis yang membuat kami terhanyut dalam malam yang hening ini.
Akhirnya kami pun mulai tenggelam dalam kewajiban seorang suami dan istri seperti orang-orang pada umumnya.
Dan malam ini, malam bahagia untuk kami.
Bersambung.......
__ADS_1
Hayo siapa yang lagi baperrr??? hehheehe😁