
Ponselku kembali berdering, dan ternyata video call dari Naufal.
"Sayang," ucap Naufal.
Aku lupa tidak menurunkan volume suaranya, dan Susi akhirnya mendengar Naufal memanggilku Sayang.
"Huusttt, Mas ada Susi," kataku sambil beralih ke kamera belakang.
"Udah lah Gi, nggak usah malu-malu, gak papa kok," ejek Susi.
"Kata Susi nggak papa loh Sayang, kenapa sih? Dia juga ngerti," kata Naufal.
"Kamu udah sampe Mas?" tanyaku.
"Udah Sayang barusan terus langsung video call kamu, takut kamu kangen sama aku," goda Naufal sambil menertawakanku.
"Syukurlah Naufal nggak kenapa-napa," kataku dalam hati.
"Iidiiiihhh aarrghhh," sepertinya itu suara Pak Bastian yang tengah makan di samping Naufal.
"Apaan sih Lo, iri ya Gue mesra sama istri Gue, huuuu," ejek Naufal ganti.
"Mass....," kataku untuk menghentikan cekcok ringan mereka.
"Alhamdulillah kalo gitu, kamu udah makan?" tanyaku sambil memakan sesendok cumi asam manis.
"Ini sambil makan, gak sabar Sayang pengen segera video call kamu," rengek Naufal yang membuat Pak Bastian tersedak.
"Pelan Bro pelan," ejek Naufal sambil menertawakan nya.
"Kamu makan apa itu?" tanya Naufal balik.
"Cumi asam manis," jawabku.
"Jangan malem-malem kalo pulang," tutur Naufal.
"Enggak Mas, habis ini kalo udah selesai, paling cuman beli cemilan terus pulang," jawabku.
"Nanti kalo di rumah aku video call lagi, kamu lanjutin makan dulu aja gih Sayang," kata Naufal.
"Iya Mas, bye, Assalamu'alaikum," ucapku.
"Wa'alaikumsalam," jawab Naufal lalu menutupnya.
"Aaghhemm," suara deheman Susi.
"Gitu ya kalo punya suami, ciye ciyeee," ejek Susi.
"Apa sih Si? Jangan gitu, malu tau," ucapku sambil menundukkan kepalaku.
"Wahahaha, kenapa sih Gi? Gak papa kali santai aja sama aku, enak ya diperhatiin lebih," kata Susi.
"Sii....Kan dari dulu sebelum ada Mas Naufal aku juga udah dikasih perhatian lebih dari Mama apa lagi Papa aku," kataku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Iya tau, tapi kan ini diperhatiin lebih sama orang yang sebelumnya kamu nggak kenal sama sekali," kata Susi.
"Makanya kamu buruan nyusul," ejekku sambil tersenyum pada Susi.
"Tunggu aja, di segerakan hehehe," ucap Susi malu-malu.
"Tuh kan malu-malu, aku yakin pasti kamu udah ada, nunggu apa lagi Si," ejekku lagi yang semakin membuat pipinya memerah.
"Eemmmm ada gak yaa...??? Ya pasti kamu tau lah, tapi nunggu waktunya aja," kata Susi.
"Gak bisa bayangin kalo kamu ijab kabul Si, pasti kamu ngrasain apa yang sudah pernah aku rasain, hehehe," kataku sambil menertawakannya.
Kami saling membuang canda.
Sudah semakin malam, akhirnya aku mengajak Susi untuk pulang.
"Si, pulang yuk udah malem," ajakku.
"Jadi beli cemilan gak kamu?" tanya Susi.
"Jadi," jawabku.
"Cemilan apa?" tanyanya lagi.
"Pengen asinan, nanti nyari-nyari di pinggir jalan aja," kataku sambil beranjak berdiri dari kasur dan mengambil kunci mobil.
"Ya udah sama an," kataku.
Setelah membayar makanan dan minuman yang kami pesan, aku dan Susi berjalan keluar dan langsung masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan mobil melaju sangat pelan karena sambil melihat-lihat pedagang di pinggir jalan kota malam ini.
"Mana Gi? Kok nggak nemu dari tadi," ucap Susi yang terus fokus melihat ke samping jendela mobil.
"Iya Si, kok gak ada, padahal aku pengen banget," kataku.
Kami menyusuri pinggir jalan.
"Itu Gi, minggir minggir," kata Susi.
Aku melihat penjual asinan itu.
Aku menepikan mobilku.
"Kamu disini aja, aku yang turun," kata Susi langsung membuka pintu mobilnya.
"Tapi Si," ucapku yang tidak terdengar olehnya.
Aku menunggu di dalam mobil.
Tak lama kemudian, Susi masuk ke dalam mobil dengan membawa sekantong asinan.
"Gi, ini aku beli sepuluh, kasihan masih banyak Gi, udah malem pula," ucap Susi sambil mengenakan seatbeltnya.
"Oh iya tadi aku mau ngomong sama kamu sekalian sama orang rumah mau aku beliin, eh kamu udah beli banyak ini," ucapku.
"Pengertiaan kah aku, siapa dulu dong," ucap Susi dengan menjulit lenganku.
Aku kembali melajukan mobilku untuk mengantarkan Susi pulang.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian sampai di depan kos Susi.
Mobilku berhenti di depan gerbang kos Susi.
"Gi ini ya buat kamu lima, aku lima," ucap Susi sambil meletakkan asinand di kursi belakang.
"Iya, berapa tadi?" tanyaku sambil membuka dompet.
"Nggak usah, apaan sih kamu," ucap Susi.
"Susi, jangan gitu," rayuku.
"Gia, gantian, udah ah gak papa, bye," kata Susi yang langsung kabur meninggalkan aku.
"Hati-hati Gi," kata Susi yang berdiri di samping mobilku sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Tin...tin. Suara bunyi klakson ku.
Mobilku melaju dengan sangat kencang, karena aku segera ingin sampai ke rumah dan segera menghubungi Naufal.
.
.
.
Beberapa menit kemudian akhirnya aku sampai di rumah.
Pak Joko mmebuka kan gerbang untukku.
Ku buka jendela mobilku.
"Pak, mobilnya Mas Naufal masih di luar?" tanyaku.
"Masih Buk," jawab Pak Joko.
"Saya minta tolong masukin ke garasi ya Pak," ucapku.
"Baik Buk," jawabnya.
Kembali ku tancap gas pelan mobilku dan Bi Sarah membukakan garasi untukku, lalu ku masukkan mobilku.
Aku keluar dari mobil dan Pak Joko menghampiriku.
"Bentar ya Pak saya ambilkan kuncinya," kataku langsung masuk ke dalam rumah dan berjalan menaiki anak tangga untuk ke kamar mengambilkan kunci Pak Joko.
Setelah mendapatkan kunci mobil Naufal, aku kembali berjalan menemuinya.
***(di Garasi)
"Ini Pak," kataku sambil menyerahkan kunci.
Pak Joko segera memasukkan mobil Naufal ke garasi.
Ku ambil sekantong asinan di dalam mobil, lalu ku bagikan pada Bi Sarah dan Pak Joko.
"Bi ini ya, asinan sama Pak Rusdi, enak kok," kataku sambil memberikan dua kotak asinan.
"Makasih Mbak," ucap Bi Sarah.
Pak Joko memberikan kunci mobil padaku kembali.
"Ini Pak asinan," kataku.
"Wah pasti enak ini Buk, makasih Buk," ucap Pak Joko.
"Sama-sama Pak," jawabku.
"Ya sudah saya masuk dulu ya," pamitku.
Aku berjalan menapaki anak tangga dan berjalan menuju masuk ke kamar.
Segera aku cuci muka dan gosok gigi, lalu mengganti gamisku dengan baju tidur.
Setelah selesai, dengan senang hati aku duduk di sofa.
Saat aku mengambil sekotak asinan yang akan ku makan, ponselku kembali berdering.
Ku angkat video call dari Naufal.
"Udah di rumah Sayang?" tanya Naufal.
"Udah, kamu dimana itu?" tanyaku ganti.
"Di balkon, nanti kalo di dalem pasti di gangguin sama Bastian, kasihan dia kalo tau kita mesra-mesraan Sayang," kata Naufal.
"Gue denger kali Fal," teriak Pak Bastian dari dalam.
"Huussstt udah jangan ghibahin Pak Bastian terus kamu tuh," tuturku.
"Makan apa? Nyemil mulu nanti gemuk," ejek Naufal.
"Cuman asinan kok, biarin aja gemuk," kataku sedikit ketus.
"Hahaha, kamu tidur gih, udah malem besok juga kerja," tutur Naufal.
"Kamu mau tidur?" tanyaku.
"Belum, cuman kan aku kasihan sama kamu Sayang," kata Naufal.
"Udah gini aja, aaarrghhh," gumamku dalam hati.
"Ya udah kamu tidur sana, aku mau nonton film dulu," kataku sambil berdiri untuk berpindah tempat duduk di ranjang.
"Kok malah nonton film, tidur Sayang," paksanya.
"Aku tidur kamu juga tidur," ancamku.
"Iya Sayang iya," jawab Naufal.
"Ya udah aku habisin dulu asinannya, abis itu aku tidur," kataku.
"Bye Sayang, Assalamu'alaikum," salam Naufal dengan senyumnya yang manis.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan langsung menutup telepon dari Naufal.
"Huuuumm Naufal gak tau apa gimana sih kalo istrinya kangen, Huuuffttt," kataku dalam hati.
"Sepi kan jadinya," keluhku.
Setelah ku habiskan asinannya, ku rebahkan tubuhku di atas ranjang tanpa mematikan lampu.
Sedangkan Naufal yang sekarang ada di negeri orang sama sekali tidak bisa tidur.
"Fal, bentaran doang Lo video call Gia," kata Pak Bastian.
"Iya, kenapa?" ucap Naufal.
"Lo gimana sih, pasti Gia sekarang mikirin Lo Fal, tau sendiri Gia sifatnya gimana, gak bisa kalo sendiri, video call lagi gih, gimana sih, gak peka banget sama bini, masak kalah sama Gue yang masih jomblo ini," ejek Pak Bastian.
"Bener juga Lo Bas, sebenarnya Gue dari tadi juga kepikiran sama dia, biasanya sebelah Gue Gia, sekarang Lo, aduuuh, kan Lo udah di sewain kamar sendiri kan Bas, ngapain harus ngikut Gue sih," ejek Naufal ganti.
"Lo mau tau alasannya? Nanti kalo Gue tidur sendiri di kamar sebelah, Gue gak bisa gangguin Lo," kata Pak Bastian langsung menutup wajahnya dengan selimut.
Naufal mencoba meneleponku.
"Hallo Assalamu'alaikum, ada apa Mas?" tanyaku.
"Wa'alaikumsalam, gak ada apa-apa Sayang, aku gak bisa tidur, keinget kamu terus," ucap Naufal.
Pipiku memerah mendengar gombalan Naufal itu.
"Garing tau," kataku malu-malu.
"Heleh, pasti kamu juga kan," tebak Naufal.
"Enggak, aku biasa aja," ucapku terpaksa berbohong.
"Gak mungkin, orang kamu waktu tadi aku mau berangkat, kamu rasanya berat banget, pengennya aku tetep sama kamu kan," tebak Naufal lagi yang semakin memojokkanku.
"Aku istrimu, jadi aku pantas seperti itu Mas," kataku dengan halus.
"Heheheh, akhirnya ngaku juga, ya udah aku temenin kamu sampai besok pagi telepon aku nggak aku matiin ya," kata Naufal.
"Segitunya banget Mas, nggak papa nggak usah," tepisku.
__ADS_1
"Sayang, gak boleh ngebantah suami, aku pengennya gitu," rengek Naufal.
Aku tersenyum-senyum sendiri.
"Baiklah, sebagai istri yang baik, aku nurut sama kamu," kataku tersipu malu.
"Kami tidur sendiri?" tanyaku.
"Enggak," jawab Naufal.
"Tidur sama siapa?" tanyaku lagi.
"Si Bastian nih gak mau tidur sendiri Sayang, padahal kan udah di sewain kamar sendiri-sendiri," keluh Naufal.
"Sekali-kali Gi nemenin Naufal tidur sendirian, kasihan, aku kan sebagai sahabat yang baik hehehe," sahut Pak Bastian.
"Apaan, udah biasa kali Gue tidur sendiri, yeeee, Lo aja kali yang takut tidur sendiri, makanya cepet nikah Bas," kata Naufal lirih.
"Masss.....," kataku.
"Lagian Sayang, dia nih cari gara-gara mulu," kata Naufal.
"Eh Sayang, gimana kalo Bastian kita kenalin aja sama sahabat kamu Susi," ucap Naufal.
"Eemmmmm......Boleh, tapi kayaknya Susi lagi deket sama cowok, kayaknya sih Mas, tapi gak tau juga, soalnya dia alergi masalah cinta katanya," jawabku.
Bastian membuka selimutnya kembali.
"Susi siapa Fal?" tanyanya lirih pada Naufal.
"Sahabatnya Gia," jawab Naufal.
"Pasti baik orangnya nggak neko-neko," tebak Pak Bastian.
"Anaknya baik kok, sopan banget, banyak plusnya," kataku.
"Tuh denger sendiri kan Lo," kata Naufal.
"Instagramnya apa Gi?" tanya Pak Bastian.
"Nanti aku kirim ke WA Mas Naufal," jawabku.
"Udah ah balik tidur sana, ganggu aja, orang Gue mau mesra-mesraan sama Gia," tepis Naufal.
"Yeeeeeee pelit banget sih Lo Fal," kata Pak Bastian yang kembali menutup tubuhnya dengan selimut.
Kami berbincang-bincang via telepon sampai aku tertidur.
.
.
.
.
Alarm dari ponselku berdering.
Aku terbangun dan meraih ponselku.
Pandanganku masih samar-samar, ku matikan alarm yang mengusik tidur lelapku.
Karena Naufal tidak ada di rumah, jadi aku tidak memasak untuknya dan kesempatanku untuk tidur kembali.
"Kok udah mati telepon dari Naufal, katanya nemenin aku sampe pagi," gumamku dalam hati.
"Huuummm, sudahlah," kataku.
Aku kembali merajut mimpi dalam tidurku meskipun tanpa Naufal yang ada di sampingku.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang, tetapi aku juga tak kunjung bangun.
Saat matahari mulai menampakkan diri, dan entah apa yang membuatku terbangun pada saat pagi itu.
"Kok udah terang," gumamku dalam hati.
Ku ambil ponselku untuk melihat pukul berapa aku terbangun.
Dan ternyata bangunku kesiangan.
"Astagfirullah, Ya Allah, aku kesiangan, aduuuuuhhh," keluhku.
Aku segera bangun, dan bergegas untuk mandi.
Beberapa menit setelah aku mandi, seperti biasa aku bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
Saat aku mengenakan kerudung, tiba-tiba ponselku berdering.
Dan lagi-lagi video call dari Naufal.
"Assalamu'alaikum, kenapa Mas?" tanyaku.
"Wa'alaikumsalam, gak papa Sayang, maaf ya tadi malem handphone aku lowbatt Sayang," ucap Naufal.
"Iya nggak papa kok Mas, kamu udah rapi banget mau kemana?" tanyaku.
"Meeting Sayang biasa," jawab Naufal.
"Ya udah Mas aku buru-buru banget, bangun kesiangan, jadi gak bisa ngobrol sama kamu lama-lama," kataku.
"Iya Sayang jangan ngebut loh, bye Assalamu'alaikum," salam Naufal.
"Wa'alaikumsalam," jawabku.
Setelah selesai memoles sedikit wajahku dan rapi dengan kerudungku.
Aku berjalan terburu-buru menuruni anak tangga untuk segera sarapan.
***(di Ruang Makan)
"Bi, Gia sarapan di mobil aja ya, Gia tolong bekelin roti Bi, maaf ya Bi ngrepotin, Gia bangun kesiangan, ini udah mepet," kataku sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.
"Iya Mbak," jawab Bi Sarah yang langsung mengambilkanku kotak kosong lalu diisi dengan roti yang sudah di olesi dengan selai.
"Ini Mbak," kata Bi Sarah sambil memberikan sekotak roti tadi.
"Makasih ya Bi, Gia jalan dulu, Assalamu'alaikum," pamitku sambil berjalan menuju garasi.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Mbak, jangan ngebut, asal selamat Mbak," tutur Bi Sarah.
***(di Garasi)
"Aduh mobilnya belum di panasin," gumamku dalam hati.
"Udah ah gak papa," kataku sambil langsung masuk ke dalam mobil.
Ku kenakan seatbelt lalu ku tancap gas mobilku dengan sangat kencang.
"Bismillah," kataku.
Bersambung......
__ADS_1