
Mobil melaju menuju lokasi gempa.
Di perjalanan, sehabis aku menghubungi Abay, dan sudah
sedikit terbayar rasa rindu pada Abay, Pak Bastian juga video call dengan Susi dan Anaknya.
“Kamu semobil sama siapa Mas?? Kok kayaknya Gia itu di
belakang kamu,” kata Susi di dalam ponsel Pak Bastian.
“Ini Gia sama Naufal,” jawab Pak Bastian sambil mengarahkan
kamera ponselnya pada kami.
“Hay Si,” kataku.
“Yang lain kemana kok cuman bertiga?" tanya Susi.
“Di mobil yang lain Sayang,” jawab Pak Bastian.
“Ini aja aku numpang, seharusnya aku nggak semobil sama
mereka, aku semobil sama Irene, tapi aku pisah aja kesini,” sambung Pak Bastian.
“Hhahaha, kenapa?? Takut aku cemburu?” tanya Susi.
“Ya iyalah Sayang, aku jaga perasaan kamu,” kata Pak
Bastian.
“Aagghemem,” Naufal langsung berdehem mendengar jawaban Pak Bastian.
“Hahahaha, ya udah nanti lagi Mas, aku mau nganterin anak
kamu,” kata Susi.
“Iya Sayang, bye,” ucap Naufal sambil melambaikan tangannya.
“Akhirnya kebayar juga rindu Gue sama Si Istri,” kata Pak Bastian.
Untung saja Pak Sopir yang ada di sebelah Pak Bastian hanya
diam dan tidak banyak berkata-kata.
“Udah Bas, diem kasihan Napaknya yang sebelah kamu itu loh,” sahut Naufal.
“Hahahaha, maaf ya Pak, kita kalo ketemu emang gini,” kata
Pak Bastian.
Pak Sopirnya sepertinya ramah dan tidak kaku pada kita.
“Hahaha, iya Mas nggak papa, saya malah senang kalo
penumpangnya humble gini, kalo diem-diem an juga nggak enak, heheheh,” jawab Pak Sopir.
“Pak, ini ke tempatnya jauh ya?” tanya Naufal.
“Lumayan Mas, mungkin satu setengah jam an dari bandara,”
jawab Pak Sopir.
“Haa?? Beneran Pak???” tanya Pak Bastian.
“Iya Mas, ini saya masih di tempat penginapannya, belum
nanti ke TKP nya langsung pasti Mas dan Mbaknya jalan dulu berapa kilo gitu,” kata Pak Sopir.
“Pelosok banget ya Pak??” tanya Pak Bastian.
“Iya Mas, ujung dunia, hehehe,” jawab Pak Sopir.
“Mas, memangnya kita nanti ke penginapan?? Nggak ke tempat yang biasa nya di sedia in PMI,” kataku.
“Iya itu maksud Bapaknya Sayang, bukan penginapan Vila
ataupun Hotel,” awab Naufal.
“Eemmm, kita tidurnya di matras kan?” tebakku.
“PAstinya Sayang, kenapa?? Kamu nggak biasa ya??” tanya
Naufal.
“Nggak papa lah Mas, belum pernah kan biar pernah,” jawabku.
“Soalnya kan disana ada beberapa penduduk yang dangkal dan
nggak mau ngungsi Sayang, terus yang parahnya lagi, banyak penduduk kena gizi buruk disana,” ucap Naufal.
“Eeeemmm gitu ya,” kataku.
“Sepertinya banyak relawannya ini Mas, soalnya tadi sebelum
Mbak dan Mas, sudah ada yang yang menuju TKP, teman saya yang antar,” sahut Pak Sopir.
“Iya Pak, darimana-mana ini pastinya, korbannya juga banyak, terus penduduk yang dangkal juga banyak, jadi otomatis banyak yang dikirim kesana,” jawab Pak Bastian.
“Ini ngomong-ngomong, asalnya dari mana ya Mas kalo saya
boleh tau?” tanya Pak Sopir.
“Dari ******** Pak,” jawab Naufal.
“Waaah,pasti Mbak sama Mas bakalan kaget ini sama medan yang bakalan dituju, hehehem, jalannya masih belum di aspal Mas, dan pastinya disana nggak ada AC, bahkan panas banget,” kata Pak sopir.
“Nggak papa Pak, di kota saya juga terbiasa panas banget,
hehehe,” sahut Pak Bastian.
“Wwaaah iya jelas Pak, disana kan banyak industri-industri
besar,” kata Pak Sopir.
.
.
.
.
.
.
Kami semakin jauh dari Bandara, dan semakin masuk ke jalan
yang hanya bisa dilewati satu mobil saja, dan jalannya pun memang belum di aspal.
“Gersang ya Pak ya disini,” kata Naufal.
“Iya Mas, kering,” kata Pak Sopir.
“Saya kira tempatnya banyak hijau-hijau an Pak, jadi bisa
buat cuci mata, kalo ini Mah pegunungan gersang Pak,” kata Pak Bastian.
“Jauh banget ya dari kota,” kataku.
“Ya jauh Sayang, namanya juga pelosok,”kata Naufal.
“Wah, siap-siap nggak ada signal nih Fal kita,”ucap Pak
Bastian.
“Pasti nya iya Pak, kalo mau signal nya bagus, ke kota dulu
Mas,” tutur Pak Sopir.
“Orang-orang disana gimana ya hidupnya, kan kalo di pelosok
cari apa-apa susah, nggak kebayang Gue Fal, kalo hidup lama disana,” ujar Pak Bastian.
“Maka nya Bas, kita dikasih kayak gitu tuh bersyukur
banget,” ucapku.
“Sumpah loh ini, jauh banget sumpah,,” ucap Pak Bastian yang
masih saja heran.
Mobil melaju semakin masuk ke hutan, namun bukan hutan yang biasanya kita lihat di lukisan, melainkan hutan ini gersang, tanahnya sangat-sangat kering, pepohonan berdiri kering, daun nya sama sekali tidak ada, tinggal cabang dan ranting-ranting nya saja.
Banyak debu, sangat panas disini, benar seperti apa yang
dikatakan Pak Sopir.
Bila seorang menjatuhkan satu batang api di hutan ini, pasti
sudah terbakar hangus semuanya.
“Panas banget ya Pak, bener banget apa yang dibilang Bapak,” kata Pak Bastian.
“Tuh tanahnya aja gersang abnget, kok bisa ya mereka hidup
di tempat ginian,” ocehan Pak Bastian.
Pak Bastian mengambil ponselnya dari dalam tas, dan melihat
signaldalamponselnya.
“Fal, Lo lihat deh signal di Hp Lo, sumpah gak ada signal sama sekali Fal,” ujar Pak Bastian.
“Seriusan Lo Bas?” tanya Naufal sambil melihat ponselnya,
aku pun juga.
Dan benar apa kata Pak Bastian, memang sama sekali tidak ada signal disini.
Pak Bastian menileh ke belakang, untuk melihat mobil
__ADS_1
rombongan kami yang lain.
“Pasti yang lainnya juga pada heran Fal dibawa kesini,” kata
Pak Bastian.
“Baru pertama kali ini loh Gue,” sambung Pak Bastian.
.
.
.
.
.
.
Tiba kami di sebuah bangunan sederhana, namun bukan gubuk, dan ada lambang PMI sangat besar disana.
“Ini Pak tempatnya??” tanya Pak Bastian.
“Iya Mas,”jawab Pak Sopir.
“Aaassshhhh, Alhamdulillah, akhirnya sampe, huuuuffttt jauh
banget,” keluh Pak Bastian.
Disana kami sudah di sambut dengan beberapa tenaga medis
dari Rumah Sakit lain disana dengan membawa spanduk.
“Bentar jangan keluar dulu, kita nunggu yang lain turun dulu
aja,” tutur Naufal.
Kami menunggu semua mobil sudah sampai di samping mobil yang kami tumpangi.
Kami pun keluar bersama-sama, dan kami di sambut oleh tenaga medis lain nya disana.
Kami bersalaman dengan mereka semua.
Aku melihat satu wajah yang menurutku tidak asing.
Wajah seorang laki-laki yang pernah ku temui saat masih
kecil. Tapi dia juga melihatku, bahkan kami saling curi pandang, mungkin dia juga merasakan apa yang aku rasakan, mungkin dia juga mengenalku, dia berada di tengah kerumunan dan gerombolan tenaga medis lainnya. Dia tinggi, agak berisi, kulitnya sangat putih, dan aku begitu ingat, bibirnya merah dari kecil.
“Siapa ya dia?” gumamku dalam hati.
Sayangnya, aku tidak bisa langsung bersalaman dengannya,
karena dia ada di tengah-tengah gerombolan orang.
Setelah kami semua bersalaman, kami di giring menuju sebuah
Aula yang lumayan besar untuk di beri sedikit arahan dan penjelasan.
.
.
.
.
.
Hampir setengah jam lebih di Aula, informasi nya telah di
berikan semuanya, benar, disini memang sangat-sangat panas.
“Panas banget ya Fal disini meskipun dikasih kipas angina,”
keluh Pak Bastian yang duduk di samping Nafal.
“Iya lah Bas, tau sendiri tadi gersang banget,” kata Naufal.
“Nggak ada angin sama sekali loh disini,” ucap Pak Bastian.
“He’em Bas, nggak ada gerakan angin sedikitpun disini,” ucap
Naufal.
.
.
.
Kami semua kembali ke sebuah tempat namun bukan gubuk tempat kami akan tidur disana, dan ternyata tempat istirahat laki-laki dan perempuan itu berbeda, aku tidak berama Naufal.
“Mas, terus gimana baju-baju kamu?? Kan kita nggak satu
tempat,” kataku.
kamu,” jawab Naufal.
“Nggak ribet ya Mas, masak tiap kali kamu mau apa-apa harus datang ke aku dulu,” kataku.
“Nggak papa Sayang, kalo nggak gitu kan kita ngak ketemu,
hehehe,” canda Naufal.
“Terusin aja Fal,” sahut Pak Bastian.
“Ini kamu nggak mau ambil sebagian, terus kamu taruh dalam
ransel kamu,” kataku.
“Enggak, udah nggak cukup Sayang, kan ranselnya kecil, muat
cuman peralatan mandi aja,” ucap Naufal.
“Ya udah nanti kamu kalo mau apa-apa WA aku ya,” ujarku.
“Emang bisa?? Kan nggak ada signal Sayang,” jawab Naufal.
“Ooo iya Mas, ya udah nanti kamu langsung cari aku aja, ya,”
tuturku.
“Iya, aku ke sana dulu ya,” ucap Naufal yang ditemani Pak
Bastian untuk menuju tempat istirahat mereka.
Naufal dan Pak Bastian melangkah kesana.
Aku membawa koperku masuk ke sebuah ruangan namun dindingnya bukan dari beton ataupun bata.
Untung saja tempatnya tidak lumayan besar, dan hanya bisa di
buat oleh tenaga medis dari Rumah Sakit kami saja.
Aku tidur bersebelahan dengan Si Suster namun di ranjang
yang berbeda.
“Dokter Gia,” sapanya yang sedang duduk-duduk di atas
matras.
“Eh Suster, disini tempat tidurnya?” tanyaku.
“Iya Dok, Hehehe kita bersebelahan kan, yang tadinya
jauh-jauhan terus,” kata Si Suster.
“eehhmm iya,” ucapku.
“Kasihan ya Dok, Dokter jadi jauh-jauh dari Dokter Naufal,”
ucapnya lirih.
“Hehehem, nggak papa lah,” sanggahlu.
“Sus ini kamar mandi nya dimana ya?? Kok nggak lihat dari
tadi,” tanyaku sambil melihat sekeliling kanan dan kiriku.
“Kalo kamar mandi di dalam sini nggak ada Dok, adanya di
luar, belakangnya tempat ini Dok,” jawabnya.
Gllekkk…….ku teguk salivaku.
“Di….bbb….belakang Sus??” tanyaku.
Si Suster menganggukkan kepalanya.
“Jauh nggak Sus dari sini??” tanyaku.
“Yah, nggak jauh-jauh banget Dok, disini kita tuh kayak pendaki Dok, kamar mandi nya ya seadanya,” ujar Si Suster.
“Kenapa?? Dokter nggak terbiasa ya??” tebak Suster.
“Eheemm…bukan begutu Sus, saya kamar mandi dimana aja sih
nggak papa, tapi kalo malam, saya kurang berani, hehehehe,” jawabku.
“Hahahaha, Dokter takut??” tanya Si Suster.
“Nggak papa, nanti kalo mau ke belakang minta tolong saya
aja Dok,” sambungnya.
“Ehehehem, iya Sus,” kataku.
“Panas banget ya Dok disini, saya keringetan loh dari tadi
__ADS_1
disini, meskipun ada kipas angina,” keluhnya.
“Hehehem, iya Sus,” kataku.
Ku lepas sepatu ku dan ku angkat kakiku keatas matras.
“Huuuffttt, istirahat dulu Sus, nanti jam setengah 3 kita ke
lokasi loh,” tuturku.
“Memangnya lokasinya jauh ya Dok,” tebak Si Suster dengan
wajah lelahnya.
“Nggak tau Sus, tapi kayaknya bukan masalah jauh atau nggak nya deh, tapi masalah medannya Sus, pasti susah, apalagi tanahnya disini kering banget,” kataku.
“Huuuffttt, iya sih Dok,” kata Si Suster.
Si Suster merebahkan tubuhnya, saat aku tengah akan
merebahkan tubuhku. Dojter Irene berjalan menghampiri kami.
“Mau istirahat ya?” tanya Dokter Irene.
“Ooh eeng……..enggak,” jawabku.
Dokter Irene duduk di matras tempat Suster tidur.
“Enak ya kalian bersebelahan, saya disana jauh dari kalian,
hehehem, nggak ada temen ngobrolnya,” ucapnya.
Aku ksasihan mendengar curhatan Dokter Irene, padahal sudah lama bekerja di Rumah Sakit ini namun tetap saja belum emmpunyai teman akrab.
Kami tidak jadi tidur bertiga, kami ngobrol bertiga.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, setelah aku selesai mandi, dan kami
semua bersiap-siap untuk segera ke lokasi.
Kami berjalan bersama-sama menuju lokasi dengan jalan yang
medannya tidak lagi gampang, bukan bersebu ataupun becek, banyak tanah yang biasanya kita temui di pegunungan, mengepal keras seperti batu.
Aku berjalan di samping Naufal, untung saja aku tak jadi
memakai heels.
“Astaghfirullah,” aku hampir terjatiuh karena tergelincir
oleh tanah keras yang ku ceritakan tadi.
Untung saja Naufal terus menyangga tanganku.
“Hati-hati kamu jalannya Gi,” tutur Naufal.
Ku lihat Dokter Irene yang juga kesusahan dan seperti
mengeluh dengan jalan ini.
“Mas Mas, kamu duluan aja nggak papa,akum au sama Dokter Irene,” kataku.
“Kamu bisa jalannya?’ tanya Naufal.
“Bisa kok, tenang aja,” jawabku sambil tersenyum padanya.
“Ya udah aku nyusul Bastian ke depan ya,” ucapnya.
“Iya Mas,”jawabku.
Aku berhenti sejenak menunggu Dokter Irene.
“Ayo Dok, kenapa berhenti?" tanya Dokter Irene.
“Capek ya, hehehe,” sambungnya.
“Enggak, hehem, saya nungguin Dokter, kasihan sendirian,”
jawabku.
Aku berjalan beriringan dengan Dokter Irene sekarang, semua melihatku karena akum au berteman dan dekat dengan Dokter Irene.
Lagi-lagi aku hampir terjatug, karena jalan yang juga
semakin jauh semakin memuncak.
“Tadi bukannya sama Dokter Naufal?” tanya Dokter Irene.
“Ehem, iya Dok,” jawabku.
“Kaki ku sakit banget Dok, tau gini tadi pagi sepatu kayak
kamu,” ucap Dokter Irene yang memakai wedges.
“Tadinya saya juga mau pake heels Dok, tapi untung saja saya bawa sepatu ini, lecet loh Dok kalo pake gituan, ini aja kaki saya udah sakit, tapi kan mereka semua yang di atas udah nungguin kita,” ujarku.
“Hehehem, iya sih Dok,” kata Dokter Irene.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di lokasi gempa.
Disana banyak berjejeran tenda pengungsian, aku melihat
wajah banyak korban disana, dengan kulit mereka yang kering dan kusam, dan tidur hanya beralaskan karpet, matras pun matras yang sangat tipis.
Hatiku ikut sedih melihat semua ini, aku merasa sangat
simpati pada mereka.
Saat banyak anak kecil yang girang menyambut kami, dengan
memakai baju dan celana yang bagiku tidak layak untuk di pakai mereka.
Aku ingin menangis melihat mereka, aku merasa lebih dan
lebih bersyukur dujauhkan dari marabahaya.
Hatiku menangis, aku menahan tangisanku.
Anak-anak kecil yang sepertinya usia nya masih 6-10 tahunan
menghampiri kami semua, dan memeluk kami semua, aku jadi teringat oleh Abay.
Sebenarnya air mata sudah memenuhi pelipik mata, namun aku
menahannya, karena aku malu menangis di tengah-tengah pelukan anak kecil yang
gembira menyambut kami semua.
“Hayy….”sapaku pada mereka semua.
“Namanya siapa ini??” tanyaku pada gadis kecil dengan rambut
yang agak sedikit blonde.
“Nara,” jawabnya dengan lembut.
“Nara….Nara kelas berapa?” tanyaku.
“2,” jawabnya.
“Nara sekolahnya dimana??” tanyaku lagi.
“Di sana, di atas, tapi sudah hancur,” jawabnya sambil
tangannya mengarahkan ke atas arah puncak.
.
.
.
.
Pengurus disana memanggil kami untuk berkumpul.
Aku melihat Naufal yang langsung melakukan wawancara saat
kami berkumpul untuk memperkenalkan diir kami masing-masing satu per satu.
“Didesa ini, merupakan desa terpencil yang sangat jauh dari
kota, dan sangat jarang di jamah oleh orang, mungkin hanya beberapa orang yang mau atau sangat berniat kesini, dikarenakan karena disini tidak jarang ada
listrik, tidak ada air bersih, dan jarak yang di tempuh juga sangatlah jauh,” kata Kepala Desa di desa ini.
Yang terus terpikirkan di pikiranku adalah.
“Kok bisa mereka hidup di tempat seperti ini??? Allah Maha
Adil,” kataku dalam hati.
Bersambung.........
__ADS_1