
Aku berlari masuk ke tendaku.
“Dimana ya Suster,” gumamku yang mencari-cari Suster di
dalam tenda.
Aku tidak menemukan dia disana, aku kembali keluar untuk
tetap mencarinya.
Dan ternyata saat aku keluar aku berpapasan dengan Si
Suster.
“Dokter, nyari siapa?” tanyanya.
“Huufftt, Sus kebetulan banget ketemu, saya nyariin Suster,”
jawabku dengan nafas agak tersenggal-senggal.
“Nyari saya?? Ada apa Dok??? Ada pasien darurat??” tanyanya bertubi-tubi.
“Nggak Sus, bukan masalah itu, saya mau minta tolong sama
Suster, temani saya cari signal,” jawabku.
“Cari signal, buat apa Dok???” tanyanya lagi.
“Mama saya dari tadi sms saya Sus, katanya Papa saya sakit,” jawabku.
“Ayo Sus, saya pengen nelfon Mama saya, nanyain gimana
kondisi Papa saya,” ucapku sambil menarik tangannya ingin ku bawa turun ke tempatku dan Naufal tadi menemukan signal di bawah.
“Nah ini kita mau kemana Dok??” tanyanya lagi.
“Ke bawah Sus,” jawabku.
“Ke atas aja Dok, di atas tadi ada beberapa signal, 1 kalo
nggak 2 Dok,” tutur Si Suster.
“Ya udah Sus, kemana aja nggak papa yang penting ada signal.” Kataku.
Si Suster mengajakku jalan ke atas.
“Sus, bukannya jalannya gelap ya,” kataku agak sedikit
takut.
“Kan saya temenin Dok, pasti juga sepanjang jalan di
pasangin lampu sama pengurus sini,” kata Si Suster.
“Dari pada kita ke bawah makin gelap Dok,” sambungnya.
Aku menuruti saja apa kata Si Suster, kami menyusuri jalan
menuju ke atas puncak berdua.
“Lagian ya Dok, kalo di atas kan banyak orang disana, kalo
di bawah kita cuman berdua Dok, iiih makin serem aja,” ucap Si Suster.
“Aaahh udah Sus jangan ngomongin yang horor-horor, kita
cuman jalan berdua loh ini,” kataku sambil menggandeng tangan Si Suster.
Di jalan menuju pincak lokasi yang tadi sore ku temui,
banyak lampu-lampu pedesaan, yakni lampunya memancarkan cahaya warna orange, bukan putih.
Ini warna lampu yang paling ku takuti karena selalu ada di
film horor jaman dulu.
“Hahahah, Dokter kenapa mepet-mepet gini??” tanya Si Suster.
“Kan ini ada lampu-lampunya banyak Dok,” sambungnya.
“Lampu ginian saya agak takut Sus,” jawabku.
“Hahahahaha,” Suster menertawakanku.
“Ya ampun Dok, Dokter aja sama jenazah berani masak sama
hantu takut,” ejek Si Suster.
“Kan beda Sus, kalo jenazah memang saya nggak takut, tapi
kalo jin pasti saya agak berhati-hati,” ucapku.
“Hahaha, namanya orang taku sih memang gak bisa di salahin
Dok, saya dulu juga gitu, takut sama kuda lumping, tapi sekarang udah nggak takut sih Dok, hehehe,” cerita Suster.
Sambil berjalan ddan bercerita melewati jalanan dengan tanah
keras menggumpal seperti bebatuan, tak terasa akhirnya kami sampai di atas, yaaaa meskipun di atas tidak begitu ramai, seenggaknya ada beberapa orang yang mondar mandir disana.
“Nah, kalo disini kan ada orang yang masih jalan kesana
kesini Dok, kalo kita ke bawah mana ada,” ucapnya.
__ADS_1
“Hehehem, makasih Sus sudah menemani saya,” kataku.
“Iya Dok, nggak papa, saya temenin sampe kita ke bawah lagi,”ujarnya.
Si Suster menarik tanganku agak ke bibir bukit tempat dia
menemukan signal.
“Sini Dok, agak sini,” tuturnya.
Aku berdiri tepat dimana Si Suster menyuruhku.
“Nah disini Dok tadi saya nemuin signal nya, gimana Dok???
Ada??” tanyanya.
“Ada Sus, ada, hehehem,” kataku yang gembira karena
mendapatkan 1 jaringan signal.
“Coba buat Dokter telfon bisa nggak??” tanya Si Suster yang
berdiri di sebelahku.
“Bentar Sus,” jawabku.
Aku mencoba menghubungi Mamaku namun tidak bisa karena
signal hanya ada 1 dalam ponselku.
“Kayaknya nggak bisa deh Sus,soalnya signalnya Cuma satu,”
keluhku.
“Bentar-bentar Dokter duduk disini dulu,” tutrnya.
“Suster mau kemana?” tanyaku.
“Bentar doang Dok,” jawabnya yang sudah melangkah
meninggalkanku.
Aku duduk lesehan sendirian di sana, sambil menaik-naikkan
ponselku agar mendapatkan signal.
Sekitar 10 menit kemudian, Si Suster kembali membawa sebuah benda hitam yang berukuran tidak terlalu besar.
“Apa itu Sus??” tanyaku.
“Ini itu alat penguat signal Dok,” jawabnya.
“Suster nemuin dimana??” tanyaku sambil ememgang benda itu.
Dokter, langsung dikasih,” jawabnya.
“Kok Suster tau kalo Pak RT punya ginian??” tanyaku lagi
sambil menaikkan satu alisku.
“Tau lah Dok, tadi kan saya sempat di tawari sama Bapaknya,” jawab Si Suster.
“Terus ini gimana Sus caranya, saya nggak bisa,” kataku.
“Ini kabelnya tinggal di tancepin aja Dok,” jawabnya.
Ku tancapkan ujung kabel itu pada lubang di ponselku.
"Terus gimana Sus??" tanyaku lagi.
"Bentar-bentar, coba mana HP nya Dok saya pinjam bentar," kata Si Suster itu.
“Udah, coba dilihat Dok, berapa signalnya??” tanya Suster.
“Signal nya jadi ada 3 loh Sus, hehehem, Suster makasih
yaaaa, udah bantuin saya,” kataku.
“Iya nggak papa Dok, udah sekarang Dokter ngobrol dulu sama keluarganya, saya tinggal dulu ke Pak RT, ya,” ujar Si Suster.
“Iya Sus, tapi jangan lama-lama ya, saya takut disini
sendiri lama-lama,” kataku.
“Iya Dok,” jawabnya.
Si Suster melangkah meninggalkanku, aku kembali duduk bersila dan segera menelepon Mamaku.
Tut…..tut……tut…
Sebenarnya agak susah, namun aku tetap terus menghubungi
Mamaku sampai bisa.
Tut…..Tut….Tut….
Mama mengangkat telepon dariku.
“Assalamu’alaikum,” salam MAmaku.
“Wa’alaikumsalam, Ma, Mama denger Gia,” kataku.
“Iya Nak iya, Mama dengar,” jawabnya.
__ADS_1
“Ma, disini signal susah banget, ini Gia agak ke puncak,
jadi maklmum ya Ma kalo signalnya ke putus-putus,” kataku.
“Iya Na…” jawab MAmaku dan teleponnya terputus lagi.
Aku menelepon Mama ku kembali.
“Hallo Ma,” kataku.
“Hallo…….Hallo Nak, gimana-gimana?? Udah jelas ini suara
kamu,” kata Mamaku.
“Ma, Gia ke puncak bisa telfon Mama, maaf ya Ma, Gia nggak
tau kalo Mama sms Gia dari tadi,” ucapku.
“Iya nggak papa Nak,” jawab Mamaku.
“Keadaan Papa gimana Ma??" tanyaku yang langsung menjurus pada kondisi Papaku.
“Papa kamu……Papa kamu opname seperti kemaren, tapi kamu jangan khawatir, Papa kamu nggak papa kok, cuman kecapek an lagi aja,” jawab Mamaku.
“Bener cuman kecapek an Ma???” tanyaku yang kurang yakin
dengan ajwaban Mama.
“Iya Papa kamu cuman kecapek an aja,” jawab Mamaku yang
mencoba membuatku yakin.
“Bukan nya Papa udah minum vitamin rutin ya Ma,” ucapku.
“Iya Nak, sudah tapi kan nggak tau juga Nak, Papa juga udah
tua kan,” kata Mama.
“Ma, Papa beneran cuman ke capek an, jangan-jangan
penyakitnya kambuh lagi ya,” kataku yang membahas kejadian dulu lagi.
“Nak, Mama kan sudah bilang sama kamu, jangan bahas itu
lagi, Mama kan minta sama kamu buat lupain kejadian itu,” kata Mamaku agak sedikit menekan.
Aku tau sebenarnya Mama bohong padaku, agar aku tidak
mengkhawatirkan keadaan Papaku, karena Mama juga nggak mau jika aku kepikiran bisa-bisa aku juga jatuh sakit karena memikirkan keadaan Papaku.
“Mama nggak bohong kan sama Gia??” tanyaku dengan air mata yang memenuhi pelupuk mataku.
“Papa kamu cuman kecapek an aja Nak, paling juga cuman 3
hari udah pulang,” kata Mamaku.
"Mama selalu aja alasan sama aku gitu," gumamku dalam hati.
“Terus Papa sekarang mana Ma, Gia mau ngomong sama Papa,” ucapku sambil meneteskan air mata di kedua pipiku.
“Papa kamu…..Papa kamu sudah tidur Nak, baru saja,” jawab
Mamaku.
Begitu jelas disini, bahwa ada yang di sembunyikan Mama
dariku.
“Oh gitu ya Ma, ya udah Ma, Mama sehat-sehat ya, semoga
Papacepat sembuh,” kataku.
“Gia nggak usah khawatir ya, jangan banyak kepikiran, Papa
akan baik-baik saja, dan Mama……"
Tut….tut….tut.
“Hallo Ma.....Mama,” ucapku saat mendengar telepon kami
terputus.
“Asssshhh, keputus lagi,” kataku sambil mematikan ponselku.
Ku bujurkan kedua kakiku sambil menangis, ku lipat lututku dan
ku sembunyikan wajah sedihku di dalamnya.
Aku menangistanpa suara.
“Huhuhuhu, Papa cepat sembuh ya,” kataku dalam hati.
Aku terus menangis dan tersu menangis sedih.
Tiba-tiba ada yang memanggil namaku dari belakang.
“Gi,” panggilnya.
Saat aku mendengar suaranya, aku langsung berhenti menangis, dan mengusap air mataku.
“Siapa yang manggil aku disini???” tanyaku dalam hati.
“Jangan-jangan…”
__ADS_1
Bersambung..........