Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 177 (Susah Signal 2)


__ADS_3

Aku berlari masuk ke tendaku.


“Dimana ya Suster,” gumamku yang mencari-cari Suster di


dalam tenda.


Aku tidak menemukan dia disana, aku kembali keluar untuk


tetap mencarinya.


Dan ternyata saat aku keluar aku berpapasan dengan Si


Suster.


“Dokter, nyari siapa?” tanyanya.


“Huufftt, Sus kebetulan banget ketemu, saya nyariin Suster,”


jawabku dengan nafas agak tersenggal-senggal.


“Nyari saya?? Ada apa Dok??? Ada pasien darurat??” tanyanya bertubi-tubi.


“Nggak Sus, bukan masalah itu, saya mau minta tolong sama


Suster, temani saya cari signal,” jawabku.


“Cari signal, buat apa Dok???” tanyanya lagi.


“Mama saya dari tadi sms saya Sus, katanya Papa saya sakit,” jawabku.


“Ayo Sus, saya pengen nelfon Mama saya, nanyain gimana


kondisi Papa saya,” ucapku sambil menarik tangannya ingin ku bawa turun ke tempatku dan Naufal tadi menemukan signal di bawah.


“Nah ini kita mau kemana Dok??” tanyanya lagi.


“Ke bawah Sus,” jawabku.


“Ke atas aja Dok, di atas tadi ada beberapa signal, 1 kalo


nggak 2 Dok,” tutur Si Suster.


“Ya udah Sus, kemana aja nggak papa yang penting ada signal.” Kataku.


Si Suster mengajakku jalan ke atas.


“Sus, bukannya jalannya gelap ya,” kataku agak sedikit


takut.


“Kan saya temenin Dok, pasti juga sepanjang jalan di


pasangin lampu sama pengurus sini,” kata Si Suster.


“Dari pada kita ke bawah makin gelap Dok,” sambungnya.


Aku menuruti saja apa kata Si Suster, kami menyusuri jalan


menuju ke atas puncak berdua.


“Lagian ya Dok, kalo di atas kan banyak orang disana, kalo


di bawah kita cuman berdua Dok, iiih makin serem aja,” ucap Si Suster.


“Aaahh udah Sus jangan ngomongin yang horor-horor, kita


cuman jalan berdua loh ini,” kataku sambil menggandeng tangan Si Suster.


Di jalan menuju pincak lokasi yang tadi sore ku temui,


banyak lampu-lampu pedesaan, yakni lampunya memancarkan cahaya warna orange, bukan putih.


Ini warna lampu yang paling ku takuti karena selalu ada di


film horor jaman dulu.


“Hahahah, Dokter kenapa mepet-mepet gini??” tanya Si Suster.


“Kan ini ada lampu-lampunya banyak Dok,” sambungnya.


“Lampu ginian saya agak takut Sus,” jawabku.


“Hahahahaha,” Suster menertawakanku.


“Ya ampun Dok, Dokter aja sama jenazah berani masak sama


hantu takut,” ejek Si Suster.


“Kan beda Sus, kalo jenazah memang saya nggak takut, tapi


kalo jin pasti saya agak berhati-hati,” ucapku.


“Hahaha, namanya orang taku sih memang gak bisa di salahin


Dok, saya dulu juga gitu, takut sama kuda lumping, tapi sekarang udah nggak takut sih Dok, hehehe,” cerita Suster.


Sambil berjalan ddan bercerita melewati jalanan dengan tanah


keras menggumpal seperti bebatuan, tak terasa akhirnya kami sampai di atas, yaaaa meskipun di atas tidak begitu ramai, seenggaknya ada beberapa orang yang mondar mandir disana.


“Nah, kalo disini kan ada orang yang masih jalan kesana


kesini Dok, kalo kita ke bawah mana ada,” ucapnya.

__ADS_1


“Hehehem, makasih Sus sudah menemani saya,” kataku.


“Iya Dok, nggak papa, saya temenin sampe kita ke bawah lagi,”ujarnya.


Si Suster menarik tanganku agak ke bibir bukit tempat dia


menemukan signal.


“Sini Dok, agak sini,” tuturnya.


Aku berdiri tepat dimana Si Suster menyuruhku.


“Nah disini Dok tadi saya nemuin signal nya, gimana Dok???


Ada??” tanyanya.


“Ada Sus, ada, hehehem,” kataku yang gembira karena


mendapatkan 1 jaringan signal.


“Coba buat Dokter telfon bisa nggak??” tanya Si Suster yang


berdiri di sebelahku.


“Bentar Sus,” jawabku.


Aku mencoba menghubungi Mamaku namun tidak bisa karena


signal hanya ada 1 dalam ponselku.


“Kayaknya nggak bisa deh Sus,soalnya signalnya Cuma satu,”


keluhku.


“Bentar-bentar Dokter duduk disini dulu,” tutrnya.


“Suster mau kemana?” tanyaku.


“Bentar doang Dok,” jawabnya yang sudah melangkah


meninggalkanku.


Aku duduk lesehan sendirian di sana, sambil menaik-naikkan


ponselku agar mendapatkan signal.


Sekitar 10 menit kemudian, Si Suster kembali membawa sebuah benda hitam yang berukuran tidak terlalu besar.


“Apa itu Sus??” tanyaku.


“Ini itu alat penguat signal Dok,” jawabnya.


“Suster nemuin dimana??” tanyaku sambil ememgang benda itu.


Dokter, langsung dikasih,” jawabnya.


“Kok Suster tau kalo Pak RT punya ginian??” tanyaku lagi


sambil menaikkan satu alisku.


“Tau lah Dok, tadi kan saya sempat di tawari sama Bapaknya,” jawab Si Suster.


“Terus ini gimana Sus caranya, saya nggak bisa,” kataku.


“Ini kabelnya tinggal di tancepin aja Dok,” jawabnya.


Ku tancapkan ujung kabel itu pada lubang di ponselku.


"Terus gimana Sus??" tanyaku lagi.


"Bentar-bentar, coba mana HP nya Dok saya pinjam bentar," kata Si Suster itu.


“Udah, coba dilihat Dok, berapa signalnya??” tanya Suster.


“Signal nya jadi ada 3 loh Sus, hehehem, Suster makasih


yaaaa, udah bantuin saya,” kataku.


“Iya nggak papa Dok, udah sekarang Dokter ngobrol dulu sama keluarganya, saya tinggal dulu ke Pak RT, ya,” ujar Si Suster.


“Iya Sus, tapi jangan lama-lama ya, saya takut disini


sendiri lama-lama,” kataku.


“Iya Dok,” jawabnya.


Si Suster melangkah meninggalkanku, aku kembali duduk bersila dan segera menelepon Mamaku.


Tut…..tut……tut…


Sebenarnya agak susah, namun aku tetap terus menghubungi


Mamaku sampai bisa.


Tut…..Tut….Tut….


Mama mengangkat telepon dariku.


“Assalamu’alaikum,” salam MAmaku.


“Wa’alaikumsalam, Ma, Mama denger Gia,” kataku.


“Iya Nak iya, Mama dengar,” jawabnya.

__ADS_1


“Ma, disini signal susah banget, ini Gia agak ke puncak,


jadi maklmum ya Ma kalo signalnya ke putus-putus,” kataku.


“Iya Na…” jawab MAmaku dan teleponnya terputus lagi.


Aku menelepon Mama ku kembali.


“Hallo Ma,” kataku.


“Hallo…….Hallo Nak, gimana-gimana?? Udah jelas ini suara


kamu,” kata Mamaku.


“Ma, Gia ke puncak bisa telfon Mama, maaf ya Ma, Gia nggak


tau kalo Mama sms Gia dari tadi,” ucapku.


“Iya nggak papa Nak,” jawab Mamaku.


“Keadaan Papa gimana Ma??" tanyaku yang langsung menjurus pada kondisi Papaku.


“Papa kamu……Papa kamu opname seperti kemaren, tapi kamu jangan khawatir, Papa kamu nggak papa kok, cuman kecapek an lagi aja,” jawab Mamaku.


“Bener cuman kecapek an Ma???” tanyaku yang kurang yakin


dengan ajwaban Mama.


“Iya Papa kamu cuman kecapek an aja,” jawab Mamaku yang


mencoba membuatku yakin.


“Bukan nya Papa udah minum vitamin rutin ya Ma,” ucapku.


“Iya Nak, sudah tapi kan nggak tau juga Nak, Papa juga udah


tua kan,” kata Mama.


“Ma, Papa beneran cuman ke capek an, jangan-jangan


penyakitnya kambuh lagi ya,” kataku yang membahas kejadian dulu lagi.


“Nak, Mama kan sudah bilang sama kamu, jangan bahas itu


lagi, Mama kan minta sama kamu buat lupain kejadian itu,” kata Mamaku agak sedikit menekan.


Aku tau sebenarnya Mama bohong padaku, agar aku tidak


mengkhawatirkan keadaan Papaku, karena Mama juga nggak mau jika aku kepikiran bisa-bisa aku juga jatuh sakit karena memikirkan keadaan Papaku.


“Mama nggak bohong kan sama Gia??” tanyaku dengan air mata yang memenuhi pelupuk mataku.


“Papa kamu cuman kecapek an aja Nak, paling juga cuman 3


hari udah pulang,” kata Mamaku.


"Mama selalu aja alasan sama aku gitu," gumamku dalam hati.


“Terus Papa sekarang mana Ma, Gia mau ngomong sama Papa,” ucapku sambil meneteskan air mata di kedua pipiku.


“Papa kamu…..Papa kamu sudah tidur Nak, baru saja,” jawab


Mamaku.


Begitu jelas disini, bahwa ada yang di sembunyikan Mama


dariku.


“Oh gitu ya Ma, ya udah Ma, Mama sehat-sehat ya, semoga


Papacepat sembuh,” kataku.


“Gia nggak usah khawatir ya, jangan banyak kepikiran, Papa


akan baik-baik saja, dan Mama……"


Tut….tut….tut.


“Hallo Ma.....Mama,” ucapku saat mendengar telepon kami


terputus.


“Asssshhh, keputus lagi,” kataku sambil mematikan ponselku.


Ku bujurkan kedua kakiku sambil menangis, ku lipat lututku dan


ku sembunyikan wajah sedihku di dalamnya.


Aku menangistanpa suara.


“Huhuhuhu, Papa cepat sembuh ya,” kataku dalam hati.


Aku terus menangis dan tersu menangis sedih.


Tiba-tiba ada yang memanggil namaku dari belakang.


“Gi,” panggilnya.


Saat aku mendengar suaranya, aku langsung berhenti menangis, dan mengusap air mataku.


“Siapa yang manggil aku disini???” tanyaku dalam hati.


“Jangan-jangan…”

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2