
Malam ini sungguh sangat berbeda dengan berpuluh malam yang biasanya mereka lewati, sejak Naufal mengakui bahwa dia sudah berhasil mencintai Gia, Naufal mengambil haknya sebagai suami malam ini. Naufal menguasai semuanya.
Honeymoon kali ini adalah kali pertama Naufal akhirnya berani menyentuh Gia.
Namun Gia tidak paham sama sekali mengenai hal ini, Gia dengan polosnya hanya diam atas apa yang telah dilakukan Naufal, Naufal bersikap sangat manis dan lembut pada Gia seakan akan bahwa malam itu dunia hanya miliknya semata. Mengingat ini adalah kali pertama mereka berhubungan layaknya pasangan suami istri. Mereka menghiraukan semuanya.
Malam ini Gia merasa bahwa dia sudah benar-bernar dimiliki seutuhnya oleh seorang Naufal. Bagi Gia malam ini menjadi malam yang tidak akan pernah dia lupakan.
Mereka larut bersama hembusan angin malam yang sangat dingin menusuk tulang sum-sum mereka.
Beberapa jam kemudian.
Adzan shubuh dari ponsel Gia berkumandang, Gia membuka pelan matanya, Gia memandang suaminya yang masih tidur pulas di dekapannya.
Gia malu dengan kejadian semalam, pelan-pelan Gia menurunkan kakinya untuk berlari ke kamar mandi.
Gia berjalan sangat pelan menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Gia mengingat kejadian semalam.
"Aduh, bisa bisanya sih," gumam Gia dalam hati sambil menepuk keningnya.
"Pasti aku sangat malu jika bertatapan dengan Naufal? Aduh gimana nih? Kok gini banget sih," oceh Gia sendirian.
Selama Gia mengoceh sendiri di dalam kamar mandi, dia terus memikirkan hal itu, sampai-sampai Naufal mengetuk pintu kamar mandi.
"Gi," panggil Naufal.
"Ii..iya?" jawab Gia.
"Cepetan, keburu shubuhnya habis," perintah Naufal dengan sengaja mengerjai Gia.
"Aduh, mana udah bangun lagi dia, gimana dong ini?" gerutu dalam hati Gia.
"Gi, kok diam?" tanya Naufal sambil tertawa di luar pintu karena Naufal sepertinya sudah mengetahui sikap malu Gia.
"Iya bentar, kamu sabar dong," kata Gia.
Beberapa menit, Gia keluar dari kamar mandi, Naufal tepat berdiri di depan pintu kamar mandi.
Gia hanya menundukkan kepalanya karena malu pada Naufal.
"Kamu kenapa? Beda banget," tanya Naufal.
"Gak papa," jawab Gia singkat dan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Naufal.
Naufal semakin gemas melihat sikap Gia. Naufal malah menertawakan Gia di dalam kamar mandi.
Deg.....deg......deg suara detak jantung Gia.
"Huuffttt, gimana nih? Apa aku seharian pura-pura tidur aja ya, atau gimana? Aduh ayolah Gia," ucap Gia sambil mondar mandir di samping ranjangnya.
Sampai Naufal selesai mandi Gia masih mondar-mandir disana, Naufal yang tau dengan kekonyolan Gia menahan tawanya.
Ucapan Naufal menghentikan langkah Gia.
"Kamu ngapain mondar mandir mondar mandir, hm kenapa?" tanya Naufal.
Gia terpaku dan berdiri kaku membelakangi Naufal. Gia malu menatap Naufal.
"Aa...aku," jawab Gia grogi.
"Aku apa?" tanya Naufal lagi sambil menghampiri Gia dari arah belakang.
"Aku mau ke kamar mandi lagi, perutku sakit," keluh Gia.
Naufal tau Gia hanya berpura-pura padanya.
__ADS_1
Saat Gia berjalan menuju kamar mandi, Naufal dengan cekatan menarik pergelangan tangan Gia.
Naufal membalikkan badannya menghadap Gia, sedangkan Gia tetap membelakangi Naufal.
"Bohong dosa loh Gi," goda Naufal dengan nada menertawakan Gia.
"Aduh, kenapa sih dia tau," gumam Gia dalam hati sambil mengernyitkan kedua alisnya dan membulatkan bibirnya.
"Udah, nggak usah malu, kenapa harus malu sih?" ucap Naufal.
"Siapa yang malu? Aku biasa aja," bantah Gia membela diri.
"Ketauan kali Gi," ejek Naufal lagi.
"Enggak, aku nggak malu," bantah Gia lagi.
"Masak iya? Kok dari tadi kamu cuekin aku, kamu nggak berani natap aku sama sekali, bahkan saat ini kamu membelakangiku," kata Naufal yang sengaja membuat Gia semakin malu.
"Kata siapa? Nih aku berani natap kamu," kata Gia.
Dengan terpaksa Gia membalikkan badannya, dan menatap mata Naufal.
Hati keduanya berdegup tak karuan.
Deg.....deg....deg.
Suara ketukan pintu membuyarkan tatapan mereka.
Tok.....tok....tok.
Naufal yang masih mengenakan handuk kimono putih polos berjalan untuk membuka pintu.
Glekkkk.
Ternyata Naufal yang mengetuk pintu.
"Ngapain?" tanya Naufal sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya Allah Bas, ini masih shubuh loh, sholat dulus sana," perintah Naufal.
"Gue udah sholat kali, maksudnya ya habis sholat kita berangkatnya," ucap Naufal.
"Iya bentar, lagian Gia juga belum siap," kata Naufal.
"Mana Gia? pasti shubuh gini udah seger mandi uuhh andai aja yang dijodohkan dengan Gia adalah Gue, udah Gue..." goda Bastian sengaja ingin membuat hati Naufal memanas.
"Udah udah sana balik ke kamar Lo, ganggu aja masih shubuh," perintah Naufal dengan kesal.
"Wkwkwkwkw," Bastian menertawakan Naufal yang pencemburu.
Naufal menutup kamarnya, dan langsung mengajak Gia sholat.
Setelah mereka sholat, Gia melihat raut wajah Naufal yang tidak menyenangkan.
"Kamu kenapa lagi? Kok tiba-tiba banget," tanya Gia sambil melipat mukenah.
"Tau ah," jawab Naufal sambil berdiri meninggalkan Gia.
"Loh loh kok ngambek ya, kamu kenapa sih? Tiba-tiba ngambek sama aku gini," tanya Gia.
Naufal menceritakan obrolannya dengan Bastian tadi di depan pintu pada Gia.
"Wkwkwkwkwk, kamu cemburu?" tanya Gia lagi.
"Ya iyalah Gi, secara kamu istriku," keluh Naufal.
"Udah ya pokoknya nanti aku akan temenin kamu duduk di belakang, terus nanti kalo pake gamis yang biasa aja," perintah Naufal.
__ADS_1
"Ya ampun sampek segitunya kamu, kan biasanya aku juga pake gamis yang biasa aja," kata Gia.
"Ya pokoknya nanti gamisnya aku yang milihin, terus kamu gak usah tuh pake make up segala," tutur Naufal sambil memonyongkan mulutnya.
"Kan aku biasanya emang gak pake make up Mas, paling cuman maskara sama lipt tint aja," kata Gia.
"Khusus kita di Bali kamu gak boleh pake itu semua," tutur Naufal.
"Iya iya Mas, wkwkwk kamu nih lucu banget kalo cemburu," ejek Gia.
"Ya udah sekarang kamu siap-siap, aku mau milihin kamu gamis," kata Naufal sambil membuka koper Gia.
Naufal memilih-milih gamis Gia, dan menyuruhnya untuk memakainya, sampai berkali-kali Gia di suruh ganti dengan Naufal.
"Nah kamu pake itu aja," perintah Naufal.
Gia menuruti setiap apa yang dikatakan Naufal.
Gia membenahi kerudungnya di depan kaca rias dan Naufal merapikan rambutnya.
Selang beberapa menit, mereka sudah selesai bersiap-siap llau keluar dari kamar dan menuju parkiran.
***(di Parkiran)
Rupanya Bastian sudah menunggu Naufal dan Gia disana.
"Udah dari tadi?" tanya Naufal.
"Nggak lama kok, tenang aja, meskipun nungguin seharian gapapa kok, asal ada tuh belakang kamu, wkwkwkwk," bisik Bastian ingin membuat hati Naufal memanas lagi.
Gia yang tepat berdiri di belakangnya. Hanya diam memperhatikan tingkah dua sahabat itu.
"Gi, cepetan kamu masuk mobil," perintah Naufal.
Tanpa menjawab, Gia langsung masuk ke mobil.
Naufal dan Bastian segera menyusulnya.
Gia heran kenapa suaminya duduk di belakang bersamanya.
"Loh kamu kok jadi duduk belakang, kasihan Bastian Mas," ucap Gia lirih.
"Nggak papa Gi, Naufal takut istrinya ilang," ejek Bastian.
Naufal semakin kesal dengan Bastian, Naufal langsung meraih dan menggenggam tangan Gia.
"Mas, malu dilihatin temen kamu," kata Gia lirih.
"Kita kan udah sah," ucap Naufal.
Bastian melihat tingkah pasutri yang gaduh di belakang dari kaca mobilnya.
"Udah Lo, fokus aja nyetir sana," kata Naufal yang mengetahui lirikan Bastian
"Wkkwwkw, iya iya Fal," jawab Bastian.
"Katanya Lo bawa temen, mana?" tanya Naufal.
"Nanti kamu pasti tau sendiri," jawab Bastian.
Mobil mereka berjalan santai menuju restoran.
Bersambung............
Tunggu episode selanjutnya kak😊
jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak ya😁🙏
__ADS_1
Terima kasih untuk semuanya dan sudah menemani Author di episode ini.
See you....