Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 76 (Puncak)


__ADS_3

***(di Caffe Puncak)


Tak terasa sudah perjalan agak panjang kami untuk sambil ke private cafe ini.


Naufal memarkirkan mobilnya,


"Itu Sayang tempatnya?" tanya Naufal.


"Iya Mas, bagus kan," ucapku.


"Dari luarnya aja udah bagus gini Gi, kok kamu nemu aja sih tempat kek gini," kata Naufal sambil mematikan mesin mobilnya.


"Aku aja kemaren nggak sengaja lewat sini Mas, ya udah aku berhenti aja," jawabku.


Kemudian kami turun dari mobil.


Lalu Naufal menggandeng tangan ku dan kami berjalan masuk ke cafe tersebut.


"Sore Mbak Mas, bisa isi data ini sebentar, karena anda datang berpasangan," ucap pegawai itu dengan ramah sambil menyunggingkan kedua pipinya.


"Kamu aja Sayang yang ngisi," ucap Naufal sambil melihat-lihat ke sekelilingnya.


Saat aku tengah mengisi data tersebut, tepat di bagian atas kertas tertera nama "Kevin Wirawan".


Deggggg...Pena ku berhenti bergerak.


"Kevin?? Jangan-jangan ini cafe punya Pak Kevin," gumamku dalam hati.


"Tapi.....nggak mungkin, kan nama Kevin Wirawan bukan nama beliau doang," gerutuku dalam hati sambil menaikkan satu alisku.


"Kenapa Sayang? Kok belum di isi," tanya Naufal.


"Eemmm.....enggak ini barusan mau aku isi kok," jawabku sambil tersenyum padanya agar tidak curiga.


Setelah aku mengisi penuh data tersebut, kami melangkah masuk dan duduk berdua di sofa yang bernuansa abu itu.


Balkon yang agak luas dengan pemandangan gunung bagai lukisan.


"Viewnya juga bagus ya Gi?" tanyanya.


Aku bengong dan masih memikirkan nama itu.


"Gia," panggil Naufal sambil melambaikan tangannya di depan mataku.


"Emhhm...maaf Mas, aku nglamun," jawabku.


Seorang 2 pelayan wanita menghampiri kami lalu memberi kami buku menu makanan dan minuman.


Satu pers satu makanan kami pesan tak lupa dengan minumannya.


Lalu mereka permisi untuk meninggalkan kami.


"Sayang, kamu tadi nglamunin apa?" tanyanya.


"Aku tadi waktu ngisi data customernya, tadi di atas sendiri itu nama cafenya terus bawahnya lagi itu anak nama Kevin Wirawan Mas," jawabku dengan lirih.


"Terus yang jadi masalah apa Gi?" tanyanya lagi sambil mengambil ponsel di saku celana bawahnya.


"Aku takut kalo Kevin Wirawan itu Pak Kevin dosen aku Mas," kataku dengan ragu karena takut Mas Naufal marah.


"Takut kenapa? Takut aku marah, ya bagus dong kalo cafe ini punya Si Kevin kan kita ketemu dia, dan kita bisa clear in masalah kamu sama dia sekalian juga Meira, biar kamu nggak dihantui rasa bersalah terus Sayang," tuturnya dengan santai.


"Aku pikir kamu bakalan marah sama aku, aku nggak tau kalo cafe ini atas nama Kevin, soalnya kemaren aku nggak ada ngisi data gitu Mas," ucapku.


"Gia....Gia, kamu itu selalu negatif thinking aja, gak bakalan bisa lah aku marah sama kamu, kamu jangan takut-takut gitu sama aku," tuturnya lagi.


"Kan aku jaga perasaan kamu, aku nggak mau nyakitin perasaan kamu," kataku.


Naufal meraih tanganku, lalu digenggam oleh kedua tangannya.


"Sayang, gimana pun kamu buat salah sama aku, aku gak akan bisa marah sama kamu, gak akan tega aku marah sama kamu, jadi kamu yang terbuka aja sama aku, gak usah ada yang di tutup-tutupi, kayak gini kan enak kamu langsung ngomong, jadinya kita gak pake acara tengkar lagi," tuturnya sambil jarinya mengelus-elus tanganku.


Lalu pelayan datang membawa makanan dan minuman pesanan kami.


Mereka menuangkan sebotol minuman di gelas Naufal.


Setelah selesai menyajikan pesanan kami, mereka berjalan meninggalkan kami.


Kami segera menyantap makanan pesanan kami.


"Mas, tadi yang di tuangin ini apa?" tanya sambil mengangkat botolnya.


"Equil," jawabnya lalu meneguknya.


"Isinya?" tanyaku lagi yang penasaran dengan botol berwarna hijau panjang itu.


"Air Sayang," jawabnya lagi.


"Air apa?" tanyaku lagi dan lagi.


"Air apa ya? Air mineral lah Sayang," jawabnya.


"Kamu kira apa hayo? Pasti kamu ngiranya minuman beralkohol kan?" tebak Naufal yang seakan-akan bisa membaca pikiranku.


"Kok tau? Aku tadi ngiranya gitu," ucapku sambil menaikkan satu alisku.


"Wkwkwkwk, ya tau lah Sayang, iiih kamus segitunya menilai aku, ya gak mungkin lah aku minum gituan, kamu nih bisa-bisanya, dipukul Papaku tau rasa aku," ucapnya.


"Kan aku gak tau Mas," ucapku.


Kami begitu menikmati makanan dan minuman di cafe yang bagiku VIP ini.


Setelah dirasa kami sudah sedikit puas menjajah menu makanan di sini, dan senja semakin menampakkan diri di hadapan kami, akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang.


Saat kami keluar dari cafe tersebut, tiba-tiba Pak Kevin keluar dari mobilnya.


Langkah kami pun terhenti, Naufal dan Pak Kevin saling menatap kuat.


Aku menarik tangan Naufal agar tidak terjadi pertengkaran di antara mereka.


"Mas, udah ayo pulang," ucapku lirih.

__ADS_1


"Bentar Sayang ini harus segera selesai," ucap Naufal.


Naufal melangkah mendekat pada Pak Kevin.


"Aku mau bicara sama kamu Vin," ucap Naufal.


"Memangnya ada urusan apa aku sama kamu?" tanya Pak Kevin sambil mengangkat keningnya.


"Bukan aku yang punya urusan sama kamu, ini urusanmu di masa lalu bersama istriku," kata Naufal dengan tegas.


Dengan posisi tinggi badan mereka yang sejajar, aku sangatlah paling pendek saat itu yang berdiri di antara mereka berdua.


"Apa lagi? Semuanya udah selesai," jawabnya dengan nada agak emosi.


"Asal kamu tau, kemaren tunangan kamu Meira dateng ke rumahku buat ngehina istriku, mencaci istriku, karena dia merasa gagal membuatmu jatuh cinta padanya, dia sudah tau bahwa Gia pernah kamu cintai," kata Naufal.


"Bukan pernah, bahkan sampai detik ini aku masih sangat mencintainya," ucap Naufal di depan mata Naufal.


Deggg....


"Mas, udah Mas pulang ya," rayuku sambil mengelus lengan Naufal.


"Aku sama sekali tidak keberatan jika kamu mencintai istriku, tapi aku minta tolong sama kamu, jaga tunangan kamu!!!! Bilang sama dia, jangan pernah sekali-kali nyentuh Gia, ucapan yang kemaren di lontarkan tunanganmu pada istriku sangatlah tidak pantas berada di rumahku," kata Naufal sedikit menekan.


Tiba-tiba mobil warna kuning datang dan terparkir di sebelah mobil Pak Kevin.


Ternyata wanita yang turun dari mobil adalah Meira.


Pandangan kami tertuju padanya.


Raut wajah Meira langsung berubah menjadi marah.


Ia menghampiri kami.


"Kamu masih berani kesini!!! Nyariin Kevin kamu," ucap Meira.


"Enggak, kami kebetulan ketemu disini, tadi ak...," ucapku terpotong olehnya.


"Ini istri yang anda banggakan Dokter Naufal, sok baik ini, sok pendiam tapi nusuk dari belakang," caci Meira.


Air mataku memenuhi pelupuk mata.


"Meira, jaga ucapan kamu!!! Dia sama sekali tidak bersalah, aku yang mencintainya, hatiku yang berpihak padanya, jangan sekali-kali kamu mencaci dia," kata Pak Kevin.


"Kamu jahat Vin!!! AKU CINTA SAMA KAMU!!!! Kenapa kamu begitu buta??Haaa??? Lebih milih perempuan ini," kata Meira dengan segala amarahnya.


"Maaf Mbak Meira, dulu saya belum sempat cerita sama Mbak Meira karena keadaan Mbak Meira yang masih sakit," ucapku.


"Hallaah, alasan saja!!! Aku sudah tau sifat asli kamu!!!" ucap Meira lagi.


"Aku kurang apa lagi Vin, Ha??? Begitu mudah kamu memalingkan hati dari aku," kata Meira.


Pak Kevin hanya tertunduk diam.


"Cinta itu gak bisa dipaksa," kata Pak Kevin.


"Sudah jelas, istri saya sama sekali tidak salah disini, dan untuk anda Meira jangan pernah temui istri saya lagi, jangan pernah menyangkut pautkan Gia di masalah cinta kalian," kata Naufal langsung menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam mobil.


Tampaknya Pak Kevin melihatku dari luar mobil, dia kelihatan sangat tidak terima.


"Enggak Mas, gak papa, kita pulang aja ya," ajakku.


"Iya Sayang, cup cup kamu jangan nangis," ucap Naufal lalu mencium keningku.


Naufal langsung menancap gas mobilnya dengan kencang.


"Mas kenapa sih nggak Vela nggak Mbak Meira gitu sama aku, segitu salahnya aku sampe mereka begitu benci sama aku," kataku dengan isak tangisku.


"Enggak Sayang, kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri, ya emang gini takdirnya, mau gimana lagi? Takdir gak bisa ngerubah apapun, hatiku buat kamu ya buat kamu, udah mentok gitu Sayang," tutur Naufal.


Aku mendengarkan setiap tutur yang Naufal ucapkan untuk ku.


Beberapa menit kemudian Naufal berhenti di depan masjid di pinggir jalan.


"Sayang, kamu tunggu disini?" tanyanya.


"Iya aku disini aja," jawabku.


"Ya udah aku sholat dulu ya," kata Naufal.


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


Naufal keluar dari mobil dan masuk ke masjid untuk melaksanakan sholat magrib.


Tiba-tiba, ponselku berbunyi.


Ternyata video call dari Papa.


"Assalamu'alaikum Nak, lagi dimana?" tanya Papaku.


"Wa'alaikumsalam Pa, ini Gia lagi nunggu Mas Naufal sholat," jawabku.


"Papa gimana? Semua sehat kan Pa?" tanyaku.


"Alhamdulillah Nak semua sehat," jawabnya.


"Papa kapan pulang?" tanyaku lagi.


"Bulan depan kayaknya Nak, kamu baik-baik saja kan sama Naufal?" tanyanya lagi.


"Hehehe Papa kok nanya nya gitu, pasti Gia sama Mas Naufal sangat baik-baik saja Pa," ucapku sambil tersenyum manis di layar ponselku.


"Syukurlah, Gia abis dari mana ini?" tanya lagi.


"Gia ini tadi habis ke puncak, jalan-jalan sama Mas Naufal Pa," jawabku.


"Sering-sering gitu Nak, biar rumah tangga adem ayem, Gia suka masakin Naufal nggak?" goda Papaku.


"Gia selalu masakin Mas Naufal Pa tiap pagi dini hari, hehehe seperti Mama kalo Papa di rumah," jawabku.


Sepertinya Naufal telah selesai melaksanakan sholat, tampak dia sedang duduk mengenakan sepatunya.

__ADS_1


Layar ponsel ku arahkan padanya.


"Itu Pa Mas Naufal," ucapku.


Naufal masuk ke dalam mobil.


"Siapa Gi?" tanyanya.


"Papa Mas," jawabku.


"Papa, apa kabar?" tanyanya.


"Alhamdulillah sehat Fal, gimana kerja kamu sama bisnis kamu?" tanya Papaku.


"Alhamdulillah Pa, lancar berkat doa dari Papa, Mama dan juga Gia, hehe," jawab Naufal.


"Ingat selalu janji kamu sama Papa ya Fal," kata Papaku agak sedikit becanda.


"Pasti Pa Naufal ingat selalu kalo masalah itu Pa, hehehe," jawabnya sambil ikut becanda.


Aku semakin penasaran atas apa yang mereka bicarakan.


"Janji? Janji apa?" gumamku dalam hati sambil mengernyitkan kedua alisku.


"Ya udah kalo gitu kalian lanjut ya Nak," ujar Papaku.


"Iya Pa, Assalamu'alaikum," salamku dan Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawab Papaku.


Ku tutup video call dari Papa.


"Mas, janji apa sih?" tanyaku kepo.


"Apa ya? Mau tau aja kamu Sayang," goda Naufal.


"Kan gitu lagi, males aku ngomong sama kamu," jawabku sambil membuang pandanganku ke samping jendela mobil.


Naufal menyalakan mesin mobilnya dan kembali melaju menyusuri jalan puncak yang sudah gelap.


"Kamu kok ngambek gitu sih Sayang, hehehe, janji itu loh masak kamu nggak tau," ucapnya.


"Aku kan nggak jadi nanya, tadi aku tarik pertanyaan ku sama kamu, dasar kamu pelit banget," ejek ku.


"Eh eh eh, kok aku pelit? Enggak Sayang, wkwkwk gini loh, janji yang dulu pernah aku ucapin waktu kita akad, ya janji itu Gi, apa lagi? Gak ada yang lain," ujar Naufal.


"Aku kan nggak jadi kepo, weeekkk," ejek ku pada Naufal sambil mendekap kedua tanganku.


"Udah terlanjur di jawab loh Gi," ejek nya balik.


"Gi, tolong ambilin bantal di samping badan aku ini, rasanya gak enak banget," perintahnya.


Dengan segera aku mengambil bantal kecil yang terhimpit oleh badan Naufal dan pintu. Dengan susah payah aku meraihnya sampai-sampai wajahku dekat banget dengan pipi Naufal, kurang setengah senti lagi aku bisa menciumnya.


Tapi aku menahannya.


Deg.....deg...deg.


"Jantungku.....Kambuh lagi nih pasti kalo deket Naufal, ya ampun," gumamku dalam hati sambil bengong tak kunjung mengambil bantal.


Naufal sepertinya tau detak jantungku yang berdegup semakin kencang jika berada di dekatnya.


Dengan sengaja Naufal menekan remnya sedikit, dan akhirnya pipi Naufal tercium olehku.


Dengan cekatan aku mengambil bantalnya.


"Kamu sengaja ya," ucapku agak kesal.


"Wkwkwkwkwkwkwk," Naufal tertawa terbahak-bahak.


"Abis kamu ngambil bantal lama banget Sayang, itu tuh akibatnya kalo bandel-bandel," ejeknya sambil terus menertawakanku.


"Dasar kamu cari kesempatan dalam kesempitan, curang banget," keluhku.


"Kan udah halal Gi, jadi yaaa........kapan pun gak papa dong," kata Naufal.


"Lagian kalo gak gitu kamu jarang kan, kamu pasti malu kan, hahaha," ucap Naufal.


"Enggak, kata siapa? Iiiih," kataku membela diri.


Padahal sebenarnya benar apa yang dikatakan oleh Naufal.


"Coba buktiin sekarang kalo gak malu," ucapnya sambil memiringkan badannya agar pipinya dekat denganku.


"Tapi nggak sekarang, weeekkkk," kataku sambil menjorok tubuh Naufal.


"Aaaah kamu Sayang, bilang aja kalo malu," kata Naufal.


Aku merasa kesal padanya, lalu ku dekatkan mulutku padanya, ku gigit lengannya.


"Aaawww.......Sayang sakit banget," keluh Naufal.


"Itu akibatnya kalo ngerjain istrinya," kataku.


"Kamu sadis banget, takut aku Sayang, gigit lengan pula, Hahaha," ejeknya lagi.


"Tau ah," ucapku ngambek pada Naufal.


Aku melihat ke arah jalan depan, anehnya jalan ini bukan jalan kami menuju jalan untuk pulang.


"Naufal mau kemana? Kok ini bukan jalan pulang?" gumamku dalam hati.


"Dia juga gak bilang sama aku mau mampir ke mana dulu," gumamku lagi dalam hati.


"Mas, kita mau kemana?" tanyaku dengan judes.


"Ada deh, nanti kamu tau sendiri, hehehe pasti kamu seneng," jawab Naufal.


Bersambung.........


Tetep stay disini ya kak, jangan lupa like komen dan votenya😁🖤

__ADS_1


Tunggu episode selanjutnya pasti akan ada kejutan lainnya. hehehe


__ADS_2