
Keesokan harinya.
Noni bangun dan langsung mencari Naufal.
"Uncle......Uncle," panggilnya.
Aku segera menghampirinya, Abay terganggu oleh suara Noni.
"Noni Uncle di bawah, bentar lagi pasti kesini," ucapku sangat lirih dan menidurkan Abay kembali.
Dengan kata-kata ku Noni malah menangis.
"Huuuaaaaa,"
Abay kaget dan terbangun lalu dia ikut menangis karena mungkin Abay merasa terganggu.
"Bentar ya, Aunty panggilin Uncle dulu ya, cup cup jangan nangis ya Noni," kataku.
Aku segera turun untuk memanggil Naufal sambil menggendong Abay.
"Mas.....Mas," panggilku.
Naufal segera menghampiriku.
"Kenapa Gi?" tanyanya.
"Noni nyariin kamu," jawabku.
Naufal langsung berlari menaiki anak tangga meninggalaknku.
"Huuufttt,"
Aku mengikutinya dari belakang.
Di dalam kamar Naufal langsung menggendong Noni.
"Mas," panggilku.
"Mas," panggilku lagi yang terabaikan olehnya.
"Ya sudahlah kasihan Mas Naufal," ucapku.
Aku pergi untuk menghentikan Abay agar tidak menangis.
Untung saja kebetulan hari ini Naufal libur.
Segera Bi Sarah memandikan Abay.
Setelah semuanya mandi, kami segera sarapan.
***(Di Ruang Makan)
Saat kami sarapan, Abay di gendong oleh Bi Sarah, aku sarapan pagi bersama Naufal dan Noni saja.
"Uncle, habis ini Noni pengen berenang," ucap Noni.
"Iya nanti Uncle ajak berenang ya," jawab Naufal yang terus menurutinya.
Aku hanya diam memperhatikan mereka.
Setelah makan, Naufal menemani Noni berenang di kolam renang halaman belakang.
Aku melihatnya sambil menggendong Abay karena kebetulan aku juga berjemur.
"Sayang sini," ajak Naufal.
"Iiih ada-ada kamu, aku bawa Abay," kataku.
Naufal berjalan menghampiriku, dan duduk di samping sambil "ngudang" Abay kalo kata orang jawa.
Keluarga serasa sangat lengkap dan bahagia.
Naufal mencoba menggendong Abay.
"Bisa Mas?" tanyaku.
"Bisa Sayang, kemarin aja aku bisa," jawabnya.
Aku khawatir karena untuk kedua kalinya Naufal menggendong bayi tetapi dia sangat kaku tak bisa lemas sepertiku.
Aku melihat Naufal yang sangat bahagia sekali berdiri di tepi kolam sambil menjemur badan Abay.
Tiba-tiba, Noni gelagapan dalam air, karena dia terlepas dari pelampung flaminggo milik Naufal.
"Mas Noni Mas!!!" panggilku.
Naufal langsung panik melihat Noni.
Naufal memberikan Abay padaku dan langsung menolong Noni.
"Uhuk uhuk," Noni batuk karena kemasukan air.
"Ya ampun Noni," kataku khawatir.
Naufal menggendongnya dan duduk di sampingku, dia terlihat sangat khawatir pada Noni.
"Astagfirullah, tadi kamu kok bisa jatuh Non?" tanyanya pada Noni.
Noni hanya menangis dan tidak menjawab pertanyaan Naufal.
"Udah Mas sekalian mandi aja kamu bawa Noni ke atas," tuturku.
Naufal membawa Noni langsung ke atas, dan dia langsung memandikan Noni.
Tak lama kemudian aku menyusulnya ke atas.
***(Di Kamar)
Naufal berdiri sambil menelepon Mama Noni.
Naufal mengadu pada Mama Noni jika Noni habis terjatuh masuk ke dalam kolam renang.
Dan Mama Noni memutuskan untuk menjemputnya saja.
"Mas, Noni dijemput?" tanyaku.
"Iya, Mamanya sendiri yang mau jemput," jawab Naufal.
"Uncle, Noni nggak mau pulang, huhuhu," ucap Noni sambil menangis.
"Mas kasihan Noni dia masih pengen disini," tuturku.
"Aku maunya juga gitu Sayang, tapi kan kita dia Mamanya," kata Naufal.
"Aunty, Noni nggak mau pulang Aunty," rayu Noni padaku.
"Emmm....iiii....iya Noni, Noni jangan nangis ya, nanti Aunty coba bicara sama Mama Noni," kataku.
Aku dan Naufal mencoba menenangkan Noni dengan berbagai cara agar dia tidak menangis.
Hingga hari sudah siang, adzan dhuhur berkumandang, aku, Noni dan Naufal segera melaksanakan sholat dhuhur.
Setelah sholat, Abay tidur di ranjangnya, Naufal mencoba untuk menidurkan Noni.
__ADS_1
Saat Noni sudah tidur, beberapa jam kemudian, Mama Noni datang menjemputnya.
Tok...tok...tok. Suara ketukan pintu kamarku.
Naufal segera membuka kan pintunya.
Gleekkkk.
"Huussttss," ucap Naufal sambil membungkan mulutnya dengan telunjuk jarinya.
"Mana Noni?" tanya Mama Noni dengan lirih yang sepertinya sudah mengerti.
"Noni tidur, masuk aja," jawab Naufal.
Mama Noni berjalan masuk ke dalam kamar kami.
Naufal menceritakan kejadian tadi pagi.
"Mbak, apa nggak biarin Noni disini aja dulu," rayuku.
"Iya, kasihan loh anaknya, nanti kalo sampe rumah nangis gimana," sahut Naufal.
"Sebenarnya aku tidak ingin merepotkan kalian, apalagi kalian sekarang sudah punya bayi," gumam dalam hati Mama Noni.
"Emmm enggak, Noni aku bawa pulang aja, soalnya besok aku mau ajak dia pergi," ucap Mama Noni yang berbohong.
"Pergi?? Kemana??!" tanya Naufal yang sepertinya sangat tidak ikhlas jika Noni harus pulangs sekarang.
"Emmm....pergi.....pergi ke Eyangnya," jawab Mama Noni.
"Kok mendadak banget?" tanya Naufal lagi yang masih tak terima.
"Iya soalnya.....soalnya barusan aja tadi waktu mau berangkat kesini Eyangnya telfon aku Fal," alasan Mama Noni.
"Oh ya udah kalo gitu," jawab Naufal yang pasrah.
"Mumpung sekarang Noni masih tidur, jadi aku gendong dia aja langsung aku bawa pulang," kata Mama Noni.
Mama Noni segera menggendong, dan Naufal membawakan tas Noni.
"Gi, aku pamit pulang ya, maaf banget Noni disini ngrepotin kamu," pamit Mama Noni.
"Ah nggak papa Mbak, nggak ngerepotin, hehehe," tepisku.
"Aku pulang ya Gi, Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Iya Mbak, Wa'alaikumsalam," jawabku.
Naufal mengantarkan Mama Noni ke depan.
Aku melihatnya mereka dari balkon kamarku.
Tiba-tiba rasa cemburu itu menghuni dalam hatiku.
"Mas Naufal deket banget sama Mamanya Noni," gumamku dalam hati.
Sampai-sampai dia melihat mobilnya melaju keluar dari Rumah.
Tak lama kemudian, Naufal kembali ke Kamar.
"Gi," panggilnya.
"Iya?" jawabku.
Dia tidak mencariku, tapi dia mencari Abay, tak henti-hentinya dia menciumi Abay.
"Wajahnya kayak aku ya Gi," ucapnya.
"Hehehem, kayak aku lah Mas, tuh lihat matanya," kataku.
"Bulu matanya loh lentik kayak aku," ucapnya lagi yang tidak mau kalah dariku.
"Aarrghh, kalo itu kalah udah aku Mas," kataku menyerah.
Hari semakin malam, bulan bersinar sangat terang malam ini, aku dan Naufal berbaring di atas Ranjang, dan Abay masih dalam gendongan Bi Sarah karena dia terus menangis dan aku kuwalahan.
"Mas, aku boleh ngomong nggak?" tanyaku.
"Ngomong apa??? Kok pake nanya dulu," jawab Naufal.
Sebenarnya aku sangat takut membicarakan ini pada Naufal, karena aku takut dia salah paham.
"Eeemmm....nggak jadi deh Mas," ucapku karena ragu.
"Loh kok nggak jadi???"
"Nggak nggak, harus jadi," ucap Naufal.
Aku mencoba mengungkapkan unek-unekku padanya.
"Kamu jangan marah ya," rayuku.
Naufal langsung menggeser tubuhnya padaku.
"Tumben kamu gini?? Kamu kenapa sih Sayang, bilang aja sama aku, aku nggak bakal marah sama kamu, kamu pernah lihat aku marah sama kamu," ucapnya.
"Ayo bilang sama aku," paksanya.
"Kamu sayang banget sama Noni," ucapku.
"Sampe-sampe tadi aku sempet manggil-manggil kamu tadi kamu nggak respon sama aku, waktu kamu tadi gendong Noni, padahal tadi Abay juga nangis loh Mas," kataku terus terang.
"Ya...ya aku nggak keberatan, aku nggak iri, dan aku juga nggak merasa kamu pilih kasih atau gimana, cuman kamu emang kayak sayang banget gitu sama keluarga Noni," kataku dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk mataku.
"Apalagi aku nggak tau ya Mas, lama-kelamaan aku merasa cemburu, aku nggak tau karena rasa ini tiba-tiba tumbuh begitu saja, apalagi saat kamu bersama Noni dan Mamanya, segitu sayangnya ya kamu sama mereka?" tanyaku.
Naufal diam dan menatap kedua mataku.
"Bukan begitu Gi, kamu salah, kamu salah besar," bantahnya.
"Aku kasihan sama Noni, dia anak yatim Gi," ucapnya.
"Iya tapi kayak beda aja gitu Mas," kataku.
"Beda gimana Sayang? Gak ada yang beda dari aku, aku dari dulu sama mereka kan tetep gini," ucapnya.
"Kamu kok jadi gini Gi," kata Naufal.
"Huuummm, sebaiknya aku diam saja daripada jadi panjang masalahnya," kataku dalam hati.
"Huumm okey," jawabku.
"Kok kamu gitu jawabnya," ucapnya sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Dari pada nanti kita malah jadi panjang debutnya," kataku.
"Ya nggak gitu Gi, kamu udah baik jujur sama aku, ayolah kamu bilang semua sama aku," paksanya.
"Ya kan sekarang kamu ada Abay Mas, tapi kamu, huumm sudahlah Mas, nanti kamu akan mengerti sendiri," kataku menyerah padanya.
"Kita punya keluarga sendiri loh Mas, kamu boleh kapan pun sama Noni, tapi kamu juga harus tau, disini ada aku, ada Abay, dulu aku biarin kamu, tapi sekarang kamu udah punya anak sendiri, dulu aja kamu benar-benar sangat menginginkan Abay, tapi kamu malah gini," keluhku.
"Gini gimana sih Gi?? Aku juga sayang banget loh sama Abay bahkan melebihi ke Noni, kamu kok tiba-tiba mempermasalahkan banget soal ini, ini amanah loh Gi, dia anak sepupu aku," ucapnya yang sedikit tegas padaku.
__ADS_1
"Kamu nanya ke aku kenapa aku mempersalahkan ini, ya karena aku baru sadar, kalo kamu mengedepankan Noni Mas daripada Abay, aku merasa cemburu, aku tau ini amanah, tapi kamu juga harus ngerti memposisikan mereka," kataku.
"Udahlah Mas, aku nggak mau debut sama kamu," kataku langsung menghapus air mataku dan berjalan keluar dari kamar untuk mengambil Noni dari Bi Sarah.
"Maafin aku kalo kata-kataku nyakitin kamu, dan kamu nggak harus bersuara menekan gitu ke aku," ucapku.
Aku merasa kesal dengan Naufal, dan aku merasa kesal pada diriku sendiri.
***(Di Ruang Tamu)
"Abay udah tidur Bi?" tanyaku.
"Udah Mbak," jawab Bi Sarah.
"Maaf ya Bi, Gia ngrepotin Bibi," kataku.
"Nggak papa Mbak, Bibi malah seneng," jawab Bi Sarah.
Bi Sarah menyerahkan Abay padaku.
"Makasih ya Bi," ucapku.
"Iya Mbak, sama-sama," kata Bi Sarah.
"Gia tidur dulu ya Bi, Bibi juga istirahat," tuturku.
Aku berjalan meninggalkan Bi Sarah.
***(Di Kamar)
Naufal langsung menghadangku saat aku membuka kamar.
"Kamu kenapa berdiri disini?" tanyaku.
"Kamu tadi marah sama aku?" tanyanya padaku.
"Marah?? Kapan aku marah sama kamu Mas, aku gak ada marah sama kamu," jawabku.
"Tadi kamu langsung ninggalin aku gitu aja," ucapnya.
"Ya karena aku nggak mau malah dipanjangin lagi Mas masalahnya," kataku dengan sangat halus padanya.
"Buat apa??" tanyaku.
Aku berjalan meninggalkannya.
"Mending sekarang kamu tidur, besok kamu kerja," tuturku.
Naufal langsung menyusulku dan mematikan lampunya.
Dia kembali menghadapku.
"Sayang," panggilnya.
"Apa?" tanyaku singkat.
"Kamu segitu cemburunya ya?" tanyanya lagi.
"Udah nggak usah dibahas, ini waktunya kita istirahat," jawabku.
"Aku bingung loh Gi sekarang sama kamu," ucapnya.
"Mas, ini ada Abay, aku nggak mau kita debut dan terdengar telinganya meskipun dia sedang tidur dan tidak mengerti sama sekali apa yang kita ucapkan," kataku yang langsung membuatnya diam.
Akhirnya kami pun tertidur.
Aku tidak bisa tidur karena memikirkan Naufal.
Dan semalaman Abay juga menangis terus, Naufal terus mencoba menggendong dan menenangkannya.
Mungkin Abay juga merasakan kegelisahan hati Mamanya.
"Kamu kenapa sih Nak nangis terus hm?" ucap Naufal sendirian.
Sampai-sampai Naufal bersholawat untuk Abay hingga tengah malam.
"Sini aku yang gendong aja," kataku.
Naufal memberikan Abay padaku.
Abay langsung diam dan tidak menangis lagi ketika dalam gendonganku.
"Abay, tidur ya Nak, kasihan Papa besok kerja," tuturku sambil meneteskan air mata.
"Kamu tidur aja Mas nggak papa," tuturku pada Naufal.
"Enggak Sayang, aku bakalan temenin kamu sampe Abay juga tidur," bantahnya.
"Kamu besok kerja loh Mas, udah nggak papa, ini udah hampir setengah satu," tuturku lagi.
"Aku nggak mau Gi, aku nggak mau kamu sendirian ngurusin Abay, sedangkan aku enak-enakan tidur-tidur an," ucapnya.
Aku menghampirinya, menatapnya, lalu mencium pipi kirinya.
Setelah Abay berhasil tertidur kembali, aku segera meletakannya di ranjang kami.
"Gini ya Gi kalo punya anak, tantangan tiap malem," canda Naufal.
"Hehehm, ya gini lah Mas," ucapku.
"Tapi seru, jarang-jarang aku begadang kayak gini," kata Naufal sambil menatap langit-langit atap.
"Dulu begadangnya buat tugas, kerjaan, ini makins seru, buat Abay, apalagi begadangnya sama kamu," ucap Naufal yang tersenyum dan menoleh padaku.
"Heemmm bisa aja," ucapku yang membalas senyumnya.
"Heemm rasanya lengkap banget Mas, ada aku, kamu, sama Abay, jadi aku nggak merasa bersalah sama kamu, sama Mama Papa kamu, sama Mama Papa aku," ucapku.
"Udah lah Sayang, kenapa kamu bahas itu lagi," ucapnya.
"Mas, aku belum cerita kan ke kamu kalo aku mimpi buruk lagi untuk yang kedua kalinya, dan itu seperti nyata," kataku.
"Mimpi?? Mimpi apa kamu Gi?" tanyanya yang mulai penasaran.
"Aku mimpi kalo bayi kita meninggal Mas waktu itu," kataku.
Aku menceritakan semuanya pada Naufal, sampai Naufal meneteskan air matanya kembali.
"Maaf ya Gi, kalo aku sebagai suami banyak kurangnya ke kamu, dan itu sering banget," kata Naufal.
"Enggak Mas, kamu jangan bilang gitu, aku yang banyak kurang ke kamu," kataku padanya.
"Enggak Gi, berkali-kali aku membahayakan kamu, dan yang terakhir aku tidak buat kamu," ucapnya yang menyesali karena tidak menemaniku.
"Udah lah Mas, itu bukan salah kamu, semua yang terjadi itu takdir, dan aku juga nggak nyalahin kamu kan," kataku mencoba membuatnya tidak bersalah.
"Tapi membekas gitu Gi di pikiran aku, gak bisa aku lupain, aku terus merasa bersalah, padahal moment itu yang aku tunggu-tunggu," ucapnya.
"Sudah Mas, semua sudah terjadi, udah ya, sekarang mending kita tidur," tuturku.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 2 dini hari.
Aku dan Naufal memaksakan mata kami menutup dan ingin segera tidur.
__ADS_1
Bersambung.....