
Naufal berkali-kali meminta maaf padaku.
"Maafin aku Sayang, aku tidak bisa nemenin kamu," ucapnya.
"Lampiaskan semua ke aku, aku nggak papa," ujar Naufal.
"Mas, aku boleh tidak ingin bertemu dengan orang-orang dulu, aku nggak kuat Mas, huhuhuhu,"
"Aku nggak kuat menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang mereka, itu malah menyakitiku," sambungku.
Naufal merasa kasihan padaku, wajahku yang lusuh dan sangat payak, tanpa make up dan sangat pucat.
Naufal melepas pelukan kami dan menghapus air mata di kedua pipiku.
"Iya Sayang, kamu istirahat ya, aku temenin kamu disini," sahut Naufal di pundakku.
"Aku sedih Mas, huhuhuhu, Papa aku Mas, Papa aku pergi ninggalin aku," ucapku sambil memukul-mukul Naufal.
Naufal kembali memelukku, mengelus kepalaku.
"Istighfar, kamu nggak boleh kayak gini Sayang, Papa sudah tenang disana, aku tau, aku mudah berkata seperti ini, kamu hanya butuh waktu untuk sembuh dari luka hati kamu," tutur Naufal.
Aku semakin menangis menggila di dekapannya.
"Aku sudah berusaha kuat Mas, sudah ku paksa semampuku, tapi aku nggak bisa Mas, aku ini lemah, huhuhuhuhu," keluhku.
"Hust hust husttt.....udah udah, di tenangin hati kamu dulu, disini ada aku, ada aku untuk kamu, aku udah disini sama kamu," tuturnya.
Aku memeluk erat pinggan Naufal.
"Sayang, betapa berat cobaan ini buat kamu, aku kasihan melihat kamu, harus menanggung beban ini, Papa pergi dan aku tidak ada disini untuk kamu, aku akan menggantinya Sayang, aku janji," ucap dalam hati Naufal.
"Kamu tidur ya," ujar Naufal.
Aku menggelengkan kepalaku di dekapan Naufal.
"Ya sudah, cup cup cup,"
Naufal membiarkan ku menangis di dadanya yang bidang ini, dia hanya mampu diam dan terus mengelus-elus kepalaku hingga aku tertidur.
Padahal, aku sama sekali tidak ingin tidur, mungkin tubuhku ini sudah sangat lelah. Dan mengajakku tidur di dada suamiku yang senyaman ini.
"Mas.....jangan pindahin aku ya,"
"Biarkan kita seperti ini," ucapku ngelantur dengan kedua mata yang sudah tertutup rapat.
"Iya Sayang," jawab Naufal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Adzan magrib berkumandang.
Allahuakbar....... Allahuakbar......
Ku buka pelan-pelan kedua mataku, berat saat ku buka kedua mataku, seperti sedang di bebani oleh benda berupa besi, ini efek karena aku menangis dari pagi hingga sore ini.
Aku masih mengendus parfum khas baunya Naufal.
Kepalaku begitu pusing, karena aku juga belum sempat makan.
Ku lihat, baju putih Naufal masih memenuhi pandanganku. Ternyata, Aku masih berada di pelukan Naufal mulai aku tidur tadi hingga adzan magrib sekarang.
"Maasss..." panggilku sambil melihat wajahnya yang berada di atasku.
"Udah bangun??" tanya Naufal.
"Kamu dari tadi begini?? Nggak mindahin aku," kataku.
"Aku nggak mau buat kamu terbangun, kamu kan tadi juga bilang jangan di pindahin, Mama juga dateng tadi bilang sama aku, biarin Gia seperti ini, gitu," jawab Naufal.
"Pasti kamu pegel ya," kataku.
"Enggak, kan ini ada senderennya," ucap Naufal.
Aku kembali memalingkan wajahku kembali. Rasanya aku masih belum siap bertemu dengan orang-orang di luar.
Mamaku memanggil kami untuk segera ikut sholat berjamaah bersama tamu-tamu Mamaku yang datang untuk melayat.
Kami berdua turun ke bawah.
Saat berwudhua aku mencari-cari Abay yang sedari tadi tak ku ajak bicara.
"Mas, Abay kemana??" tanyaku.
"Abay sama Mama, dia udah ngerti kok kalo kamu lagi rapuh kayak gini, tadi Mama yang bilang," jawab Abay.
"Aku nggak merhatiin dia sama sekali loh Mas, aku belum nanya dia makan, dan sebagainya, aku ke Abay dulu Mas," ucapku.
Mas Naufal langsung menarik tanganku.
"Hey, Sayanggg....udah semua, tadi dia juga sempat samperin kita di kamar, dia malah ngerti nggak mau ganggu pikiran kamu dulu, udah dia sama Mama," ucap Naufal.
"Tanya sama diri kamu sendiri, kamu kan juga belum makan kan??"
"Habis ngaji nanti, kamu harus makan loh Sayang, aku nggak mau kamu kenapa-napa," sambung Naufal.
Aku menganggukan kepalaku dan segera mengambil air wudhu.
.
.
.
.
.
.
Kami pun sholat berjamaah di lantai bawah bersama orang banyak.
Aku melihat Abay disana. Abay tersenyum padaku, aku lega dengan senyumnya, aku takut jika dia merasa tak ku pedulikan.
.
.
.
.
.
Setelah sholat, kami semua seisi rumah Mamaku duduk melingkar dan mengaji bersama-sama dengan tamu undangan untuk satu harian Papaku.
Abay duduk di sampingku. Aku mencium kepalanya.
"Abay sudah makan tadi??" tanyaku.
"Sudah Ma," jawabnya.
Pengajian pun di mulai.
Semua begitu khidmat mendoakan Papaku, tangisan kembali disaksikan disini, tidak hanya aku ataupun keluarga Papaku saja yang menangis, namun ada client Papa juga yang menangis.
__ADS_1
Semua merasa kehilangan juga disini.
Setelah pengajian, ada sedikir ceramah lagi dari Ustad. Setelah mendengar kajian ini, aku sedikit tenang, tabah menjalani takdir ini.
Jika sekilas teringat dan aku menangis, itu memang hal yang lumrah.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah sangat larut malam, bahkan sekarang sudah jam setengah 11 malam, namun masih banyak orang-orang di Ruang Tamu rumah ini.
Banyak teman-teman Papaku yang sengaja menginap disini.
Aku kembali ke Kamar.
Ku lepas kerudungku lalu aku duduk di pinggiran ranjang.
Naufal duduk jongkok seperti seseorang yang sedang melamar. Dia mengambil tanganku dan di genggamnya.
"Sayaanggggg, mulai sekarang, terbuka ya,"
"Aku tau, masih banyak yang kamu sembunyiin dari aku, kalo kamu tanya aku marah?? Jelas tidak Sayang, aku sama sekalo tidak marah,"
"Karena kan memang jalan pertemuan kita ini berbeda dengan yang lainnya, yang lainnya bisa pacaran, tapi kita tidak, aku memaklumi nya, meskipun rumah tangga kita sudah sangat lama, dan bukan seusia jagung lagi,"
"Dengan sangat aku minta sama kamu, jangan lagi kamu menanggung semua beban kamu sendirian ya,"
"Aku sedih jika kamu berlaku seperti itu sama aku, aku tau kamu punya segudang rahasia yang tidak aku ketahui, tapi untuk sekarang dan sampai nanti, jangan ada yang di tutup-tutupi lagi ya dari kita,"
"Aku nggak marah sama kamu, aku kasihan sama kamu, aku tau Sayangg, memang privasi, setiap orang berhak punya privasi sekalipun mereka sudah menikah,"
"Tapi yang aku minta, sedihnya kamu, gelisahnya kamu, sakitnya kamu, tangisnya kami, bagikan sama aku, kita tanggung sama-sama, kita hadapi sama-sama, ya," tutur Naufal yang membuatku menangis.
Aku hanya mampu diam di depannya.
"Mas Naufal benar, siapa lagi sekarang lelaki yang aku cintai selain dia, satu laki-laki yang pernah membuatku jatuh cinta sudah pergi selamanya meninggalkanku," gumamku dalam hati.
"Maaf Mas, atas kelakuanku ini," ucapku.
"Jangan minta maaf, kamu nggak salah Sayang, nggak ada yang benar dan salah disini," tutur Naufal.
"Kamu nggak salah, sikapmu yang seperti itu, itu yang dari awal membuatku tertarik terhadap mu, kamu mampu menyimpan semua terkait dirimu, apalagi tentang rumah tangga kita yang tidak berjalan dengan mulus-mulus saja,"
"Mama bilang, aku wajib membahagiakan kamu, itu sudah ku lakukan jauh saat pertama kali aku mengucap ijab qobul di depan banyak orang Sayang,"
"Terbuka ya, ayo kita rasain sama-sama, pahit manisnya kita harus rasain sama-sama, jangan hanya kamu," ujar Naufal.
"Bahkan aku juga, jika keputusan kamu untuk resign itu sangat berat, tapi kamu tidak mneceritakannya ke aku kan Sayang, aku nggak masalah, aku selalu nunggu kamu, nunggu kamu buat ceritain semuanya," sambung Naufal yang semakin membuatku sedih dengan sikapnya yang sangat bijaksana ini.
Beribu syukur ku ucapkan padaMU Ya Rab, telah kau hadirkan laki-laki seperti ini selain Papaku.
Naufal menyibak rambutku, mengusap kedua pipiku dan beranjak duduk di sampingku.
"Aku ada, buat kamu, jangan merasa sendiri, kita selamanya Sayang," ucapnya.
Aku langsung memeluk tubuhnya.
"Aaghhh huhuhuhuhuhuuuuu,"
Aku tidak tau lagi harus bersyukur yang seperti apalagi, karena berjodoh dengan dia, yaaaah dia pria pilihan Papaku. Aku sangat mencintainya, lebih dari mencintai diriku sendiri, memang yaaa......buat mereka yang masih ragu untuk mempercayakan semuanya kepada orang tua, percayalah, mereka begitu baik padamu, mereka memberikan yang terbaik untukmu, mereka memberikan yang pantas dan bisa membuatmu bahagia.
Ingatttt!!!!
Ridho Allah, Ridho orang tua kalian juga.
Aku merasakannya sendiri, memang padaa awalnya tidak sesuai dengan kemauan hati, ragu?? Pasti iya.
Namun, Allah Maha Baik dengan segala takdirnya.
"Kamu bener Mas, aku janji kok kali ini sama kamu, aku akan terbuka sama kamu, aku percayakan semuanya ke kamu, aku janji nggak akan memendam sendirian, huhuhuhuhu," ucapku di pundaknya.
"Enggak Mas, aku berjanji padamu, aku akan membagi pahit manisnya yang aku alami, entah sendiri ataupun tentang kita," ucapku sambil memegang tengkuk lehernya.
"Kamu yakin?? Kamu janji sama aku??" tanya Naufal untuk memastikan bahwa yang ku ucapkan ini memang dari hati.
"Iya Mas, aku janji sama kamu, tidak ada yang aku tutupin ke kamu,"
"Aku sayang sama kamu Mas," ucapku.
Kedua mata Naufal menatap dalam kedua mataku, dia tersenyum dan membelai kepalaku, lalu dia memelukku.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Naufal.
"Sekarang, kita hadapi cobaan ini sama-sama ya Sayang," tuturnya.
Aku mengangguk-angguk di pundaknya.
"Hidup memang begini Sayang, siapa lagi kalo bukan diri kita sendiri yang berusaha buat menerima kenyataan," ujar Naufal lagi.
"Papa udah tenang disana, yang penting, kita rajin-rajin do'a in Papa, ya,"
"Makan dulu ya Sayang," paksanya karena dari tadi aku belum makan dan memang tidak nafsu makan.
"Masss...aku belum pengen," jawabku.
"Kamu belum makan dari tadi, wajah kamu pucat loh Sayang, ayo gih makan, aku suapin ya," rayu Naufal sambil membawa piringnya.
"Nanti kamu sakit, aku nggak mau itu terjadi sama kamu," sambungnya.
Akhirnya aku pun mau, dan Naufal dengan telaten memberikan suapan demi suapan padaku.
"Aku bisa sendiri kok Mas," ucapku.
"Nggak papa, aku aja," tepis Naufal.
Setelah selesai makan, hanya beberapa sendok saja yang mengisi lambungku ini.
Kami berdua memutuskan untuk tidur.
Huuummm sungguh nikmatnya saat tubuhku selonjoran seperti ini.
Begitu melelahkan hariii iniii...
Dari ujung kepala hingga ujung kaki, apalagi mata ini begitu beratt sekali.
"Mata kamu tuh, sampe kayak gitu Sayang....." ucap Naufal di sampingku.
"Huummsh nangis dari pagi," sambungnya lagi.
Naufal menggeser tubuhnya agar lebih dekat denganku, dan dia menghangatkanku kembali dengan peluknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, setelah aku melaksanakan sholat dhuha dengan Naufal, Mama datang menemuiku di kamar. Menceritakan semuanya padaku.
"Nak, Mama mau cerita sama kamu," ucap Mamaku.
Mama menceritakan semua detik-detik kepergian Papaku. Mama juga tidak berfirasat jika Papa akan pergi secepat ini, karena kata Dokter, keadaan Papa sudah membaik, malah Papa sudah sadar seperti yang dikatakan oleh Mama padaku, dan aku juga Mama tidak sedang berbohong denganku, Mama juga mengirimkan foto saat bersama Papa yang sudah siuman.
Saat Mama sedang menceritakan saat merawat Papa, Johan datang masuk ke kamarku, dan kita mendengar cerita Mama sama-sama, karena kala itu, hanya Mama yang sedang menunggu Papa disana, Johan juga sibuk dengan pekerjaannya, kebetulan Johan saat itu mendapatkan shift malam.
Ternyata bukan aku saja yang menyesal, Mama dan Johan pun menyesal karena tidak sempat tau saat terakhir Papaku.
__ADS_1
Kata Mamaku, Papa meninggal seperti orang tidur, dan Mama juga mengira jika Papa tidur, saat satu jam kemudian, ada yang berbeda dari Papa kata Mama.
"Papa pergi tanpa menampakkan tanda-tanda sedikitpun pada anak dan istrinya," itu kata Mamaku.
Mama menangis saat bercerita padaku.
"Ma,"
"Gia boleh nggak, nanya sama Mama, tapi Mama harus jujur ya sama Gia," ucapku.
"Apa Nak??" jawab Mamaku sambil mengusap air matanya.
"Dulu, waktu Papa seringggg banget mondar-mandir ke Rumah Sakit, Papa sebenarnya sakit apa Ma?? Nggak mungkin Papa cuman kecapek an??" Aku memberanikan diri bertanya hal ini ke Mama dengan gagap karena menangis.
Mama tidak langsung menjawabnya.
"Huhuhuhuhuuuuu, kenapa Nak?? Jika Mama menjawab jujur, apakah kamu akan marah sama Mama??" tanya Mamaku sedikit merasa bersalah.
"Tidak akan Ma, Gia tidak akan pernah bisa marah sama Mama," jawabku.
"Kamu ingat, kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu??"
"Itu yang sedang terjadi sama Papa kamu," jawab Mamaku yang membuatku syock.
"Aaaahgghhhhh...." Ku tutupi separu wajahku dengan tanganku.
"Jadi.......sebenarnya.......Papa kambuh lagi Ma???" tanyaku, dan dijawab dengan anggukan kepala Mamaku.
Ternyata dugaanku benar, Papa kambuh lagi, ingatanku jadi berputar ke beberapa puluh tahun yang lalu, Papaku pernah sakit, sakit parah.
Dan saat itu aku masih sangat kecil, aku masih SD.
Aku melihat Papaku yang sedang kesakitan tepat di depan mataku. Itu menjadi hal trauma yang tidak ingin ku ingat hingga sekarang. Dan Mamaku juga tidak ingin aku mengingatnya kembali.
Mama dan Papaku selalu bilang, lupakan hal itu, buang sejauh mungkin, anggap itu tidak pernah terjadi, karena hal itu tidak akan pernah terjadi lagi, Papa akan sehat.
Aku semakin menangis terisak-isak saat kebenaran yang sebenarnya ku dapatkan.
"Ya Allah Papa......huhuhuhuuuu,"
Aku menangis, karena membayangkan betapa sakitnya Papa saat itu. Papa kesakitan sendiri.
"Sekarang tinggal Mama, kamu sama Johan, kita hadapi semuanya sama-sama, nggak boleh ada yang merasa paling berat, ini cobaan kita semua sama-sama," kata Mamaku lalu memeluk kami berdua, aku dan Johan.
"Papa sudah bahagia, tidak merasakan sakitnya disini, doa in Papa semoga di lapangkan kuburnya," sambung Mamaku.
Aku lega jika sudah seperti ini, beban ku terasa agak ringan setelah Mamaku mengucap ini.
"Dan kamu anakku, yang paling susah untuk terbuka, memendam kesedihan sendiri, sekarang Gia sudah tau semuanya, dan jangan suka memendamnya sendiri, Papa malah sedih nanti," tutur Mamaku padaku.
Aku mengangguk-angguk di pundak Mamaku.
"Ya Allah.....berikanlah kesehatan untuk Mamaku, umur panjang dan kebahagiaan dunia serta akhirat, aamiin,"
Ku lihat kulit keriput Mamaku ini.
Mama ternyata sudah tua, sedih melihatnya yang tumbuh semakin menua. Berharap ingin Mama terus muda, hehehemmm tapi mustahil. Ada saja aku ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekarang, tepat 7 harian Papaku meninggal.
Aku kasihan dengan Naufal yang sudah 3 hari mondar-mandir antar kota karena pekerjaannya lalu dia pulang ke rumah Mamaku.
Setelah selesai mengaji dan mendengarkan ceramah, Naufal, aku, Abay dan Bi Sarah berpamitan untuk kembali ke kota tempat rumah Naufal berada.
Aku tak tega melihat Mama yang sudah sendirian di Rumah dan hanya bersama Johan saja, tapi aku harus pulang bersama suami dan anakku.
Untung saja Budhe masih menginap di Rumah Mamaku, jadi aku agak tenang jika Mama ditinggal Johan bekerja.
"Mama, Gia pamit pulang ya, Mama sehat-sehat, jangan stress ya Ma," ujarku.
"Iya Nak," jawabnya sambil memelukku.
Naufal juga berpamitan dengan Mama.
"Sehat-sehat Ma, Naufal sama Gia pasti sering-sering kesini jengukin Mama," ucap Naufal yang sangat menyanyangi Mamaku.
Tak lupa aku juga berpamitan dengan Budhe yang akan menemani Mamaku untuk satu bulan ke depan.
"Kami pamit pulang ya Budhe," ucap Naufal.
"Jagain Mama Budhe," sahutku.
"Iya Gi, Budhe pasti jagain Mama kamu biar nggak sedih-sedih," jawab Budhe.
Kami semua masuk ke dalam mobil.
Tin tin.....
"Assalamu'alaikum," ucap kami semua dari dalam mobil.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka.
Mobil kami melaju meninggalkan mereka, insting seorang anak ke ibu pasti sangatlah kuat, aku benar-benar merasakan sedihnya Mamaku saat kami meninggalkannya.
__ADS_1
Bersambung........