
Tidak lama kemudian adzan shubuh berkumandang.
Naufal merangkulkan tangannya pada guling yang ada di sampingnya, dia merasa aneh, pelan-pelan dia membuka matanya.
Naufal kaget yang tidak melihatku di sampingnya. Dia memaksa menarik tubuhnya untuk bangun, dan dia melihatku yang tengah tidur di sofa.
Dia masih tidak percaya bahwa aku tidur dis sofa, Naufal mengucek matanya dan melihat ke arahku kembali untuk meyakinkan bahwa memang benar aku terbaring di sofa sambil ku tekuk kedua tanganku karena dingin.
"Gia, sejak kapan dia tidur disana?" ucap Naufal dalam hatinya.
"Kenapa dia pindah tidur disana? Apa dia sudah tidak nyaman berada di sampingku?" kata dalam hati Naufal yang terus bertanya-tanya.
"Gia aneh banget, dari tadi malam waktu dia mau memeluk ku tapi dia menarik kembali tangannya, dan sekarang dia tidur terpisah denganku, salahku apa? Apakah dia marah? Apa gara-gara Vela ya? Tapi kan Gia sendiri yang menyuruhku untuk menemani Vela," ucap dalam hati Naufal lagi.
Dia berjalan mendekatiku.
Lalu Naufal duduk bersimpuh di sampingku.
Aku merasakan hembusan nafas Naufal dana akhirnya aku terbangun.
Terlihat jelas di depan mataku wajah Naufal yang sedang menatapku, ku jauhkan tubuhku darinya.
"Kamu? Udah shubuh ya" kataku dengan menarik tubuhku untuk bangun.
"Bentar, aku mau tanya kamu dulu," kata Naufal.
"Hm, tanya apa?" kataku yang masih setengah sadar.
"Kamu kok tidur disini? Sejak kapan?" tanya Naufal sambil duduk di sampingku.
"Oh ini ya, ini tadi aku ketiduran disini waktu habis masakin kamu," jawabku gugup.
"Beneran? Gak bohong? Kamu udah gak nyaman ya?" tanya Naufal yang terus memaksa ku untuk menjawabnya.
"Oh enggak enggak, nggak gitu, emang bener kok, tadi aku habis masak di bawah sama Bi Sarah, terus saking ngantuk nya aku tertidur deh disini, hehehe," kataku berusaha meyakinkan Naufal.
"Kok Gia beda?" ucap dalam hati Naufal.
"Mas, kenapa kamu bengong?" tanyaku.
"Nggak papa, cuman beda aja kamu," jawab Naufal.
"Beda gimana? Beda dari mana nya? Kamu kali yang beda Mas," kataku.
"Aku tetep kok, kamu nih kayaknya yang beda," kata Naufal menebak.
"Enggak ah," jawabku singkat.
"Kamu sakit?" tanya Naufal lagi.
,
"Enggak, sakit apanya sih? Aku tuh sehat-sehat aja," jawabku.
Naufal mengangkat tangan nya untuk ditempelkan nya pada keningku, tetapi aku dengan cekatan langsung menepis tangan nya.
"Eh eh mau ngapain?" kataku.
"Kan, Gia beda, sumpah beda banget," gumam dalam hati Naufal.
"Udah ah, aku mau mandi," kataku sambil berjalan meninggalkan Naufal.
"Maafin aku Mas," kataku dalam hati sambil sesekali melirik ke arahnya.
"Gia kenapa sih? Kok gak kayak biasanya, apa emang karena Vela ya? Aduuuh Gia, kamu susah di tebak banget sih," kata Naufal sambil mengusap rambutnya.
Naufal terus memikirkan apa salahnya padaku.
Setelah beberapa menit, aku selesai mandi.
Seperti biasa aku menyiapkan kemeja Naufal. Tampak Naufal tengah melihat ke arahku dan terus mengamatiku.
"Kamu cepetan mandi, jangan lihatin aku," kataku singkat.
Naufal berdiri dan berjalan mendekat lagi padaku, tapi aku menghindar dan berpura-pura untuk mengambilkan sepatu miliknya.
"udah gak di ragukan lagi Gi, kamu beda, kamu ngehindar dari aku, kenapa sih Gi? Kamu gak mau jujur sama aku, Kalo emang kamu nggak ngizinin aku buat nemenin Vela, kamu larang aku Gi!! Aku nggak keberatan sama sekali," gerutu dalam hati Naufal.
"Lihat saja nanti Gi, aku pasti akan mengetahui apa yang telah kamu sembunyikan dariku," kata Naufal dalam hati.
Ku lamakan mengambil sepatu miliknya, sampai sepertinya dia masuk ke kamar mandi.
"Syukurlah, aku aman," kataku dalam hati.
Setelah beberapa menit kemudian, Naufal selesai mandi dan kita melaksanakan sholat bersama.
Setelah sholat, aku bersiap-siap untuk turun ke bawah, ku rapikan gamis dan kerudungku.
"Mas, aku pakai mobilku sendiri aja ya, kan nanti kamu pasti nemenin Vela, jadi aku bisa pulang duluan," tuturku sambil mengoleskan lotion di tangan ku.
"Enggak, kamu tetep semobil sama aku, nanti biar ganti Bastian yang nemenin Vela," ucap Naufal.
"Kok gitu? Kasihan Pak Bastian Mas," kataku.
"Kemaren kan udah aku Gi, jadi nanti gantian Bastian, udah ah biarin," ucapnya tegas.
"Emang Pak Bastian mau?" tanyaku lagi.
"Mau lah, orang kemaren dia udah janji mau bantuin aku sampe Mama nya Vela ke sini," jawab Naufal.
"Ya udah, terserah kamu, aku ke bawah dulu ya," pamitku.
"Kok kamu nggak nungguin aku?" tanya Naufal.
"Emmm..emm aku mau..., oh iya aku mau ngomong penting sama Bi Sarah," kataku.
"Ngomongin apa? Kok kamu nggak ngasih tau aku dulu," ucap Naufal.
"Enggak ah, ini masalah cewek, kamu gak boleh tau," kataku lagi.
"Udah ya aku turun duluan Mas, aku tunggu kamu di bawah," kataku sambil tersenyum padanya.
***(di Ruang Makan)
"Selamat pagi Bi," kataku pada Bi Sarah yang tengah menyiapkan sarapan pagi.
"Eh Mbak Gia, loh Mas Naufal nya mana Mbak?" tanya Bi Sarah.
__ADS_1
"Masih di atas Bi, Gia tinggal, hehehe," kataku yang sok bahagia.
"Bentar lagi pasti turun kok Bi," ucapku lagi.
Tak lama kemudian Naufal menyusulku turun.
"Pagi Mas Naufal," sapa Bi Sarah.
"Pagi Bi, loh Pak Joko sama Pak Rusdi kemana Bi, biasanya udah disini?" tanya Naufal.
"Tadi Pak Joko sama suami Bibi katanya pergi untuk mencari udara segar di pagi hari Mas, joging katanya, hehehe," jawab Bi Sarah.
"Kok Bibi nggak ikut?" tanya Naufal lagi.
"Bibi nggak ikut Mas, Bi belum nyiapain sarapan buat Mas Naufal sama Mbak Gia, nanti Bibi ngerasa nggak enak Mas," kata Bi Sarah.
"Bi, nggak papa, kalo Bibi mau ikut aja," sahutku.
"Iya Bi, gak papa, Bibi nggak usah ngrasa nggak enak sama saya dan Gia," sahut Naufal.
"Berarti Pak Joko sama Pak Rusdi belum sarapan Bi?" tanyaku.
"Belum Mbak Gia," jawab Bi Sarah.
"Ya udah kita sarapan dulu aja Bi, nanti biar Pak Rusdi sama Pak Joko nyusul," perintah Naufal.
"Baik Mas Naufal," jawab Bi Sarah.
Dengan segera kami melahap habis sarapan pagi hari ini.
Setelah selesai makan, aku langsung bergegas berangkat bekerja bersama Naufal.
"Ayo Mas kita berangkat," kataku pada Naufal.
Kami berjalan menuju garasi mobil.
"Gi, kamu ke mobil dulu ya, ada yang ketinggalan," ucap Naufal.
"Apa yang ketinggalan? Kan aku udah nyiapain semuanya," kataku heran.
"Emm ada lah Gi pokoknya, bentar ya," jawab Naufal sambil berjalan kembali masuk ke rumah.
"Gak jelas banget Naufal," gumam dalam hatiku.
Aku masuk ke dalam mobil dan menghiraukan Naufal.
Sedangkan Naufal berbohong padaku, sebenarnya sama sekali tidak ada barang ataupun berkas yang tertinggal, melainkan Naufal menghampiri Bi Sarah yang tengah berberes di ruang makan.
"Bi," panggil Naufal.
"Loh, Mas Naufal kok balik lagi? Ada yang ketinggalan ya Mas?" tanya Bi Sarah.
"Enggak Bi, saya mau bicara sama Bibi, nanti ada tukang cctv yang kesini ya Bi, nanti Bibi bukain aja gak papa, saya mau pasang cctv Bi di setiap ruangan rumah saya," ucap Naufal lirih.
"Baik Mas," kata Bi Sarah.
"Ya udah Bi, Naufal berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum," salam Naufal.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.
Naufal kembali menyusulku dan masuk ke dalam mobil.
"Mas, ayo keburu telat kita," kataku yang kesal padanya.
"Iya bentar doang," ucap Naufal.
Aku diam dan membiarkan dia melakukan sesuka hatinya.
"Yes, aku berhasil kirim pesan ke Bastian buat cari orang pasang cctv di rumahku," gumam dalam hati Naufal.
Naufal langsung menancap gas mobilnya karena sudah melihatku yang tengah murung karena menunggunya.
***(di Rumah Sakit)
Sesampainya di rumah sakit, kami berjalan beriringan menuju ruang kerja kami masing-masing.
Saat aku ingin masuk ke ruang kerjaku, Naufal memanggilku.
"Gi," panggil Naufal.
Aku membalikkan tubuhku untuk melihatnya yang tengah berdiri di belakangku sambil menyimpan tangan kanan nya di saku celananya.
"Apa?" tanyaku jutek.
"Yang semangat kerjanya Sayang," ucap Naufal.
Aku langsung berbalik kembali untuk membelakanginya.
Deg..deg...deg.
Hatiku berdebar semakin kencang.
"Aduh, kenapa sih Mas Naufal malah kayak gini ke aku?" gumam dalam hatiku.
Ku hiraukan kata manis Naufal dan aku kembali berjalan masuk dalam ruang kerjaku.
Seperti biasa disini aku selalu profesional menjalankan pekerjaanku.
Saat aku tengah selesai memeriksa para pasien, aku berjalan melewati ruangan Vela.
"Aku mau jenguk Vela ah," kataku dalam hati.
Gleeekkkk..
"Assalamu'alaikum Vel," salamku sambil membuka pintu.
"Gia, Wa'alaikumsalam, sini masuk Gi," ucap Vela.
Aku duduk di samping bed pasien Vela.
"Gimana Vel, udah enakan?" tanyaku.
"Udah Gi," jawab Vela.
"Syukurlah, aku turut senang," kataku sambil tersenyum padanya.
"Gi, aku mau ngomong sama kamu," kata Vela.
__ADS_1
"Ngomong apa? Ngomong aja gak papa," kataku.
"Gi, Kamu cinta banget ya sama Naufal?" tanya Vela sambil meraih tangan kananku.
Deggggg.
Aku kaget mendengar petanyaan dari Vela.
"Emang ke.....kenapa kamu tanya gitu sama aku?" tanyaku balik.
"Gi, sebenernya....., aku belum bisa lupain Naufal Gi, cuman aku berpura-pura saja mendekati Bastian agar bisa selalu dekat dengan Naufal, selama ini aku masih cinta Gi sama dia," ucap Vela sambil berlinang air mata di pipinya.
Deeegggg.
Aku tidak bisa berkata apa-apa ketika Vela mengatakan hal itu.
"Maksud kamu gimana ya Vel? Aku...aku nggak ngerti," ucapku gugup.
"Aku terpaksa berbohong Gi atas apa yang sudah aku ucapkan sama kamu kemaren di depan Naufal, aku terpaksa ngomong gitu karena aku nggak mau Naufal semakin membenciku Gi, seharusnya aku yang lebih pantas berada di sampingnya, karena aku yang lebih mencintainya, aku yang lebih lama mengenalnya," kata Vela.
Aku berusaha menguatkan hati di depan Vela.
"Vela, kamu maunya gimana sama Mas Naufal, Hm?" tanyaku dengan sangat pelan.
"Aku ingin bersamanya, aku ingin kamu segera bercerai dengannya, aku ingin hidup selamanya sama Naufal," ucap Vela dengan tegas.
Hati semakin tersayat habis kali ini, lagi-lagi hal ini terjadi padaku.
Aku tak mampu lagi menahan air mata yang sedari tadi ingin ku tumpahkan bahkan ingin ku buang disini.
Ku usap air mata yang menetes membasahi pipiku.
Aku meraih tangan Vela, dan ku genggam tangannya.
"Vela, apakah kamu benar-benar sangat mencintai Mas Naufal?" tanyaku dengan tegar.
"Aku sangat mencintai Naufal melebihi KAMU !!!" jawab Vela.
"Apakah kamu siap menemaninya dalam suka maupun dukanya?" tanyaku lagi dengan terus menangis di depan Vela.
"Aku sangat siap Gi, karena aku yang lebih dulu mencintainya," jawab Vela lagi.
"Apakah kamu bisa merawatnya selayaknya seorang suami istri? Dan apakah kamu bisa membuatnya bahagia melebihi aku yang telah membuatnya bahagia selama ini?!!?" tanyaku lagi yang ku ucap dengan sangat pedas pada Vela.
Vela sedikit terdiam karena memikirkan perkataanku.
"Aku selalu berusaha membuatnya bahagia melebihi kamu, aku mohon Gi, berpisahlah dengan Naufal !!! Hanya Naufal yang mampu membuatku bahagia Gi," rayu Vela yang licik.
"Kamu siap menemaninya hingga tua nanti??? Apakah kamu mampu untuk memiliknya?" tanyaku untuk yang terakhir.
Ku lepas genggaman tangan kami, dan aku langsung berlari keluar ruangan dari ruangan Vela, aku berlari menuju ruang kerjaku.
***(di Ruag Kerja)
Aku duduk dan terus menangis siang itu.
Jawaban Vela terus tergiang di telingaku, dan semakin membuat hatiku sakit.
"Apakah memang benar yang dikatakan Vela? Dia lebih pantas dengan Naufal, dia mampu membuat Naufal lebih bahagia dari pada aku?" dalam pikiranku bertanya-tanya.
"Tapi aku nggak boleh terlalu percaya, aku yang harus ngebuktiin sendiri, siapa yang dicintai Naufal, aku akan tetap membuktikan, aku tidak boleh memutuskan sepihak bahwa Vela lebih pantas untuk Naufal, aku membiarkan Naufal untuk menemani Vela bukan berarti aku membiarkan begitu saja, tidak, aku akan tetap membuktikan!!" kataku gigih dalam hati.
Aku menghapus air mataku, lalu melanjutkan pekerjaan yang sudah menantiku.
.
.
.
.
Hari sudah semakin siang, waktu untuk aku dan Mas Naufal pulang.
Aku kaget ketika aku keluar ruangan melihat Naufal yang berdiri tepat di belakang ku.
"Astagfirullah, kamu Mas," kataku datar.
"Ayo pulang," ajak Naufal.
"Kamu beneran nggak nemenin Vela?" tanyaku.
"Enggak Gi, kan tadi pagi aku udah bilang sama kamu," jawab Naufal.
"Tapi Pak Bastian beneran kan yang jagain dia, kasihan nanti kalo nggak ada yang jagain dia," tuturku.
"Ada Gi, Bastian yang jagain, beneran," ucap Naufal.
"Ya udah kalo gitu," ucapku sambil berjalan meninggalkan Naufal.
"Kamu kenapa peduli banget sih sama Vela Gi," gumam dalam hati Naufal yang berjalan mengikuti dari belakang.
Kami berjalan menuju parkiran, tiba-tiba ponsel Naufal berdering. Dan ternyata telepon dari Bastian.
"Halo Bas, ada apa?" tanya Naufal.
"Vela nggak mau nih aku jagain, minta nya Lo," jawab Bastian.
"kamu bujuk gak mau ya dia nya?" kata Naufal.
"Udah Fal, tapi dia keras kepala banget nih, Gue takut kalo ada apa-apa," ucap Bastian.
Aku mendengar percakapan mereka.
"Ya udah Bas, aku kesana sekarang," kata Naufal dan langsung menutup telepon dari Bastian.
Sebelum Naufal pamit padaku, aku terlebih dahulu mengizinkan dia untuk pergi.
"Cepet gih, gak papa kok," perintahku sambil tersenyum padanya.
"Maaf ya Gi, kali ini aku harus ninggalin kamu lagi," kata Naufal.
"Gak papa," jawabku.
"Kamu hati-hati ya, aku gak akan pulang sampai tengah malam kok," ucapnya.
Naufal menyerahkan kunci mobilnya padaku, dan langsung berjalan meninggalkanku.
__ADS_1
Bersambung....