
***(Di Kamar)
Mas Naufal membawaku di atas ranjang.
"Mm...Mas, aku mau....."
Mas Naufal melepas cemiti di bawah leherku.
Deg deg......deg degg....
Mas Naufal berada tepat di depan wajahku, memenuhi semua sisi pupil mataku. Sampai-sampai aku tak mampu berkedip saat melihat wajahnya ini.
"Mmm....Mas....aku.....aku mau bersih-bersih dulu,"
"Ak.....aku juga belum ganti baju kan," ujarku dengan terbata-bata.
"Kalo Mas nggak mau lepasin kamu gimana??" ucapnya.
"Tapi Mas....."
"Iya silahkan gih, Mas disini nunggu kamu," ucapnya yang membuatku semakin gemetar.
Duuuaaarrr........suara halilintar kembali memecah di telingaku. Dengan spontan aku memeluk Mas Naufal lagi, hingga Mas Naufal terjatuh padaku.
"Hhhmmmm, takut Mas," kataku.
Mas Naufal malah keasikan saat itu.
"Nggak papa, ada Mas disini, mau Mas antar buat bersih-bersih nya," tawarannya.
"Eeng....enggak deh Mas, aku bisa sendiri, tapi jagain aku di depan kamar mandi," kataku.
"Ya udah ayo," ucap nya yang masih di pelukan ku.
Kedua mataku masih terpejam dan erat memeluknya.
"Ayooo," jawabku namun tetap saja dengan posisi yang sama.
"Kalo begini, gimana mau jalannya Sayang," ujar Mas Naufal.
"Mau di gendong lagi sama Mas??" sambungnya yang mengerjaiku kembali.
Spontan kedua tanganku yang melingkar di lehernya terlepas begitu saja.
"Ya udah ayo," kataku menirukannya.
Mas Naufal malah tetap saja mengurungku dengan kedua tangannya sambil tersenyum-senyum memandanganku.
"Masss....ayoooo, gimana aku mau keluar kalo Mas kayak gini," kataku.
"Heheheh, iya iya," jawab Mas Naufal.
Mas Naufal pun mengantarku ke depan kamar mandi. Yaaah cukup di depan kamar mandi.
"Udah, Mas tungguin aku disini, sampai aku selesai, Mas nggak boleh kemana-mana, apalagi ninggalin aku," perintahku yang cerewet.
"Siiappp Ibu Gia," jawabnya.
"Nggak usah dikunci pintunya," pesannya yang mnegerjaiku lagi.
"Males banget," jawabku yang ada di dalam kamar mandi, mendengar kalimat itu, Mas Naufal tertawa sendiri saat menungguku.
"Giaaa......Giaaa penakut banget sih," gerutu Mas Naufal sambil melipat tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selesai aku bersih-bersih dan sudah mengganti gamisku dengan baju tidur. Aku memanggil-manggil Mas Naufal.
"Mas...."
"Mas Naufal....." panggilku.
"Kok nggak ada jawaban sama sekali??"
"Apa jangan-jangan Mas Naufal ninggalin aku??" tanyaku yang berbicara sendirian saat itu.
"Mas Naufall.......Mas"
"Mas masih disana kan???" ucapku lagi.
"Aaarrghh Mas Naufal pasti ngerjain aku," gumamku dalam hati.
"Mas Naufal tega banget ngerjain aku malem-malem gini, aaah gak seru," ucapku.
Lalu ku buka pintu kamar mandinya.
Dan ternyata, ruang kamarku gelap gulita.
Hanya kilat yang menerangin namun sekejap.
Aku kesal dengan cara Mas Naufal mengerjaiku yang seperti ini.
Dia kan atau jika aku takut gelap, apalagi hujan lebat begini.
"Mas...."
"Mas Naufal nggak lucu deh kalo ngerjain nya kayak gini,"
"Nggak seru ah Mas," ucapku yang tetap berdiri di tengah pintu kamar mandi.
Untung saat tadi aku ke kamar mandi, ku bawa ponselku dan ku letakkan di meja dalam kamar mandi.
Ku ambil ponselku, lalu ku nyalakan flashnya.
Aku takut saat mulai melangkahkan kaki ku di kegelapan yang terpampang nyata di depan kedua mataku.
__ADS_1
"Mas.... jangan gini ah,"
"Aku ngambek loh sama kamu," kataku lagi yang belum juga melangkah.
Apalagi yang diinginkan Mas Naufal ini, hingga menjebakku seperti ini sendirian, pasti dia meninggalkanku ke bawah.
Mataku mulai berkaca-kaca, karena Mas Naufal meninggalkanku seorang diri disini.
Mulai ku langkahkan kaki ku perlahan, dengan penerang yang terbatas.
"Masss....jangan gini ah," ucapku terbata-bata sambil menangis.
Kilat berlalu lalang di depan jendela kamarku yang belum tertutup gordennya.
"Mas Naufallll....."
Aku sudah mengelilingi ruang ganti baju, tapi tidak ada dia disana. Aku kembali ke ruang kamar.
Duuuuaarrrr..........
"Aaaagghhhh....." teriakku dan aku tersandung oleh karpet yang ada di bawah ranjang kami.
Buuukkkk.......
Aku terjatuh ke tubuh siapa ini. Ku buka perlahan kedua mataku, dan ku arahkan flash ponselku ke wajah seseorang yang memiliki tubuh ini. Karena sudah menyelamatkanku.
Ku terangi wajah pria itu.......Dia tersenyum padaku.
Bulu mata lentiknya, lesung pipinya dan bibir merah tipisnya memenuhi otakku.
Ini dia, suamiku.....
Iya lah, siapa lagi pria yang berani masuk kesini, selain dia dan Abay. Aku tak mampu berkedip saat Mas Naufal menangkapku saat ini, hingga tidak ada jarak diantara kami.
Hanya saja wajah kami yang berjarak, karena memang Mas Naufal yang tinggi dan aku setinggi mulutnya.
"Akhirnya......ada kamu Mas," gumamku dalam hati.
Gleekkkk.........ku telan salivaku pelan-pelan.
Akhirnya aku selamat, jika tidak?? Bagaimana nanti sakitnya aku.
Mas Naufal mulai membelai pipiku.
Deg deg.......deg deg.......
Ku arahkan terus flash ponsel ke arah wajahnya sehingga mengganggu pandangan kami berdua.
"Kenapa?? Takut??" tanya Mas Naufal dengan halus.
Aku hanya mampu menganggukkan kepalaku saja, rasanya pupil mataku tidak ingin beralih dari pupil mata Mas Naufal juga.
Aku hanya mampu diam, dengan tangan gemetar dan hati berdebar.
Mas Naufal semakin memelukku erat.
Lalu perlahan dia mengambil ponsel yang ada di tanganku.
"Nggak usah takut, ada Mas disini," ucapnya sambil melepas ponsel dari tanganku.
Mas Naufal meletakkan kedua tanganku untuk melingkari lehernya. Lalu dia mematikan flash nya.
Aku semakin mendekat pada Mas Naufal karena aku takut, meskipun Mas Naufal sudah memelukku erat-erat.
Wajah Mas Naufal hanya terlihat sesaat dengan bantuan cahaya kilat yang menembus jendela kamar kami.
"Mas kenapa kayak gini sama aku?? Mas tega sama istrinya??" rengekku.
"Bukan begitu Sayang, Mas ingin mengulangi nya dengan kamu, Mas ingin perlakukan kamu lebihd dari Adiknya Abid saat itu, Mas ingin membayarnya sekarang,"
"Jadi, Mas sengaja matiin lampunya, hehehem," ucap Mas Naufal.
Aaarrrrggghhh, bukan Mas Naufal namanya jika tidak romantis seperti ini. Sebenarnya berapa banyak ide sih dalam otaknya?? Hingga aku tak bosan-bosannya diperlakukan seperti ini, bak seorang putri di negeri dongeng.
Mas Naufal mungkin punya bermilyaran cara agar membuatku bahagia kembali, dan juga menghapus luka yang pernah ia lakukan dulu padaku.
Lagi-lagi, aku hanya bisa terpaku dengan suamiku.
"Ya Allah..........aku harus gimana iniii??? Jantungku berdegup tak karuan seperti ini, aku takut jika Mas Naufal merasakannya," gumamku dalam hati.
"Jadi.....Mas juga pengen meluk kamu, nyatain semua ke kamu," sambung Mas Naufal.
"Tapp....tapi Mas??" Jawabku.
"Tapi apa lagi Sayang??" tanya Mas Naufal.
"Tapi sekarang kamu sama aku, bukan sama Adiknya Abid ya," ucapku untuk mempertegas.
"Iya istriku, Mas tau jika sekarang Mas sedang memeluk wanita yang paling dicintainya, hehehe," kata Mas Naufal.
Mas Naufal dengan gerak pelan memelukku.
Dan saat itu, Mas Naufal berbisik di telingaku.
Yaaaah, kata-kata yang sama persis ia bisikkan di telinga Adiknya Abid.
"Maafin Mas, jika dulu Mas tidak percaya akan adanya cinta sejati,"
"Mas terlalu bodoh karena sempat berlarut dalam masa lalu dalam hidup Mas, tapi saat Mas sudah menemukan cinta yang ada di kamu....."
"Jujur, Mas tetap kekeh belum percaya adanya cinta sejati, memang.......rumah tangga tidak semudah mengucap 'maukah kamu menikah dengannku', tapi dalam rumah tangga harus ada cinta, kasih dan sayang,"
"Cinta itu tanggung jawab, jadi saat Mas memutuskan mencintaimu, saat itu juga Mas bertanggung jawab atas segala perasaanmu,"
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, sangat mencintaimu," bisik Mas Naufal terus menerus di telingaku.
Kata-kata Mas Naufal membuat hati trenyuh dan sedih.
"Tidak ada kata lagi selain aku mencintaimu,"
"Kamu datang membawa semuanya Sayang, aku menemukan semuanya di kamu,"
"Cinta memanglah cinta, katamu jatuh cinta itu takdir, Kamu itu takdirnya Mas, takdir cinta nya Mas, datangnya secara tiba-tiba. Cinta itu fitrah Sayang, dan Cinta itu musibah, yang hanya mampu dirasa tak mampu untuk dicegah.
"Suasana hati Mas yang jenga, kini sudah menjadi bahagia. Mas hanyalah fana Sayang, yang mampu menantimu disetiap sujud dan bait do'a, Mas ini murka Sayang,"
"Tapi Mas pasti bisa membawa kamu di jalan cinta untuk Mas bawa ke SurgaNYA, Mas mencintaimu," ucap Mas Naufal.
Mas Naufal berubah menjadi seorang yang puitis saat itu.
__ADS_1
Dengan dia yang tak banyak bicara. Ternyata dia juga bisa merangkai kata seindah ini untukku.
"Masya'Allah, nikmat dan kebahagiaan apalagi yang Kau berikan untuk hamba??? Terima kasih Ya Allah, memang jika melibatkanMu dalam segala hal, maka semuanya akan berbuah bahagia," kataku dalam hati.
Kata-kata itu yang Mas Naufal ucapkan pada Adiknya Abid. Dan sekarang dia ucapkan padaku.
Mas Naufal terus memelukku erat, hingga aku lupa dengan seramnya kilat dan petir yang beberapa kalo hadir mengusik kita.
"Mas sayang sama kamu," ucap Mas Naufal.
Mas Naufal akan melepas pelukannya, namun aku tetap menahannya, karena aku sudah terlanjur nyaman dengan posisi seperti ini.
"Mas jangan lepasin pelukan ini, aku nggak mau," ucapku dengan manja.
"Hehehem, ya udah iya," jawab Mas Naufal.
Air mataku menetes seketika, tanpa aku mengeluarkan suaraku. Aku terharu dengan Mas Naufal.
Ternyata masih ada laki-laki yang sebaik ini, sesabar ini, dan sejujur ini.
Dulu, saat aku mulai beranjak dewasa.
Aku tidak pernah percaya jika ada laki-laki yang begitu baik, begitu sabar, begitu jujur seperti Papaku.
Karena dulu, aku selalu mendengarkan curhatan-curhatan dari teman-temanku yang selalu galau karena gebetan dan pacarnya.
Dari situ aku sempat menyimpulkan, bahwa aku tidak akan menemukan laki-laki sebaik Papaku, bahkan saat perjodohan aku melakoninya dalam kebimbangan.
Dalam hati aku masih bertanya?? Apa laki-laki ini benar-benar baik?? Kuncinya satu "Percaya dengan takdir, dan jangan pernah meragukan Allah atas semua takdirNYA"
Meskipun aku menjinjitkan tumitku karena kurang sepadan dengan tinggi Mas Naufal, aku mengabaikan jika kaki ku tiba-tiba kram dan kesemutan. Aku tidak peduli.
Yang aku ingin hanya ini. Aku ingin berada terus di pelukan Mas Naufal.
Apalagi Mas Naufal malah mengelus-elus kepalaku.
Nyesek rasanya. Aku harus bersyukur degan cara bagaimana lagi?? Siapa yang tidak menginginkan seorang suami seperti Mas Naufal ini.
"Mau sampe kapan Sayang??" tanya Mas Naufal.
"Biarin gini dulu Mas," jawabku dengan nada menangis.
"Ya udah iya, ketiduran juga nggak papa kok Sayang, tidur di pelukan Mas sambil berdiri seperti ini nggak papa, tidur aja," tuturnya.
"Nanti kaki kami capek Sayang kalo njinjit begini," ujar Mas Naufal.
"Biarin, aku maunya kayak gini," tepisku.
"Ya udah, iya deh iya Sayang, tidur yaaa," ucapnya sambil mengelus-elus kepalaku.
Cukup lama kita berdua berpelukan. Lama-kelamaan, mataku mengantuk. Apalagi di dukung dengan hawa dingin seperti ini.
Mungkin Mas Naufal mulai berat menyangga tubuhku yang menompang di badannya seperi sipanse.
"Sayang,"
"Sayanggg," panggil Mas Naufal yang sudah ku tak dengar lagi.
Mas Naufal tau bahwa aku sudah tertidur. Akhirnya, dia menggendongku dan merebahkanku di atas ranjang.
"Uuughhhhmmm," desis Mas Naufal sambil menggerakkan tangannya yang mungkin nyeri karena menyanggaku lama.
Mas Naufal menyelimuti tubuhku, dia tidak langsung tidur. Melainkan duduk di sampingku dan berlama-lama menatap wajahku.
"Hehehehm, Sayanggg.....Sayangg....manja banget sih kamu, umurnya udah kepala tiga juga," ucap Mas Naufal.
"Mas akan selalu bahagiain kamu, gimana pun caranya, seperti pesan Mama sama Mas saat Papa meninggal 2 tahun yang lalu," sambung Mas Naufal lagi.
"Bobok yang nyenyak Sayang," kata Mas Naufal sambil mengusap keningku.
Lalu Mas Naufal menyusul tidur di sampingku.
Seperti biasa, tanpa meninggalkan kebiasaannya untuk memelukku. Dia mendekat padaku dan memeluk erat tubuhku.
Aku merasakan kehangatan dan kenyamanan, menambah nyenyak tidurku saja.
Malam, janganlah cepat berlalu.
Aku masih ingin bersamamu malam.
Janganlah pergi......
Itu yang kurasakan sekarang, tidak ingin malam hari ini segera pergi dan berlalu. Yang kurasakan, malam ini tidak secepat biasanya.
Malam ini begitu panjangggggg......
Aku mohon, untuk kali ini saja kamu jangan pergi
Aku merasakan power kebahagiaan.
Jadi, ayolah malah....
Temani aku....
"Mas Naufall.......andai saja Mas tau, tidak ada laki-laki selain Mas yang ada dihatiku, meskipun......"
"Kadang suka sedih......Mas nya sering ninggalin.....sibuk juga sama pekerjaannya...."
"Andai Mas tau......aku ingin selalu ada di pelukan Mas Naufal.....tapi aku malu mengatakannya," ucapku tanpa sadar sambil memejamkan kedua mataku.
Mas Naufal menertawakanku saat aku tengah ngigo.
"Iyaaa......kamu bakalan terus ada di pelukan Mas kok, tenang aja, Mas nggak kemana-mana, kan ini Mas lagi tidur sama kamu," jawab Mas Naufal.
"Hahahahaha, ya ampun Giaaaaaa.......ternyata kamu sedih kalo lagi Mas tinggal kerja, ternyata kamu cemburu sama kesibukannya Mas, Hahahahha," ucap dalam hati Mas Naufal.
"Sayanggg......Sayang.....pinter banget ngigo nya, awas aja besok," sambung dalam batinnya lagi.
Setelah menertawakanku dalam hatinya, lalu Mas Naufal mencium keningku dengan lembut.
"Uuuhhmm, jangan ngigo ya Sayang,"
"Tidur yang nyenyak istrinya Mas Naufal," ucapnya.
Mas Naufal pun tertidur bersamaku.
Di pertengahan saat aku sedang tidur, mimpi-mimpi indah tengah singgah.
Mimpi indah bersama Mas Naufal.
__ADS_1
Disana tergambar aku dan Mas Naufal yang sedang berdansa berdua di sebuah Aula dengan diiringi musik. Dan hanya ada kita berdua disana. Kami berdua begitu menikmati alunan musik itu.
Bersambunggg.....