Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 132 (Kedatangan Tamu Istimewa)


__ADS_3

"Dokter Irene jangan seperti itu Dok, Astagfirullahalladzim," tuturku.


"Aku harus gimana Gi, aku sudah tidak tahan, ingin pergi saja dan tidak menemuinya lagi," kata Dokter Irene.


"Mending nanti, Dokter Irene di rumah, tanya baik-baik sama Suaminya, apakah memang benar suami Dokter tidak melakukan itu, jika tidak, berilah dia kesempatan Dok, coba percaya dengan suami Dokter, kebenaran pasti akan terungkap Dok," kataku lagi.


Tok....tok....tok suara ketukan pintu dari luar ruanganku.


Dokter Irene dengan gugup mengusap bersip air matanya.


"Masuk," kataku.


Glleekkkkk, pintu pun terbuka.


Seorang perawat masuk ke ruanganku. Perawat itu kaget melihat Dokter Irene yang sedang ada di ruanganku, daripada tak enak hati, perawat itu memberikan senyumnya pada Dokter Irene.


"Pa...pagi Dok," kata perawat itu.


"Ada panggilan darurat dari ruang ICU," kata perawat itu.


Aku langsung menarik jas dokterku yang tergeletak di kursi.


"Saya tinggal dulu ya Dok," kataku pada Dokter Irene.


Aku segera berlari bersama perawat itu.


Saat aku berlari, aku melihat seseorang yang sepertinya aku mengenalnya, dia berjalan membelakangiku, namun aku acuh padanya karena keadaan darurat ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari semakin sore...........


Ku bereskan meja kerjaku dan ku tutup laptopku.


Aku berjalan menuju ruangan Naufal.


Saat aku sedang berjalan ke arah ruangan Naufal, aku melihat Dokter Irene yang sedang berjalan sambil tengah menelepon seseorang, tampaknya Dokter Irene menangis sambil berjalan terburu-buru.


"Dokter Irene kenapa ya???" gumamku dalam hati.


"Kasihan Dokter Irene mendapat cobaan berat di rumah tangganya," gumamku lagi.


"Hey," Ada yang menepuk pundakku dari belakang, aku membalikkan badanku untuk melihatnya.


"Aaaah Mas Naufal," kataku.


"Kamu ngapain clingak clinguk gitu, nyari siapa?? Hmm? Suamimu ada disini," kata Naufal.


"Aku tadi mau ke ruangan kamu, terus aku lihat Dokter Irene yang lagi jalan sambil nangis," jawabku.


"Hummm Sayang....Sayang, ya udah ayo pulang," ajak Naufal langsung menarik tanganku dan mengajakku berjalan ke parkiran.


Dalam perjalanan Naufal kembali menanyakan tentang Dokter Irene.


"Emang kamu kenapa sih Sayang,? Kok khawtair banget sama Irene," ucap Naufal heran.


"Tadi pagi Dokter Irene ke ruanganku Mas, dia menangis, dia cerita, kalo suaminya hamilin pacarnya," jawabku.


"Haa?? Maksudnya gimana sih Sayang, suami Irene hamilin pacaranya !! Kok bisa??? Suami Irene punya pacar," tanya Naufal.


Aku menceritakan semua tentang Dokter Irene pada Naufal.


"Ya Allah, kasihan ya Irene, saling mencintai tapi nggak bisa saling ngungkapin, sampek kayak gini kejadiannya," kata Naufal yang ikut khawatir.


"Tapi itu belum tentu suami Dokter Irene loh Mas yang hamilin," kataku.


"Ya kan kita nggak tau juga Sayang, laki-laki terkadang seperti itu, kalo dia tega ya tega an Sayang," kata Naufal.


"Oh ya?? Masak gitu?" godaku.


"Iiih kamu di bilangin malah kek gitu," ucap Naufal.


"Hehehm, iya iya," kataku sambil merangkul tengkuk Naufal dan memainkan rambutnya.


Akhirnya kami pun sampai di depan gerbang sekolah Abay.


Kami agak menunggu lama disana.


"Mas, tumben Abay lama banget," keluhku yang belum melihatnya keluar dari sekolahnya.


"Ya mungkin ada kelas tambahan Sayang, dia nggak bilang kamu kemaren?" tanya Naufal padaku.


"Enggak, dia nggak ada bilang apa-apa ke aku," kataku.

__ADS_1


"Ya udah di tunggu aja," tutur Naufal.


"Apa jangan-jangan Abay ada yang barengin ya Mas," tebakku.


"Nggak mungkin lah Sayang, dia kan gak mungkin mau," bantah Naufal.


Tak lama kemudian, Abay keluar dari gerbang sekolah dengan di dampingi oleh gurunya.


"Tuh Sayang Abay, bener kan aku," ucap Naufal.


Abay segera masuk ke dalam mobil.


"Abay kok pulangnya telat?" tanyaku.


"Iya Ma, tadi teman Abay sakit, jadi Abay nungguin," jawab Abay.


"Tadi orang tuanya udah disana?" sahut Naufal bertanya pada Abay.


"Udah Pa," jawab Abay.


Naufal kembali melajukan mobilnya.


Di tengah-tengah macet, ku lihat Abay yang tengah tertidur di belakang.


"Abay ketiduran Sayang," kata Naufal.


Aku menoleh ke belakang.


"Kecapek an mungkin Mas," kataku.


.


.


.


.


Akhirnya kami sampai di rumah.


***(Di Runmah)


Sesampainya di rumah, setelah keluar dari mobil, aku berjalan menaiki anak tangga.


Di Kamar, segera aku mengganti baju lalu kembali turun ke bawah untuk ke dapur.


***(Di Dapur)


Bi Sarah sudah menungguku dan sudah menyiapkan semua sayur mayur yang akan kami masak.


"Wah Bibi udah nungguin Gia ya," kataku.


Aku dan Bi Sarah segera memulai aksi memasak kami.


Kami memasak beragam menu masakan, karena memang kehadiran Mama Naufal sangat istimewa.


.


.


.


.


.


.


.


.


Meskipun belum selesai memasak, aku kembali ke kamar untuk mandi.


***(Di Kamar)


Aku melihat Naufal tengah duduk di tepian balkon sambil memangku laptopnya.


"Mas, kok belum mandi," kataku menghampirinya.


"Kamu ngapain?" tanyaku.


"Ini lagi nyelesain presentasi Sayang," jawabnya.


"Mandi gih," tuturku.


"Emang kamu udah selesai masaknya?" tanya Naufal sambil meneguk secangkir mint tea.


"Ya belum Mas, tapi tinggal dikit kok tadi," jawabku.


"Kamu mandi duluan aja Sayang," tuturnya balik padaku.


"Huum kamu selalu gitu," kataku pasrah smabil berjalan masuk ke kamar mandi.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Beberapa menit selesai aku mandi, Naufal segera bergegas untuk mandi.


Ku keringkan rambutku dengan hair dryer di depan kaca riasku.


Setelah kurasa sudah kering, ku rai kerudungku, lalu kembali ke Dapur.


***(Di Dapur)


"Bibi mandi dulu aja, biar Gia yang ganti nungguin sayurnya," tuturku.


"Hehehe iya Mbak," jawab Bi Sarah.


Tak lama kemudian, Abay menghampiriku sambil mebawa Al-Quran


"Huuum baunya enak banget Ma," puji Abay.


"Hehehem, iya dong Nak, buatan siapa dulu," kataku.


"Udah selesai ngajinya?" tanyaku.


"Udah Ma," jawab Abay.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari sudah petang.


Tepat setelah aku dan Naufal selesai mengaji.


Bi Sarah datang memanggil kami, karena Mama Naufal sudah datang.


***(Di Ruang Tamu)


"Assalamu'alaikum," salam Mama Feni.


"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Naufal.


Aku segera menyalami tangannya.


"Aduh menantuku, apa kabarnya Nak?" tanya Mama Feni.


"Alhamdulillah Ma, Mama gimana kabarnya?" tanyaku balik.


"Mama juga Alhamdulillah sehat," jawabnya.


"Huum Mama gitu, ada menantu, eh Naufal di lupain," canda Naufal.


"Hehem, ya enggak dong Naufal," kata Mama Feni.


"Mari duduk Ma," kataku mempersilahkannya untuk duduk.


"Abay diamana Gi?" tanya Mama Feni.


"Abay ada di atas Ma, mau Gia panggilin," tawarku.


"Abay belajar ya?'" tanya Mama Feni.


"Hehehem, iya Ma, ada guru lesnya di atas," jawabku.


"Mama sendirian?" tanya Naufal.


"Iya lah Nak, mana mungkin Papa kamu bisa, Papa masih sibuk, Mama sampe kasihan, takut kalo Papa kecapek an," ucap Mama Feni.


"Jangan capek-capek lah Ma, Papa kan udah umur, kesehatan nomor satu," tutur Naufal.


"Bilang sama Papa kamu Fal, kalo Mama yang bilang pasti Papa tetep aja, soalnya Papa kamu itu Gi nggak bisa diem di rumah, laptop aja bawaanya kemana-mana," keluh Mama Feni.


.


.


.


.


.


Kami berbincang-bincang cukup lama, menceritakan kegiatan Mama Feny dan juga aku.


Akhirnya ada sebuah mobil melaju dari luar.

__ADS_1


Bersambungg......


__ADS_2