
2 Bulan kemudian, Setelah Gia lulus koas, dan 2 minggu
selanjutnya Pernikahan Gia dan Naufal
akhirnya tiba.
Pernikahan mereka di adakan di hotel dari keluarga Dokter
Naufal dan dihadiri oleh keluarga dan teman dekat saja. Pagi ini Dokter Naufal dan Gia akan melaksanakan akad mereka di masjid yang terkenal di kota itu, dan malamnya nanti mereka akan merayakan resepsi di aula hotel dari keluarga Dokter
Naufal. Dokter Naufal akan meminang Gia hari ini.
Di Dalam kamar hotel Gia merasa deg-deg an, karena Gia ragu sampai saat ini Dokter Naufal sama sekali belum pernah mengatakan bahwa beliau mencintainya. Sedangkan pagi ini beliau akan mengambil haknya.
***(di Kamar Hotel)
Gia yang duduk termenung di depan kaca rias memandangi
wajahnya sendiri. Mama dan Papa Gia menghampirinya.
“Ma, Gia deg-deg an,” ucap Gia.
“Bismillah Nak, Mama dulu juga seperti Gia,” tutur Mama Gia.
“Iya Nak, Gia nggak usah takut, Papa sama Mama bahagia banget hari ini, melihat anak gadis Papa yang dari dulu sangat Papa jaga sekarang akan dipersunting oleh seorang pria,” ucap Papa Gia.
“Aaaaaa Papa,” rengek Gia yang langsung memeluk Papanya.
“Gia tetap milik Papa, selamanya Gia tetap milik Papa,” ucap
tangis Gia di pundak Papanya.
Mama mengelus-elus kepala Gia dan matanya berkaca-kaca.
“Nak, menikah bukan hanya menyatukan antara dua insan, bukan itu. Niat sesungguhnya menikah itu ibadah, dan ketika akad terucap, maka kamu akan seutuhnya menjadi miliknya,
menjalin janji yang tak akan putus oleh apapun kecuali kematian,” tutur Papa Gia.
Gia semakin menangis di pundak Papanya. Mama Gia ikut
menangis dan memeluk Gia.
“Gia sayang banget sama Papa sama Mama,” ucap Gia.
Mereka melepas peluknya. Mama Gia menghapus air mata Gia.
“Ya udah Nak, Mama keluar dulu sama Papa, bentar lagi kita
berangkat, karena keluarga Naufal udah siap,” ucap MamaGia.
“Iya Ma,” jawab Gia.
Setelah Mama dan Papa Gia keluar dari kamar, Susi yang kali
ini sebagai bridesmaid (pengiring pengantin wanita) menghampiri sahabatnya.
“Giaaaa,” teriaknya sambil memeluk Gia.
Gia membalas pelukan Susi.
“Akhirnya sahabatku ini udah sold out,” ucap Susi di pundak Gia.
“Gi, aku bahagia banget hari ini, kamu jangan sedih-sedih
ya, aku pasti akan selalu ada buat kamu,” rengek Susi.
“Makasih Gi, aku seneng banget bisa jadi bridesmaid mu ini,”
kata Susi sesekali meneteskan air matanya.
Mereka melepas pelukannya.
“Udah dong, jangan nangis, nanti aku ikutan nangis Si,” ejek
Gia.
“Ini tuh nangis bahagia Gi,” bantah Susi.
“Kamu cepet nyusul ya,” goda Gia.
“Ah kamu nih Gi, eh btw yang jadi Groomsmen (Pengiring pengantin pria) siapa Gi?” tanya Susi.
“Adik ku sama gak tau tadi katanya sama saudaranya Dokter
Naufal,” jawab Gia.
Mama Gia menghampiri Gia yang bersama Susi di dalam kamar
“Eh kalian, ayo kita berangkat, semua sudah siap,” perintah
Mama Gia.
“Nanti kamu temenin Gia terus ya Si,” ucap Mama Gia.
“Siap Tante,” jawab Susi.
Semua rombongan keluarga Gia menuju masjid untuk
melaksanakan akad.
Di dalam mobil tangan Gia gemetar karena saking deg-deg an.
“Gi, rileks ya, aku ada sama kamu,” ucap Susi.
Gia hanya membuka tutup menu ponselnya.
__ADS_1
Seperempat jam kemudian rombongan keluarga Gia sampai di depan Masjid.
Gia langsung berjalan menuju ruangan yang ada di masjid untuk menunggu proses ijab Kabul.
Sedangkan keluarga Dokter Naufal sudah menunggu di sana dan sudah siap melaksanakan ijab Kabul.
Papa Gia duduk di depan Dokter Naufal. Dan menjabat tangan
Dokter Naufal.
Detik-detik proses ijab kabul dimulai, Gia hanya bisa berdoa
di ruangan tersebut yang ditemani oleh Mamanya dan Susi.
“Bismillahirrohmanirrohim wahai Naufal Herdiman, Saya
nikahkan, saya kawinkan anak kandung saya Gia Azimaika kepada engkau dengan mas kawin seperangkat alat sholat, tunai,” ucap Papa Gia.
“Saya terima nikah dan kawinnya Gia Azimaika binti Irwan Edi
Agustiawan dengan mas kawin tersebut tunai,” ucap Dokter Naufal.
“Para Saksi?” ucap Pak Penghulu.
“Sah,” jawab semua saksi.
Gia yang mendengar hal itu sangat lega sekali karena akadnya
berjalan lancqr.
Gia keluar dari ruangan tersebut dengan di dampingi oleh Mamanya di sebelah kanan dan Susi di sebelah Kirinya. Mereka membawa Gia untuk menemui suaminya. Semua orang yang hadir disana berdiri dan semua mata tertuju pada Gia, Gia yang mengenakan kerudung panjang dan Gaun putih polos terlihat sangat anggun.
Baru kali ini Dokter Naufal memandang ke arah Gia sambil
tersenyum seperti orang yang bahagia.
Gia berdiri di samping Dokter Naufal, Dokter Naufal
memasangkan cincin ke jari manis Gia, Gia menyalami dan mencium tangan suaminya. Dokter Naufal mencium kening Gia.
Mereka berfoto-foto bersama keluarga dan kerabat dekatnya.
Setelah acara akad selesai, semua rombongan kembali ke
hotel.
***(di Hotel)
“Ma, Gia ke kamar dulu ya,” ucap Gia.
“Iya Nak, Susi kemana?” Tanya Mama Gia.
“Susi udah duluan di kamarnya kayaknya Ma,”jawab Gia.
“Oooo ya udah, kamu istirahat dulu sana,” perintah Mama Gia.
suaminya tengah berjalan menuju arah Gia, Johan langsung memeluk Gia.
“Kakak selamat ya,” rengek Johan.
“Iya, makasih ya,” ucap Gia yang membalaspelukan Johan.
“Kakak jangan tinggalin Johan ya, pasti aku akan rindu
Kakak,” tuturnya.
“Enggak Dek, udah ah jangan nangis malu tau dilihatin,” ejek
Gia.
Johan melepas pelukannya dan mengusap matanya.
“Aahhh Kakak,” rengek Johan.
“Ya udah Kakak ke kamar dulu mau istirahat,” kata Gia.
Johan hanya
menganggukkan kepalanya.
Gia berjalan menuju ke kamarnya, sedangkan Dokter Naufal
yang masih bercengkrama dengan keluarga Gia.
Gia membaringkan tubuhnya untuk istirahat sebentar.
Adzan dhuhur berkumandang, Gia membersihkan semua make up nya, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu, setelah Gia keluar wudhu Gia kaget di depan kamar mandi ternyata ada suaminya yang juga ingin berwudhu.
Gia hanya melewati suaminya begitu saja sambil menundukkan
kepalanya, Gia mengambil mukenah dan sajadah. Dari arah belakang ada suara
suaminya.
“Udah siap?” tanya Dokter Naufal.
“Ka…kamu yang imami aku?” tanya Gia balik.
“Iyalah Gi, aku kan suami mu mulai sekarang,” jawab Dokter
Naufal.
Gia malu dan memalingkan wajahnya dari Dokter naufal.
Mereka melaksanakan sholat dhuhur bersama, setelas sholat
__ADS_1
selesai Gia menyalami dan mencium tangan suaminya untuk yang pertamakalinya.
Dokter Naufal menyodorkan tangan kanannya ke Gia.
“Ini,” tutur Dokter Naufal yang memberi maksud pada Gia agar
menyalami tangannya.
Gia mengambil tangan suaminya dengan gemetar lalu menyalami dan mencium tangan Dokter Naufal.
“Setiap setelah sholat, kamu harus gini,” tutur Dokter
Naufal.
“Tau,” jawab Gia singkat.
“Terus kenapa nunggu aba-aba,” ejek Dokter Naufal.
“Ya…ya kan baru pertama kali wajar dong,” ucap Gia sambil
mengernyitkan kedua matanya.
Dokter Naufal menertawakan Gia.
“Gak usah malu-malu sama suami sendiri,” rayu Dokter Naufal.
“Iiiiih apa sih, gak jelas kamu,” ucap Gia yang langsung
berdiri meninggalkan Dokter Naufal karena malu dan wajahnya memerah.
Dokter Naufal meninggalkan kamarnya karena masih ingin
bercengkrama dengan keluarga Gia. Sedangkan Gia merebahkan tubuhnya di atas sofa dan tertidur.
Beberapa jam kemudian.
Adzan Ashar berkumandang, Gia tak kunjung bangun.
Dokter Naufal masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya yang tertidur di atas sofa, beliau menghampiri Gia.
Dokter Naufal jongkok dan memandangi setiap inci wajah Gia.
Lalu membangunkan Gia.
“Gi, bangun Gi,” ucap Dokter Naufal sambil mengelus-elus
lengan Gia.
Gia membuka matanya, dan mata Gia terbelalak karena syok
melihat ada Dokter Naufal di depannya, Gia sepertinya lupa bahwa mereka berdua telah menikah.
"Astagfirullah," ucap Gia kaget.
Gia langsung meraba kepalanya.
“Untung pake kerudung Ya Allah,” ucap Gia dalam hati.
Gia menarik mundur badannya.
“Dokter Naufal ngapain di kamar saya?” tanya Gia judes.
Dokter naufal tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Gia.
“Aduuuh Gi, kamu lupa ya, tepat pukul 10.46 kamu itu sudah
sepenuhnya milik ku Gi, masak kamu lupa sih,” ejek Dokter Naufal.
Gia sangat sangat malu.
“Aduuh iya aku lupa,” gerutu Gia dalam hatinya.
“Maafkan saya,” ucap Gia.
Dokter Naufal duduk di sebelah Gia.
“Udah ya kamu gak usah kaku gini, kalo di luar rumah sakit
kamu itu sebagai istri aku, jadi gak usah saya dan anda panggil aku kamu aja, tapi kalo di rumah sakit baru saya anda karena kita harus professional,” tutur Dokter Naufal.
Gia hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya udah gih, sana mandi terus sholat,” perintah Dokter
Naufal.
Gia menurunksn kskinys dari sofa dan berjalan menuju kamar
mandi.
Beberapa menit selesai Gia mandi, Gia membuka pintu kamarnya dan melihat suaminya yang masih duduk di sofa dan sedang telfonan dengan siapa
Gia tak tau.
“Iya Sayang, pasti kita akan ketemu nanti, sabar ya,” ucap
Dokter Naufal yang berbicara dengan makhluk yang di telfonnya.
Deeggggggggggggg. Gia mendengarkan hal itu langsung kembali
ke dalamkamar mandi.
Bersambung……………..
Tunggu episode selnjutnya readers😁🙏
__ADS_1
jangan lupa vote, comment, dan like🖤
Terima kasih.