Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 238 (Pura-pura Romantis)


__ADS_3

Hingga sore aku berada di Rumah Mamaku, Mama memberiku ijin untuk pergi besok. Dan sekarang, tiba waktunya aku pulang.


"Ma, Mama nurut sama Budhe ya,"


"Gia mau pulang dulu," pamitku.


Mamaku merengek menangis dan memelukku.


"Gia, bahagia," ucap Mamaku.


Duuuuuaarrrr........


"Iya Ma, Gia bahagia Mama tenang aja, hehehm," kataku sambil mengelus-elus punggung Mamaku.


Mama memelukku sangat lama. Aku tidak tahu kenapa Mama menjadi seperti ini. Mama sudah tidak seperti dulu lagi, yang selalu ceria dan periang.


"Mbak, aku pamit dulu," pamit Mama Feni.


"Budhe, makasih udah ngerawat Mama, Gia sayang sama Budhe," ucapku sambil menyalami tangan Budhe.


"Iya Nak, Gia hati-hati ya kalo di luar negeri, calling Budhe terus," ucap Budhe.


"Assalamu'alaikum," ucap salam kami.


Aku dan Mama Feni masuk ke dalam mobil dan bergegas untuk pulang.


Tin tin......


Lambaian tangan Mama Feni untuk mereka, mobil pun melaju meninggalkan Rumah Mamaku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mobil melaju cepat melintasi jalan tol.


"Mama hari ini nginap di rumah Gia lagi kan Ma," tebakku.


"Maaf Nak, Mama nggak bisa nginap hari ini, tapi besok, Mama bisa kok antar ke Bandara," sambung Mama Feni.


"Ooh ya udah, nggak papa Ma, berarti ini Gia langsung anterin Mama ke Rumah ya," ucapku.


"Iya Nak,"


"Gia, sebenarnya Mama pengen ikut kamu kesana, tapi kamu butuh waktu untuk sendiri, jadi Mama nggak mau ganggu kamu disana,"


"Mama khawatir Nak," ujar Mama Feni sambil meneteskan air matanya.


"Ma, Gia disana udah tenang aja, meskipun Gia disana nggak ada kenalan sama sekali, tapi Gia sudah urus semuanya, baik dari hotel dan lainnya,"


"Jadi Mama tenang aja," ucapku.


"Kamu janji ya sama Mama, kembali ke Indonesia, kamu harus baik-baik aja, Mama juga nggak akan bilang sama Naufal kok kamu perginya kemana,"


"Kalo Naufal tau, pasti dia akan sering-sering susulin kamu kesana, malah nanti luka kamu nggak sembuh-sembuh," tutur Mama Feni.


"Ya Allah, terima kasiiiihhhh, sudah berikan aku mertua sebaik ini, saat berbicara dengan Mama Feni rasanya seperti sedang bersama Mamaku sendiri, makasih Ya Allah, Mama Feni sangat baik," gumamku dalam hati.


"Ma, kenapa Mama malah dukung aku?? Terkadang, ada mertua yang lebih membela anaknya sendiri," tanyaku.


"Mama ini nggak mau jadi mertua yang egois, nggak mau ngekang menantu Mama harus begini dan begitu,"


"Mama dulu juga begini kalo sama Naufal, nggak terlalu ngekang juga nggak terlalu bebas, bagi Mama He can choose his own path, dia bisa memilih jalannya sendiri, jadi yaa....itu yang sekarang Mama lakukan sama kamu, kamu kan juga anak Mama," kata Mamaku.


"Aku sama Mas Naufal sangat berbeda sekali,'" gerutuku dalam hati.


"Kenapa? Berbeda ya sama kamu? Yang hidupnya selalu diatur begini dan begitu, tapi nggak papa, itu juga baik, nggak salah. Daannnn alasan Mama ngejodohin kamu sama Naufal itu juga salah satu ya ini alasannya, hidup kamu terarah, terkontrol, jadi Mama nggak mungkin salah milih kamu," puji Mama Feni padaku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sepanjang menelusuri jalan tol. Kami saling bercerita-cerita. Hingga tak terasa sudah sampai di depan Rumah Mama Feni.


"Ma, Gia nggak mampir ya, sudah malam juga," kataku.


"Iya Nak, kamu hati-hati di jalan," tutur Mama Feni.


"Iya Ma, makasih ya Ma, salam buat Papa," kataku.


"Assalamu'alaikum Ma," ucapku.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mama Feni.


Ku lajukan mobilku keluar dari lingkup Rumah Mama Feni yang luas ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hampir satu jam aku baru sampai di Rumah Mas Naufal.

__ADS_1


***(Di Rumah)


Dari luar, aku melihat mobil Mas Naufal sudah ada disana, tandanya berarti Mas Naufal sudah pulang. Tapi disana juga ada mobil sport hitam yang sangat mewah.


"Mobil siapa itu?? Apa mobilnya Mas Naufal baru??"


Aku turun dari mobil dan menghampiri Pak Joko untuk bertanya, kebetulan sekali Pak Joko sedang berada di luar Pos.


"Pak, itu mobil siapa ya?" tanyaku pada Pak Joko.


"Itu tamu nya Bapak Naufal Mbak," jawab Pak Joko.


"Tamunya Mas Naufal?? Siapa?" tanyaku dalam hati.


"Oh ya sudah Pak kalau begitu, saya masuk ya," ujarku.


"Silahkan Buk, silahkan," jawab Pak Joko.


Sepanjang aku berjalan masuk ke Rumah, aku terus berfikir. Siapa yang sedang datang.


"Assalamu'alaikum," ucap salamku.


"Wa'alaikumsalam, nah ini istriku pulang," ucap Mas Naufal yang sedang duduk bersama seorang pria yang membelakangiku.


"Sini Sayang," panggil Mas Naufal.


Aku berjalan mendekati Mas Naufal, ternyata tamu Mas Naufal yang membuatku penasaran adalah Mas Raka.


Akhirnya, aku turut berkumpul dengan mereka bertiga di Ruang Tamu. Mas Naufal duduk sangat dekat sekali denganku sambil menyilangkan satu kakinya yang menompang di kaki kanannya, dengan satu tangannya yang memeluk lenganku.


Kami terlihat mesra saat itu seperti masih harmonis.


Dia terus mengelus-elus lenganku saat berbicara dengan Mas Raka, Mas Naufal seperti tidak sedang ada masalah apa-apa. Dia sangat menikmati sehingga membuatku nyaman.


"Masih kerja jadi satu ya sama suaminya?" tanya Mas Raka.


"Enggak," jawabku.


"Ya gini Ka kalo kita lagi di rumah," sahut Mas Naufal yang sok romantis padaku.


Bi Sarah datang memberikan minuman pada kami semua. Bi Sarah terkejut karena melihatku dan Mas Naufal yang sepertinya sudah berdamai.


"Monggo (Silahkan) minumannya," ucap Bi Sarah.


"Eeemm, saya pamit ke atas dulu ya," kataku.


"Loh kenapa? Nggak nemenin suami mu ini disini," kata Mas Raka.


"Hehem," aku hanya tersenyum pada Mas Raka.


Meskipun aku dan Mas Naufal sedang bertengkar, di depan banyak orang, aku harus tetap terlihat harmonis dengan Mas Naufal. Karena kita berdua sudah sepakat. Masalah sebesar apapun jangan sekali-kali kita perlihatkan di depan orang.


"Mas, aku ke atas," kataku yang tersenyum kaku melihat Mas Naufal.


"Iya Sayang," jawab Mas Naufal.


Aku berjalan ke atas sendirian, dan Mas Naufal terus saja melihatku, mungkin dia mengira aku sudah tidak lagi marah padanya.


***(Di Kamar)


Aku langsung bergegas mandi karena hari sudah sangat sore. Untung saja di Rumah Mama tadi aku sudah sholat.


.


.


.


.


.


.


.


Selesai sholat magrib, Mas Raka masih belum pulang. Jadi, aku memutuskan untuk sholat sendiri tanpa Mas Naufal.


Karena tidak hanya keluargaku saja yang ku pamiti. Tapi juga tiga karyawanku. Aku akan berada di luar negeri sangat lama sepertinya.


Aku sudah sangat rapi dan siap untuk pergi dengan tas jinjing hitamku yang mungil. Aku pun turun dan berpamitan dengan Mas Naufal.


***(Di Ruang Tamu)


Mas Naufal sudah melihatku sambil mengernyitkan kedua alisnya, pasti Mas Naufal penasaran aku akan pergi kemana.


"Sayang mau kemana?" tanya Mas Naufal seperti biasanya saat kita tidak ada masalah.


"Aku mau ke Butik bentar Mas," jawabku.


"Sama siapa? Sendiri?" tanya Mas Naufal.


"Iya Mas," jawabku.


Mas Naufal merogo ponsel yang ada di saku celananya.


Tut...tut...tut...


"Sedang telfon siapa Mas Naufal?" gerutuku dalam hati.


"Hallo Pak Joko,"


"Tolong sekarang juga antarkan Gia ke butiknya, pakai mobil saja, sekarang juga ya Pak," ujar Mas Naufal.


"Iya Pak Naufal, siap Pak, saya segera kesana," jawab Pak Joko.


Mas Naufal langsung menutup teleponnya dan meletakkan ponsel lebarnya itu di atas meja.


"Kamu dia antar Pak Joko," perintah Mas Naufal.


Aku nggak mungkin bilang "Tapi" di depan Mas Raka seperti ini. Mau tidak mau aku harus menurut padanya. Lagian ini juga demi kebaikanku.


Mungkin karena Mama Feni kemaren menasehati nya, Mas Naufal jadi over protektif padaku.


"Iiii.....iya Mas," jawabku.


Tak lama kemudian, Pak Joko datang. Dan Mas Naufal memberikan kunci mobilnya pada Pak Joko.


"Mari Buk," ucap Pak Joko.


"Assalamu'alaikum," ucapku lalu pergi meninggalkan Mas Naufal dan Mas Raka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


***(Di Butik)


Mobil Mas Naufal terparkir di depan Butikku yang sudah tutup jika sudah malam.


"Pak, Bapak ikut masuk aja," perintahku.


"Tidak Buk, saya menunggu disini saja," jawab Pak Joko.


"Saya mungkin agak lama loh Pak, Bapak nggak papa disini?" tanyaku sambil menundukkan kepalaku tepat di pintu depan mobil.


"Iya Buk, ndak papa," jawab Pak Joko.


Pak Joko selalu seperti itu, sangat sopan. Padahal berkali-kali Mas Naufal sudah bilang, siapapun yang bekerja di Rumahnya, pasti semuanya sama.


"Ya sudah kalo gitu saya masuk dulu ya Pak," kataku.


"Baik Buk," jawab Pak Joko.


Aku masuk ke dalam Butik melewati pintu samping.


Greekkkkk.....ku geser pintu di Butik.


Aku langsung menaiki anak tangga menuju lantai atas.


Aku melihat Isamu yang sedang duduk-duduk di depan TV sambil menulis.


"Mbak Isamu," panggilku.


Isamu langsung menengok padaku dan menutup buku yang ditulisnya. Isamu gelagapan saat ada aku disana. Mungkin Isamu terkejut karena tiba-tiba aku ada disana. Jarang sekali aku ke Butik malam-malam jika tidak ada pesanan dalam jumlah banyak.


"Ibuk,"


"Yang lain kemana Mbak?" tanyaku.


"Eeee....eeemmmm Haru sama Hilya di kamar," jawab Isamu.


"Saya minta tolong, boleh dipanggilin Mbak, karena ada yang mau saya bicarakan," kataku.


"Iya Buk," jawab Isamu langsung membereskan semua bukunya dan segera memanggil Hilya dan Haru.


Aku menunggu mereka di sofa tempat Isamu duduk tadi.


"Ibuk, tumben kesini malam," ucap Haru.


"Iya Buk, ada apa ini? Pasti ada pre order banya ya Buk," tebak Hilya.


"Hehehem, bukan, Saya kesini mau pamit," jawabku.


Mereka bertiga kaget saat mendengar kata "Pamit" dariku.


"Astagfirullah, pamit Buk? Pamit kemana? Ibuk mau kemana?" tanya Haru.


"Mulai besok, Ibuk mau pergi ke luar negeri," jawabku.


"Loh, kenapa Ibuk kesana? Mau nyusul anaknya Ibuk ya? Mau temenin anaknya Ibuk disana?" tanya Haru yang bertubi-tubi.


"Eeeemmmm.......aaaaaa....enggak, disana saya juga ada bisnis, hehehem,"


"Waaah, Ibuk keren," puji Haru.


"Berapa bulan disana Buk?" tanya Haru lagi.


"Belum tau Mbak, tapi pastinya bakalan lama disana," jawabku sambil tersenyum pada mereka bertiga.


"Jadi mulai besok, aaaaa........untuk yang mengurus saya percayakan semua pada Mbak Haru, ya," kataku.


"Ha? Saya Buk?" jawab Haru yang terkejut dan membulatkan kedua matanya.


"Iya Mbak," jawabku.


Sepertinya Haru sangat senang karena sementara akan menggantikan saya.


"Jadi, untuk sementara yang menggantikan saya adalah Mbak Haru, tapi Mbak Haru juga tetap melakukan pekerjaannya seperti biasanya, cuman yang calling saya ada barang datang atau apapun, saya serahkan sama Mbak Haru,"


"Gimana Mbak? Mbak Haru mau?" tanyaku.


"Mau Buk, Mau bangettt saya, Ya Allah nggak nyangka loh Buk," jawab Haru dengan senang hati.


"Nanti jangan sungkan-sungkan kalau ada apa-apa langsung kabari saya," tuturku.


"Tapi Buk, kan Ibuk disana bisnis ya? Nanti kalo Haru ganggu Ibuk gimana?" sahut Hilya.


"Aaaaaa......nggak papa kok Mbak, sebisa mungkin akan saya respon, bisnis nya disana santai kok Mbak, hehem," jawabku. Untung saja aku bisa mencari alasan. Kalau tidak? Pasti aku sudah ketahuan.


"Baik Buk, siapp pasti saya akan melaksanakan tugas dengan baik, hehehe," kata Haru.


"Inget loh yang di hubungi Ibuk, bukan pacarmu Aru," sahut Hilya.


Isamu hanya diam dan mendengarkan saja.


"Huusst, ada Ibu ini loh, kamu ini buat aku malu aja," jawab Haru dengan lirih.


"Hehehe, nggak papa Mbak, sama saya santaia aja," sahutku.


"Udah makan semuanya?" Pertanyaan yang selalu tidak tertinggal saat menghampiri mereka bertiga ini.


"Sudah Buk, sudah," jawab mereka.


"Yakin sudah?" tanyaku lagi.


"Iya Buk, tadi habis beli mie ayam Buk kita," ucap Hilya.


"Ibuk kesini sama siapa? Pasti sama Bapak ya Buk, hihihihi," goda Haru.


"Enggak, saya sama satpam nya Mas Naufal," jawabku.


"Tumben Buk nggak sama Bapak?" tanya Haru.


"Pasti Bapak lagi sibuk Aru besok mau pergi juga sama Ibuk, ya kan Buk," sahut Hilya.


"Saya besok perginya sendiri, tanpa Mas Naufal, karena disini kan ada pekerjaannya Mas Naufal yang sama sekali tidak bisa ditinggal, jadi terpaksa saya harus pergi sendiri," ujarku.


"Ooo begitu ya Buk, hehehe," jawab Hilya.


"Bapak itu orang penting Hil, nggak mungkin Bapak ikut, apalagi Ibuk disana tuh lama," sahut Haru.


"Sa, ngomong dong," canda Haru sambil menyenggol Isamu.


"Isamu ini pendiam nya level ekstra Buk, kalo nggak di ketuk ya nggak bicara," kata Haru.


Isamu hanya memberikan senyumnya saja pada kami.


"Ya sudah, saya cuman mau ngomong itu, jadi jangan lupa ya, mulai besok,"


"Ya Mbak Haru?" ucapku.


"Iya Buk, siap," jawab Haru yang selalu semangat dan periang.


"Saya pamit pulang langsung ya, soalnya kasihan Pak Joko nunggu di mobil, nggak mau saya ajak masuk," jawabku.


"Mungkin nggak enak Buk, karena kan disini cewek semua, hehehe," ujar Haru.


"Iya kali ya,"


"Ya sudah, jaga Butiknya ya, Assalamu'alaikum," pamitku.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati Buk, terima kasih atas kunjungannya," canda Haru dan Hilya.


"Hehehem, iya Mbak," jawabku sambil menuruni anak tangga.


Pak Joko sudah menungguku duduk di kursi besi yang ada di samping Butik dan menikmati kacang rebus keliling.


"Sudah Buk?" tanya Pak Joko.


"Sudah Pak, Bapak kalo masih mau makan di lanjut aja nggak papa, saya bisa nunggu di mobil," tuturku.


"Ini sudah kok Buk," jawab Pak Joko.


Pak Joko langsung memberikan beberapa lembar uang ribuan ke penjual kacang rebus lalu masuk kembali ke mobil.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2