Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 176 (Susah Signal)


__ADS_3

Semua memeriksa satu per satu korban disana, ada yang kaki


nya terluka parah karena tertimpa beton, ada yang tangannya patah, dan ada juga yang telapaknya tertusuk oleh besi sepertinya.


Disini kita jadi sadar, bahwa Allah memberikan nikmat yang


lebih pada Hamba-NYA.


Aku membersihkan luka mereka lalu menjahitnya. Ku lihat


seseorang yang sepertinya seusiaku sedang duduk melamun melihat ke arah puncak tempat terjadinya gempa besar.


Aku berjalan pelan menghampirinya dan duduk di sampingnya.


“Ibu belum di cek tekanan darahnya ya??” tanyaku.


Dia hanya melamun saat ku ambil lengannya.


Setelah aku berhasil cek tekanan darah Ibu itu, sekarang


waktunya aku menanyai nya.


“Hay…..” kataku.


Dengan rambutnya yang sangat tidak rapi dan baju nya yang


sudah buluk, aku semakin tertarik ingin tau banyak pada Ibu ini.


“Ibu kenapa disini??” tanyaku.


“Pasti pengen balik kesana ya,” tebakku.


Aku ngomong sendirian, dan dia tidak memperhatikanku atau


menjawabku.


“Untuk sekarang, semua nya belum boleh balik kesana, karena


masih bahaya, di khawatirkan ada gempa susulan lagi,” tuturku.


Aku menatapnya, dan dia tetap masih saja melamun, ku lihat


kanan dan kiriku, tidak ada siapa-siapa disana.


“Ibu nunggu siapa disini??” tanyaku.


“Anak saya suami saya,” jawabnya, akhirnya dia menjawab


rayuan kata-kataku yang sedari dari kacang untuknya.


“Anak Ibu kemana??” tanyaku.


“Dia atas, dia bermain sama suami saya di atas, setiap hari


saya tunggu disini, tapi mereka nggak kesini menemui saya, mereka berbohong pada saya,” jawab Ibu itu sambil meneteskan air mata di kedua pipinya.


“Berbohong?? Mereka berbohong apa?” tanyaku lagi.


“Katanya mereka janji, mau susulin saya di bawah, mereka


janji akan baik-baik saja saat kembali menemui saya, tapi mereka ingkar, merekaber bohong pada saya, sampai detik ini saya menunggu mereka, mereka tak kunjung datang menemui saya, huhuhuhu,” jawabnyaa.


Aku mencoba memahami jawaban yang di berikan Ibu ini padaku.


“Berbohong??? Janji??? Ingkar???” gerutuku dalam hati dengan berfikir keras dan mendalam.


“Tak kunjung kembali???” pikirku lagi.


“Ooowww……apa jangan-jangan, anak dan suami Ibu ini, meninggal karena gempa,” kataku dalam hati akhirnya menemukan jawabannya.


“Dia janji Dok, bakal susulin saya kesini, huhuhuhu, tapi


dia belum susulin saya kesini, saya akan tetap menunggu mereka Dok, apa mereka masih bermain-main di atas ya Dok,” tanyanya.


“Ibu……Ibu sabar ya, ikhlas,” tuturku sambil mengelus


lengannya.


“Mereka satu-satunya harta berharga yang saya miliki Dok, anak saya, suami saya, tidak ada lagi keluarga saya Dok, sekarang mereka tega membiarkan saya sendirian disini, mereka jahat Dok, huhuhuhu,” kata Ibu itu.


Aku sedih mendengarnya, lagi-lagi aku sadar.


Sekarang tiba saatnya makan, Pengurus disana memanggil semua pengungsi untuk segera makan.


“Bu, ayo makan dulu kesana,” kataku.


“Nggak mau Dok, saya disini aja, nunggu mereka,kasihan


mereka juga belum makan,” jawabnya.


“Bu, kasihan kalo nanti Ibu malah sakit gimana, bersyukur


loh Ibu masih sehat wal’afiat sekarang, kan mereka juga seneng kalo lihat Ibu nya sehat istrinya sehat,” bujukku.


“Ayo makan, saya temenin,” ucapku.


Akhirnya aku berhasil membujuk Ibu itu. Disana aku duduk


dikarpet dengan Ibu tadi, sambil dia diberi satu kotak makan.


Dia membukanya dengan senang.


“Dokter makan ya,” ucapnya sambil menyodorkan satu kotak


makan miliknya.


“Sudah, saya sudah makan tadi mau kesini,” ujarku sambil


tersenyum padanya.


“Nanti Dokter sakit, makan lagi ya Dok,” paksanya.


“Enggak papa, saya masih kenyang, Ibu makan aja,” kataku.


Ibu itu pun mengambil satu suap nasi dengan tangannya tanpa


memakai sendok.


“Eh ehe eh, Ibu belum cuci tangan??” tanyaku.


Ibu itu menggelengkan tanganya sambil tersenyum menyeringai


padaku.


“Cuci tangan dulu Bu, nanti kuman nya ikut ke makan,”


kataku.


“Bentar-bentar saya ambilkan air buat cuci tangan,” kataku


yang beranjak berdiri mengambilkan Ibu itu air untuk mencuci tangannya.


Aku keluar dari tenda pengungsian yang dangat panas dan


menguras keringat.


Saat ku pakai sepatuku, Naufal datang mengagetkanku.


“Sayaaannnggg…….aku cariin kamu kemana-mana, ternyata abis dari dalam sini,” kata Naufal.


“Iya Mas, aku nemenin Ibu itu,” kataku dengan telunjuk


jariku mengarah ke Ibu itu.


“Terus sekarang mau kemana lagi?” tanya Naufal.


“Mau ambil air Mas,” jawabku.


“Buat apa??? Disini airnya kotor Sayang,” ucap Naufal.


“Buat cuci tangan Ibu itu, dia udah nungguin aku loh Mas,”


jawabku.


“Jangan ah Sayang, kasihan, airnya kotor, kamu kan biasanya


bawa tissue basah sama hand sanitzer kan, kasih aja itu,” tutur Naufal.


“Astagfirullah Mas……aku lupa, di saku ku ada,” ucapku smabil


menepuk keningku.


“Heeeemmmm, kamu sih lupa an,” ucap Naufal.


“Kamu abis dari mana ini, lusuh banget wajah kamu,” kataku.


“Iya Sayang, pasiennya banyak banget ternyata, jadi ini


selesai langsung ganti ini ganti ini,” jawab Naufal.


Ku ambil tissue kering dalam saku ku, lalu ku usapkan pada


kening Naufal yang agak gelap karena terkena debu disini.


“Gini dong, di usapin,” ucap Naufal dengan senang.


“Hehehe, dasar kamu itu Mas, bilang aja kalo sengaja mau di


usapin sama aku kan, pake pura-pura nyariin aku segala,” tebakku.


“Ya iya lah Sayang, mau sama siapa lagi??? Aku punya kamu,”


goda Naufal.


“Udah ini, kotor banget kan,” kataku.


“Untung aja bagian kita beda Mas, aku nggak kebayang yang


kamu itu, hehehem, gimana?? Banyak yang godain gak??” tanyaku sambil menyenggol lengannya dengan centil.


“Godain apa sih Sayang??” jawab Naufal agak sedikit

__ADS_1


malu-malu.


“Nggak usah sok-sok an nggak tau Mas, pramugari nya aja ke


sem-sem sama kamu, apa kabar dengan penduduk sini??” godaku lagi.


“Apa sih Sayanggg……jangan gitu ah,” jawab Naufal dengan


senyum manisnya.


“Hehehem, udah ketebak, pasti banyak ya,” tebakku.


“Nggak papa, kamu harus tetep nyenengin mereka, harus tetap ramah, tapi kan kamu juga tau batas, lagian pasien kamu pasti Ibu-Ibu juga kan,” karaku sambil mengusap lagi keningnya.


“Lakuin semua yang kamu bisa buat mereka Mas, kasihan


mereka, kita yang lebih beruntung, harus bisa bantu mereka dengan apa yang kita punya,” ucapku sedikit merengek pada Naufal dan air mata menetes secara tiba-tiba di pipiku.


Naufal dengan cekatan langsung mengusap air mataku.


“Udah jangan nangis, kalo kamu nangis, mereka kan juga ikut


sedih,” tutur Naufal.


“Huuumm, ya udah aku masuk ke tenda lagi ya Mas,” ucapku.


Naufal menjawab dengan senyuman dan anggukan kepalanya, lalu melangkah pergi meninggalkanku lagi.


Aku kembali masuk ke dalam tenda dan menemui Ibu itu.


“Bu, maaf ya, saya nggak jadi ambil air, ini saya bawa


tissue sama hand sanitizer,” kataku.


Ibu itu hanya diam, ku berikan tissue basah dan hand


sanitizsr padanya.


Namun Ibu itu malah memberikan tangannya padaku.


“Ooo…..eeehmmmm…sini saya bersishin,” kataku.


Aku pun mengusap tangan Ibu itu hingga bersih.


“Udah, sekarang tangannya udah bersih, jadi Ibu boleh


makan,” tuturku.


“Ibu namanya siapa??” tanyaku.


“Eemmm…….Tina,” jawabnya dengan lama.


“ibu Tina, ya ya ya,” kataku.


“Di habisin ya Bu,” tuturku sambil mengelus tangannya.


.


.


.


.


.


.


Hari sudah semakin sore, setelah sholat, kami semua menimati


sunset di sore hari, di sini sangat terlihat jelas sunset yang indah dan melingkar berwarna orange membara, bahkan kita yang dari kota berlomba-lomba untuk mengabadikan keindahan semesta ini.


Tiba-tiba ponselku bergetar.


Dan ternyata batreiku lowbatt.


Hari sudah akan gelap, kami semua kembali turun agak ke


bawah meninggalkan para pengungsi disini.


.


.


.


.


.


Di Lokasi istirahat kami, aku mengambil charger dalam tasku,


namun disana stopkontak sangat penuh dan banyak sekali yang menggunakan.


Aku menghampiri Naufal di tempatnya, kebetulan dia juga


keluar dari dalam kamar istirahatnya.


“Mas…..batrei aku habis,terus yang charger banyak, gimana


dong??” tanyaku.


“Di charger disini aja,” tutur Naufal.


“Memangnya nggak papa Mas,” tanyaku.


“Nggak papa lah Sayang,” jawab Naufal.


“Ya udah ini,” kataku.


Naufal mengambil ponselku dan membawanya masuk. Aku menunggu di depan tenda pria.


.


.


.


“Gimana Mas?? Penuh juga ya??” tanyaku.


“Iya Sayang, penuh juga,” jawab Naufal.


“Ya udah Mas nggak usah,” kataku.


“Mau telfon Abay Mas, tapi signal nya cuman satu, bisa nggak


ya,” ucapku.


“Kamu coba dulu Sayang, apa aku antar ke kota?” tanya


Naufal.


“Nggak usah Mas, ke kota jauh,” ucapku.


“Ya udah kita cari-cari signal, agak turun, aku temenin, kan


HP kamu juga masih 20%,” kata Naufal.


“Iya Mas, tapi bentaran aja ya, soalnya bentar lagi udah


magrib,” kataku.


Akhirnya Naufal menemaniku mencari signal demi rasa rinduku


pada Abay terobati.


Kami berjalan hanya berdua.


“Tadi di atas kan juga ada signal Sayang, tapi cuman 2,”


kata Naufal.


“Beneran kamu??” tanyaku.


“Iya, dari tadi di atas aku bisa kirim pesan sms ke Mama,”


jawab Naufal.


“Tapi ya cuman satu tempat aja, nggak semua bisa,” kata


Naufal.


Aku berjalan agak ke bawah ditemani Naufal sampai menemukan signal.


.


.


.


.


.


“Mas Mas, disini ada,” kataku sambil mengarahkan ponselku ke


atas.


“Udah kamu diam disana dulu,” tuturnya.


“Ada Mas, tapi cuman dua,” kataku.


“Nggak papa, coba kamu sms aja,” ucap Naufal.


Ku kirim pesan sms pada Abay.


“Terkirim nggak??” tanya NAufal.


“Terkirim Mas, tapi agak lama,” jawabku.


Naufal duduk berbujur di atas daun-daun yang berwarna coklat.

__ADS_1


“Sini duduk sini,” kata Naufal.


Aku duduk berdua dengan Naufal sambil menikmati sunset


disana.


“Ada enaknya juga ya Mas disini, bisa lihat ginian,” kataku.


“Iya lah Sayang, Allah itu nggak mungkin nyiptain jeleknya


aja, pasti ada baiknya,” ujar Naufal.


Ponselku kembali bergetar.


Ku buka balasan pesan Abay.


“Tanyain ke Abay Sayang, nanti malam kira-kira bisa nggak


tidur di kamar Mama, hehehem,” ucap Naufal.


"Heheh iya Mas," kataku.


"Gi, berasa evening party di Bali kalo kayak gini, yaah meskipun di dedaunan hehehe," kata Naufal.


"Heemm ada-ada aja kamu Mas, ini kan bukan pinggir pantai, tapi pinggir bukit," ucapku.


"Hehehe. tau tau Sayang," ucap Naufal.


.


.


.


.


.


Setengah jam sudah kami berada di sana, kemudian kami kembali ke pemukiman buatan untuk kita.


Di depan kamar istirahat Naufal, aku menitipkan ponselku.


“Mas, nitip charger ya,” kataku.


“Iya mana?” ucapnya.


“Kamu mandi sana, aku juga mau mandi,” kataku.


“Emang kamu tadi di atas belum mandi?” tanyanya.


“Udah, tapi nggak enak sih, keringetan lagi,” kataku sambil


mengusap keningku.


“Ya udah mandi lagi sana gih,” tuturnya.


“Byyeee,” kataku melangkah masuk kembali ke kamar wanita.


“Habis dari mana Gi??” tanya Dokter Irene.


“Mas Naufal Dok,” jawabku.


“Dokter udah mandi?” tanyaku balik.


“Udah ini barusan selesai, kamar mandi nya di belakang tau


Gi, iiihhh serem,” goda Dokter Irene.


“Oooo iya Dok, tadi Susternya juga bilang gitu,” ucapku yang


sok nggak takut.


Dokter Irene kembali ke tempatnya, dan aku berjalan pelan


menuju tempat tidurku sambil memikirkan betapa seramnya kamar mandi yang dimaksud Dokter Irene.


Ku ambil peralatan mandiku serta gamis dari dalam koperku.


“Bismillah Gi, nggak usah takut,” kataku dalam hati.


Aku berjalan ke belakang menuju kamar mandi, ternyata memang benar kamar mandi nya berada agak lumayan jauh dari tempat kami.


“Aaaarrrgghh jauh banget,” gerutuku dalam hati.


“Mana ini mau magrib lagi,” gumamku dalam hati.


Deg…deg…deg…


Aku melangkahkan kaki ku dengan sangat pelan sambil


pandangan lurus ke depan tanpa melihat kanan dan kiriku, sebenarnya jalan menuju kamar mandinya sih bersih, tidak ada semak-semak, lampunya yang kurang terang menjadikan bulu kuduk ku merinding.


Langkah ku percepat agar cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Dan ternyata, kamar mandinya berdinding kayu, pintunya


terbuat dari seng, dan airnya juga tidak terlalu bersih, tapi bagaimana lagi, ada nya ini, jadi aku harus tetap cepat-cepat mandi sekalian wudhu karena nanti pasti sholat berjama’ah.


.


.


.


.


.


.


Setelah aku selesai mandi, dan berlari menuju tempat


tidurku. Tepat saat itu adzan magrib dikumandangkan, semua berlomba-lomba dan mengantri mengambil air wudhu.


“Huuufftt, untung saja aku udah sekalian wudhu tadi,”


kataku.


.


.


.


Kami semua sholat berjama’ah di depan tenda kami.


.


.


.


.


Setelah sholat, kami semua kembali ke tempat kami


masing-masing.


Ku masukkan kembali mukenahku ke dalam koper dan ku rapikan kerudungku. Kemudian aku bergegas untuk menemui Naufal dan mengambil ponselku.


Aku keluar dari tendak, namun tak langsung ke depan gubuk


Naufal, karena gubuk itu hanya untuk pria.


Aku menunggunya di depan gubukku sampai batang hidung Naufal pun keluar.


“Mas….Mas,” panggilku.


“Eh Sayang, mau ambil HP kamu ya?” tanya Naufal yang sepertinya buru-buru akan pergi.


“Iya Mas,” jawabnya.


“Aku ambilin, bentar ya,” ucap Naufal.


“Iya Mas, kam…” sebenarnya aku ingin bertanya pada Naufal,


namun dia sudah langsung saja masuk ke tendanya untuk mengambilkan ponselku.


Tak lama aku menunggu, Naufal datang kembali dengan membawa ponsel dan chargerku.


“Ini Sayang, aku buru-buru Sayang, di panggil Pak Anton,


biasa…..pasti ada yang di omongon,” ujar Naufal.


“Byee Sayang,” ucapnya sambil melangkah meninggalkanku dan tak sempat aku menjawabnya.


“Huuummmm, dasar Mas Naufal,” gumamku sambil memasukkan charger dalam saku gamisku.


Ku nyalakan ponselku, dan ternyata ada satu pesan sms masuk dari Mamaku.


“Nak, Papa kamu sakit,” Mama (17.05)


“Ha???Mama sms aku dari tadi, ini kan waktu aku di bawah


tadi,” kataku sendirian.


“Aku harus telfon Mama, aku harus nanyain kabar Papaku


gimana,” ujarku yang panik sendirian di depan tenda pria.


“Aaarrrgghh aku lupa signal nya nggak ada,” kataku.


“Aku harus bisa telfon Mama,” ucapku.


Bersambung.........


Hay pembaca setiaa hehehe


jangan lupa tinggalin like, komen dan vote nya yahhh🙏, episode selanjutnya bakalan hadir hari ini jugaa😁😁🖤


Stay disini ya....

__ADS_1


__ADS_2