Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 244 (Mamaku Kenapa?)


__ADS_3

"Udah lah Mas tidur aja," kataku.


Dengan kedua tatap mataku menghadap lampu dan menutup kedua mataki yang sangat ingin berjumpa dengan mimpi.


"Sayang," panggil Mas Naufal yang tidur disampingku sambil berbantal lengan kekarnya.


"Kenapa Mas?" Jawabku dengan kedua mata yang tertutup.


"Mas ada tugas sebulan di luar negeri," jawabnya.


Langsung ku belalakkan kedua mataku dan menggeser tubuhku didekatnya.


"Apa? Sebulan Mas?" tanyaku.


"Iya Sayang," jawab Mas Naufal dengan melas.


"Ya.....ya bagus dong," ucapku.


"Kok malah bagus sih Sayang? Kamu nggak sedih ditinggal Mas sebulan,"


"Kamu nggak ketemu Mas lama loh nanti," tuturnya.


"Mas.....kan aku selalu ngedukung kerjaan kamu, your job is number one, ya kan??" Ucapku sambil menempelkan tanganku di dadanya.


"Bukan gitu Sayang, Mas kan ngelakuin semua ini juga demi kita," kata Mas Naufal.


"Iya iya.....aku tau," jawabku mengalah.


"Nggak papa kok, lagian kan aku ada Butik, jadi kan juga sibuk, nggak papa lah Mas," kataku santai.


"Aku tau Mas, pekerjaanmu lebih penting dari segalanya buatmu, semakin hari kamu semakin sibuk, hhmm....aku selalu dukung apa yang membuatmu bahagia Mas," ucapku dalam hati.


"Kamu beneran nggak papa Sayang? Mas tinggal selama sebulan?" tanyanya lagi untuk meyakinkan ku yang manja ini dan tidak bisa jauh-jauh darinya.


"Iya Mas nggak papa kok," ucapku dengan senyuman.


"Terus berangkatnya kapan?" tanyaku.


"Satu hari lagi,"


"Maaf ya, Mas baru bilang, soalnya Mas nggak tega ninggalin kamu Sayang, apa kamu di rumahnya Mama aja?? Atau di rum....."


"Mas...Mas..."


"Udah lah, nggak perlu khawatir, kayak baru pertama aja ninggalin aku, kan udahs sering kayak gini nih" kataku.


"Kamu kok bilangnya gitu Sayang? Ini demi,"


"Iya....aku tau, demi kita, kita keluarga, santai aja lah Mas, udah gak papa kok," kataku mencoba membuatnya tidak cemas.


"Ya udah kalo gitu besok aku nggak ke butik, aku siapin buat kamu aja kalo gitu," kataku.


"Sekarang bobo ya," kataku sambil mengusap keningnya.


Seperti biasanya, dia selalu mendekapku.


Menjagaku, dan menghangatkanku di setiap malam-malam kami.


Lelaki ini, lelaki yang sangat aku cintai.


Dia pegganti Papaku, aku tidak ingin kehilangan dia.


Waktuku bersamanya, lebih berharga dari segalanya.


"Makasih Papa," ucapku dalam hati.


.


.


.


.


.


Adzan shubuh berkumandang dari ponsel Mas Naufal.


Aku masih aman dan nyaman berada di dekapan tubuh kekar pria ini.


"Uuuggghhhhhhh,"


"Pagi Sayanggggg," ucap Mas Naufal.


"Pagi Mas," jawabku.


Aku bergegas bangun dan segera mandi.


.


.


.


.


.


Setelah rutinitas shubuh ini sudah kami laksanakan, sekarang giliran kami pamit untuk pulang.


"Ma, Gia pamit pulang ya," ucapku yang duduk di pinggiran ranjang Mama Feni.


"Nggak nginep lagi?" Canda Mama Feni.


"Naufal ada tugas ke luar negeri Ma, jadi kapan-kapan lagi ya kita kesini Ma," sahut Mas Naufal yang berdiri di sampingku.


"Kamu tuh Fal, selaluuuuu aja, kenapa sih? Kerjaan kamu harus double-double Nak, sekali-kali honeymoon ke luar negeri sama istri kamu," tutur Mama Feni sambil mengelus daguku dan membuatku tersipu malu.


"Iya Ma....itu gampang, nanti ya," kata Mas Naufal.


"Nanti.....Selalu nanti," Gumamku dalam hati.


"Ya udah kalian hati-hati ya pulangnya,"


"Iya Ma,"


Kami berdua menyalami tangan Mama Feni.


Mobil melaju melewati jalan tol.


Aku masih tidak rela jika harus ditinggalkan Mas Naufal. Walaupun sudah sering dia meninggalkanku.


"Kamu kenapa ngelamun?" Tanya Mas Naufal.


"Nggak papa," jawabku singkat sambil memberikan senyumku.


"Kamu kenapa sih selalu kayak gini kalo mau Mas tinggalin? Kenapa Sayang?" tanyanya lagi sambil mengelus kepalaku.


"Mas, dimana-mana istri yang mau ditinggal suaminya kerja jauh pasti kepikiran,"


"Tapi nggapapa," jawabku sambil menoleh padanya dan tersenyum.


"Maaf ya Sayang, aku nggak bisa..."


"Huuussstt, udah lah Mas, Mas udah lebih dan lebih menjadi suami dan papa," pujiku padanya.


"Mas besok dijemput apa gimana? Atau aku ikut nganterin Mas?" tanyaku.


"Mas besok dijemput sama sananya Sayang, jadi kamu di rumah aja, jangan capek-capek, ya," tuturnya sambil mengusap-usap kerudungku.


"Nggak papa nggak aku antar sampai bandara?" tanyaku lagi.


"Iya Sayang nggak papa," jawabnya.


.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, karena waktu juga sudah sangat mepet, jadi Mas Naufal langsung menuju Rumah Sakit.


"Kamu nggak papa ya pulang sendiri?"


Aku hanya menganggukkan kepalaku saja padanya.


"Hati-hati kalo nyetir, nggak usah ngebut kamu," tuturnya.


"Iya Mas, aku pulang ya,"


"Assallamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam,"


Mobil melaju keluar dari lingkungan Rumah Sakit.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, sampailah aku di Rumah.


Gerbang selalu dibukakan oleh Pak Joko.


Ku buka jendela mobilku untuk menyampaikan amanah dari Mas Naufal untuk Pak Joko.


"Pak Joko,"


"Ya Buk?"


"Pak tadi kan saya dapat pesan dari Mas Naufal, katanya Bapak disuruh mengantarkan beberapa dokumen dan jas nya ke rumah sakit," kataku.


"Oh baik Buk, segera saya laksanakan," jawab Pak Joko dengan senang hati.


"Oke, pakai mobilnya Mas Naufal ini saja Pak nggak papa,"


"Baik Buk,"


Aku langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke rumah.


Disana sudah ada Bi Sarah yang membereskan meja makan.


"Loh Mbak Gia, Mas Naufalnya mana?" tanya Bi Sarah dengan piring di tangannya.


"Mas Naufalnya langsung ke rumah sakit Bi, soalnya jamnya udah mepet," jawabku.


"Ooo pantesan Mas Naufal menyuruh kami semua buat sarapan dulu Mbak,"


"Eeehhhmm Bi, Pak Rusdi mana?" tanyaku.


"Di belakang Mbak, mau Bibi panggilin?"


"Eehhm biar Gia aja Bi yang kesana," kataku.


Aku pun menghampiri Pak Rusdi yang sedang merapikan rumput-rumput di taman belakang.


"Pak,"


"Iya Mbak?" Jawabnya sambil berjalan menghampiriku.


"Pak nanti saya minta tolong ya ambilkan koper besar Mas Naufal di ruang kerjanya," kataku.


"Koper yang mana Mbak? Warnanya apa?" tanya Pak Rusdi.


"Yang hitam Pak, minta tolong ya Pak, nanti di bawa ke atas ke kamar saya,"


"Iya Mbak, segera dilaksanakan hehe," jawab Pak Rusdi.


Aku berjalan meninggalkannya.


Bi Sarah memanggilku dari arah ruang makan.


"Mbak, nggak sarapan dulu?? Mau ke Butik kan??" tanyanya.


"Enggak Bi, hari ini Gia nggak ke Butik, Gia mau siapin baju-baju Mas Naufal," jawabku.


"Memangnya Mas Naufal mau kemana Mbak? Kerja lagi ya??" tebak Bi Sarah yang sudah sangat hafal kemana Mas Naufal akan pergi.


"Begitulah Bi," jawabku.


"Ya sudah Gia ke atas ya Bi,"


Aku berlari menaiki anak tangga menuju kamarku.


Tak lama kemudian, Pak Rusdi mengantarkan kopernya ke kamarku.


"Makasih ya Pak,"


"Enggeh Mbak (iya Mbak)" jawabnya.


Aku mandi terlebih dahulu lalu menyiapkan barang-barang Mas Naufal yang akan dibawanya terbang ke luar negeri.


Ku absen satu per satu barang-barang Mas Naufal agar tidak ada yang tertinggal.


"Beresss, semua sudah masuk ke koper," gumamku sendiri.


Begitu banyak barang-barang Mas Naufal yang dibawa ke luar negeri dan sangat menguras energiku, padahal masih sangat pagi.


"Uuuhhmm, akhirnyaaaa," ucapku sambil membuang badanku di atas kasur lebar ini.


"Besok aku kemana ya??"


"Apa aku ke rumah Mamaku aja setelah aku cek ke Butik,"


"Lagian Mama kan kasihan sendirian, apalagi dengan keadaan psikis nya sekarang karena kepergian Papa," gumamku dalam hati.


"Jadi kangen sama Papa," kataku sambil memeluk guling di sampingku.


"Pa, makasih ya, sudah memberikan aku pengganti Papa yang sangat baik," kataku dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Kenapa besok aku nggak sekalian ke makam Papa aja???"


"Fix, aku besok sekalian ke makam Papa, aku rindu bangetttttt," ucapku.


Aku pun tertidur saat itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sore harinya.


Setelah aku mandi dan lagi duduk santai di Dapur.


Aku mendengat suara Mas Naufal pulang, dan aku juga mendengar Mas Naufal sedang menanyakan posisiku sedang ada dimana pada Bi Sarah.


Mas Naufal pun menghampiriku di Dapur.


"Hei Sayang, makan apa itu??" tanyanya sambil berdiri di belakangku.


"Aku lapar banget, tadi ketiduran habis nyiapin baju-baju kamu, terus lupa belum makan, eeehh bangunnya aku kelaparan banget," aduku pada suamiku.


"Uuuuluuuh uulluhh kasihan istriku ini, hehehe," goda Mas Naufal sambil mencubit pipiku.


"Eehhm Mas, besok aku ke rumah Mamaku aja ya,"


"Sekalian mau ke makam Papa, boleh kan?" Tanyaku meminta izin pada suamiku yang berhak atasku.


"Boleh dong Sayang kenapa nggak," jawabnya.


"Diantar ya tapi, nggak boleh nyetir sendiri," sambungnya lagi.


"Iyaaaaaaaa," jawabku pada suamiku yang ekstra khawatir padaku.


"Mau dong Sayang itu," ucap Mas Naufal menunjuk ke arah spaghetti buatanku.


Langsung ku berikan suapan demi suapan padanya.


Malam hari.....


Makan malam bersama di ruang makan, kali ini berbeda. Karena kami kedatangan tamu yaitu Pak Bastian dan juga Susi sahabatku.


Makan malam kami menjadi lebih lengkap karena akhirnya kursi yang mengelilingi meja makan terpenuhi.


Seperti biasa kami bercanda dan tertawa apalagi kebetulan Susi dan Pak Bastian tidak membawa anaknya.


"Fal gimana?" Sahut Pak Bastian.


"Gimana apanya??" tanya Mas Naufal sambil mengangkat satu alisnya.


"Gak nambah lagi??" Ucap Pak Bastian.

__ADS_1


Mas Naufal semakin tidak mengerti apa yang diucapkan Pak Bastian padanya.


"Nambah apaan?? Makan??"


"Ini udah," jawab Mas Naufal dengan polos.


"Adik nya Abay maksud Gue," ceplos Pak Bastian.


Kedua bola mata Mas Naufal langsung mengarah padaku, kakinya pun juga menyenggolku di bawah meja.


"Mas....ada ada aja sih kamu," sahut Susi.


"Udah Gi, jangan ladenin Mas Bastian emang gitu, jahil orangnya," sambung Susi.


Aku hanya tersenyum saja pada Susi.


"Do'a in ajalah, semoga segera dikasih," kata Mas Naufal.


"Ya kan Sayang?? Bukan begitu Ibu Gia??" godanya padaku.


"He'em," jawabku dengan anggukkan kepalaku.


"AAMIIN," ucapan aamiin sangat keras dari Pak Bastian, Susi dan juga Bi Sarah.


Jarum jam berputar hingga jarum pendek mengarah ke angka 10.


Susi sudah tertidur di sofa di depan TV, Mas Naufal dan Mas Bastian masih asyik mengobrol sambil ku temani.


Dan akhirnya Pak Bastian pun berpamitan untuk pulang kepada kami. Dia membangunkan istrinya yang sudah tidur pulas.


"Udah lah Bas tidur sini aja," paksa Mas Naufal.


"Iya Si, tidur sini aja gak papa," sanggahku.


"Hooaamm, lain kali aja Gi," jawab Susi sambil digandeng Pak Bastian.


"Gue pamit ya Fal, Gi," ucap Pak Bastian lalu berjalan keluar.


Aku dan Mas Naufal juga segera beranjak ke kamar karena kami berdua memang benar-benar sangat mengantuk.


Keesokan harinya.......


Kami semua sudah berkumpul di bawah seperti biasa kami sarapan pagi bersama.


Setelah sarapan Mas Naufal langsung berangkat ke Bandara karena sedari pagi sekali sudah dijemput oleh pihak Rumah Sakit.


Sedangkan aku, bergegas pergi ke rumah Mamaku dan mengurungkan untuk pergi ke Butik. Urusan Butik sudah ku serahkan ke salah satu karyawanku.


"Bi, Gia berangkat ya, Assallamu'alaikum," pamitku.


"Wa'alaikumsalam Mbak, hati-hati ya,"


"Pak sopir kalo nyetir hati-hati ya kalo nggak mau berurusan dengan Mas Naufal, ini istri majikan ini, hehehe," canda Bi Sarah.


"Baik Bi, siapppp," jawabnya.


Mobil membawaku melewati jalan tol menuju rumah Mamaku.


"Semogaaa, keadaan Mama semakin membaik, dan Mama sudah mulai mau berbicara," kataku dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, sampai di Rumah Mamaku.


Aku senang sekali bisa mengunjungi rumahku ini.


Rumah dimana aku lahir dan mengenal orang baik-baik disini. Disini kenanganku bertumpuk bersama keluargaku yang sekarang sudah tidak utuh lagi.


"Pak, makasih ya," ucapku yang sedang berdiri di samping mobil yang akan melaju meninggalkanku.


"Iya Buk," jawabnya.


Aku berjalan sambil membawa tas jinjingku serta beberapa kantong kue basah masuk ke rumah Mamaku.


"Assalla'mualaikum Ma, Budhe," ucap salamku saat memasuki rumah Mama yang pintunya terbuka sangat lebar.


"Wa'alaikumsalam, eeeehhg ponakanku kesini," jawab Budhe.


"Mama dimana Budhe??" tanyaku sambil menyalami tangan Budhe.


"Mama kamu di kamarnya, dari tadi nangis terus," jawab Budhe yang sepertinya sedang sedih.


"Mama nangis Budhe?? Kenapa Budhe??" tanyaku lagi yang semakin khawatir dengan Mamaku.


"Budhe nggak tau Gi, Budhe nanya tapi nggak di jawab,"


"Ya udah kalo gitu Gia langsung samperin Mama aja ya Budhe," ucapku lalu bergegas ke kamar Mamaku.


"Mama, ini Gia," ucapku lalu berlari memeluk Mamaku.


Mamaku yang sedang duduk menangis di atas sofa langsung membalas pelukanku dengan hangat. Mamaku menangis terisak-isak di pundakku.


Entah aku tidak tau penyebabnya apa??? Tapi yang jelas Mamaku terlihat sangaatttttt sedihhh.


Aku mencoba menenangkan Mamaku dan menahan tangisanku.


"Ma......"


"Mama kenapa??"


"Cerita ya sama Gia, tadi Budhe bilang Mama nangis terus, Mama kenapa??" Tanyaku sambil menghapus air mata di kedua pipi Mamaku.


"Ini Gia bawain kue kesukaan Mama loo, Mama udah makan??" tanyaku yang mencoba merayu Mamaku.


"Mama makan ya,"


"Atauuuu....makan nya barengan sama Gia dehhhh," kataku.


Ku buka satu kotak kue basah dari dalam tas.


"Suami kamu," ucap Mamaku.


"Mas Naufal nggak ikut Ma, Mas Naufal lagi kerja ke luar negeri, baru aja berangkat pagi ini," jawabku sambil menyuapi Mamaku.


"Mama kangen ya sama menantu Mama?? Hehehem," candaku.


Mamaku selalu menanyakan dimana Mas Naufal setiap aku mengunjunginya, karena aku tau.....Mas Naufal sangat sibuk dan lama sudah tidak bertemu dengan Mamaku.


"Mama makan ya, jangan sampe nggak makan, biar nggak sakit," tuturku.


Sebenarnya hatiku sangat sakit dan ingin menangis melihat keadaan Mamaku yang seperti ini.


Mama yang dulu periang


Mama yang dulu selalu kasih nasehat buat aku


Mama yang dulu suka nenangis aku


Mama yang dulu suka menghiburku


Sekaranggg????? Semua terampas begitu saja.


"Ma.....Mama kenapa nangis?? Mama rindu sama Papa??" tanyaku menegaskan kembali.


"Habis ini Gia ke makam Papa ya Ma, Gia kangen sama Papa," ucapku.


"Mama mau ikut sama Gia??" tanyaku.


Mama langsung menganggukkan kepalanya dan rupanya sangat senang.


"Naufal...." Ucap Mamaku tiba-tiba.


Aku kaget Mama menyebutkan nama Mas Naufal, karena sudah ku bilang jika Mas Naufal tidak ikut denganku. Ada yang aneh dengan Mamaku.


"Kenapa Ma???" tanyaku.


"Mas Naufal nggak ikut sama Gia, Mama kenapa tiba-tiba panggil Mas Naufal," kataku.


Mamaku malah menangis kembali saat itu.


Bersambunggg.........


jangan lupa selalu like, komen dan vote yaaa


terima kasih banyak semuanyaaa......

__ADS_1


tunggu episodenya besok lagi yaaaa hehehehe


__ADS_2