
Satu bulan kemudian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari Minggu tepatnya, waktu dimana suamiku kembali ke negaranya. Tapi yang menyedihkan, aku tidak bisa menjemputnya di Bandara. Dan pasti aku akan pulang telat karena ada acara syukuran kecil di Butikku.
Hati sangat ingin menyambut suami pulang. Tapi diri harus berada di tempat lain untuk hal lain.
***(Di Butik)
Atas rejeki dan semua yang diberikan oleh Allah padaku dan Butik ini. Alhamdulillah Butik ini selalu ramai pembeli. Jadi 3 bulan sekali, aku mengadakan acara syukuran kecil-kecilan untuk mewakili rasa syukurku kepada-Nya.
"Terima kasih buat semua yang sudah hadir di Butik saya, dan sudah meluangkan waktunya,"
"Semoga Butik ini tetap berjaya dan selalu menjadi pilihan kalian semu," ucap Haru.
"Ayo silahkan dimakan," sambungnya lagi.
Acara ini, dihadiri oleh beberapa member Butik ku dan juga teman-teman Butik lainnya.
.
.
.
.
.
.
.
Memang benar, ragaku disini.....
Tapi hatiku dan pikiranku sedang sibuk memikirkan Mas Naufal.
"Bu, kenapa cemas?" tanya Haru.
"Nggak papa Mbak Haru, hehem," jawabku.
"Hari ini suami saya baru pulang dari tugasnya di luar negeri, tetapi saya tidak bisa menjemput bahkan menyambutnya di rumah," sambungku.
"Ya Allah Ibuuu......Ibu pulang saja nggak papa," kata Haru.
"Sudah Mbak, saya disini saja nggak papa, tadi saya sudah ijin kok sama Mas Naufal,"
"Udah, gak papa, oke kok," kataku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Acara berlangsung hingga malam hari, karena seharian ini Butikku diskon besar-besaran dan makan besar bersama setiap pembeli.
Aku mencoba menghubungi Mas Naufal via whatsapp.
"Mas, sudah dirumah?" Gia (18.37)
"Sudah, barusan," Mas Naufal (19.40)
"Mas Naufal cuek banget, apa dia marah sama aku??" gumamku dalam hati sambil menggenggam ponselku.
Aku semakin merasa bersalah padanya. Meskipun Mas Naufal mengiyakan. Tapi melihat balasan Whatsappnya aku jadi bisa menyimpulkan.
Padahal sebentar lagi Butik akan tutup, ini saja karyawanku sudah berberes.
.
.
.
.
.
Setelah selesai berberes, aku berpamitan pulang.
"Bu, hati-hati ya, jangan ngebut," ucap Haru.
"Iya Mbak, saya pulang ya, jangan lupa kunci butiknya, hehe,"
"Assalamu'alaikum Mbak," ucap salamku.
"Iya Bu, Wa'alaikumsalam," Haru menjawab salamku sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Mobil ku lajukan begitu kencanga agar segera sampai ke rumah. Tapi........aku malab terjebak macet yang sangat panjang. Hampir 15 menit aku terjebak di tengah kemacetan malam hari di kota ini.
"Aduuuh, gimana ini?? Aku nggak enak sama Mas Naufal," gumamku sambil merasa cemas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hampir satu jam aku berada di perjalanan karena terjebak macet.
Sesampainya di Rumah, mobil langsung ku masukkan ke dalam garasi. Aku langsung bergegas turun dan berlari masuk.
"Assalamu'alaikum," ucap salamku.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.
"Bi, Mas Naufal di kamar Bi?" tanyaku.
"Iii...iya Mbak," jawab Bi Sarah yang tengah bingung melihatku.
Aku langsung menuju kamar, membuka pintu kamar tanpa mengetuknya.
Mas Naufal sedang duduk di sofa sambil memangku laptopnya. Mas Naufal tak sedikitpun menoleh padaku.
Aku takut melihatnya kali ini. Sebelumnya Mas Naufal tidak pernah seperti ini.
"Mmmm....Mas," panggilku sambil berjalan mengendap-endap di belakangnya.
Mas Naufal tidak menjawabku, dia malah fokus mengetik dan mengabaikanku.
Deg.....deg....deg
"Mas Naufal marah??" tanyaku dalam hati.
Ku telan ludahku dan gemetar bibirku.
"Mas....aku pulang," kataku dengan lirih.
Mas Naufal tetap saja tidak menjawabku, aku baru tau sikap dingin Mas Naufal yang ini, aku baru tau dia bisa semarah ini padaku hanya karena aku tidak sedang beradad di rumah saat ia pulang.
Mas Naufal masih mengenakan jas hitam dengan celana hitam yang masih rapi, sepertinya Mas Naufal belum mandi.
Aku mencoba duduk di ujung sofa dan mengajakknya berbicara lagi.
"Mmmmmm......Mas belum mandi ya??"
__ADS_1
"Aku.....aku siapain air hangat ya," kataku dengan tangan gemetar.
Akhirnya Mas Naufal mengangkat kepalanya dari pandangannya yang semula fokus ke layar laptop. Dan jawabannya hanya dengan anggukkan kepalanya saja.
Kali ini, dia seperti bukan suamiku, bukan Mas Naufal, raut wajahnya terlihat sangat marah dengan kernyitan alis tebalnya.
Aku menjadi sangat takut dengan Mas Naufal yang versi ini. Aku benar-benar takut. Bagaimanapun juga, ini tetap salahku. Tidak berada di rumah saat suami pulang.
Aku pun berdiri dan menyiapkan air hangat untuk Mas Naufal. Aku berusaha berfikir positif.
"Pasti Mas Naufal kecapek an, apalagi sampe rumah dia langsung kerja lagi,"
"Hhhmmm udah lah, ini juga salahku kok," ucapku menenangkan dirikus sendiri.
Tak lama kemudian, aku menyuruhnya untuk mandi.
Sambil menunggunya mandi, aku menyiapkan baju tidurnya di atas sofa.
Setelah ia selesai mandi, wajahnya masih saja terlihat marah dan emosi.
"Mas, Mas kenapa??"
"Maafin aku ya, soalnya waktu Mas pulang aku nggak di rumah, tapi aku kan sudah ijin ke Mas sebelumnya kalo aku pulang telat,"
"Dan Mas mengiyakan, maaf ya Mas," kataku yang berdiri di belakangnya.
"Mas mau tidur, ngantuk," ucapnya singkat lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Mas Naufal bener-bener marah sama aku??"
"Tapi....biasanya Mas Naufal nggak kayak gini,"
"Jika salah satu dari kita bersalah, pasti Mas Naufal akan membicarakannya baik-baik, dan Mas Naufal paling nggak bisa jika marahnya sampai berhari-hari," gumamku dalam hati.
"Massss..."
"Mas Naufalllll, jangan marah gituuu ya,"
"Maafin aku Mas," kataku yang terus memohon maaf padanya.
"Kalo aku ada salahs lain sama kamu, kan bisa diomingin baik-baik Mas, bukan diem-diem seperti ini,"
"Lagi pula aku juga udah minta maaf kan sama Mas," sambungku.
Mas Naufal tetap tidak menjawab satu kata pun.
Aneeehhh.......sangat aneh.....
Mas Naufal benar-benar aneh, sikapnya tidak pernah sedingin ini.
Akhirnya aku pun tidak lagi memohon maaf padanya. Mungkin suaraku malah menjadi bising di telinga Mas Naufal. Aku tidur menghadapnya.
Kali ini, Mas Naufal tidak memelukku seperti kebiasaan yang selalu dia lakukan setiap malam padaku.
Aku semakin sedih, jika tau Mas Naufal semarah ini.
"Mas Naufal kenapa begini??"
"Apa jangan-jangan dia ngerjain aku??" Tebakku dalam hati.
"Enggak, kali ini marahnya Mas Naufal nggak sebercanda itu, aku tau banget Mas Naufal kek gimana,"
"Ya Allah, Mas Naufal kenapa??"
"Apa aku ada buat salah lain sama dia?? Kenapa dia jadi seperti ini,"
"Bahkan dia saja tidak memelukku, apakah kesalahanku sangat fatal sehingga menjadikan Mas Naufal seperti ini???" Gumamku dalam hati yang terus mencari kesalahanku.
Aku tidak bisa tidur, karena terus memikirkan kesalahanku. Aku terus memandangi wajahnya dengan tetesana air mataku.
"Mas.... Mas kenapa sih??"
"Bilang kalo aku salah sama Mas, huhuhu," kataku dalam hati.
Keesokan harinya........
Aku bangun kesiangan karena semalam aku tidak bisa tidur.
"Uuuuggghhhh,"
"Selamat pagi Mas," ucapku.
Lalu ku buka kedua mataku, sinar matahari sudah mengarah tepat di satu mataku.
"Loh, kok udah terang??"
"Astagfirullah, ini udah jam 7, Ya Allah, aku kesiangannnnn,"
"Aduuuuhh gimana nih," aku menekuk lutut kakikus sambil menutup wajahku.
"Huuuffttt, astagfirullah, bisa-bisanya aku bangun kesiangan,"
"Pasti Mas Naufal udah sarapan sama-sama dibawa ini, aaarrrggghh," gumamku menyalahkan dirikus sendiri.
"Haduuuh Giaaaaa, kamu ngelakuin kesalahan lagi sih,"
"Hey, kamu kenapa hey," ucapku sambil menepuk sendiri kedua pundakku.
Aku berdiri dengan tubuh lunglai karena tidak semangat, padahal pagi ini aku ingin memasak buat Mas Naufal dan mengucapkan kata "maaf" kembali.
Cuci muka sebentar dan sikat gigi, lalu aku bergegas turun ke bawah.
"Bi, Bibi," ucapku.
"Iya Mbak??" Jawab Bi Sarah sambil membawa tumpukkan piring.
"Terus Mas Naufal mana??" tanyaku bertubi-tubi yang berdiri di atas anak tangga.
"Mas Naufal baru saja berangkat Mbak," jawab Bi Sarah.
"Yaaaahhhh,"
"Tadi kata Mas Naufal, Mbak Gia masih tidur, terus kata Mas Naufal nanti biar Mbak Gia nyusul, eeehh malah Mbak Gia nggak bangun-bangun, tapi Mas Naufal tadi udah buatin susu buat Mbak Gia kok,"
"Mas Naufal sendiri yang buatin Mbak, hehehem," sambung Bi Sarah.
"Beneran Bi?? Mas Naufal sendiri itu yang buat susunya?" tanyaku kegirangan.
"Iya Mbak," jawab Bi Sarah.
Aku tersenyum-senyum sendiri saat tau sikap Mas Naufal yang sepertinya sudah memaafkan aku.
"Yeeesss, akhirnya Mas Naufal udah nggak marah sama aku,"
"Hari ini aku nggak ke Butik ah, aku mau di rumah aja buatin makanan buat Mas Naufal, hehehem," gumamku dalam hati seperti orang yang sedang terpanah asmara.
"Ya udah kalo gitu Bibi lanjut aja, hehe, Gia mau ke kamar lagi Bi," kataku.
Aku langsung berlari menaiki anak tangga.
"Jangan lupa susunya diminum Mbak," kata Bi Sarah.
"Yaaa Bi," jawabku dengan senang.
"Mbak Gia aneh, senenggg banget kayaknya," gumam dalam hati Bi Sarah.
***(Di Kamar)
Aku berjalan ke Balkon, melihat mentari yang menampakkan diri dari tempat persembunyiaannya.
Pagi ini, aku bercerita padanya ditemani dengan air embun yang membahasi lantai Balkon kamar ini.
"Akhirnyaaaaa.......Mas Naufal maafin aku, hehehehem, hhhmmm so sweet deh Mas Naufal," gumamku dalam hati.
"Mungkin tadi Mas Naufal sengaja nggak bangunin aku, karena dia nggak enak kali ya sama aku, aaaaaaaaa........Mas Naufalllllll, selalu bisa buat aku jatuh cinta berkali-kali sama kamu Mas,"
***
Mentari, makasih ya.....
Udah nemenin aku cerita hari ini.
Ceritaku sangat bahagia bukan?
Tentang suamiku yang selalu bertingkah manis padaku.
Besok lagi ya, kita bertemu.
Dan yang pastinya, aku akan menceritakan hal yang sama padamu.
Yaah, perihal kebahagiaanku yang selalu dipertanyakan oleh Mamaku akhir-akhir ini.
Dan kamu pastis sudah tau, begitu baiknya suamiku padaku. Namanya Naufal.
***
Aku pun bergegas mandi lalu turun ke bawah menemui Bi Sarah.
***(Di Dapur)
"Hai,"
"Bibi," candaku.
"Ealaaah, Mbak Gia toh,"
"Loh kok belum rapi Mbak??" tanya Bi Sarah yang sedang mengaduk puding.
"Ini udah rapi Bibi," jawabku.
"Mbak nggak ke Butik hari ini??" tanya Bi Sarah.
"Enggak Bi, hari ini spesial Gia maud dirumah,"
"Oh iya Bi, mana susu buatan Mas Naufal Bi??"
"Di meja itu Mbak, yang gelasnya pink," jawab Bi Sarah.
Mataku langsung mencari gelas berwarna pink di atas meja. Sebelum aku menghabiskannya, ku pandangi terlebih dahulu gelas yang berisi susu itu.
"Huuumm, Mas Naufal buatnya di gelas kesukaanku pula, hehehm, fix Mas Naufal udah nggak marah sama aku," kataku dalam hati lalu mengambil gelas pink itu.
Tegukan demi tegukan benar-benar aku nikmati, meskipun rasanya sama......tetapi yang buat berbeda dan pasti dipenuhi oleh cinta.
"Bi, beef nya masih ada kan Bi??"
"Masih Mbak, di kulkas masih ada banyak," jawab Bi Sarah.
"Mau buat steak Mbak?" Tebak Bi Sarah.
"Benar sekali Bi, Gia mau buatin steak buat suaminya Gia, biar nanti pas pulang, moodnya Mas Naufal langsung bagusan tuh Bi, hehem,"
"Bi, Gia mau nanya, semalem Mas Naufal waktu pulang kelihatan kayak marah nggak sih Bi wajahnya??" tanyaku.
"Enggak Mbak, Mas Naufal seperti biasanya, ada apa Mbak?" tanya Bi Sarah balik.
"Nnngggg......nggak papa sih Bi, Gia cuman nanya aja," jawabku lalu meneguk kembali susu dalam gelas pink itu.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari pun sudah gelap.
Setelah adzan magrib, aku memulai aksiku untuk membuatkan steak spesial untuk suamiku.
Kebetulan hari ini, Mas Naufal pulang sekitar pukul 7 an, dengan penuh semangat dan rasa cinta. Ku panggang beef itu.
"Uuuuhhmmm, baunya sedap banget, Mas Naufal pasti suka nihhh, dan pasti lahap makannya," ucapku.
"Semangat banget Mbak, hihihi," celetuk Bi Sarah dari belakangku.
"Ya iya dong Bi, ini itu buat Tuan yang punya rumah ini nih Bi,"
"Jadi masaknya harus penuh rasa cinta, agar nanti rasanya itu nyampek ke yang makan, hihihi," candaku.
"Ehmm..ehmm..ehmm Mbak Gia bisa aja, ada yang bisa Bibi bantu Mbak??" tawaran Bi Sarah.
"Eeemmm.....No Bi, nggak ada Bi," jawabku.
"Ya sudah kalau nanti Mbak Gia butuh bantuan, tinggal panggil Bibi ya Mbak," ucapnya.
"Okee Bi," jawabku.
.
.
.
.
.
.
Allahuakbar......Allahuakbar......
Adzan isya' berkumandang....
.
.
.
.
.
Satu piring steak dan satu gelas sweet lemon.
Sudah tertata sangat rapi di meja makan.
Aku menunggu Mas Naufal di meja makan sambi memainkan ponselku.
"Pasti, kalo Mas Naufal tauuuuuu, seneng bangett dia dan melahap habis steaknya , hehhem, aduuuh gak sabar,"
"Syukurlaaahh jika Mas Naufal sudah tidak marah lagi, huuufttt,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah lama aku menunggu Mas Naufal di meja makan sendirian.
Namun Mas Naufal juga belum pulang.
"Mas, jadi pulang jam 7 kan?" Gia (20.01)
"Apa Mas Naufal terjebak macet ya???...."
"Aaahhh pasti iya, nggak papa deh aku tetep nunggu disini aja,"
"Nanti kalo Mas Naufal pulang, orang pertama yang jawab salamnya adalah aku, hehehehm,"
"Biarpun steak nya udah dingin, tapi kan masih bisa dipanasin," gumamku sendirian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah satu jam setengah aku menunggu Mas Naufal di Ruang Makan, tidak ada balasan juga dari Mas Naufal. Aku takut jika nanti aku meneleponnya, dia sedang ada kerjaana atau meeting. Tapi biasanya jika ada acara pasti Mas Naufal kasih kabar ke aku.
"Mas Naufal kemana ya ini??"
"Tumben loh dia nggak balas chat aku," gerutuku sambil mondar mandir sendirian di Ruang Makan.
Merasa cemas dan khawatir sama Mas Naufal.
"Apa aku tanya aja ya ke Pak Bastian??"
Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya ke Pak Bastian.
"Maaf Pak ganggu, Pak saya mau tanya, Mas Naufal sudah pulang belum ya Pak? Terima kasih Pak," Gia (21.58).
Pak Bastian juga tak kunjung membalas chatkku. Akhirnya jalan terakhir dan satu-satunya adalah aku menelepon Susi.
Tut.....tut.....tut....
"Assalamu'alaikum, ada apa nih cintaku??" ucap Susi dalam ponselku.
"Wa'alaikumsalam, Si maaf yaa aku ganggu kamu malem-malem,"
"Eehhmm gini Si, aku boleh minta tolong ngga sama kamu, tolong tanyain ke Pak Bastian, Mas Naufal udah pulang belum ya, aku tadi udah sempet chat suami kamu tapi belum dibalas," kataku.
Susi langsung memanggil suaminya dan aku mendengarkan obrolan mereka.
"Mas, Gia nanya, tadi Dokter Naufal udah pulang belum ya??" Teriakan Susi terdengar ke ponselku.
"Udah lah Sayang, udah dari tadi lah, ini juga udah malem kali," ucap Pak Bastian.
Deeggggg.........
"Mas Naufal udah pulang dari tadi??" Gerutuku yang kaget mendengar jawaban dari Pak Bastian.
"Udah pulang dari tadi Gi katanya," sambung Susi.
"Tanyain lagi dong Si, tadi kira-kira pulangnya jam berapa??" kataku.
"Mas, tadi Dokter Naufal pulangnya jam berapa? Kamu tau nggak?" Teriak Susi lagi.
"Ya barengan sama aku tadi Sayang," jawab Pak Bastian.
"Pulangnya barengan sama Mas Bastian Gi, tadi Mas Bastian pulang jam 7 lebih dikit banget,"
"Memangnya kenapa?? Suami kamu belum pulang?" tanya Susi padaku.
"Ya Allah, Mas Naufal kemana ini?? Padahal kata Pak Bastian, dia udah pulangd dari tadi," gerutuku.
Tingkat kecemasan semakin menjadi-jadi.
"Eeehhhmm....nggak papa Si, aku cuman nanya, ya udah ya Si, ini Mas Naufal udah pulang, byeee,"
Aku langsung menutup telepon dengan Susi. Aku terpaksa berbohong pada Susi padahal sampai detik ini Mas Naufal tak kunjung pulang.
"Ya Allah.......Mas Naufal kemanaaa ini???"
Bersambung.........
Jangan lupa terus ikutin kisah Dokter Gia dan Dokter Naufal. jangan lupa juga untuk selalu like, komen dan vote yaaaa
__ADS_1
terima kasihhhh.....