
Pagi dini hari, perjalanan semakin dekat dengan Rumah, aku dan Abay tertidur di dalam mobil.
Mobil berbelok menuju kompleks.
“Buk, sudah mau sampai Buk,” kata Pak Joko.
Aku dan Abay tak kunjung juga bangun.
“Buk, Ibuk….” Panggil Pak Joko lagi.
Aku pun mulai terusik dengan suara Pak Joko.
“Uuuugghhhh,” ku buka pelan-pelan kedua mataku yang sangat
berat ini.
“Ini nyampe kompleks Pak??” tanyaku.
“Iya Mbak,” jawabnya.
Aku melihat jam tanganku, dan sekarang menunjukkan pukul 2
pagi dini hari.
***(Di Rumah )
Sampai nya di Rumah, Pak Rusdi yang membukakan gerbang untuk kami.
Greeeekkkk……..
Mobil kami melaju masuk ke halaman Rumah.
“Abayyy……Nak,,,,bangun,” ucapku sambil menggoyang-goyangkan tubuh Abay.
Akhirnya Abay pun langsung terbangun.
“Ayo turun,” kataku.
“Awas ati-ati, di lihat jalan nya,” tuturku pada Abay karena
jalan Abay yang masih gentoyoran.
Aku menggandeng tangan abay masuk ke Rumah.
Dan kami berjalan berdua menaiki anak tangga dengan mata
yang belum sepenuhnya terbuka sempurna.
“Ma, Abay langsung tidur ke kamar ya,” kata Abay.
“Iya, Mama juga langsung tidur kok,” ucapku.
Abay berjalan menuju kamarnya, aku masuk ke dalam kamarku.
Glleekkkkk…..
****(Di Kamar)
Lumayan agak sedikit gelap, hanya wajah Naufal yang terlihat
sisi terangnya karena terpancar oleh lampu duduk yang ada di sebelah ranjangnya.
Naufal tetap menyisakan sebagian ranjang nya untuk ku, dia
tertidur pulan sambil memeluk gulingnya.
Ku simpan tasku dan ku lepas kerudungku, aku berusaha sebisa mungkin tidak emmbangunkan Naufal dari tidur pulasnya.
Tanpa cuci muka, aku langsung merebahkan tubuhku di atas
ranjang tepat di sebelah Naufal dan memunggunginya.
Kesedihan kembali singgah dalam hatiku.
Air mata tiba-tiba menetes.
Entah sekarang apa yang ada di pikiran ku dana pa yang
sedang ku bayangkan saja aku tidak tau, yang aku tau aku menangis di luar kontrolku.
Mungkin isak tangisku mengganggu ketenangan tidur Naufal,
sehingga Naufal pun terbangun, dia langsung melihatku dan dia juga tau bahwa aku sedang menangis.
Tanpa berkata, Naufal menggeser tubuhnya dan memelukku dari belakang.
“Kenapa???? Hm??” tanya Naufal di belakangku.
Aku tidak sanggup berbicara dan menjawab pertanyaan dari
Naufal, intinya mala mini aku hanya menangis.
“Cerita sama aku Sayang,” kata Naufal.
Aku hanya menggelengkan kepalaku saja.
“Ya udah kalo kamu nggak mau cerita sekarang, aku ngerti
kok,” ucap Naufal.
“Jangan di tanggung semua nya sendiri Sayang, disini ada aku
suami kamu, sebisa mungkin aku selalu ada buat kamu, nggak semua masalah bisa kamu pendam sendiri, bisa kamu atasi sendiri, kamu nggak sekuat itu Gi,” tutur Naufal.
“Aku tau kamu, sangat tau kamu,” ucap Naufal.
Aku langsung berbalik menghadap Naufal, dan langsung
memeluknya, aku menangis terisak-isak di dada bidang Naufal.
“Huhuhuhuhuhu,”
“Uuusstttt, tenang Sayang, tenang,” tutur Naufal yang terus
berusaha menenangkan ku.
“Ada aku ada aku,” sambung Naufal.
Aku terus saja menangis di pelukan Naufal sampai aku pun
tertidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, hari ini aku tidak membantu Bi Sarah
memasak karena mood ku sangatlah tidak apik, Naufal menyuruhku agar Bi sarah saja yang masak.
Wajahku tak seasick dan sebahagia biasanya. Kedua mataku
bengkak dan merah karena semalaman menangis.
“Sayang senyum dong,” canda Naufal padaku yang sedang
menyisir rambutku.
Dengan cemberut aku menolehnya.
“Mas, nanti pulang kerja, kamu nggak sibuk kan??” tanyaku.
“Enggak kenapa??” tanya Naufal sambil mengancingkan kemeja nya.
“Aku nanti mau ngomong banyak sama kamu, dan aku harap kamu mengijinkan nya,” jawabku.
__ADS_1
“Maksud kamu?? Maksud kamu gimana Sayang??” tanya Naufal sambil mendekat padaku.
“Nanti saja aku cerita ke kamu, kalo sekarang waktunya mepet Mas, kita juga mau kerja,” ujarku.
“Perihal apa Gi??” tanya Naufal lagi.
“Perihal aku, kamu dan Abay, tentang kita,” jawabku.
Naufal semakin penasaran saat mendengar jawabanku.
“Sayang, jangan buat aku penasaran dong, ayolah kamu bilang
sekarang,” paksa Naufal.
“Huuftt, Mas, kamu mau aku nangis lagi nanti,” ucapku.
“Ya udah deh Sayang, maafin aku, iya deh nanti pulang kerja
kamu harus langsung cerita ke aku ya,” tuturnya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.
.
.
.
.
Setelahnya kami bersiap-siap, Naufal langsung mengajakku
turun ke bawah.
***(Di Ruang Makan)
“Pagi Bi,” sapa Naufal pada Bi Sarah, sedangkan aku hanya
memberikan senyumku saja pada Bi Sarah.
“Mbak Gia kenapa ya?? Kok beda banget, baru pulang ketemu
Bapak sama Ibuk tapi Mbak Gia malah sedih ya, apa ada kabar nggak baik ya,” gumam dalam hati Bi Sarah.
“Yang lain panggil Bi,” tutur Naufal.
Bi Sarah bergegas memanggil yang lain untuk segera bergabung dan sarapan bersama.
Setelah semua berkumpul, kami semua langsung melahap sarapan pagi ini.
Semua lahap menghabiskan nya, berbeda dengan aku, rasa nya aku sama sekali tidak nafsu makan, tapi bagaimana lagi, aku harus makan, karena jika tidak, pasti Abay akan menjatuhkan pertanyaan banyak padaku.
Aku sungguh hanya diam dan terus menundukkan pandanganku
pada nasi yang sekarang ada di depanku.
Beberapa kali, Naufal sempat menoleh padaku. Aku tersenyum padanya, agar Naufal tidak terlalu khawatir padaku.
.
.
.
Selesai sarapan, kami berpamitan untuk pergi bekerja.
“Assalamu’alaikum,” ucap salam kami.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Abay dan Bi Sarah.
“Abay kalo mau ke rumah Niko main aja nggak papa, tapi kalo
waktunya sholat pulang ya,” tuturku dalam mobil.
“Iya Ma,” jawabnya.
“Daaaaa Abayyy,” ucapku sambil melambaikan tanganku dari
dalam mobil.
Raut wajahku kembali bersedih.
Naufal langsung meraih tanganku dan dibawa nya di
pangkuannya.
“Aku tau kamu sedih banget Sayang, tapi kamu tetap berusaha tersenyum di depan Abay,” kata Naufal.
“I’m oke kok,” jawabku sambil tersenyum pada Naufal.
“Kamu boleh sembunyiin sedih kamu ke siapa pun, ke Papa
kamu, Mama kamu, ke Abay bahkan ke semua orang, tapi kamu nggak akan bisa tutupin dari aku Sayang, aku udah pernah bilang kan sama kamu, kamu nggak harus selalu bahagia, selalu seneng di depan aku,” ucap Naufal.
“Massss…..jangan bahas sekarang, aku emang nggak papa,”
jawabku.
“Aku sudah biasa seperti ini, mengubur dalam-dalam rasa
sedihku, demi membuat mereka senang dan tidak khawatir padaku, aku sudah terbiasa sejak kecil seperti itu Mas,” ujarku.
“Aku sangat mengerti sekali apa yang kamu rasain Gi,
sebenarnya kamu sangat ingin marah, tapi kamu bukan tipe orang yang mudah dan pandai dalam hal memarahi seseorang,” gumam dalam hati Naufal.
“Kamu mau marah?? Silahkan Sayang, marah sama aku,
bentak-bentak ke aku, teriak-teriak ke aku,” kata Naufal.
Aku langsung membuang pandanganku ke luar jendela mobil.
Aku berusaha membuang jauh-jauh rasa sedihku ini.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di Rumah Sakit.
Mobil masuk ke dalam parkiran.
Kami pun turun berdua dari mobil.
Aku yang nyelonong berjalan sendirian, dengan sigap Naufal
langsung menarik tanganku.
“Sa…Sayang,” panggilnya.
“Fokus ya, ini kamu lagi kerja,” tutur Naufal.
“Iya aku tau, aku ke ruanganku dulu ya, kamu pasti mau
ketemu sama Dokter Anton dulu kan,” ucapku.
“Iya maafin aku ya,” ujar Naufal.
“He’em, nggak papa kok Mas,” kataku.
Aku berjalan sendirian dengan membuang isi pikiran sedihku
disini.
“Fokus Gi, hari ini kamu kerja, banyak orang yang sudah
menunggu kamu, kamu nggak boleh sedih untuk mereka,” gumamku dalam hati.
Aku pun memulai melangkah menuju ruang periksa.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di Rumah Sakit, pekerjaan ku jalani dengan rasa yang sedih
sebenarnya, namun aku tetap murah senyum pada mereka.
Hingga aku pun pulang bersama Mas Naufal.
***(Di Rumah)
Setelah kami melaksanakan sholat magrib, aku memutuskan
untuk langsung tidur.
Karena hatiku masih tidak enak.
“Sayang, katanya kamu mau ngomong sama aku,” kata Naufal.
Aku beranjak dari ranjang dan menyenderkan tubuhku pada
awakan ranjang.
“Kamu mau ngomong apa?? Cerita sama aku sekarang, kamu
jangan di memndam nya sendiri,” tutur Naufal yang duduk di sampingku.
“Huuufffftt, aku nggak tau mau mulai ngomongnya dari mana
Mas,” kataku.
“Aku mau resign,” sambungku.
“Kamu resign??” tanya Naufal dengan santai.
“Iya, aku mau di rumah aja nemenin Abay, aku mau ngabisin
waktu ku sama dia, aku nggak mau Abay merasakan apa yang aku rasakan dulu, dan aku juga nggak mau jadi seperti Mama yang baru menyesal saat aku sudah beranjak remaja, aku berhenti kerja Mas,” ucapku dengan sangat berat.
Apalagi, cita-cita yang sangat ingin menjadi seorang Dokter,
kini harus ku hentikan demi keluarga ku.
“Kamu beneran resign Sayang??” tanya Naufal lagi.
“Aku belum bisa jadi family man kamu ya,” tebak Naufal.
“Enggak Mas, bukan itu, sebenarnya aku sudah punya niatan
untuk berhenti kerja, tapi aku masih ragu, aku masih ingin menggeluti pekerjaan ku ini, aku mencari titik bosenku, tapi nggak akan bisa aku di titik bosen itu Mas,dan akhirnya keputusan ku semakin yakin saat kemaren aku ketemu sama Papa,” ujarku.
“Papa kasihan sama Abay Mas, akhirnya aku bicarain unek-unek ku ke Papa kalo aku punya niatan untuk berhenti bekerja, dan Papa awalnya melarangku Mas, tapi setelah aku bilang, bahwa Mas Naufal sebenarnya juga menginginkan hal ini, akhirnya Papa ikut mendukungnya Mas, gimana?? Aku boleh berhenti kerja??” tanyaku pada Naufal.
“Sayangggg…..” kata Naufal yang langsung memelukku.
“Ini yang aku tunggu-tunggu dari kamu, ini yang aku inginkan
dari kamu, kamu yakin?? Kamu yakin dengan keputusan kamu ini, kamu nggak ada rasa terpaksa Sayang??" tanya Naufal di pundakku.
“Insya’Allah enggak Mas,” jawabku.
“Kalo emang oengen nya kamu gini, nggak papa Sayang, aku
ngijinin kamu banget kok, bukan nya aku memutus cita-cita kamu Sayang, enggak, tapi kan aku juga bisa hidupi kamu sama Abay, aku pengen Abay nggak kurang perhatian dari kita, meskipun aku kurang, tapi kan ada kamu,” kata Mas Naufal.
“Aku ngelakuin ini karena aku kasihan Mas sama Abay, Abay
yang mulai kehilangan perhatian dari kedua orang tua nya, aku rela ngelakuin ini semua, meskipun sudah bertahun-tahubn aku berjuang untuk pencapaian ku ini, tapi ini semua tidak ada apa-apa nya Mas jika di bandingkan dengan Abay anak semata wayang kita,” gumamku dalam hati.
“Satu hari kedepan, aku bakalan segera buat surat pengunduran diri Mas, dan untuk besok, adalah hari terkhir aku bekerja sebagai Dokter Gia,” ucapku.
“Alhamdulillah Ya Allah,” kata Naufal.
“Aku nggak tau harus bahagia atau bagaimana Sayang?? Yang
pasti aku sudah menunggu ini semua,” ucap Naufal.
“Apa kamu bahagia dan nyaman dengan keputusan kamu ini
Sayang??’ tanya Naufal sambil mertaih kedua pipiku.
“Insya’Allah Mas,” jawabku sambil bibirku bergetar menahan
tangis.
“Aku nggak mau nantinya kamu akan menyesal Sayang dengan
keputusan ini,” ujar Naufal.
“Massss…….jangan berkata seperti itu, ini demi kita, Papa
sudah kasih ansehat buat aku untuk yang terakhir kali nya, dan ini permintaan Papaku untuk yang terakhir kali nya,” ceplosku.
“Dan ini semua juga bukan keinginan Papa aja kok, aku ingin,
kamu ingin, bahkan Abay lebih ingin,” ucapku dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata.
Naufal melepas tangan nya dari kedua pipiku. Dia menatapku
lama.
“Permintaan Papa untuk yang terakhir kalinya??? Keinginan
Papa untuk yang terakhir kali nya?? Maksud kamu gimana Sayang?? Terakhir?” tanya Naufal.
“Aku sudah menduga, bahwa apa yang kamu tanyakan saat ini,
sekarang ini, sama persis sama apa yang aku tanyakan ke Papa waktu aku kesana,” kataku terbata-bata karena menangis.
“Terakhir apa Sayang?? Hm?? Terakhir apa??" tanya Naufal
dengan wajahnya yang berubah menjadi sangat serius.
“Udah lah Mas, jangan bahas itu, aku sedih jika mendengar
kata terakhir, semua bungkam sama aku Mas, bahkan Papa, laki-laki yang tidak mau bohong sama aku, Papa juga bungkam Mas, dan setelah Papa mengatakan semua impian nya padaku, semua yang beliau mau, Papa menyuruhku pulang dengan alasan kamu sudah menungguku di Rumah, aku sedih Mas, kenapa mereka semua setega itu sama aku??” ucapku.
“Aku salah apa sama mereka?? Selama ini yang aku tau, aku
selalu dan selalu berusaha buat mereka seneng tanpa mereka tau apa yang sebenarnya selama ini aku inginkan, tapi kenapa?? Dengan masalah ini, mereka menutupi nya dari aku Mas, huhuhuhu,” keluhku.
“Giaaaaaa………kamu nggak boleh berprasangka buruk sama Papa sama Mama, inget, kamu pernah bilang sama aku kan, bahwa apapun yang mereka lakukan ke kamu, itu memang sudah menjadi yang terbaik buat kamu, dan mungkin Papa sama Mama apa Johan ngelakuin semua ini karena mereka nggak mau kamu sedih, nggak mau kamu terluka Sayang,” tutur Naufal.
“Justru ini yang membuatku sedih dan terluka Mas, justru
ini, huhuhuhu,” tepisku.
“Sayang, percaya sama aku, ini semua mereka lakuin, karena
memang niat mereka sangat mulia, mereka keluarga kamu, keluarga kandung kamu, nggak mungkin mereka mengkhianati kamu, nggak mungkin mereka melakukan ini semua tanpa alasan, mereka juga sangat berat menyangga ini semua Sayang, bukan hanya kamu, apalagi Mama,” sanggah Naufal.
Naufal memelukku erat-erat kembali.
“Kamu jangan seperti Sayang, nanti kamu malah sakit, kamu
boleh mikirin semua ini, tapi otak, pikiran kamu butuh istirahat,” ucap Naufal.
Bersambung.................
__ADS_1