Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 63 (Mawar Putih)


__ADS_3

"Terus kamu mau sampai kapan Gi biarin Naufal merawat Vela?" tanya Susi.


"Nggak tahu Si, mungkin sampai Mamanya Vela ke indonesia," jawabku.


"Kamu beneran kuat Gi, kamu melihat pria yang sangat kamu cintai merawat wanita lain dan kamu bisa berbagi dengannya, Aku tahu kamu banget Gi, dari dulu kamu tuh nggak bisa berbagi apalagi soal orang yang kamu sayangi kamu berbagi Papa bersama saudara-saudara kamu aja kamu nggak bisa, padahal sepupu kamu kan ada tuh yang udah gak punya Papa, itu saudara mu sendiri loh Gi, la ini orang lain malah," kata Susi.


"Apalagi ini suami kamu Gi," kata Susi lagi.


"Insya'Allah aku kuat Si, kan ada kamu," ucapku sambil tersenyum pada Susi.


"Tapi gimana jika memang Naufal kembali lagi sama Vela?" tanya Susi.


"Aku belum bisa mikir sampai ke situ sih, aku belum bisa," kata aku.


"Pokoknya setiap apapun, apapun itu kamu ngomong ya Gi sama aku, kamu nggak boleh mendemnya sendiri, Kamu harus cerita sama aku, kita cari solusinya sama-sama, kamu jangan merasa sendiri atau sungkan sama aku, aku ada sama kamu Ya," ucap Susi lagi.


"Makasih ya Si, dari dulu kamu selalu setia nemenin aku dengan berbagai sikap menyebalkanku, kamu selalu menerima semuanya," kata ku terharu dengan sikap Susi.


"Iya santai aja, kamu tenang aja siapapun yang nyakitin kamu, aku yang akan baris di garis terdepan untuk kamu Gi hehehe," canda Susi yang membuatku agak menahan tawa.


"Kamu sih, ini kan kita lagi serius Si, kok kamu malah bercanda ke aku," rengek ku sambil mengusap air mataku.


"Iiih Gia apa sih, orang aku nggak bercanda, Kamu aja yang senyum tiba-tiba," goda Susi yang selalu bisa membuatku seperti ini.


"Kamu tuh ya selalu gitu, pada ujung-ujungnya pasti kamu buat lelucon, dulu aja kalo dulu kita masih kuliah, kalo aku udah chatan sama kamu, pasti susah mutusinnya sampe pagi pun gak peduli, padahal yang kita bahas ya gitu-gitu aja," kata aku yang gemes dengan Susi.


"Hehehe lagian biar kamu nggak sedih-sedih terus Gi, makanya aku ngehibur kamu," kata Susi.


"Sebenarnya aku nggak sedih sih, cuman sakit aja gitu dan ini pun juga nggak ada balasan pesan dari Mas Naufal," ucapku sambil melihat ponsel di dalam tasku.


"Mungkin dia memang sangat sibuk Si, pasti sekarang dia sudah pulang dan langsung tertidur karena tadi aku udah bilang sama Bi Sarah kalo Mas Naufal pulang bilangin aku masih ke kosnya Susi gitu," ucapku dengan melas.


"Gitu ya Gi kalo udah berumah tangga kemana-mana harus bilang sama suami," kata Susi.


"Ya iyalah Si, makanya kamu cepetan nikah biar ngerasain sebuah kebahagiaan dalam pernikahan karena menikah itu nggak selalu sedih tau, dapet pahala pula, cepetan nyusul," kata ku agar sedikit lupa tentang Naufal.


"Ini masih nunggu jodohnya Gi kapan dikasihnya sama Allah, aku juga nggak tau dan yang pastinya aku akan tetap seperti ini padamu, tidak akan pernah berubah, bahkan aku akan menerima sikap dari suamiku, pasti itu Gi, dari sini cerita kamu aku juga bisa belajar dari kamu bahwa sebuah rumah tangga nggak sebahagia yang mereka ceritain, nggak semulus yang mereka jalanin," kata Susi.


"Ini tentang pengorbanan Si, bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah," kataku pada Susi.


Kami saling bercerita satu sama lain malam itu.


Sampai-sampai waktu sudah larut malam, waktu menunjukkan pukul 20.30, aku harus segera pulang karena aku Aku tidak berani jika pulang terlalu malam.


"Si udah jam segini, Aku pulang dulu ya, soalnya nggak enak ninggalin Mas Naufal sendirian di rumah, kasihan nanti dia," pamitku pada Susi.


"Iya Gk, kamu hati-hati ya, jangan kencang-kencang naik mobilnya, pelan aja yang penting nyampek," tutur Susi yang sangat khawatir perihal keselamatan ku.


Susi mengantarkanku sampai aku masuk dalam mobil.


Ku buka jendela kaca mobil ku.


"Aku pulang ya Si, Assalamu'alaikum," kataku.


"Iya Gi Wa'alaikumsalam," jawab Susi.


Ku tancap gas mobilku dengan kecepatan yang sedang.


"Pasti Mas Naufal sudah pulang dan sudah tertidur pulas di dalam kamar, Kasihan dia pasti sangat capek harus mengurus sana dan sini, dia harus berbagi lebih kali ini," ucapku sendiri dalam mobil.


Dengan senang hati aku pulang karena akan bertemu dengan Naufal.


***(di Rumah)


Beberapa menit kemudian, aku sampai di rumah, dan aku langsung masuk ke dalam kamar dengan senang hati.


Aku berlari lalu membuka kamar ku sambil memanggil-manggil nama Mas Naufal.


"Mas," kataku sambil membuka pintu kamar.


Tidak ada jawaban apapun.


"Mas Naufal," panggilku lagi.


Tidak ada balasan dari ucapan ku lagi, tidak ada Mas Nafal di sana, aku cek dalam kamar mandi ternyata juga tidak ada.


Hatiku merasa sangat sepi dengan kenyataan ini, rasanya tubuhku langsung lemas tak ingin berbuat apa-apa, hatiku sakit, sampai tangisku tak bersuara.


Aku turun untuk memastikan bahwa Mas Naufal memang benar-benar belum pulang.


Aku mengecek setiap ruangan yang ada di rumah itu, Ku hapus air mataku, lalu aku tanyakan pada Bi Sarah.


"Bi, Mas Naufal belum pulang ya?" tanyaku pada Bi Sarah.


"Belum Mbak Gia, kenapa Mbak?" tanyanya.


"Ohh ya udah Bi, pasti Mas Naufal sangat sibuk dan lembur dir rumah sakit kali ini, kalo nggak? Ada meeting di luar," kataku menutupi semuanya pada Bi Sarah sambil sedikit menyunggingkan kedua pipiku.


"Ya udah Bi, kalo gitu Gia ke atas lagi," pamitku yang sebenarnya sudah tidak tahan menahan tangisku sendiri.

__ADS_1


Aku langsung pergi meninggalkan Bi Sarah, pandanganku kosong setiap menapaki anak tangga, kakiku lemas, aku tanpa daya saat itu, aku tidak dapat mengontrol air mataku yang terus mengucur deras di pipiku


Aku masuk ke dalam kamar.


***(di Kamar)


Ku tutup pintu kamarku.


Aku langsung terjatuh di lantai dan menangis terisak-isak.


"Sampai jam segini pun kamu belum ada kabar Mas!! Kamu belum pulang, kamu belum sedikitpun memberi kabar padaku, kami belum mengirim pesan ataupun membalas pesanku, apakah kamu telah nyaman berada di sana dari pada di sini bersamaku," ucapku dalam hati.


"Dan apakah kamu ingat bahwa 2 hari lagi itu ulang tahun aku apakah kamu ingat hal kecil itu," bentak ku sendiri.


"Pasti kamu juga lupa dengan hal itu, aku tau," bentak ku lagi.


"Kamu di mana Mas??!! Aku sangat rindu sama kamu, aku sangat rindu !! Aku kesepian di sini, aku nggak mau Mas terus berada di dalam kamar ini sendiri tanpa kamu, enggak, aku gak mau !!!" kataku.


Aku berjalan masuk kedalam kamar mandi,


Aku duduk di bath up dan ku guyur semua badanku sampai kedinginan dan menggigil, aku menangis sejadi-jadinya saat itu.


"Apa aku kurang pantas untukmu Mas ?? Aku selalu berusaha menjadi apa yang kau minta , apakah aku yang terlalu memaksa disini, aku layak di cintai Mas," kataku.


Ku tenangkan diriku dalam kamar mandi dengan guyuran air dingin yang terus mengalir setiap lapis kain gamisku.


Setelah selesai hampir 1 jam aku berada di kamar mandi dan terguyur air dingin, aku berusaha bangun dari bath up dan keluar dari kamar mandi.


Dan di sana juga belum tampak tanda-tanda Mas Naufal sudah pulang.


Dan ternyata beberapa menit kemudian saat aku berniat mau menelpon Mas Naufal, akhirnya dia datang dengan membawa buket bunga mawar putih.


Dia memandangku di depan pintu, aku memalingkan pandanganku.


Rupanya dia menghampiriku.


"Sayang, aku pulang," kata dia sambil membawa bunga itu.


Dia langsung memelukku, tetapi aku hanya diam dan tidak membalas pelukannya.


Sepertinya dia merasakan suhu dingin dari badanku karena ulahku tadi.


Dia langsung melepas pelukannya dari ku.


Aku tersenyum padanya, aku ingin terlihat sumringah di depan dia.


"Kamu baru pulang Mas?" tanyaku padanya.


"Sifatmu yang seperti ini yang membuatku semakin sulit menjauh darimu Mas, dan aku akan semakin tersiksa," kataku dalam hati.


Aku menerima buket pemberian Mas Naufal, rupanya Naufal curiga karena tersentuh dengan tangan ku dan dia merasakan dinginnya kulitku kembali.


"Tangan kamu dingin banget Sayang, badan kamu juga tadi, kamu habis ngapain?? Di luar dari tadi juga nggak hujan kok," kata Naufal.


"Enggak, aku habis mandi kok, emang hawanya aja yang dingin jadi kulitku ikut-ikut dingin," kata ku menutupi semuanya.


"Tapi kali ini dingin banget Gi," ucap Naufal yang semakin curiga.


"Kamu kedinginan? Aku matiin AC nya ya," ucapnya yang khawatir.


"Enggak, aku nggak papa," jawabku.


"Kamu bohong," ucap Naufal sambil mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuhku.


"Mas, kamu apa-apaan sih, aku gak papa, mau ngapain kamu bawa itu," kataku pada Naufal yang mendekat dan mencoba ingin mengecek suhu tubuhku.


"Buat cek suhu tubuh kamu Gi, dingin banget loh, sumpah," kata Naufal.


"Enggak ah, aku gak mau, orang aku gak kenapa-napa kok," kataku yang menahan dinginnya tubuhku.


Tiba-tiba pandanganku gelap dan aku pun terjatuh.


Buuukkkkkk.


"Gia !!" ucap Naufal.


Naufal syok melihat aku pingsan dan untung terjatuh di tubuhnya.


Naufal langsung menggendongku dan merebahkanku.


Hampir lama aku tak sadar, aku mendengar remang-remang suara Naufal memanggilku.


"Gi, Gia!! Bangun Sayang, bangun," ucapnya panik.


Ingin sekali aku bangun tetapi tubuhku yang beku dan kepala ku sangat pusing sekali.


Naufal yang duduk jongkok di sampingku kaget melihat mataku yang pelan-pelan ku buka.


"Dingin Fal," kataku dalam hati.

__ADS_1


Ku angkat kedua tanganku untuk memeluk Naufal, tapi aksi ku terhenti.


"Aku lupa? Aku tidak boleh bermanja manja lagi padanya, aku tidak ingin merepotkannya lagi," kataku sambil menarik tanganku kembali.


Naufal heran melihat kelakuan ku itu.


Tanpa berkata Naufal langsung memelukkan tanganku di pundaknya.


Hatiku menangis saat itu, aku sangat sangat rindu padanya.


Tapi aku harus tetap ingat rencana awalku, disini aku hanya ingin membuktikan bahwa dugaanku pada Naufal adalah salah.


Ku melepas tanganku dari leher Naufal.


"Apaan sih kamu," kataku sambil tersenyum dan memalingkan mata ku untuk tidak menatapnya.


"Kamu cepetan tidur, aku capek banget Mas, besok kerja lagi, kamu udah sholat kan?" tanyaku yang tidak ingin terlihat berubah berlebihan padanya.


"Udah Gi, badan kamu dingin banget, kamu habis ngapain sih," kata Naufal dengan tegas.


"Emang kan hawa nya dingin Mas, udah cepetan tidur," perintahku.


"Padahal AC nya udah aku matiin loh, tapi suhu tubuh kamu masih sedingin ini Gi," ucapnya.


"Enggak, emang gini aja Mas," kataku.


"Kalo kamu nggak cepet tidur, aku tinggal tidur duluan tau rasa kamu," kataku dengan pelan karena menahan pusing di kepala ku.


Aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa pusing ini, aku langsung membelakangi Naufal dan langsung memejamkan mataku.


Aku sudah tidak mendengarkan apapun saat itu, karena sudah tidak tahan menahan pusingnya kepala dan dinginnya badanku.


Tengah malam rupannya hujan sangat deras.


Semakin terasa dingin di setiap lapis kulitku, sampai-sampai aku terusik dengan dinginnya hujan malam.


Aku bangun, dan melihat Naufal yang memelukku seperti biasanya.


Ku pandang lama-lama wajahnya.


Aku teringat semua hal bahagia yang pernah kita lalui bersama, dari kamu yang sama sekali tidak mencintaiku sampai yang selalu ada bersama untuk menemaniku.


Air mata menetes seketika.


Sepertinya Naufal ingin membuka matanya, dan aku langsung membalikkan tubuhku untuk membelakanginya.


Aku berpura-pura tertidur pulas.


Naufal menarik selimut ke atas untuk menutupi hampir seluruh tubuhku dan hanya terlihat kepalaku saja.


Aku tau, dia menatapu lama dari belakang, dan dia mencium keningku.


Hatiku berdebar sangat cepat dan tak karuan.


"Kenapa kamu semakin menyiksaku Fal? Aku berusaha pelan-pelan untuk tidak terlalu dekat denganmu, tapi kenapa kamu malah seperti ini," kataku dalam hati.


"Dengan sikapmu yang seperti ini, kenapa aku belum juga yakin dengan ketulusan cintamu," kataku lagi dalam hati.


Aku menangis sampai bantalku terbasahi dengan air mataku.


Alarm dari ponselku berdering, sebagai tanda waktunya aku bangun dan memasak sarapan untuk Naufal.


Aku bangun pelan-pelan dan langsung pergi ke dapur.


***(di Dapur)


Badan ku berasa tidak enak tapi aku harus tetap membuatkan sarapan untuk Mas Naufal.


"Bi, tolong buatin Gia segelas susu Bi," kataku sambil berjalan menahan rasa pusing.


"Mbak Gia kenapa?" tanya Bi Sarah.


"Agak sedikit pusing Bi, tapi Bibi jangan bilang Mas Naufal ya," kataku.


"Kalo gitu Mbak Gia duduk aja, biar Bibi yang masak semuanya, Mbak Gia ke atas lagi aja," tuturnya.


"Enggak Bi, Gia nggak papa tenang aja," kataku.


"Jangan Mbak, Mbak Gia ke atas aja udah, ya? Bibi mohon, biar Bibi yang masak, kasihan Mbak Gia," ucap Bibi yang terus kekeh memaksaku.


"Ya udah makasih ya Bi," kataku.


Segelas susu untuk ku telah siap ku teguk untuk menambah dayaku.


Setelah ku teguk habis dan langsung pamit pada Bi Sarah untuk pergi ke kamar lagi.


***(di Kamar)


Sampai di kamar, aku langsung tertidur di sofa karena sudah tak kuat menahan pusing.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2