
Keesokan harinya setelah mereka sholat shubuh,kebetulan hari ini mereka mengambil cuti karena nanti sore mereka harus berangkat ke Bali.
Naufal dan Gia kompak menyiapkan barang-barang yang akan di bawanya ke Bali.
Naufal kaget dengan Gia yang meraih boneka minionnya.
“Gi, kamu bakalan bawa boneka itu?” tanya Naufal.
“Kenapa emangnya? Apa nggak usah dibawa aja ya?” tanya Gia balik.
“Eng..enggak bukan gitu, kamu bawa aja sih gak papa, aku
nggak keberatan,” ucap Naufal.
“Beneran gak papa?” lagi-lagi Gia bertanya pada suaminya.
“Iya beneran, emang bonekanya dari siapa sih? Perasaan
kamu bawa kemana-mana terus tuh boneka,” kata Naufal.
“Ya pastinya lah, ini tuh dari pria pertama yang telah
membuatku jatuh cinta padanya,” kata Gia.
“Siapa?” tanya Naufal langsung sinis.
Gia duduk di dekat Naufal, dan mendekatkan mulutnya ke
telinga Naufal.
“Iih kamu kepo ya,” bisik Gia di telinga Naufal.
“Ya nggak, aku cuman mau mastiin aja,” kata Naufal
malu-malu.
“Mastiin apa? Hayo loh? Wkwkw,” ejek Gia.
“Bahwa tidak ada pria lain yang membuatmu jatuh cinta selain
Papa kamu dan aku,” bantah Naufal.
“Eemmm kamu tau banget sih,” kata Gia dengan manja.
“Ya pasti udah tau lah kamu, kalo yang ngasih ini boneka
Papa aku, mau siapa lagi?" tanya Gia.
“Siapa tau Kevin,” ejek Naufal.
“Apaan sih kamu bahas itu lagi,” sontak Gia.
“Hehehe enggak-enggak Sayang,” tutur Naufal.
Setelah beberapa menit mereka selesai menyiapkan
barang-barang yang akan dibawanya ke Bali. Gia mengajak Naufal untuk sarapan di bawah.
“Sarapan dulu yuk Mas,” perintah Naufal.
Naufal hanya menganggukkan kepalanya dan memeluk pundak Gia berjalan menuju ruang makan.
***(di Ruang Makan)
“Bi Pak Joko kemana?” tanya Gia.
Naufal berjalan mencari Pak Joko di kamarnya.
Naufal melihat Pak Joko yang sedang merapikan kamarnya.
“Pak Joko, mari sarapan dulu Pak,” perintah Naufal.
“Oh iya Pak, saya baru saja selesai ini Pak,” jawab Pak
Joko.
Naufal dan Pak Joko berjalan menuju ruang makan, yang disana sudah di tunggu Gia dan Bi Sarah.
Naufal duduk di sebelah Gia untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan, Gia duduk di sofa di depan TV.
Naufal mengikutinya dari belakang Gia.
“Mau ngapain kamu?” tanya Gia curiga.
“Enggak, aku cuman mau nemenin kamu aja,” goda Naufal.
“Iih dasar, tumben-tumbenan kamu gini,” ejek Gia.
__ADS_1
“Tau ah Gi, bawaannya pengen di deket kamu terus aku,” ucap Naufal dengan manja.
Mereka menikmati moment nonton TV bersama, Gia yang
sepertinya sudah nyaman menyandarkan kepalanya di lengan berotot Naufal. Sampai Gia tertidur pulas.
Naufal yang melihat istrinya sudah tertidur sangat pulas,
akhirnya Naufal berniat untuk menggendong Gia ke atas kamar.
Beberapa jam kemudian adzan dhuhur berkumandang.
Gia pelan-pelan membuka matanya, Gia kaget melihat
langit-langit atapnya.
“Loh loh kok aku udah disini, tadi kan aku nonton TV?” tanya
Gia bingung.
“Kamu yang gendong aku?” tanya Gia karena syok.
“Ya iyalah,” jawab Naufal yang duduk santai di sofa.
Gia beranjak dari kasurnya, dan membawa sebuah bantal yang akan di arahkan di tibuh Naufal.
“Iih kamu,” kata Gia sambil menepukkan bantalnya ke tubuh
Naufal dengan halus.
“Wkwkwkwk apa sih kamu, wajar dong Gia, Astagfirullah, kamu ih,” tutur Naufal.
“Tapi kamu nggak bilang-bilang sama aku dulu,” rengek Gia.
“Gimana mau bilang Gia, kamu kan tidur, gak mungkin tega lah
aku bangunin kamu,” kata Naufal.
“Lagian aku udah sepantasnya melakukan hal itu padamu, bukan begitu Ibu Gia?” tanya Naufal dengan usil.
“Iiih kamu kok jadi ikut-ikutan kayak aku sih,” kata Gia.
“Udah, kamu jangan bawel, cepet ambil air wudhu kita sholat
dhuhur bareng, habis ini kita dijemput sama Bastian loh,” perintah Naufal.
Setelah mereka sholat, Gia bersiap-siap untuk berangkat ke
bandara.
Tiba-tiba ponsel Naufal bordering, ternyata telfon dari
Bastian.
“Fal?” panggil Bastian.
“Hm?” jawab Naufal.
“Gue sudah di depan rumah Lo, ini langsung masuk aja apa
gimana?” tanya Bastian.
“Ada satpam ya gak?” tanya Naufalbalik.
“Nggak ada, sepi,” jawab Bastian.
“Ya udah masuk aja gak papa,” perintah Naufal.
“Oke,” kata Bastain.
Gia membawa satu koper warna pink, dan Naufal membawa satu koper besar warna abu sekaligus menggendong boneka minion Gia.
***(di Ruang Tamu)
Rupanya Bastian sudah duduk-duduk disana.
“Ei Fal,” sapa Bastian.
“Berangkat yuk sekarang,” perintah Naufal.
“Langsung banget nih,” kata Bastian.
“Iya lah,” jawab Naufal.
Naufal dan Gia pergi untuk berpamitan dengan Bi Sarah dan
Pak Joko.
“Bas, bawain kopernya istri Gue,” perintah Naufal.
__ADS_1
Bastian menghampiri Gia dan ingin meraih koper Gia.
“Mas, nggak usah, aku bisa bawa sendiri,” ucap Gia merasa
sungkan dengan Bastian.
“Udah Gi, gak papa, ya gini emang sifatnya Naufal kalo sama
orang yang di sayang,” ejek Bastian.
Naufal pura-pura tak mendengar apa kata Bastian, Gia
tersenyum pada Bastian dan menyerahkan kopernya pada Bastian.
Setelah koper sudah di masukkan ke dalam bagasi mobil,
Naufal duduk di depan bersama Bastian dan Gia duduk di belakang sendirian.
Bastian langsung menancap gas mobilnya dengan kencang menuju bandara.
“Mas, tadi kamu udah pamitan sama Papa?” tanya Gia malu-malu pada Naufal.
“Udah dari kemaren Gia, udah kamu jangan khawatir, Mama sama Papa udah aku kabarin semua,” kata Naufal.
Gia tenang mendengar hal itu, karena meskipun Gia sekarang
sudah berkeluarga tapi Gia harus tetap berpamitan dengan orang tuanya.
Di dalam monil Gia tertidur karena mendengar sayup-sayup
suara Naufal dan Bastian sedang berbincang-bincang.
***(di Bandara)
Beberapa jam telah berlalu, tak terasa mereka sudah sampai
di bandara.
Setelah mereka mengambil koper bawaan mereka, mereka
menunggu jam keberangkatan pesawat yang telah dipesan oleh mereka.
Setelah beberapa menit mereka menunggu. Tiba waktu keberangkatan pesawat mereka.
Di dalam pesawat, Gia duduk di damping Naufal, dan Bastian
duduk di belakang Naufal.
Gia hanya tidur selama di pesawat, sesekali Naufal
memandangi setiap sisi wajah Gia.
Hati Naufal semakin berdegup kencang. Naufal langsung
membuang mukanya ke luar jendela pesawat karena sudah tidak kuat memandang wajah Gia.
Hampir 2 jam lebih perjalanan, akhirnya mereka sampai di
Bali.
Mereka di jemput oleh seorang pria yang sepertinya teman
akrab Bastian, mereka langsung di antarkan ke hotel.
***(di Hotel)
Bastian membawakan koper Gia sampai di depan kamar hotel Gia dan Naufal. Syukur kamar Bastian berhadapan dengan Kamar Gia dan Naufal.
“Fal, Gue masuk kamar dulu ya,” pamit Bastian.
“Oke,” jawab
“Gi, kamu buka kamarnya biar aku yang bawain kopernya,”
perintah Naufal dengan sengaja.
Gleekkkk……pintu kamar hotel terbuka.
Gia langsung melihat setiap sisi dan sudut kamar itu.
Gia sangat kaget dan syok benar benar syok kali ini. Gia tercengang dan melongo melihat isi dari kamar itu.
Bersambung......
jangan lupa like, comment dan vote yang banyak kak hehehe😁🙏
Terima kasih masih setia menemani Author🖤
See you di episode selanjutnya😊
__ADS_1