
Setelah aku berhasil menendangnya dan dia tersungkur jatuh ke bawah, aku lari untuk menyalakan lampu.
"Aaaawwwww, Sayang kok di tendang," keluh Naufal yang sepertinya benar-benar kesakitan.
"Mas Naufal!!!!!" ucapku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Astagfirullah, maaf maaf," kataku yang langsung menghampirinya dan menolongnya untuk berdiri.
"Sakit Gi, kamu nendangnya beneran lagi," kata Naufal agak sedikit tertawa.
"Kan aku nggak tau Mas kalo itu kamu, maaf ya, sakit??? Mana yang sakit??" tanyaku khawatir.
"Sakit semua Gi badan aku, kamu jorokin terus aku tersungkur di bawah," ucapnya.
"Lagian kamu, mau pulang sama sekali nggak ngabarin aku," kataku.
"Hehehe, surprise Sayang aku pulang agak cepet soalnya jam nya kan udah di majuin jadi udah selesai," kata Naufal.
"Ada-ada aja kamu deh, sakit kan jadinya, maaf ya," ucapku terus meminta maaf padanya.
"Kamu juga Sayang, tidur pintu nggak di kunci, aku ketok-ketok kamu nggak bangun, ya udah aku langsung masuk dong," kata Naufal.
"Masak iya aku nggak ngunci pintunya?? Soalnya aku capek banget Mas tadi di Rumah Sakit riweh banget, jadi aku lupa terus langsung tidur aja," kataku.
"Untung aku yang masuk, kalo lainnya yang masuk gimana hayo, terus kamu di apa-apa in, Hmmm," tutur Naufal.
"Iiiih kamu, jangan gitu dong, iya maaf aku lupa, lagian kan di gerbang depan ada Pak Joko," kataku membela diri.
"Gerbang belakang emang ada yang jaga?" ucap Naufal sambil sedikit mengejekku.
"Gak ada sih," kataku sambil menggaruk tengkuk ku.
"La itu tau, besok aku cari satpam lagi buat jagain gerbang belakang, kamu ceroboh lagi nanti," ucap Naufal sambil memijat lengannya.
"Ya udah bentar aku kompres lengan kamu dulu," kataku sambil berjalan mengambilnya.
Dengan gesit Naufal menarik tanganku dan membuatku jatuh memeluknya.
Deg-deg...... deg-deg....
Lagi-lagi nafasku sesak karena minim oksigen jika di tatap Naufal seperti ini.
"Nggak usah di obatin, nggak papa kok," kata Naufal yang semakin membuat jantungku berdebar-debar.
Ku telan salivaku.
"Eeemmmm......Mas kamu mandi dulu gih," tuturku sambil mencoba menarik badanku untuk bangun tetapi Naufal menahannya.
"Udah, aku udah mandi," jawab Naufal sambil menaikkan satu sisi mulutnya.
"Aku matiin lampu dulu ya," ucapku mengalihkan pembicaraan.
"Nggak usah, lampu tidur aja yang dimatiin," jawab Naufal dengan sangat santai dan tangannya mematikan lampu tidurnya.
Hatiku semakin bergetar dan nafasku semakin sesak.
"Kamu tau syarat yang kedua apa??? Yang selalu kamu tanyakan," kata Naufal.
"Eeemmmm........iii...iya, kenapa? Emangnya apa??" tanyaku balik.
Naufal tidak menjawabnya dan malah tersenyum padaku.
Dan malam ini, lagi-lagi dia mengambil kembali haknya untuk menguasai ku.
Aku hanya bisa pasrah. Aku tidak tau jika dia akan memulainya pada saat itu, dan dia menjawab syaratnya juga dari malam manis itu.
.
.
.
.
.
.
Alarm ku berdering, kring....kring...kring..
Aku membuka mataku dan meraih ponsel untuk mematikan alarm.
Aku memandang Naufal samar-samar.
Aku kaget ada dia di sampingku, dan sangat kaget melihat kondisi saat itu.
Aku mengucek-ucek kedua mataku untuk memastikan bahwa itu benar-benar Naufal.
"Huuuufftt, kirain tadi malam mimpi," kataku.
"Aku harus segera mandi dan turun ke bawah ini," kataku sambil pelan beranjak dari kasur.
Saat aku berdiri, tanganku di tarik oleh Naufal yang masih terpejam matanya.
"add...duh, kok dia tau sih kalo aku bangun, pasti dia ngelarang aku buat masak," kataku dalam hati.
"Kemana Sayang?" tanyanya dengan matanya yang masih terpejam tetapi tersenyum padaku.
"Ma.....masak Mas," jawabku sambil tetap membelakanginya.
"Jangan, nggak usah, disini aja, aku masih kangen sama kamu," kata Naufal yang masih terpejam kedua matanya.
"Tuh kan bener," gumamku dalam hati.
"Iii...iya udah," kataku lalu kembali tidur di samping Naufal.
Tetap saja mataku tidak bisa tidur.
Tapi Naufal juga benar sih, sebenarnya aku juga sangat merindukannya.
"Kenapa nggak bisa tidur lagi?" tanyanya.
"Engg....nggak kok, bisa, aku bisa tidur," bantahku.
"Subhanallah, udah 3 hari aku nggak menatap wajahmu sedekat ini Mas," kataku dalam hati.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" tanyanya.
"Kok kamu tau, kan kamu merem dari tadi?" ucapku heran.
__ADS_1
"Tau lah, udah 3 hari aku nggak ngrasain kayak gini, jadi berasa Sayang kalo kamu natap aku kayak gitu," ucapnya.
Kali ini sepertinya dia menginginkanku kembali, tetapi tidak seperti semalam.
Aku menyerah dan juga pasrah, sampai-sampai kami tertidur pulas kembali.
.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang, aku bangun terlebih dahulu daripada dia, dan kesempatan kali ini berpihak padaku, aku bisa melihat setiap lekuk wajah Naufal sambil ku membelainya.
"Pria ini, aku sangat mencintaimu," kataku dalam hati.
Sebelum aku pergi untuk mandi, ku dekatkan mulutku di telinga Naufal.
"Terima kasih, aku mencintaimu," bisikku.
Aku beranjak pelan dari kasir dan berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi, saat langkahku tepat di depan pintu kamar mandi, tiba-tiba Naufal berucap.
"Aku juga mencintaimu Sayang, bahkan lebih dari kamu," teriaknya dari belakangku.
"Kok dia tau?? Jangan-jangan tadi dia pura-pura masih tidur," gumamku dalam hati.
"Aduuuh, dasar Gia kamu kurang pinter banget sih," ucapku dalam hati dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Naufal yang tertawa dengan tingkah memalukanku itu.
Beberapa menit kemudian setelah aku selesai mandi, Naufal beranjak dari kasur dan sepertinya ingin memelukku dari belakang saat aku menyiapkan sajadah untuk kami melaksanakan sholat.
Aku segera menghindar darinya.
"Eh, mau ngapain kamu???" kataku sambil melangkah menjauh darinya.
"Meluk kamu lah," jawabnya dengan rambutnya yang masih berantakan karena bangun tidur.
"Aku udah wudhu, sana kamu mandi," tuturku.
"Ya elah Sayang, kan bisa wudhu lagi," rengeknya.
"Masss..," kataku yang memberi kode agar dia segera mandi.
"Huuufftt, iya deh Sayang," ucap Naufal sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Naufal selesai mandi, kami segera melaksanakan sholat shubuh bersama.
Setelah sholat selesai, aku membereskan sajadah dan melipat mukenahku.
Segera aku bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Saat aku tengah memakai maskara, Naufal mendekatkan mulutnya di telinga kananku.
"Udah tau kan syarat kedua nya apa," goda Naufal sambil mengancingkan kemejanya.
Ku pukul halus lengannya dengan dompetku, Naufal berhasil menghindarinya.
"Kenapa kamu??? Malu Sayang?" tanyanya.
"Aaaaaaaaa udah jangan dibahas Mas," rengekku.
"Hehehhee," Naufal terus menertawakan ku.
"Udah nggak usah ketawa kamu," tuturku malu-malu.
"Hahahahaai, perut aku sampe sakit Gi," kata Naufal.
Selesai bersiap-siap, kami turun ke bawah untuk sarapan.
***(di Ruang Makan)
"Pagi," sapa Naufal.
"Pagi Pak," jawab Pak Joko.
"Mas Naufal sudah pulang??? Kapan pulangnya Mas," tanya Bi Sarah.
"Tadi malem Bi," jawab Naufal.
"Gia aja juga nggak tau Bi, Mas Naufal pulang jam berapa, tau-tau udah di kamar," ucapku sambil mengambilkan nasi untuk Naufal.
"Tadi malam saya Buk yang bukain Bapak," sahut Pak Joko.
"Tapi pintunya udah saya kunci Pak," kataku.
"Lewat garasi Gi, kan bisa, masih ada Pak Rusdi nonton TV," sahut Naufal.
"Udah, ayo segera di makan," ucap Naufal.
Dengan segera kami menyantap menu sarapan pagi.
"Kemaren nggak ada saya, Gia nggak kemana-mana kan Bi?" tanya Naufal.
"Enggak Mas, Mbak Gia di rumah, kemaren malam aja Mbak Susi kesini," jawab Bi Sarah.
"Istri yang baik," kata Naufal sambil mengelus kerudungku.
Setelah kami sarapan, kami berpamitan pada mereka untuk berangkat bekerja.
"Bi, berangkat dulu ya," pamit Naufal.
"Monggo Mas," jawab Bi Sarah.
"Assalamu'alaikum," salamku dan Naufal.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.
Kami berjalan ke halaman depan, rupanya mobil Naufal sudah terparkir disana.
Kami masuk ke dalam mobil dan Naufal menancap gas mobilnya.
"Mas," panggilku ragu.
"Hm?" jawabnya.
__ADS_1
"Aku mau ngomong sama kamu, tapi kamu jangan marah," kataku.
"Tentang apa? Jangan bilang tentang Kevin," tebaknya.
"Bukan Mas," jawabku sedikit takut.
"Lalu, tentang siapa?" tanyanya lagi.
"Tentang......Eemmm....tentang Vela Mas," kataku.
"Tapi bukan hal buruk kok," sahutku.
Naufal kaget mendengar kata Vela kembali keluar dari mulutku.
"Huuuuffftttt, apa lagi Sayang?? Hm???" tanyanya.
"Aku kemaren ke rumahnya," kataku lirih.
"Ha??? Kamu ke rumah neneknya maksudnya?" tanyanya syok tetapi tetap fokus menyetir.
"Kamu nggak di lukai kan sama dia Sayang," ucap Naufal.
"Enggak Mas, gak ada yang luka kok, malah aku seneng," kataku.
"Kamu apa-apaan sih Sayang, coba cerita sama aku," kata Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Aku kemaren ke rumahnya karena aku kasih tumpangan pulang buat dia waktu di Supermarket, dan akhirnya waktu aku di rumahnya, dia cerita semua tentang hidup sebenarnya dia Mas, aku kasihan banget," ceritaku dengan sangat serius.
"He'em terus??" tanya Naufal.
"Dia udah punya anak Mas," kataku.
Naufal syok mendengarkan hal itu, dengan spontan dia menurukan kecepatan mobilnya.
"Vela udah punya anak Sayang???!!!!" tanya Naufal dengan tegas.
"Iya Mas, ternyata nasib dia kasihan banget Mas, selama ini Mamanya Vela pura-pura baik di depan kita, tapi sebenarnya Mamanya Vela ngejual Vela Mas sama om om hidung belang," kataku dengan ekspresif.
"Terus, dia punya anak dari om om itu??" tanya Naufals sedikit menekan.
"Iya Mas, Vela di tinggalin sama om om itu, sekarang dia merawatnya sendirian," kataku.
"Dan aku tau alasan dia sebenarnya kembali ke Indonesia untuk menemui kamu kembali," ucapku sambil melihat arah depan jalan.
"Apa??" tanya Naufal.
"Sebenarnya dia datang ke Indonesia karena ingin menemuimu Mas, ingin kau nikahi, karena bagi dia, hanya kamu yang bisa menolongnya agar dia terbebas dari mereka, tapi dia begitu sedih saat mengetahui kamu telah menikahi aku," kataku.
"Serius kamu Sayang?" tanyanya lagi.
"Iya Mas, aku juga baru tau kemaren, terus dia masih gigih agar bisa membuatmu jatuh cinta kembali pada dia," kataku.
"Tapi kamu Sayang, aku sudah tidak mencintainya, kamu aku yang aku cintai, udah itu aja," ucap Naufal dengan sesekali melirikku.
"Kayaknya dia depresi deh Mas, gara-gara Mamanya melakukan hal keji seperti itu, kasihan banget kan, terus kemaren dia juga bilang katanya pengen kaya aku, berkerudung, pakai gamis, karena bagi dia kamu suka yang seperti itu," ucapku.
"Sayang, cinta itu gak bisa di paksain, karena cinta itu apa andanya, ada kelebihan ada kekurangan, dan jika kita mencintai seseorang, maka sulit untuk kita menaruh rasa kembali pada orang lain, jadi...aaarrghh aku sudah tidak mencintainya bahkan tidak bisa lagi mencintainya Sayang....," ucap Naufal.
"Tapi dia ingin mendengar kata itu kembali Mas, dan dia janji saat aku mempertemukanmu dengannya, kamu kasih keputusan pada dia, entah keputusan yang sesuai akan isi hati kamu?? Kamu menerimanya kembali atau malah sebaliknya, setelah dia mendapat jawaban dari kami, dia janji tidak akan mengganggu kita lagi Mas," kataku.
"Kamus serius??? Dia beneran janji kayak gitu sama kamu," kata Naufal.
"He'em dia sendiri yang bilang Mas," ucapku sambil menganggukkan kepalaku.
"Tapi kali ini dia nggak bohong kan," kata Naufal yang masih saja ragu.
"Sepertinya kali ini dia memang sangat serius Mas, dia benar-benar tulus, dia seneng sekali ketika aku membantunya memakai kerudung," kataku melamun sambil tersenyum.
"Pantesan Mas, dulu waktu dia habis kecelakaan, dia ngotot nggak mau untuk di ajak pulang, heemmmm.....sungguh malangnya nasibmu Vel," kataku.
"Kasihan juga Sayang, lalu kapan kamu ingin mempertemukan ku dengan dia, agar selesai semua ini, dan tidak ada lagi yang gangguin kita," kata Naufal.
"Sebisa kamu saja Mas, nanti aku jemput Vela ke rumahnya," ucapku.
"Nanti juga gak papa Sayang, bukankah lebih cepat lebih baik," tutur Naufal.
"Eeemmm.....okey, boleh," jawabku.
***(di Rumah Sakit)
Tak terasa akhirnya kami sampai di parkiran Rumah Sakit.
Saat kami keluar dari mobil, kebetulan bisa barengan dengan Dokter Irene.
Dokter Irene berjalan menghampiri tempatku dan Naufal berdiri.
"Pagi Dok," sapa Dokter Irene.
"Ya pagi," jawab Naufal.
Aku hanya tersenyum padanya.
"Dok mau nanya nih, Dokter udah lama pacaran sama Dokter Gia??" tanya Dokter Irene yang sepertinya sudah lama mengenal Naufal.
"Kami nggak pacaran," jawab Naufal.
"Kok Dokter nikahnya nggak ngundang temen-temen disini," kata Dokter Irene yang cantik dengan rambutnya yang blonde.
"Acara private, jadi cuman keluarga dekat saja yang datang," jawab Naufal lagi.
"Oooww, Dokter nggak pacaran tapi kok langsung nikah, di kenalin apa gimana Dok?" tanya Dokter Irene yang semakin kepo.
"Kami taarufan, saya mengkitbah nya, lalu kami menikah, dan saling mencintai, sudah Dok?" tepis Naufal.
Aku menyenggol lengannya.
"Eeemmmm, su....sudah Dok, maaf jika saya kurang sopan menanyakan hal ini," kata Dokter Irene yang sepertinya malu dengan sikap Naufal.
"Oh, tidak papa Dok, sama sekali saya tidak merasa keberatan untuk menjawabnya," kata Naufal sambil tersenyum padanya.
"Saya permisi dulu ya Dokter Irene, pagi," ucap Naufal sambil langsung menggenggam tanganku dan kami berjalan beriringan.
"Mas, tadi kok ngomongnya gitu sama Dokter Irene," kataku.
"Sayang, ini itu Rumah Sakit, dia tanyanya soal privasi kita, kan ini tempat kerja, kiraiin dia tadi nanyain soal pekerjaan," kata Naufal.
"Udah aku senggol-senggol tadi lengan kamu, seharusnya kamu lebih ramah Mas, inget kamu direktur juga disini," tuturku.
"Iya iya Sayang, masih pagi jangan rewel," ejek Naufal.
__ADS_1
Bersambung......