Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 213 (Bye Papa)


__ADS_3

Matahari sudah bergeser ke ufuk barat.


Naufal sudah membawa kopernya di depan halaman Rumah untuk menunggu jemputan.


Aku tidak bisa mengantarnya ke depan halaman rumah, karena Naufal melarangku.


Hanya Abay dan Bi Sarah yang menemaninya.


Aku hanya bisa melihat dari balkon kamarku.


Tak lama kemudian, mobil hitam kecil datang menjemput Naufal. Koper dimasukkan ke bagasi.


Mas Naufal tak lupa menengok ke atas untuk melihatku yang sedang berdiri di awakan balkon.


Dia melambaikan tangannya ke arahku, Pak Bastian keluar dari mobil karena penasaran siapa yang sedang di pamiti oleh karibnya itu.


"Tega banget Lo Fal menjarain istri di atas, kayak cerita nya Rapunzel aja , hahahaha," ejek Pak Bastian yang selalu bisa mnecairkan suasana.


"Romantis kan?? Lo pengen kan Gue giniin," canda Naufal.


"Astagfirullah Fal, normal Gue," jawab Pak Bastian dan langsung masuk ke dalam mobil.


Aku tertawa sedikit mendengar candaan mereka dari atas.


"Byeer Sayanggg," teriak Naufal dari dasar sana.


Aku hanya tersenyum padanya, Mobil pun melaju menuju Bandara. Kaki ku berjalan sangat pelan, sebenarnya sudah agak mendingan rasa sakitnya, cuman kaki dan paha ku masih memar.


Suasana sudah seperti ini, jadi teringat Papa kembali. Karena ponselku mati dan masih di biarkan Naufal di dalam laci, karena banyak goresan-goresan alibat terjatuh, Abay pun datang dengan membawa ponselnya.


"Nahh, kebetulan kamu datang Nak, Mama boleh pinjam hp kamu??" kataku.


"Boleh Ma, pasti buat menelepon Eyang ya Ma," tebak Abay.


"Iya Nak, Mama pengen tau keadaan Eyang Kakung kamu," jawabku.


Abay memberikan ponselnya padaku.


Langsung ku telepon Mamaku.


Tut...tut...tut....


Mamaku langsung menerima panggilan telepon dariku, aku menceritakan semua kejadian saat aku terjatuh tadi, dan mengadukan bahwa ponselku masih mati, tak lupa aku mmeinta maaf pada Mamaku karena aku tidak bisa menjenguk langsung Papa disana.


"Maafin Gia ya Ma, Gia nggak bisa nemenin Papa," ucapku.


"Nggak papa Gi, do'a in Papa aja ya, pokoknya do'a aja buat Papa kamu, ya," tutur Mamaku.


"Iya Ma, tiap sholat Gia do'a in Papa kok, Mama jangan kecapek an ya," tuturku.


"Iya Nak," jawab Mamaku.


"Gia tutup dulu ya Ma, Assalamu'alaikum," salamku.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mamaku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Malamnya, setelah sholat isya', aku memutuskan langsung tidur bersama Abay sambil menunggu kabar dari Naufal.


Aku sengaja langsung tertidur agar tidak terlalu merasakan kesepian ini tanpa Naufal. Abay sudah tertidur pulas di sampingku.


Beberapa hari ke depan, Naufal yang biasanya nihil dan hadir setiap harinya, kini akan hilang batang hidungnya.


Menikmati eloknya suasana berada di Thailand.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


2 hari sudah Naufal meninggalkan kami, yah....aku dan Abay. 2 hari menurutku sudah lama, namun....Dia harus berada disana selama 5 hari. Kurang 3hari lagi, tak hentinya aku terus menghitung hari berharap Naufal segera pulang atau pulang lebih cepat, karena aku sangat merindukannya.


Meskipun dia selalu menyapaku setiap harinya di layar kamera, aku masih tak lega, jika tidak menggenggam tangannya setiap harinya seperti saat kite tertidur berdua.


Pagi ini, aku keluar berdua bersama Abay untuk makan, karena keadaanku juga semakin membaik, namun masiha ada bekas luka di tumit kakiku.


Kami berdua masuk ke dalam mobil putihku yang jarang dikendarai ini, seperti benda antik yang di simpan di dalam Museum.


Tin tin.....


"Pak, keluar dulu ya," pamitku pada Pak Joko yang membuka kan pintu gerbang besar untukku.


"Iya Buk," jawabnya dengan ramah.


Mobil melaju menuju sebuah Rumah Makan.


Seperempat perjalanan menuju Rumah Makan, panggilan masuk dari Johan ke ponsel ku yang baru saja ku beli kemaren.


"Ma, Om Johan Ma," ucap Abay membuka ponselku.


"Jawab aja Nak," perintahku.


Abay pun menggeser layar ponsel untuk menerima panggilan telepon dari Johan.


"Hallo Om Johan," ucap Abay.


"Ini siapa?? Abay ya??" tanya Johan dengan nada terbata-bata dan tak biasa. Kebetulan laudspeaker di nyalakan oleh Abay.


"Iya Om, ini Abay," jawab Abay.


"Johan kenapa??" gumamku dalam hati.


"Mama kamu dimana Bay?? Om Johan mau ngomong sama Mama kamu, penting!!! Tolong ya!!" ucap Johan yang semakin membuatku penasaran dengan nada bicaranya.


"Hallo.....Hallo, kenapa Dek??!!" tanyaku.


Aku mendengar jelas suara orang menangis dari ponsel Johan.


"Jangan......Jangan...." gumamku dalam hati lagi dan ikut khawatir.


"Kak, Kakak dimana sekarang??!" tanya Johan.


"Kakak di jalan ini mau makan, kenapa??? Kamu kenapa Dek??!!!,"


"Kok ada suara orang nangis???!!!"


"Kayaknya Mama ya itu, yang nangis," tebakku.

__ADS_1


Firasatku langsung tertuju pada Papaku. Pasti Papa kenapa-napa.


"Dek.....Bilang sama Kakak!!! Papa kenapa??!! Pasti ini karena Papa kann??" tanyaku agak sedikit mewek.


"Kak, sekarang Kakak berhenti dulu ya, pinggirin mobilnya," tutur Johan.


Ku tepikan mobilku di pinggir jalan. Abay bingung juga dengan ekspresiku yang terburu-buru dan seperti orang yang ingin menangis.


"Papa kenapa Dekkk???!!! Jawab Kakak!!!" gertakku.


"Papa......."


"Papa meninggal Kak," jawab Johan.


Johan sebenarnya tak tega memberitahuku kabar ini. Karena dia tau, aku akan bagaimana jika kehilangan sosok Papa.


"Apa Dek???!!!!!"


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un astagfirullah Papaaaa...." kataku.


"Sabar Kak, sabarrr," jawab Johan sambil diikuti tangisan Mamaku dan beberapa orang disana.


Deeeggggg...........


Seperti merasakan cambukan halilintar dari semesta. Rasanya lebih dan lebih dari sakiittttt. Hatiku sangat sakiiitt sampai-sampai rasa ini tidak bisa ku ungkapkan lewat susunan kalimat, mulutku sudah tidak lagi bisa untuk diajak berbicara, rasanya kaku. Pandanganku kosong menatap ke arah depan.


Sakiittt...... begitu sakitttt yang luar biasa kali ini.


Benar-benar sakit Ya Allah.....


"Aaagghhh huhuhuhuhuhuhu, Papaaaa.....," ucapku dalam hati.


Aku sudah tidak bisa menjawab telepon dari Johan, kepalaku terjatuh tergeletak di awakan kursi mobil. Ku tengadahkan kepalaku.


Air mata menetes tak kan berhenti.


"Kak, Hallo Kak," panggil Johan dari ponselku.


Abay hanya diam duduk di sampingku dan tidak berani mengajakku berbicara.


"Kakak sudah dijemput sama sopirnya Mama ya Kak, Kakak siap-siap ya," tutur Johan.


Aku mendengar ucapan Johan itu, tapi semakin ku ajak berbicara mulut ini, semakin sakit juga hati ini.


"Aaghuuhuhuhuhuhu..........hhggm...huhuhuhuhuhuhu,"


Aku menangis sejadi-jadinya, dan langsung menggeletakkan ponselku. Rupanya Johan sudah mematikan panggilan telepon darinya.


Di otakku, hatiku, kedua mataku, hanya terbayang wajah Papaku disana.


"Abay, kita pulang ya Nak, kita harus ke rumah Eyang Uti, karena Eyang Kakung meninggal Nak, huhuhu," ucapku sambil terisak-isak.


Abay pun ikut menangis sepanjang jalan tetapi tanpa bersuara, ku nyalakan mesin mobil, langsung ku putar balik ke arah jalan pulang.


Air mata menetes terus membasahi kedua pipiku.


"Nak, kmau telfon atau WA Papa ya, kamu bilang, karena jam segini pasti lagi sibuk-sibuknya Papa kamu," ujarku sambil terbata-bata karena bibirku yang terus bergetar.


Ku lajukan mobilku dengan kecepatan tinggi.


Rasanya untuk ke sekian kalinya aku harus merasakan sudah jatuh tertimpa tangga pula.


Ya Allah.....cobaan apa lagi ini Ya Rab??? Aku sudah berusaha dan sudah ingin berdamai dengan kesedihan Ya Allah, Kenapa harus Papa Ya Allah?? Kenapa???


Abay beberapa kali tidak berhasil menelepon Naufal, namun dia sudah mengirim pesan WA padanya dan juga meminta ijin untukku yang akan segera berlabuh menuju rumah Mamaku.


.


.


.


.


.


.


.


Sampainya di Rumah, Pak Joko merasa janggal dengan sikapku yang tak biasa. Biasanya aku yang tidak pernah melaju cepat di halaman Rumah, dan biasanya aku yang selalu menyapanya setiap kali aku datang dan pergi.


"Ibuk kenapa ya??" gumam dalam hati Pak Joko.


Mobil tidak ku bawa masuk langsung ke Garasi. Ku parkirkan mobilnya di tepian halaman Rumah. Kami berdua pun langsung turun dari sisi yang berbeda.


"Abay, kamu langsung ke atas, beresi barang-barang kamu yang perlu kamu bawa," tuturku sambil berlari masuk ke Rumah.


Abay pun menurut padaku, dia langsung berlari ke atas.


"Assalamu'alaikum," ucapku.


"Bi.....Bibi," panggilku mencari Bi Sarah.


Sepanjang aku berjalan, tanganku ini yang teruss saja menghapus kembali, kembali, dan kembali air mataku.


Aku hanya bertemu dengan Pak Rusdi saja, bukan Bi Sarah.


"Pak!!! Bibi kemana Pak???!!" tanyaku pada Pak Rusdi dengan nada yang agak sedikit meninggi.


Pak Rusdi melongo melihat sifatku yang tak pernah tampak ini.


"Bibi.....Bibi di belakang Mbak," jawab Pak Rusdi dengan gagap.


Pasti Pak Rusdi takut dengan sikapku, aku sedang marah?? Tapi kenapa aku juga menangis.


Tanpa berkata apapun, aku langsung menemui Bi Sarah di belakang yang sedang membersihkan kolam.


"Bi...." Panggillku.


Bi Sarah langsung bangun menjingkat karena suaraku yang ku keraskan 2x dari biasanya.


"Enggeh Mbak (iya Mbak)" jawab Bi Sarah langsung berlari menemuiku.


"Bi, huhuhuhuhuhuhu, Papa Bi!!!! Papa!!!!" kataku.


"Bapak kenapa Mbak??!!! Bapak kenapa???" tanya Bi Sarah yang bingung atas kelakuan ku.


"Papa meninggal Bi," jawabku.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un, Bapaakkkkkk," teriak Bi Sarah yang akhirnya juga ikut menangis meraung-raung.


"Ya Allah, Bapaaakkkk!!!! Huhuhuhuhuhu,"


"Sekarang sopirnya Mama udah jemput kita Bi, jadi Bibi siap-siap terus kita langsung ke sana ya Bi," tuturku sambil menangis.


"Huhuhuhu, Gustiiiiii Allah," ucap Bi Sarah.


"Mbak Gia, Mbak yang sabaarrrr ya," ucap Bi Sarah yang langsung memelukku.


Karena Bi Sarah tau, bagaimana aku ini dengan Papaku?? Sedekat apa?? Dan semanja apa aku pada Papaku dulu.


Aku semakin menangis di pelukan Bi Sarah.


"Sabar Mbak sabar, Ya Allah.....Bapak," ucap Bi Sarah sambil menepuk-nepuk badanku.


"Gia siap-siap dulu ya Bi, Bibi juga," kataku.


"Iya Mbak, iya," jawab Bi Sarah.


Aku berlari menaiki anak tangga, meskipun tumitku sakit jika mendapat tekanan yang terlalu kuat, aku tidak peduli dengan rasa sakit di kaki ku.


Yang terpenting, aku segera ingin bertemu dengan Papa.


***(Di Kamar)


Abay menemuiku dengan membawa koper kecilnya.


"Gimana Papaku Abay?? Sudah dapat balasan??" tanyaku.


"Belum Ma," jawab Abay.


Aku mencoba menghubungi Naufal, namun hasilnya sama, hanya berdering dan tidak ada jawaban.


Sambil mengemasi baju-baju yang akan dibawa ke rumah Mamaku, ponsel terus memanggil via telepon ke nomor Naufal.

__ADS_1


"Abay, kamu ganti baju putih, jangan lupa kopyah nya ya Nak," tuturku.


Abay berlari menuju kamarnya, aku pun segera berganti baju.


Ku geser almari kacaku. Satu set gamis putih langsung menyambutku tepat di depan mataku.


Deegggg.....


Gamis jni, beberapa puluh tahun yang lalu dibelikan oleh Papaku, gamis ini juga yang menemaniku saat pemakaman Nenekku dulu.


Dan sekarang, gamis ini juga yang akan menemaniku saat pemakaman Papaku.


Ku raih gamis itu, ku peluk dengan lembut.


"Papa.......Mengapa harus secepat ini??" tanyaku dalam hati.


"Bagaimana jika nanti tiba-tiba Gia rindu sama Papa, huhuhu,"


Ku kenakan gamis putihku itu dengan tetesan air mata.


.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, Bi Sarah memanggilku, karena sopir Mamaku sudah menunggu ku di bawah.


Aku dan Abay turun ke bawah.


"Pak, Gia titip rumah dulu ya Pak, Gia mau ke rumah Mama, nggak tau pulangnya kapan," kataku dengan mata yang berat ini.


"Enggeh Mbak monggo (Iya Mbak silahkan), saya turut berduka cita ya Mbak," ujar Pak Rusdi.


"Saya juga turut berduka cita Buk," sahut Pak Joko.


"Iya Pak, sama-sama," jawabku dengan lemas.


"Mari Mbak, masuk mobil," kata sopir Mamaku.


Beliau memasukkan koper kami ke dalam mobil, Bi Sarah duduk di kursi depan, dan aku duduk di belakang bersama Abay.


Mobil melaju keluar dari lingkungan Rumah.


Di dalam mobil, aku dan Bi Sarah tak henti-hentinya menangis. Berpuluhan helak tissue sudah ku habiskan saat di rumah, kini ku ulangi lagi di dalam mobil.


"Papa kamu belum balas WA nya??" tanyaku pada Abay.


"Belum Ma," jawabnya.


Di ponselku juga belum ada balasan pesand dari Naufal.


"Kemana Mas Naufal??? Kamu selalu sibuk saat-saat seperti ini Mas," gumamku dalam hati.


"Pak, ini kita menuju Rumahnya Mama apa Rumah Sakit??" tanyaku.


"Ke Rumah Ibuk Mbak," jawab Bapak Sopir.


"Ini kita lewat tol kan Pak?" tanyaku.


"Iya Mbak," jawab Bapak Sopir.


Alhamdulillah, paling cepat 1 jam setengah sudah sampai ke kota tempat tinggal Mamaku.


Aku terus dan terus menangis sambil memeluk Abay.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


1 jam lebih kami berada di perjalanan, akhirnya laju mobil kami semakin dekat dengan arah rumah Mamaku. Aku sudah tidak sabar melihat Papaku.


"Ya Allah......kuatkan aku, kuatkan, ini untuk terakhir kalinya aku melihat Papaku Ya Allah, berattt, begitu berat cobaan ini Ya Rab,"


Aku masih tidak menyangka dengan peristiwa ini, seperti aku sedang bermimpi.


Akhirnya kami tiba juga di depan rumah Mamaku, bendera kuning sudah tertancap disana, beberapa rangkaian bunga dan ucapan bela sungkawa terpajang disana, menutupi setengah sisi Rumah ini,


Mobil yang kami kendarai berhenti di depan Rumah dan tidak bisa dimasukkan ke halaman Rumah karena begitu banyaknya para pelayat.


"Papaa.....huhuhu," ucapku spontan di dalam mobil.


Rasanya semakin sesak melihat pemandangan ini. Manusia berbaju hitam sedang memenuhi Rumah ini.


Johan langsung menghampiri mobil kami dan membuka pintu belakang mobil.


Aku langsung menangis melihatnya. Aku turun dan langsung terjatuh lemas memeluk Johan, daya kaki ku seperti tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Papaaaaaa.......huuuwwaaaa," tangisku sambil memanggil-manggil Papaku.


Sebenarnya mata Johan juga memerah, namun tak tampak sama sekali karena di tutupi oleh kaca mata hitam gelapnya.


Abay bergandengan dengan Bi Sarah berjalan masuk ke Rumah, Johan menuntunku perlahan.


Semua pelayat melihat kedatanganku dan menyaksikan tangisanku. Banyak rekan kerja Papa, saudara-saudara Papa, semua hadir disana, semua menangis juga disana.


"Sabar Gi, sabarr," ucap Budhe (Kakak dari Papaku)


Kaki ini semakin lemas saat akan masuk ke rumah Mamaku.


Tepat di tengah-tengah pintu Rumah.


Aku sudah melihat jenazah Papaku terbaring disana, aku semakin sedih dan sakit.


Begitu sakit Ya Allah.


"Papaaaa......" teriakku sambil berlari dan terjatuh tepat di samping jenazah Papaku.


"Papa......ini Gia Pa, ini Gia..." Kataku.


Mamaku langsung memeluk dan mengelusku.


"Sabar Nak, sabar..... istighfar Nak," tutur Mamaku.


Aku memeluk erat tubuh Papaku untuk terakhir kalinya, ku elus keningnya, ku ciumi kening dan kedua pipinya.


"Kenapa Pa?? Kenapa secepat ini Papa ninggalin Gia?? Gia masih sangat membutuhkan Papa, padahal kata Mama kemarin keadaan Papa semakin membaik,"


"Gia belum sempat ngobrol sama Papa, maafin Gia, tidak bisa menemani saat-saat terakhir Papa, maafin Gia Pa, huhuhuhu, Gia juga belum sempat meminta maaf sama Papa, huhuhuhu, Gia menyesal Pa, tidak bisa menemani Papa, Gia menyesal," ucapku dalam hati sambil menatap wajah Papaku.


Tak lama kemudian, Mama mertua ku datang dari belakang.


Mengelus-elus pundakku.

__ADS_1


Bersambung............


__ADS_2