Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 184 (Back Home)


__ADS_3

Setelahnya kami semua turun ke bawah.


Kami semua menunggu relawan dari rumah sakit cempaka untuk pulang kembali ke kotanya.


Aku sedang berdiri di samping Naufal dan ditemani oleh Pak Bastian.


Alvi berjalan ke arah kami bertiga. Aku hanya diam memperhatikan dia.


“Dokter Naufal, saya balik ke asal duluan ya, hehehe,” kata


Alvi sambil menyalami tangan Naufal.


“Iya Al, jangan lupa loh undang kita-kita,” ucap Naufal.


“Pasti Dok,” kata Alvi.


Alvi menyalami Pak Bastian juga.


“Makasih ya Dok, sudah di kasih ilmu sama pengalaman yang


banyak,” ucap Alvi.


“Hehehem, nggak papa Al, kalo mau tanya apa-apa selagi saya nggak sibuk, tanya aja, atau kalo bisa telfon, nggak usah sungkan-sungkan,” tutur Naufal.


“Hehehe, iya Dok,” jawab Alvi.


“Atau sekalian main ke rumah juga nggak papa, bawa istrinya


juga,” canda Naufal.


Mereka bertiga tertawa aku hanya menundukkan pandanganku saja di depan Naufal.


“Sukses terus Al,” kata Naufal.


“Iya Dok, Dokter juga, ya udah Dok saya balik ya,” pamitnya.


“Iya Al,” jawab Naufal san Pak Bastian.


Alvi berjalan meninggalkan kami.


Dan dia masuk ke mobil yang akan membawanya ke Bandara.


Setelah semua rombongan masuk ke mobil, mobil melaju


meninggalkan tempat ini.


“Mas, aku ke tenda ya,” kataku.


“Iya Sayang,” jawabnya.


.


.


.


Malam harinya, Naufal membawa pasien darurat turun ke bawah, untuk membawa pasien itu ke Rumah Sakit.


“Mas, kemana?” tanyaku.


“Nganter pasien Sayang, paru nya udah flek,” jawab Naufal.


“Oh ya udah Mas, sama siapa kamu??” tanyaku.


“Sama Bastian sama Pak RT,” jawabnya.


Setelah sholat magrib, Naufal berangkat bertiga membawa


pasien itu.


Aku duduk sendirian di depan tenda, dan Suster Andini


menghampiriku.


“Eh Suster,” kataku.


“Dokter Gia tadi kemana?” tanya Suster Andini.


“Kemana?? Saya dari tadi disini Sus, nggak kemana-mana,”


jawabku.


“Tadi Dok, waktu saya ambilin air, Dokter kemana?” tanya


Suster Andini lagi.


“Oooo….ooo itu, tadi…..tadi saya turun duluan Sus, hihihi,”


jawabku.


“Dokter hobi banget ninggalin saya di atas, saya cariin loh,


nggak ada Dokter, eh malah ada Dokter yang tadi pagi jalan barengan sama Dokter Irene,” kata Suster Andini.


“Aduuuhh, ketahuan Suster nih,” gerutuku dalam hati.


“Ya saya langsung balik lagi Dok,” sambung SUster Andini.


“Ehehehem, maaf ya Sus, soalnya buru-buru lagi kebelet,”


kataku terpaksa berbohong


“Kan di atas bisa Dok, nggak harus turun,” ucap Suster


Andini.


“Iya sih Sus, tapi nggak terbiasa aja kalo di atas,”


jawabku.


“Huuumm, sepi ya Dok, ngak ada tim relawan dari Rumah Sakit


lain,” ujar Suster Andini.


“Besok juga pasti ada relawan yang datang lagi kok Sus,”


kataku.


“Dari mana??” tanya Suster Andini.


“Nggak tau, katanya Mas Naufal sih besok ada,” jawabku.


“Pasti sekarang Dokter Irene lagi galau tuh Dok, di tinggal


sama Dokter yang di taksir Dokter Irene,” ujara Suster Andini.


Aku hanya memberikan senyumku saja padanya.


Aku ngobrol lama dengan Suster, sambil menunggu Naufal


balik.


Semakin malam, Naufal belum juga datang kembali, aku


memutuskan untuk segera tidur saja, karena aku tidak tau, berapa lama Naufal disana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


2 minggu lebih kami lewati disana, menolong para korban dan


memberikan yang terbaik untuk mereka.


Sekarang rombongan kami semua tiba di Bandara, kebetulan


hari ini hari minggu.


Saat aku, Naufal dan Pak Bastian berjalan menuju mobil kami


yang sudah antusias menunggu kami.


Abay, yah……dia sudah tersenyum senang dari kejauhan, melihat Papa dan Mamanya kembali padanya.


Abay berdiri di samping Bi Sarah.


Mereka semua menunggu kami. Saat kedua mata Abay sudah

__ADS_1


melihatku, dia langsung berlari memelukku.


“Mama,” ucap Abay dan dai berlari.


Buuukkk…..


Aku memeluk erat anak sulung dan semata wayangku itu.


“Abay……Mama kangen Nak,” kataku.


“Abay juga Ma,” balas Abay.


Ku cium i kedua pipi Abay, karena memang aku sangatlah rindu


pada Abay.


“Gimana?? Betah di rumah Eyang??” tanyaku.


“Hehehem, begitulah Ma,” jawabnya.


Abay juga memeluk Papanya yang juga sangat ia rindukan.


Bi Sarah memelukku, beliau juga rindu padaku.


“Bas, nggak barengan kita aja mending,” ajak Naufal.


“Enggak bentar aja Susi pasti dateng,” jawab Pak Bastian.


“Gue tungguin aja sini, kasihan Lo sendirian nanti,” ujar


Naufal.


“Aelah, kayak apa aja Lo, udah duluan aja nggak papa, Susi


juga udah otw dari tadi kok, snatai aja lah,” tepis Pak Bastian.


“Nggak usah malu-malu, kita juga nggak lagi buru-buru kok,”


paksa Naufal.


“Anak Lo kasihan, mau cepet-cepet main sama Lo,” bisik Pak


Bastian di telinga Naufal.


“Beneran Lo nggak papa sendirian?? Katanya Lo nggak bisa


jauh-jauh dari Gue,” ejek Naufal.


“IIiih kok Lo jadi yang centil Fal, udah gak papa,


santaiii,” tolak Pak Bastian.


“Ya udah Gue duluan ya Bas, ati ati loh,” tutur Naufal.


“Yoii Bas,” jawabnya.


Abay langsung menggeretku masuk ke dalam mobil, Pak Joko


memasukkan koper-koper kami.


“Byee Om Bastian,” ucap Abay.


Pak ABstian melambaikan tangannya pada kami dengan memakai kaca mata hitamnya.


Mobil kami melaju untuk pulang.


“Abay nggak bandel kan Bi??” tanyaku pada BI Sarah.


“Ehemm….enggak Mbak Gia,” jawab Bi Sarah.


“Nggak molor-moloran kan Bi kalo waktunya mandi, les sama


ngaji?” tanya Naufal.


“Nggak Mas NAufal, Dek Abay tetap seperti biasanya, ya


seperti ada Papa dana Mamanya di rumah, tetap rajin,” jawab Bi Sarah.


“Tapi agak rewel kalo mau di antar Pak Joko ke rumah Mamanya Mas Naufal,” sambung Bi Sarah.


“Abay nggak bisa tidur disana Pa,” aduan Abay.


“Nggak bisa tidurnya gimana Nak?? Disana kan ranjangnya


besar, ada AC juga, hm?" tanya Naufal.


“Abay nggak biasa tidur disana Pa, asing aja jadinya Pa,”


jawab Abay.


“Memang belum terbiasa Mas,” sahutku.


“Sebenarnya Eyang mau nemenin Abay tidur di kamar, tapi Abay malu Pa, hehehe, jadi Abay paksa biar bisa tidur,” keluhnya.


“Huuumm Abay…..Abay…” gumamku.


Dalam perjalanan Abay terus bertanya-tanya pada kami,


keadaan disana bagaimana, dari yang panas, gersang, dan air yang tidak bersih, semua ku ceritakan pada Abay.


“Maka nya Abay harus lebih kebih bersyukur, rejeki bukan


hanya uang, tapi juga kesehatan, dijauhkan dari marabahaya, ya,” tuturku pada Abay.


“Kasihan ya Ma mereka, Mama sama Papa betah disana?” tanya Abay.


Aku dan Naufal langsung saling menatap satu sama lain.


“Iya betah Nak,” jawab Naufal yang menunggu komando dariku.


“Mama beneran betah disana??” tanya Abay lagi yang kurang


yakin.


“Iya, dikasihnya begitu, kan kita harus tetap menerima Nak


keadaan apapun dan bagaimanapun,” jawabku.


.


.


.


.


.


Akhirnya sampailah kami di Rumah.


***(Di Rumah)


“Mama nggak sabar masuk rumah, udah 2 minggu lebih ninggalin rumah,” ucapku.


Mobil berhenti di depan Rumah, kami semua keluar dari mobil,


Pak Joko dan Naufal mengeluarkan koper dalam mobil.


“Langsung masuk aja Sayang, aku masih nurunin ini,” kata


Naufal.


Bi Sarah langsung membukakan kami pintu, dan mempersilahkanku dan Abay untuk masuk.


“Assalamu’alaikum,” kataku.


“Mbak Gia mau langsung makan apa mau mandi dulu, soalnya


udah Bibi masakin dari tadi Mbak,” ucap Bi Sarah.


“Eemmm saya mau mandi dulu aja ya Bi,” kataku.


“Oh baik Mbak,” jawab Bi Sarah.


Aku berjalan menaiki anak tangga sambil menggandeng tangan


Abay.


***(Di Kamar)


Glleeekkk…….. ku buka pintu kamarku.


Ku lihat bunga mawar putih yang sudah ku letakkan di


masing-masing meja yang ada disana.


Ku tengok skulen ku yang ada di balkon dan kamar mandi,


semua masih segar dan tidak matai.


“Abay…..ini yang ngerawat bunga nya Mama siapa??” tanyaku


sambil memegang bunga dalam vas.


“Abay Ma,” jawab Abay.


“Abay bisa??” tanyaku lagi.


“Bisa Ma, Abay tanya ke Pak Rusdi, soalnya waktu Mama berangkat, satu hari lupa nggak di siram soalnya kan nggak ada yang berani masuk kamar Mama sama Papa kecuali Abay,” ucap Abay.


“Jadi kemaren Pak Rusdi ngingetin Abay, ya udah Abay rawat


tiap hari,” sambungnya.


“Aaaaaaaa anak Mama,” ucapku.


“Makasih ya Nak,” kataku sambil mengelus kepalanya.


“Sama-sama Ma, itu sukulen Mama banyak, kemaren Abay minta satu aja buat Abay taruh di balkon nya Abay, nggak papa kan Ma??” tanyanya.


“Ya nggak papa dong Nak, kalo Abay mau, nanti Mama beliin,”


tawaranku.


“Udah Ma, yang dari Mama aja kemaren, takut kalo Abay lupa


nyiramin, soalnya kata Pak Rusdi sukulen nya susah susah gampang Ma,” ujar Abay.


“Iya sih Bay,” kataku.


Naufal masuk ke dalam kamar sambil membawa dua koper kami.


“Mas…. Mau mandi dulu??” tanyaku.


“Iya Sayang,” jawabnya.


“Ya udah kopernya taruh situ aja, biar aku yang bawa nanti,

__ADS_1


kami mandi dulu aja sekarang,” tuturku.


Naufal langsung bergerak melepas sepatu nya dan berjalan


masuk ke akmar mandi.


Ku geret kopernya masuk ke ruang ganti baju. Dan aku kembali menemani Abay di balkon.


“Abay udah makan tadi?” tanyaku.


“Udah Ma,” jawabnya.


“Habis ini makan lagi ya barengan sama Mama,” ajakku.


“Masih kenyang Ma,” keluhnya.


“Ma, Abay mau ngomong nanti malah lupa,” ucap Abay.


“Apa Nak?” tanyaku.


“Kemaren 5 hari setelah Mama sama Papa pergi, Kak Noni


kesini Ma,” jawab Abay.


“Momi, ngapain dia kesini??” tanyaku dalam hati.


“Kak Noni?? Tumben banget, kenapa??” tanyaku lagi.


“Katanya mau ketemu sama Papa,” jawab Abay.


“Terus Abay bilang gimana sama Kak Noni?” tanyaku lagi dan


lagi karena aku takut jika Noni menyakiti anakku.


“Abay bilang, Mama sama Papa pergi lama, jadi kalo Kak Noni kesini mau cari Papa, Papa nggak ada, gitu Ma, terus Kak Noni langsung masuk ke mobil lagi, ngambek,” jawab Abay.


“Abay nggak nyuruh Kak Noni masuk??” tanyaku.


“Enggak Ma, Kak Noni nya masih di depan, udah nanyain Papa,


yaa nggak sempat ajak masuk Ma,” jawab Abay lagi.


“Ngambek kayaknya Ma,” sambung Abay.


“Kak Noni sama siapa kesini?” tanyaku lagi dan lagi.


“Sendiri Pa, sama sopirnya,” jawanya.


“Emmm….lain kali kalo Kak Noni kesini, Abay ajakin masuk


langsung ya, kasihan Kak Noni Nak,” tuturku.


“Iya Ma,” jawab Abay.


Tak lama kemudian, Naufal selesai mandi.


“Papa kamu udah selesai mandi, Mama mandi dulu ya,” ucapku.


“Iya Ma,” jawabnya.


Aku yang bergantian untuk amndi, Naufal ganti menemani Abay di balkon setelahnya dia mandi.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Ruang Makan)


“Waaahh Bibi masak banyak banget,” kataku sambil diratikkan


kursi oleh Naufal untukku duduk.


“Hehehe special karena Mas Naufal dan Mbak Gia back home,” ucap Bi Sarah.


“Bibi bisa pake inggris sekarang??” tanyaku yang akget


mendengarnya.


“Iya, Bibi bisa???” tanya Naufal juga.


“Hehehem, kalo ini mah, Bibi diajarin Dek Abay Mbak, soalnya


dari kemaren waktu Mbak Gia sama Mas Naufal mau pulang, Dek Abay ngomong itu terus, jadi Bibi hafal bukan bisa,” jawab Bi Sarah.


“Kirain bisa Bi, kan nggak perlu susah susah sewa tour guide,”


canda Naufal.


“Hehehehe, Mas Naufal bisa aja,” kata Bi Sarah.


Bi Sarah berjalan ke dapur dan kembali dengan membawa


beberapa cup minuman.


“Waaahh…..caramel latte Bi??" tanyaku.


Bi Sarah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum padaku.


“Uuummm enak sudah ini Bi,” kataku.


“Bibi buat sendiri juga?” tanyaku.


“Kalo ini, Bibi beli Mbak, hehehe, soalnya Mas Naufal yang


nyuruh Bibi siapin ini,” jawab Bi Sarah.


“Mas Naufal……makasih,” ucap manjaku.


Naufal hanya melemparkan senyumnya padaku.


“Ayo Bi, makan-makan,” ucap Naufal.


Kami pun menikmati makanan buatan Bi Sarah.


“Bi, nanti oleh-olehnya Bibi aja yang bagi ya, udah ada


namanya sendiri-sendiri kok Bi,” ujar Naufal.


“Enggeh Mas, enggeh, (Iya Mas, iya)” jawab Bi Sarah.


.


.


.


.


Setelah selesai makan, kami ke halaman belakang bertiga, Bi


Sarah membagikan oleh-olehnya.


“Ma, Abay berenang ya Ma,” ucapnya.


“Jam berapa sekarang Nak?’ tanyaku.


“Masih setengah 9 Ma, ya?’ ucap Abay.


“Iya, jangan lupa ambil sunblock Mama di kamar,” kataku.


“Iya Ma,” jawab Abay yang sudah berlari menaiki anak tangga.


Aku dan Naufal duduk berdua.


“Mas, kata Abay kemaren Noni kesini,” kataku.


“Ngapain?’ tanya Naufal setelah meneguk jus avocado.


“Nyariin kamu katanya Abay,” jawabku.


“Eeemmm bentar aku telfon dia,” kata Naufal.


Naufal mengambil ponselnya yang tergeletak di meja.


Tut….tut……tut……


“Uncle Naufal…” kata Noni dalam ponsel Abay.


“Assalamu’alaikum Noni,” salam Naufal.


“Wa’alaikumsalam Uncle,” jawab Noni.


“Uncle Naufal udah pulang??’ tanya Noni.


“Sudah Noni, kamu kemaren kesini??” tanya Naufal.


“Iya Uncle, Noni nyariin Uncle, Uncle pergi kemana?” tanya


Noni dengan manjanya.


Aku hanya diam mendengarkan saja, tak lama kemudian Abay


datang dan langsung menjebur ke kolam renang.


“Uncle ada kerjaan di luar jawa,” jawab Naufal.


“Kata Abay Uncle perginya lama,” rengenk Noni.


“Memang lama Noni, 2 minggu lebih Uncle sama Aunty disana,”


ucap Abay.


“Kenapa lagi??? Ada masalah sama Mama kamu??” tanya NAufal.


“Mama tuh Uncle, marah mulu sama Noni,” jawab Noni.


“Memangnya Noni lakuin apa smape di marahin sama Mama kamu, kalo nggak mau dimarahi, harus nurut sama Mama kamu, orang tua kamu tinggal Mama kamu Noni, sayang in Mama kamu, turutin apa kata Mama kamu,” tutur Naufal.


“Noni pengen cerita, tapi ganti video call aja Uncle,” kata


Noni.


Noni meminta video call pada Naufal, akhirnya Naufal


menerimanya.


“Astagfirullah Noni…” kata Naufal yang kaget melihat Noni

__ADS_1


saat menampakkan diri di depan kamera.


Bersambung.......


__ADS_2