Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 20 (Hati yang Tersakiti)


__ADS_3

Gia berusah tetap acuh dan membuang pandangannya ke arah


luar kaca jendela mobil, sedangkan Naufal melihat ponsel lalu menelfon


seseorang.


“Assalamu’alaikum,” salam Naufal.


“Wa’alaikumsalam, kamu sama Gia Fal?” tanya Tante Feni.


“Iya ini Ma,” jawab Naufal singkat.


“Udah beli tadi yang Mama suruh Fal?” tanya Tante Feni lagi.


“Udah semua Ma,” jawab Naufallagi-lagi sok cuek.


“Mau ngomong sama Gia Ma?” tanya Naufal.


“Iya boleh,” jawab Tante Feni.


“Bentar ya Ma,” ucap Naufal.


Naufal memberikan ponselnya pada Gia.


“Mama mau ngomong,” ucap Naufal lirih.


“Saya malu,” jawab Gia tanpa suara.


“Udah ah gak papa,” paksa Naufal.


Gia hanya menggelenggkan kepalanya.


“Gi ayolah ini kan juga Mama kamu nantinya,” rayu Naufal.


Suara Tante Feni keluar dari ponsel Naufal.


“Hallo Fal, Malu ya Gia?” ucap Tante Feni.


Gia langsung mengambil ponsel dari genggaman tangan Naufal.


“Eee..enggak Tante, maaf ya Tante,” ucap Gia sambil malu-malu.


“gak papa Gia, gak usah malu sama Tante, gimana Naufal?”


tanya Tante Feni.


“Eem… dia baik Tante, Tante tenang aja,” jawab Gia.


“Ya udah Gi, ini Tante lagi masak, Tante tutup dulu ya,”


kata Tante Feni.


“Iya Tante,” jawab Gia.


“Assalamu’alaikum,” salam tante Feni.


“Wa’alaikumsalam Tante,” jawab Gia.


Gia langsung memberikan kembali ponsel Naufal.


“Habis ini kita makan,” ucap Naufal singkat.


“Langsung pulang aja gak papa kok,” jawab Gia yang risih


akan sikap Naufal.


“Udah ikut aja, ini sama temen-temenku, jadi kita gak


berdua, tapi aku mau sholat dulu,” rayu Naufal.


“Ya udah iya,” jawab Gia singkat.


Sampai di depan Masjid.


“Kamu nggak turun?” tanya Naufal.


“Enggak, aku nggak sholat,” jawab Gia.


“Ya udah tunggu sini bentar,” perintah Naufal.


“Ya,” jawab Gia singkat.


Setelah selesai sholat, Naufal langsung menancap gas


mobilnya menuju resto.


***(di Resto)


Naufal memarkirkan mobilnya, lalu masuk ke dalamresto


bersama Gia. Rupanya dari jauh Naufal sudah melihat segerombolan teman-temannya


yang sedang menunggunya.


“Aku ke toilet dulu,” ucap Gia.


“Mau di anterin?” tanya Naufal.


“Nggak usah, aku berani sendiri,” jawab Gia memberanikan


dirinya.


“Kali aja gak berani, aku nunggu disini apa gimana?” tanya


Naufal lagi.


“Nggak usah kamu langsung ke sana aja, nanti aku nyusul,”


ucap Gia.


“Ya udah, nanti aku disana,” kata Naufal sambil jari


telunjuknya mengarah ke segerombolan temannya.


“Iya,” jawab Gia langsung meninggalkan Naufal. Sedangkan


Naufal langsung menuju ke meja teman-temannya.


Beberapa menit kemudian, Gia menyusul Naufal, tak jauh dari


posisi Naufal Gia menghentikan langkahnya karena mendengar obrolan Naufal


dengan temannya.


“Fal gimana kabarnya?” tanya temen Naufal.


“Baik, ya gini tetep aja,” jawab Naufal.

__ADS_1


“Masih sama Fal sama yang dulu?” ejek teman Naufal.


Naufal hanya diam dan memberikan senyumnya pada temannya


itu. Dalam pikiran Gia bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dimaksud


teman-teman Naufal.


“Bisa-bisa ceritanya sahabatku jadi istriku nih,” ejek


teman-teman Naufal sambil tertawa terbahak-bahak.


“Huussttt,” ucap Naufal yang sebenarnya ingin membungkan


mulut teman-temannya itu.


Pikiran Gia langsung tertuju pada sahabat Naufal yang pernah


di ceritakan oleh Riana, Gia kesal mendengar semua ini, mata Gia sudah berkaca-kaca. Gia memutuskan untuk


tidak menyusul Naufal tapi malah pergi ke dalam mobil Naufal.


Gia berjalan ke arah parkiran mobil dengan air mata yang


terus mengalir di pipinya.


Dalam mobil Naufal Gia menangis karena hatinya sangat sakit.


“Apa aku bilang aja sama Papa ya semua tentang Naufal,” ucap


Gia sambil membuka WA ingin mengirim pesan pada Papanya.


“Ah gak ah, aku gak mau Papa kecewa,” gumam Gia dalam


hatinya.


Gia terus menangis di dalam mobil Naufal, sedangkan Naufal


merasa gelisah karena Gia tak kunjung menyusulnya, Naufal mencoba mengirim


pesan pada Gia.


WA Naufal dan Gia.


“Lama banget, kamu dimana?” Naufal.


Ponsel Gia bordering, Gia membuka pesan dari Naufal, Gia


tidak mungkin berkata jujur pada Naufal.


“Saya di mobil, saya malu sama temen-temen kamu, jadi saya nggak jadi nyusulin kamu,” Gia.


“Ya udah aku ke sana sekarang,” Naufal.


Gia menutup pesan dari Naufal dan Naufal langsung pergi


meninggalkan teman-temannya karena menghampiri Gia.


Sampai dalam mobil Naufal, Gia memalingkan wajahnya dari


pandangan Naufal.


“Kamu kenapa malu sih?” tanya Naufal.


“Ya malu aja, banyak cowok disana,” alasan Gia yang membuang


“Ya udah kita makan di tempat lain aja,” ucap Naufal sambil


menyalakan mesin mobilnya.


“Nggak usah, kita langsung pulang aja,” ucap Gia dengan


memberikan senyumnya agar tidak kelihatan bete.


“Heeemm ya udah aku ngikut kamu,” pasrah Naufal.


Naufal langsung menancap gas mobilnya untuk pulang, tidak ada percakapan


apapun dalam mobil Naufal.


Sampai di depan kos Gia, Gia langsung turun dari mobil


dengan membawa barang-barangnya.


***(di Kos Gia)


Gia terus memikirkan kata-kata teman Naufal tadi. Gia


kembali menangis dalam kamarnya lagi.


Gia mencoba menghubungi Susi tapi sudah 2 hari ini Susi tak


ada kabar sama sekali.


Gia merebahkan tubuh di kasurnya sambil tetap terus


menangis. Sampai-sampai Gia tertidur.


Keesokan harinya, seperti biasa Gia bersiap-siap untuk


berangkat koas.


***(di Rumah Sakit)


Hari ini sebenarnya Gia malas untuk koas karena malas ketemu sama


Naufal, tapi bagaimana lagi, ini adalah proses.


Gia berjalan ke ruang kerjanya, rupanya disana sudah ada


Riana. Gia duduk dan langsung membuka laptonya. Tiba-tiba Riana dengan heran melihat ke arah jari manis Gia dan melihat cincin tersebut.


“Gi, tumben kamu pake cincin? di jari manis pula,” ucap


Riana heran.


Gia kaget dan bingung harus menjawab apa.


“Oh ini Na, ini…ini kemaren Papa ku yang beli terus aku


iseng aja mau pake di jari manis,” jawab Gia gugup.


“Ah masak sih Gi, jangan-jangan kamu udah tunangan ya?”


tanya Riana lagi.


“Iiiih apa sih Na kamu, masih pagi jangan ngaco, udah ah,”

__ADS_1


bantah Gia.


Riana masih tetap penasaran akan bantahan Gia, tapi Riana


tak ingin membahasnya sekarang. Karena bukan waktu yang tepat untuk membahas  perkara itu.


“Ya udah nih Gi, anterin berkas ini ke ruangan Dokter


Naufal,” perintah Riana sambil menyodorkan berkas-berkasnya pada Gia.


Gia langsung melototkan kedua bola matanya, karena hari ini


Gia sangat malas untuk berurusan dengan beliau.


“Ee…enggak ah Na, kamu aja,” ucap Gia.


“Pliiss deh Gi, ini masih pagi loh, kamu mau aku pingsan


gara-gara terus memandang wajah Dokter Naufal,” rengek Riana.


“Tapi Na,” ucap Gia terpotong oleh Riana.


“Pliiss Gi, kali ini aja?” rayu Riana.


“Ya? Ya Gi ya?” rayu Riana lagi.


“Ya udah iya,” jawab Gia sambil mengambil berkas-berkasnya


dari tangan Riana.


Gia berjalan meninggalkan ruang kerjanya untuk menuju ke


ruangan Dokter Naufal. Gia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu Dokter


Naufal karena mendengarkan obrolan beliau dengan rekannya.


“Di jodohin loh Bas,” ucap Dokter Naufal.


“Udah lah Fal jalanin aja, kamu tuh gak tau terima kasih


banget sih sama Papa Lo, udah gitu dijodohinnya sama Gia lagi,” ucap Pak Bastian rekan kerja Dokter Naufal.


“Kamu nggak ngrasain sih Bas,” keluh Dokter Naufal.


“Terus gimana, Lo nrima gak?” tanya Pak Bastian.


“Aku sih nrima Bas, tapi ini masalah perasaan loh Bas,” kata


Dokter Naufal.


“Coba deh Lo buka hati buat Gia, kan Lo lama banget nih udah


gak beginian, hidup Lo tuh belajar mulu dari dulu,” rayu Pak Bastian.


“Terus sekarang perasaan Lo gimana Fal sama Gia?” tanya


Pak Bastian lagi.


“Ya pasti kamu tau sendiri lah Bas,” jawab Dokter Naufal.


“Lo gak ada rasa sama sekali?” tanya Pak Bastian lagi.


“Ya, gimana ya? Ya gak ada lah Bas,” jawab Dokter Naufal tegas.


Deegg.....


Gia yang mendengar hal itu. Hatinya tersakiti


kembali oleh ulah Dokter Naufal.


“Sumpah Lo? terus ngapain Lo terima perjodohannya Fal, bingung Gue,” kata Pak Bastian.


“Ya aku mikirnya sih, ya mungkin memang ini takdir  aku gitu loh Bas, tapi aku gak ada rasa sama


sekali sama Gia,” jawab Dokter Naufal.


Gia mendengar kata-kata itu lagi, Gia sudah tak dapat membendung air matanya lagi, Gia memutuskan untuk pergi


berlari dari ruangan Dokter Naufal, tapi dari arah belakang, Gia dilihat oleh Dokter


Anton yang salah satu rekan kerja Dokter Naufal yang sepertinya juga ingin


masuk ke ruangan beliau. Gia menghiraukan situasi itu, Gia tidak mempedulikan


kondisi pada saat itu.


Dokter Anton memandang Gia heran.


"Kenapa anak koas itu menangis?" gerutu Dokter Anton dalam hatinya.


Gia berlari ke kamar mandi dengan membawa kembali


berkas-berkasnya.


Dokter Anton masuk ke ruangan Dokter Naufal.


“Dokter Naufal, tadi di luar ada Gia, tapi gak jadi masuk


kayaknya,” ucap Dokter Anton.


Dokter Naufal Dan Pak Bastian saling menatap, tetapi Pak Bastian memberi kode lewat matanya agar Dokter Naufal tetap tenang.


“Ini Data pasiennya Dok, sudah saya rekap semuanya,” ucap


Dokter Naufal.


“Oh iya Dok, makasih ya,” jawab Dokter Naufal.


“Ya sudah Dok, saya kembali ke ruangan saya lagi,” ucap


Dokter Naufal.


“Iya Dok, silahkan,” kata Dokter Naufal sambil


menyunggingkan kedua pipinya.


Dokter Anton sudah keluar dari ruangan Dokter Naufal.


“Fal, Lo harus nyusul Gia nih Fal, bisa barabe Lo,” ucap Pak Bastian.


“Iya Bas, bentar ya,” ucap Dokter Naufal yang langsung pergi untuk menyusul Gia.


Bersambung .....


terima kasih kakak semua😁 sudah setia membaca dan menunggu setiap eps nya.


jangan lupa like, comment dan vote ya,🙏

__ADS_1


see you..


__ADS_2