
Naufal menghampiri Noni, sedangkan aku langsung mandi.
.
.
.
Setelah aku mandi, aku menyusul Naufal dan Noni di bawah.
***(Di Ruang Tamu)
Saat Noni melihatku menghampiri mereka, Noni langsung
memeluk Naufal.
“Uncle, Mama bilang sama Noni kalo Noni nggak boleh terlalu
sering kesini karena nanti takut ganggu keluarga Uncle,” rengeknya.
“Kata siapa Noni, Noni kesini kapan pun boleh,” sahutku.
“Iya Noni, kan Uncle ini keluarga kamu,” kata Naufal.
“Sekarang yang kamu pikirkan kamu harus giat sekolahnya,
banggain Mama kamu,” tutur Naufal.
“Noni seneng banget Uncle Naufal bilang gini sama Noni,”
ucap Noni.
Setelah kami lama berbincang, setelah adzan magrib
berkumandang, Noni berpamitan pulang pada kami’
“Uncle, Aunty, Noni pamit pulang ya,” ucapnya.
“Iya Noni, hati-hati ya,” kataku.
“Assalamu’alaikum,” salam Noni.
“Wa’alaikumsalam,” jawab kami.
Noni masuk ke dalam mobil, lalu mobil melaju meninggalkan
rumah kami.
Kami berjalan ke kamar.
***(Di Kamar)
Naufal melaksanakan sholat magrib. Sedangkan aku duduk
santai di balkon.
Tiba-tiba ponselku bordering, ternyata telfon dari Susi.
“Assalamu’alaikum Gi,” ucap salam Susi.
“Wa’alaikumsalam Si,” jawabku.
Aku mendengar suara Susi yang sepertinya habis menangis.
“Si kamu kenapa?” tanyaku.
“Aku kesel Gi, huhuhu, aku kesel sama Mas Bastian,” jawabnya.
“Kesel kenapa Si?” tanyaku lagi.
“Coba kamu cerita,” tuturku.
“Mas Bastian tuh kenapa nggak pernah ngerti sih Gi, dia tuh
nongkrong sama temen-temennya sampe larut malam, padahal dia kan udah berkeluarga, seharusnya dia kurangin aktivitas unfaedah seperti itu Gi,” jawab Susi.
“Nongkrongnya dimana?” tanyaku lagi.
“Di rumah Gi, meskipun mereka nongkrong di bawah, aku
tidurnya di atas, tapi kan kalo mereka ketawa pasti kedengeran Gi, apa lagi aku punya anak masih kecil,” ucap Susi.
“Kamu udah coba ngomong sama Pak Bastian,” kataku lirih
karena takut terdengar oleh Naufal.
“Belum Gi, aku cuman diemin aja Mas Bastian, tapi nggak baik
juga sih Gi,” kata Susi.
“Mending kamu ngomong deh Si sama suami kamu, ngomong berdua baik-baik, pelan-pelan,” tuturku.
“Iya Gi, aku pengennya gitu, tapi aku masih ngumpulin banyak
nyawa buat bicara masalah itu sama suamiku,” kata Susi yang masih sempat-sempatnya bercanda padaku.
“Hehehe kamu Si, udah sedih masih sempet-sempenya kayak
gini, aku yakin Si, jika Pak Bastian kamu bilangi baik-baik pasti nurut kok, soalnya Pak Bastian itu luluh kalo di bilangin sama cewek, apa lagi istrinya,” kataku.
“Tau dari mana kamu?” tanya Susi.
“Kan suamiku sahabatnya suami kamu Si,” jawabku.
“Naufal suka gitu nggak Gi sama kamu?” tanya Susi.
“Suka gimana?” tanyaku.
“Ya gitu, ninggalin kamu sama temen-temennya,” jawab Susi.
“Kalo itu, enggak sih Si, meskipun temennya Mas Naufal juga
banyak, tapi terkadang kalo ada acara reuni atau apa pasti ngajak aku, tapi kalo dia ketemu temannya pasti di luar, jarang banget di bawa ke rumah,” jawabku.
“Soalnya Mas Naufal family man banget,” kataku lagi.
“Pantesan Gi kamu manja banget sama suami kamu,” ejek Susi.
“Memangnya kelihatan ya Si?” tanyaku.
“Ya enggak sih, tapi kalo yang tau kamu atau kenal kamu
pasti tau,” jawab Susi.
“Aku nggak tau juga Si, dia nglakuinnya tulus apa enggak,
solanya dia udah janji sama Papa aku,” kataku.
“Udah jangan negatif thinking, ya pasti tulus lah Gi, nggak
mungkin enggak, udah tampak banget dari wajah suami kamu tuh,” ucap Susi.
Kami tertawa dalam telefon bersama.
“Ya udah Gi, makasih udah mau denger curhatan aku,” kata
Susi.
“Ah pake bilang gituan kamu Si, udahlah gak papa,” kataku.
“Ya udah ya Gi aku tutup, Mas Bastian manggil aku, byeeee,”
kata Susi langsung menutup teleponnya.
Tepat ponsel Susi dimatikan, Naufal menghampiriku.
“Dari siapa Sayang?” tanyanya.
“Susi,” jawabku.
“Kenapa? Curhat sama kamu,” tebak Naufal.
“Iya lah, kan sama-sama ceweknya,” jawabku.
“Oowww, tentang Bastian pasti,” tebak Naufal lagi.
“Iya Mas, katanya Susi Pak Bastian suka nongkrong di rumah
sama temen-temennya,” kataku.
“Oooh gitu, terus yang di permasalahin yang mana?” tanya
Naufal.
“Ya kan kalo menurut aku, Pak Bastian nggak family man
banget, kasihan Susi apalagi udah ada anaknya,” kataku.
“Ya kamu suruh Susi bilangin aja Bastian, pasti nurut kok
anaknya, dulu sama pacarnya aja nurut kok, apa lagi sama Susi yang istrinya,” kata Naufal.
“Udah kok, udah aku bilangin gitu,” kataku.
“Oooh kamu tau banget kayaknya tentang Bastian,” ejek
Naufal.
“Apaan sih, ya nggak lah, aku taunya Pak Bastian sekedar
sahabat kamu, ngaco kamu,” kataku membela diri.
“Ya Allah, sensi banget kamu Sayang, takut aku kalo
deket-deket sama orang yang lagi pms, iiihhh serem,” ejek Naufal.
“Ya udah sana, kenapa kamu deket-deket aku,” kataku sambil
memonyongkan mulutku.
“Tuh kan, gitu aja baper,” kata Naufal.
“Aku panggilin Abay nih biar tau kalo Mamanya ngambek kayak
gini,” ancam Naufal.
“Panggil aja, nggak papa kok,” kataku.
“Beneran ya, awas kamu lari,” canda Naufal.
“Coba aja, sebelum kamu mangggil Abay, aku lari duluan,
weeekkk,” ejekku sambil berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Naufal.
“Tuh kan pergi, Sayang…..,” panggilnya.
Aku berjalan turun ke Dapur.
***(Di Dapur)
Aku melihat Bi Sarah yang sedang membuat secangkir teh
hangat.
Aku mengambil beberapa iris roti tawar yang akan ku buat
roti bakar dank u nikmati di halaman belakang.
“Bibi mau roti? Gia buatkan,” kataku.
“Enggak Mbak, udah Bibi ini aja,” jawabnya.
“Bibi kenapa pake koyo?” tanyaku yang melihat koyo menempel di keningnya.
“Hehehm, Bibi agak pusing Mbak, muntah-muntah tadi,”
jawabnya.
“Udah minum obat Bi?” tanyaku.
“Udah Mbak tadi sore,” jawabnya.
“Obatnya masih ada?? Nanti malam soalnya minum lagi loh Bi,”
tuturku.
“Udah habis Mbak, tadi tinggal 1 aja Mbak,” jawab Bi Sarah
sedikit lemas.
“Ya udah habis ini Gia belikan Bi,” kataku.
“Jangan Mbak, biar Pak Rusdi aja yang belikan,” tepis Bi
Sarah.
“Enggak Bi, biar Gia aja, Pak Rusdi kasihan Bi capek,” kataku.
“Beneran Mbak?? Ini sudah malam loh,apotek di perempatan kan hari ini tutup Mbak,” kata Bi sarah.
“Iya Bi, beneran, nanti Gia cari apotek lain,” kataku.
“Tapi bentar ya Bi, Gia buat ini dulu,” ucapku sambil
memanaskan Teflon yang akan ku gunakan untuk memanggang rotiku.
“Iya Mbak, makasih ya Mbak, maaf Bibi ngrepotin ya Mbak,”
ucap Bi Sarah sambil meneguk secangkir the yang dibuatnya.
“Nggak papa Bi, Bibi jangan gitu, kan Gia udah bilang
beberapa kali, kalo sama Gia udah biasa aja Bi, hehehm,” tuturku sambil tersenyum pada Bi Sarah.
Setelah aku selesai membuat roti bakar, dan segera
menghabiskannya, aku naik ke atas kamar untuk mengambil kunci mobilku.
***(Di Kamar)
Aku melihat Naufal yang masih duduk di tempat yang sama
__ADS_1
dengan sedikit tertawa lepas karena sedang komunikasi via telepon dengan seseorang.
Aku berjalan mengendap-endap di belakangnya
Doooorrrr….. Aku mengagetkan Naufal dari belakang.
“Gia,” kata Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya.
Aku cemberut karena gertakan Naufal.
Naufal kembali melanjutkan obrolannya di telepon.
“Kamu telfon siapa sih?” tanyaku.
Naufal tidak menjawab pertanyaanku.
“Aku tau pasti itu temannya,” gumamku dalam hati.
Aku menunggu Naufal karena ingin berpamitan padanya.
“Mas,” panggilku.
Tidak ada respon darinya.
“Mas Naufal,” panggilku lagi.
“Telfon siapa sih?? Sok asik banget,” gerutuku.
“Mas, aku mau pergi, beliin obat Bibi” kataku yang sama
sekali tidak di gubrisnya.
“Huh ya sudahlah, Naufal saja tidak menanggapiku,” kataku
dalam hati.
Aku berjalan mengambil kunci mobilku yang tersimpan di dalam
laci.
Lalu keluar dari kamar dengan raut wajah yang sangat kesal
dengan Naufal.
Tak lupa aku ke kamar Abay terlebih dahulu, untuk berpamitan padanya.
Tapi saat aku masuk ke dalam kamarnya, rupanya Abay sudah
tidur nyenyak, aku sempat menutupkan selimut ke tubuhnya.
“Tidur nyenyak Sayang,” kataku pada Abay.
Aku langsung berjalan turun.
.
.
.
.
.
Aku menyusuri jalan malam sendirian, untung saja masih jam
setengah 8 malam, jadi aku nggak begitu takut.
Akhirnya aku menemukan sebuah apotek yang lumayan besar menurutku.
Segera aku turun dari mobil dan memebelikan obat untuk Bi
Sarah.
.
.
Setelah aku mendapatkan obat untuk Bi Sarah, ku lajukan
mobilku untuk pulang.
Saat di perjalanan, Naufal meneleponku.
“Hallo, Kamu dimana??” tanya Naufal.
“Kamu malem-malem kemana sih, nggak pamitan sama aku, jangan buat aku khawatir,” kata Naufal.
“Kan kalo kamu keluar malam kan bisa aku anter, mana mungkin aku ngebiarin kamu keluar malam sendirian, udah jam segini juga kamu keluar kemana?? Ngapain?” tanya Naufal yang membuatku tak mampu menjawabnya.
“Kok Naufal ngomongnya gini sih,” gerutuku dalam hati.
“Hallo, Gia, jawab aku,” kata Naufal dengan tegas.
“Aku habis dari apotek,” jawabku singkat.
Air mata memenuhi pelupuk mataku, menetes di kedua pipiku.
“Kamu ngapain ke apotek?? Kamu sakit?? Apa gimana? Kok kamu gak bilang sama aku sih Sayang??” tanya Naufal.
Aku sudah tak kuat menahan kesalku pada Naufal.
Langsung ku tutup telepon dari Naufal.
Aku menangis dalam mobil.
“Naufal apaan sih, orang dia tadi yang nggak ngedengerin
aku, sekarang malah aku yang disalahin,” kataku dalam mobil dengan kesal.
Ponselku terus bordering karena panggilan dari Naufal, namun
akum alas untuk menjelaskan pada Naufal.
.
.
.
.
.
Sampai di rumah
***(Di Rumah)
Mobil langsung ku masukkan dalam garasi. Aku turun dari
mobil lalu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Bi Sarah.
Tok….Tok…Tok…
“Bibi,” panggilku.
Ternyata Bi Sarah datang dari arah belakangku.
“Astagfirullah, Gia kaget Bi,” kataku.
“Ini Bi, obat untuk Bibi, jangan lupa diminum ya Bi,”
tuturku.
“Iya Mbak,” jawab Bi Sarah.
Aku menatap Bi sarah untuk menunggu Bi Sarah bahwa Naufal mencariku.
“Eeemm…..Bi, tadi Mas Naufal nyariin Gia nggak?” tanyaku.
“Enggak Mbak, kenapa Mbak?” tanya BI Sarah.
“Egghmmm nggak papa Bi, kali aja, hehe,” jawabku.
“Naufal nggak nyariin aku,” kataku dalam hati.
Aku semakin kesal dengan Naufal.
“Ya udah, jangan lupa diminum Bi, Gia ke atas dulu,” kataku.
Aku berjalan meninggalkan Bi Sarah.
***(Di Kamar)
Saat aku membuka pintu kamar, Naufal langsung menyambutku. Rupanyya dia selesai menutup teleponnya.
Aku memandangnya dengan sangat kesal.
“Kamu dari apotek beliin obat buat siapa?? Kamu sakit?? Kan
kamu bisa bilang sama aku, biar aku yang beliin,” kata Naufal.
“Lain kali, kamu bilang sama aku, biasanya kamu juga bilang
sama aku, kok ini kamu nggak bilang,” kata Naufal yang membuat panas telingaku.
"Kamu juga nggak angkat telfon dari aku," kata Naufal.
“Mas, gimana aku mau bilang sama kamu, kalo kamu sendiri
asik telfonan gak dengerin aku,” kataku sambil menangis di depan Naufal.
“Aku tadi udah bilang loh sama kamu, udah manggil-manggil
kamu, kamu jawab? Nggak kan, terus aku harus nunggu kamu selesai telfonan, sedangkan ini tadi aja kamu baru selesai telfonan, kasihan Bibi Mas, keburu malem aku nungguin kamu,” kataku.
“Aku udah bilang sama kamu, Mas, aku pergi mau beliin Bibi
obat, kamu nggak denger kan?? Terus kamu sekarang nyalahin aku keluar sendiri, lagian kamu telfon sama siapa sih?? Dia penting ya sampe kamu nggak dengerin aku, disini yang lali aku atau kamu?” ucapku.
“Ya maaf Gi, tadi kamu kan aku telfon kamu nggak bilang sama
aku, kamu malah tutup telfon dari aku,” kata Naufal.
“Mas, kamu ini gimana sih?? Gimana aku mau jelasin ke kamu,
kamu ngomong terus ke aku, kamu nggak ngasih ruang ke aku buat jelasin, terus aku mau jelasinnya bagaimana Mas, Hm?” tanyaku yang membuatnya diam terpaku.
“Ya sekarang gini aja, aku minta maaf kalo aku sebagai istri
nggak berbakti sama kamu malam ini, untuk malam ini, aku keluar tanpa pamitan sama kamu, aku keluar seenakku sendiri, maaf,” kataku langsung keluar dari kamar.
Aku menangis menuju kamar Abay.
Ku hapus air mataku di depan kamar Abay.
Aku tidur di samping Abay, aku memberanikan diri mematikan
lampu kamar Abay, agar jika tiba-tiba Abay terbangun, dia tidak melihatku menangis.
Sekarang pelarianku di Abay, aku merasa nyaman di samping
Abay.
Aku menangis terisak-isak membelakangi Abay, untung saja
Abay tidak terganggu akan adanya aku di sebelahnya.
Beberapa menit kemudian, Naufal masuk ke kamar Abay, aku
langsung memejamkan kedua mataku untuk berpura-pura agar tertidur.
Rupanya Naufal berjalan mendekatiku, dia duduk jongkok di
depan wajahku.
Aku merasakan tangan Naufal yang mengelus pipiku.
“Sayang, balik ke kamar ya,” ucap Naufal lirih.
Aku tetap berakting untuk tertidur dan tidak mendengar
bisikan darinya.
“Maafin aku,” bisik Naufal di telingaku.
Naufal memaksaku untuk kembali ke kamar dengan
menggendongku, langsung ku hentikan tangan Naufal.
“Jangan bawa aku ke kamar, aku ingin tidur sama Abay,”
kataku dengan menatap Naufal yang tidak begitu jelas karena hanya lampu tidur yang saat ini jadi penerangan.
“Gi, jangan gini,” kata Naufal.
“Aku udah bilang sama kamu,untuk malam ini saja aku sebagai
istri yang tidak berbakti untuk kamu,” kataku.
Naufal perlahan melepas tangannya yang sudah hampir
menggendongku.
“Tapi Gi," kata Naufal.
“Jangan buat Abay terbangun,” kataku.
Naufal terdiam menatapku, aku juga menatapnya dengan air
mata yang berlinang di kedua pipiku.
“Enggak Gi, aku tidak ingin menjadikanmu istri yang tidak
berbakti padaku, meskipun hanya malam ini saja, aku izinkan kamu untuk tidur dengan abay, malam ini saja,” kata Naufal.
“Aku tidak ingin membuatmu berdosa,” ucap NAufal.
Naufal akhirnya mengizinkanku malam ini untuk tidur bersama
abay.
__ADS_1
Aku menangis saat Naufal berjalan menjauh dariku.
.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang, aku terlalu nyenyak dalam tidurku karena semalaman menangis sampai mataku sembab seperti seseorang yang habis berkelahi dan tersentuh satu tonjokan.
“Uughhmm……”
Abay melihatku yang tidur di sampingku.
“Mama kok tidur disini?? Sejak kapan??” tanya Naufal dalam
hati.
“Mama,” Abay membangunkanku agar segera bangun.
Suara Abay mengusik telingaku.
“Uuughhmm…”
Aku pun terbangun dari tidurku.
“Mama, Mama sejak kapan tidur disini?” tanya Abay.
“Tadi malam Nak, kenapa?” tanyaku.
“Enggk papa Ma,tapi kenapa Mama tidur disini, nggak tidur
sama Papa?? Apa Papa juga tidur disini tadi malam,” tanya Abay.
“Mama tidur disini sendirian, Papa tidur di kamar,” jawabku.
“Mama kangen aja sama kamu, pengen tidur sama kamu,” kataku.
“Mama nggak berantem kan sama Papa?” tanya Abay yang
membuatku bingung harus menjawab apa padanya.
“Eengg…enggak kok Nak, Mama kan nggak pernah berantem sama Papa kamu,” jawabku terpaksa berbohong pada Abay, karena aku tidak ingin Abay sedih dan ikut menyangga masalahku dan Naufal.
“Sana kamu sholat sama Papa,” tutukru.
“Mama nggak sholat?” tanya Abay dengan polos.
“Mama enggak Nak,” jawabku.
“Mama mau masak dulu di bawah sama Bibi,” kataku.
Aku turun dari ranjang Abay, dan keluar dari kamar Abay.
Saat aku keluar dari kamar Abay, tepat Naufal juga keluar
dari kamarnya.
Aku hanya melihatnya saja tanpa mengajaknya berbicara.
Naufal hanya berdiri melihatku menuruni anak tangga.
***(Di Dapur)
“Pagi Bi,” sapaku pada Bi Sarah yang selalu hadir terlebih
dahulu disbanding aku.
“Pagi Mbak,” jawab Bi sarah.
“Udah enakan Bi?” tanyaku.
“Alhamdulillah sudah Mbak,” jawabnya.
“Kalo masih belum sehat beneran nggak usah masak Bi, biar
Gia aja, Bibi istirahat aja dulu,” tuturku.
“Enggak bak, Bibi udah sehat banget ini,” canda Bi Sarah.
Kami langsung melakukan aksi memasak kami.
.
.
.
.
.
Setelah selesai memasak, aku kembali ke kamar untuk
menyiapkan kemeja Naufal.
***(Di Kamar)
Saat ku buka pintu kamarku.
Untungnya Naufal tidak ada disana, sepertinya dia sedang
mandi. Jadi aku busa bebas tanpa merasa kaku atau canggung pada Naufal.
Aku langsung mengambilkan kemeja, jam tangan, sepatu untuk Naufal.
Saat ku letakkan kemeja Naufal di atas Kasur, Naufal keluar
dari kamar mandi.
Tanpa menatap matanya atau melihatnya, aku langsung
bergegas masuk ke kamar mandi.
.
.
.
Setelah mandi, cepat-cepat aku bersiap-siap dan berdandan
agar tidak terlalu di kamar bersama Naufal yang hanya diam tidak menyapaku.
“Gi, maafin aku ya,” kata Naufal yang berdiri di belakangku.
“Iya nggak papa,” jawabku singkat.
“Aku ke bawah dulu, mau siapin sarapan,” kataku mencari-cari alasan.
Aku langsung meninggalkan Naufal sendirian di dalam kamar.
***(Di Ruang Makan)
“Loh Bi, yang lain mana?? Kok masih sepi," tanyaku.
“Belum waktunya Mbak, biasanya mereka kesini jam 6 pas,”
jawab Bi Sarah.
“Lima menit lagi pasti udah kesini semua,” kata Bi Sarah
yang menata satu per satu piring.
“Mbak Gia tumben udah kesini?” tanya Bi Sarah.
Aku bingung menjawab apa, karena memang aku sengaja
cepat-cepat agar bisa segera kesini, tidak tahan beradadi kamar bersama Naufal.
“Oohh Gia emang sengaja Bi, pengen kesini duluan, bantuin
Bibi nyiapin, soalnya semalam kan Bibi sakit,” alasanku.
Dan ternyata benar kata Bi Sarah. Tepat jam 6 pagi semua
pekerja di Rumah ini datang berkumpul Di Ruang Makan. Mereka menyapaku semuanya, Pak Joko sempat menanyakan Naufal padaku.
“Bapak mana Buk?” tanat Pak Joko.
“Masih di atas Pak sama Abay,” jawabku.
Tak lama kemudian, Naufal datang bersama Abay.
“Pagi Pak,” sapa mereka pada Naufal.
“Pagi,” jawab Naufal.
Naufal menatapku canggung, aku langsung menundukkan kepalaku.
Kami pun langsung menyantap sarapan pagi..
.
.
.
.
.
.
Di perjalanan menuju sekolah Abay, kami hanya diam dalam
mobil, sebenarnya aku ingin mencairkan suasana tapi aku bingung ingin membahasa apa, aku ingin agar Abay tidak curiga pada kami.
“Mama sama Papa kok diem-dieman,” ucap Abay.
“Enggak kok Nak, kata siapa, ya Ma ya,” ucap Naufal.
“Iya Pa,” jawabku.
“Mama berantem ya sama Papa?” tanya Abay lagi.
“Enggak Nak,” jawabku.
Naufal meraih tanganku, lalu mencium tanganku di depan Abay.
“Abay sedih kalo sampai Mama sama Papa berantem,” kata Abay.
“Ya enggak lah Nak, Papa kamu kan selalu buat Mama bahagia, dan sangat mencintai keluarganya,” pujiku.
Akhirnya sampai juga di depan sekolah Abay.
“Pa, Ma, Abay sekolah ya,” Assalamu’alaikum,” ucap Abay
setelah menyalami tangan kami.
“Wa’alaikumsalam,”jawab kami.
Abay berjalan menjauh dari mobil kami, kami melihat Abay
sampai dia benar-benar masuk ke sekolahnya.
Mobil Naufal melaju kembali.
“Gi, Abay udah curiga loh sama kita?? Jangan berantem ya,”
rayu Naufal.
“Maafin aku, aku nggak tau kalo kemaren kamu pamit sama
aku,” ucapnya.
“Iya nggak papa kok,” jawabku.
“Jangan berantem ya Sayang,” rayunya sambil meraih tanganku
“Iya,” jawabku singkat.
“Kamu jangan cuek-cuek sama aku, maaafin aku nggak
ngedengerin kamu, maafin aku nggak kasih ruang kamu buat kasih penjelasaan sama aku, ya Sayang ya,” rayunya.
“Maaf aku buat kamu sedih semalaman, buat mata kamu sembab, maaf ya,” kata Naufal terus memohon maaf padaku.
Aku meraih tangan Naufal yang menggenggam tanganku.
Aku menoleh padanya, aku tersenyum padanya.
“Nggak papa Mas, aku nggak mau dengan masalah sepele seperti ini, jadi kita harus korbanin Abay, maafin aku juga udah diemin kamu,” kataku sambil meneteskan air mataku.
Naufal melepas tanganku dan meraih tengkuk ku, Naufal
mencium keningku.
“Aku semlam kan ke bawah buat roti bakar, terus Bibi katanya masuk angin, aku beliin obat buat Bi Sarah,aku mau ngajak kamu tapi kamu masih telfonan, aku nggak berani ganggu kamu, aku panggil-panggil kamu, tapi kamu
nggak gubris aku sama sekali, berarti kan telfonnya penting banget kan, ya udah aku pamit ke kamu terus aku langsung beliin obat buat Bibi,” ucapku yang semakin menangis terisak-isak.
“Iya Sayang, iya, kamu jangan nangis, udah,” tutur Naufal
sambil satu tangannya menghapus air mataku.
“Ya kamu di telfon marah-marahin aku, ya aku nangis di mobil,
kamu segitunya banget,’ rengekku.
“Aku bukan marah itu Sayang, aku beneran khawatir, tiba-tiba kamu nggak ada di rumah, aku mau tanya Bi sarah tapi ada telfon lagi, jadi aku nggak sempet nanya, maaf ya, bukan aku nggak pedulia sama kamu,” kata Naufal.
“Lagian kamu siapa sih yang telfon asik banget kayaknya?”
tanyaku.
Bersambung........
__ADS_1