
Malam harinya, tepat setelah magrib Mas Naufal baru saja tiba di Rumah, dengan segera aku menyalami dan mencium tangannya.
"Baru pulang Mas?" tanyaku.
"Iya Sayang, aku tadi maaf ya nggak ngabari kamu," jawab Naufal yang sedang melepas sepatu nya.
"Oh nggak papa kok," ujarku.
Padahal sedari tadi aku khawatir padanya, hehehem....tapi bagaimana pun juga, aku sudah terbiasa dengan rasa ini, rasa cemas karena ulah belahan jiwaku ini. Untung saja dia sudahs sering melatihku.
Satu cangkir teh tawar hangat sudah menunggu Naufal di atas meja kamar. Ku ambil cangkir teh itu dan ku persembahkan untuk suamiku.
Dengan nikmat dia langsung meneguk habis teh tawar buatanku.
Setelah dia berhasil melepas kemeja nya. Air hangat sudah ku siapkan untuknya yang baru saja pulang dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami, yah, mencari nafkah pastinya.
Naufal memanjakan dirinya di dalam sana sendiri, aku?? Aku mempersiapkan baju yang akan dipakainya malam ini. Membereskan kemeja dan sepatu yang habis dipakainya.
Saat dimana aku menggendong kemeja Naufal, aku menemukan sesuatu yang menjanggal di dalam saku kemeja nya.
Dengan sengaja aku langsung mengambilnya, ternyata hanya satu helai kertas namun tulisan angka nominal di dalam sana yang membuatku tercengang.
"Apa??!! Mas Naufal beli tas??? Buat siapa??" tanyaku dalam hati.
"Tapiiii.....kalo untuk wanita lain?? Pasti nggak mungkin," tegasku dalam hati dengan kerutan di dahiku.
"Mas Naufal beli buat siapa tas semahal ini?? Untuk ku nggak mungkin, kan satu bulan yang lalu Mas Naufal udah beliin aku, buat siapa??"
Di atas kepalaku melayang-layang beberapa tanya, mereka merayuku untuk menanyakan ini pada Mas Naufal.
"Tidak, biarin Mas Naufal yang jelasin sama aku sendiri," ucapku dalam hati dengan memegang sehelai kertas itu.
Meskipun hatiku bergelut dengan rasa curiga dan separuh rasa cemburu, aku harus tetap berprasangka baik pada Naufal yang tidak mungkin mengkhianatiku dengan janji suci yang sudah terucap kala itu.
Aku menunggu nya duduk di balkon sambil memainkan ponselku. Berharap Naufal segera keluar dari tempat ternyaman dan menghangatkan untuknya, yah benar, kamar mandi.
Beberapa kali kepalaku tengok ke belakang untuk melihat apakah sosok pria sudah keluar dari goa yang menurut dia sudah membuat nyaman dirinya.
Gleekkkk.......akhirnya makhluk ini keluar dari kamar mandi.
Aku sudah tidak sabar memberikan kertas ini padanya, sedikit kesal pasti, aku ingin tau bagaimana respon dia saat aku memberikan kertas ini. Pasti dia akan menjelaskan panjang lebar padaku.
Kaki ku juga sudah tidak sabar ingin mengajakku melangkah untuk menemuinya.
Tak lama kemudian, setelah Mas Naufal sudah rapi dan sangat wangi, kaki ku sudah mengajak ku melangkah menemuinya.
"Mas ini, aku tadi nemuin ini di saku kemeja kamu," ucapku sambil menyerahkan sehelai kertas yang sudah membongkar good mood ku malam ini.
"Oh ya Sayang," jawab Mas Naufal.
Naufal menerima kertas itu dengan sangat biasa dan wajahnya yang datar. Semakin menyebalkan aku dibuatnya. Padahal aku sudah menunggu penjelasan panjang lebar darinya, hhhmmm namun harapanku gugur, tidak sesuai ekspektasi kalo kata anak muda jaman sekarang.
"Hm, ya sudah lah," gumamku dalam hati lalu meninggalkan dia kembali ke balkon.
Aku semakin tak tenang dengan sikap Naufal yang sangat biasa tadi.
"Awas aja kamu Mas, jahat banget sih kamu nggak kasih penjelasan sama aku," gumamku dalam hati.
Kali ini, aku benar-benar ngambek padanya, aku beralih tempat menuju kamar Abay saja dari pada berada dalam satu ruangan dengan pria ini, semakin membuatku kesal saja.
Dengan wajah murung dan hentakan kaki yang tak biasa, aku menyahut kerudungku dengan cepat tanpa meliriknya, agar dia merasa, dia salah apa???
Naufal benar-benar sangat menyebalkan, dia malah sibuk bermesraan dengan laptonya.
Semakin malam, angin semakin dingin di balkon kamar Abay ini.
Sudah beberapa kali aku menguap berdua dengan Abay, dan yang lebih membuatku kesal, Mas Naufal tidak datang menemui kami.
"Udah malem, tidur gih," tuturku pada Abay.
"Hooaamm, Mama juga ya," jawab Abay.
"Iya Nak," kataku.
Abay segera masuk ke dalam kamar mandi, dan aku menutup pintu kamarnya.
Lagi-lagi aku harus masuk ke dalam ruangan ini.
"Hhhmmm, Mas Naufal apa-apaan sih, gitu banget sama aku," gumamku dalam hati.
Gleekkkk......
***(Di Kamar)
"Dari mana Sayang?" tanya Mas Naufal.
"Abay," jawabku singkat dan langsung berjalan ke ruang ganti baju tanpa melirik atau pun melihatnya.
Dalam hatiku mengoceh sendiri.
Setelah selesai cuci muka dan mengganti baju tidurku, aku beranjak segera tidur di samping Naufal yang sedang sibuk berjam-jam menghabiskan waktu bersama benda menyala persegi panjang itu.
"Mau tidur kamu?" tanya Naufal padaku.
__ADS_1
"Hem," jawabku.
Naufal rupanya turun dari ranjang lalu menutup dan mengasingkan benda menyala persegi panjang itu.
Aku berusaha acuh juga padanya.
Tak lama kemudian, dia menyusulku tidur di sampingku. Aku berpura-pura memainkan ponselku agar dia menegurku, tapi??? Apa pedulinya?? Dia kan acuh padaku.
"Katanya tidur, kok malah main hp," ucap Naufal.
"Nggak papa," jawabku.
Naufal malah ikut-ikutan memainkan ponselnya.
"Iiisshh Mas Naufal apa-apaan sih, males deh," gumamku dalam hati lalu pergi turun dari ranjang kami.
"Kemana Sayang??" tanya Mas Naufal.
"Bawah," jawabku singkat dan langsung meninggalkannya.
"Ngapain Sayang??" tanya nya lagi.
"Minum," jawabku.
"Kan ada air disini," bantah Naufal.
"Enak dibawah, disini panas," ujarku sedikir menyindirnya.
"Mau aku ambilin aja Sayang?" tawarannya yang semakin membuatku ingin menerkamnya.
"Nggak usah, aku ambil sendiri,"
Wajah jutek ku semakin menjadi-jadi.
***(Di Dapur)
Ku teguk 3 gelasa air dingin sendirian.
"Mas Naufal lagi kenapa sih?? Aneh banget?? Nggak biasa nya loh dia kayak gini sama aku??" tanyaku dalam hati.
"Bisa-bisanya dia membuatku seperti ini??" Kataku dalam hati.
Sengaja agak ku buat lama berada di Dapur, meskipun sebenarnya aku takut disini sendirian, takut jika makhluk lain menyapaku disini.
Setengah jam sudah aku berada di Dapur, berharap Mas Naufal menghampiriku, tapi nyatanya?? Aku kembali salah besar!!! Dia tidak menghampiriku.
"Mas Naufal keterlaluan, apa dia tidak khawatir atau pun cemas padaku???!!" Gerutuku dalam hati.
Dengan kesal dan hentakan kaki yang sedikit keras, ku langkahkan kembali kaki ku menuju kamar.
Saat ku buka pintu kamar, ada yang berbeda disini, gelap dan sangat gelap, tidak seperti biasanya, biasanya lampu duduk di samping tempatku tidur dan di sisi Naufal masih menyala meskipun lampu utama sudah dimatikan, tapi ini??? Benar-benar gelap gulita.
"Mas Naufal kenapa lampunya dimatiin semua?? Dia kan tau kalo aku takut gelap, apa dia sengaja??" ucapku dalam hati.
Ku beranikan diri masuk ke dalam kamar, berjalan dengan bantuan meraba-raba dinding di dalam kamar.
Sudah berhasil aku menyalakan lampu utama di kamar, tapi??? Dimana separuh nafasku sedang berada??? Tidak ada dia disana??
"Mas Naufal kemana?? Kok nggak ada??" tanyaku dalam hati.
Ku cari dia di kamar mandi, di ruang ganti baju, di balkon, setiap ruangan ku masuki untuk menemukan dia, dia menghilang seperti daun tertiup angin, yah sangat cepat sekali menghilang.
"Mas...."
"Mas Naufal,"
"Kamu dimana Mas???" ucapku.
Buuukkkk......
Kehangatan datang dari arah belakangku. Naufal datang memelukku dari belakang.
"Nyariin ya," bisiknya di telingaku.
Sebenarnya aku senang dengan sikap romantis dia yang menhilang lalu datang.
"Apa sih Mas, aku mau tidur," bantahku sambil berusaha keluar dari perangkap tangannya. Kali ini perangkapnya tidak biasanya, pada umumnya perangkap dibuat untuk menangkap target, namun beda dengan perangkap satu ini yang membuat nyaman target, hehehe.
Naufal tak kunjung melepaskan pelukannya.
"Tidur apa main hp??" Godanya.
Aku hanya diam dengan ekspresi jutek ku padanya.
"Aku emang sengaja ngilang biar kamu cariin," ujar Naufal di pundakku.
"Salahnya kamu..." Naufal langsung memotong kalimatku.
"Apa?? Aku salah apa Sayang?? Hm??" tanyanya yang semakin membuatku jengkel.
"Salah apa lagi aku Sayang?? Hehehe," ucap Naufal lalu membalikkan kedua pundakku agar menghadapnya.
Naufal agak menunduk agar semakin dekat jika menatapku.
__ADS_1
"Soal kertas itu," kataku.
Naufal mengangkat dagu ku agar lebih dekat lagi dengan wajahku, dia malah tersenyum dan membiusku dengan lesung pipi nya itu.
Deg deg.....deg deg...... Hatiku selalu bergetar jika dia memperlakukan ku seperti ini.
"Mas Naufal.......kenapa kamu selalu membuatku jatuh cinta seperti ini, memang aku sudah bertahun-tahun bersama mu, tapi ketika kita dalam posisi sedekat ini, dengan kedua mata kita yang saling memikat, hatiku tidak bisa berbohong sedikitpun Mas, ini tanda nya aku selalu jatuh cinta padamu Mas," ucapku dalam hati sambil tercengang menatapnya.
"Kertas apa Sayang??" tanya Naufal yang mencoba mengerjaiku.
"Tau ah," jawabku jutek dan berbalik ingin meninggalkanya, namun lagi-lagi Naufal mencegahaku.
"Hey hey Sayang, Hehehheehe, enggak-enggak aku bercanda," rayu Naufal.
"Terus apa kalo nggak?" tanyaku jutek.
"Soal kertas itu.......eemm kertas yang tadi kamu kasih ke aku kan??" tanya Naufal lagi yang mencoba untuk mengerjaiku kembali.
"Tuh kan kamu gitu, ada lagi ya??" tanyaku lagi tepat di depan wajahnya.
"Ada lagi apanya maksud kamu??" tanya Naufal balik yang tidak mengerti apa yang aku katakan.
"Ada wanita lain," jawabku dengan kesal.
"Eemmm.....mmmmm...."
"Ya nggak lah Sayang, kamu ini macem-macem aja pikirannya," ucap Naufal.
"Emang dari tadi aku juga nggak usaha buat berprasangka baik ke kamu, aku usaha buat positif thinking tau, kamu nya malah gini, gak mungkin juga kamu kayak gitu," ujarku.
"Huusst"
Naufal membungkan mulutku dengan telunjuk jarinya.
"Hahahahahaha Sayangg......Sayang......nggak jadi surprise kan kalo gini," kata Naufal.
"Surprise? Maksud kamu? Tas itu buat...." Ucapku sambil menunjuk pada diriku sendiri.
"Iya lah buat kamu, buat siapa lagi Sayang, masak buat Bibi?" Tepis Naufal yang sedikit menertawakan kecurigaan dan kecemburuanku terhadapnya.
"Ya kali aja kan," bantahku yang masih kesal.
"Tapi kan aku nggak lagi ada acara apa-apa, dan di bulan ini juga nggak ada tanggak spesial buat kita," ucapku membela diri.
"Sayangggg nya Mas Naufal.......aku kalo ngasih ke kamu kan nggak harus ada acara ulang tahun kamu, atau anniversary kita, sekarang aku cuekin kamu, besoknya tiba-tiba aku ajak kamu honeymoon, kan bisa aja, ya nggak?" Kata Naufal dengan senyum bibir tipisnya.
"Apa sih nggak lucu kamu," ejekku dengan malu-malu.
"Katanya Papa gimana? Harus tetep romantis, harmonis, aku ngasih ke kamu bukan pas adaa acara-acara aja, kalo aku pengen, ya nggak pake nunggu ulang tahun kamu atau apa," ujar Naufal.
"Iya juga sih Mas," kataku.
"Jadi?? Gimana??" tanya Naufal sambil mengangkat kedua alisnya.
"Jadi?? Apanya??" tanyaku.
"Honeymoon nya, hehehe," canda Naufal.
"Iiihh apa sih kamu," jawabku malu-malu.
"Heheem, jadi nggak ngambeknya terus-terusan??" goda Naufal.
"Eemmmm gimana ya...." Jawabku.
Senyuman ku persembahkan untuknya, dan tanpa aba-aba ku kecup pipi kanan Naufal.
Lucu nya, Naufal langsung terpaku kaku dan tidak menggerakkan kepala nya sama sekali, dan dia malah meminta kembali.
"Makasih Mas," ucapku di dekapan Mas Naufal.
"Maka nya kamu jangan cuek-cuek dong, jangan suka misterius gitu, kamu pasti tadi juga mikirin banyak hal kan, pasti dalam hati kamu bertanya-tanya gini, kok Mas Naufal gini sih sama aku, pasti gitu kan?? Hahaha," tanya Naufal.
"Hehehem, iya lah Mas, kan kamu nggak pernah gitu," ucapku.
"Hehehem, bingung kan kalo aku kayak gini, emang aku sengaja biar kamu nanti nanya-nanya," ucap Naufal.
"Aaarrghhh, tega banget ngerjain istri nya," kataku.
"Enggak-enggak Sayang," jawabnya sambil mengelus kepalaku.
"Udah tidur gih," tuturnya.
Kami berdua pun langsung beranjak kembali menuju ranjang yang sudah mengucap mantranya untuk memanggil-manggil kami.
"Kamu kenapa beliin aku tas itu??" tanyaku dalam dekapan pelukannya.
"Emmm kenapa ya?? Emang nya nggak boleh beliin istrinya??" tanya Naufal yang kepalanya sedang berada di atasku.
"Ya nggak papa banget Mas, cuman aku pengen tau alasannya," jawabku.
"Hehehem, mau tau aja," candanya.
Bersambung..........
__ADS_1