
Naufal merebahkan tubuhnya di samping Gia, dia terus menghadap Gia.
"Gia, aku gak mau gini terus, aku gak kuat Gi," keluh Naufal.
Gia merasa kasihan dengan Naufal, dia membuka selimutnya.
"Aku mau maafin kamu, asal kamu gak ceroboh-ceroboh lagi, gak akan seenaknya sendiri," ucap Gia.
Naufal semakin mendekatkan tubuhnya pada Gia, dia meraih pipi kanan Gia.
"Aku janji Sayang, aku janji, asal kamu jangan gini ya sama aku," ucap janji Naufal.
Gia tidak menjawab janji Naufal dan hanya menatapnya.
"Janji ya? Jangan ulangin lagi, kita sering banget kayak gini, aku udah gak mau kayak gini lagi," kata Gia memegang pergelangan tangan Naufal.
"Iya aku janji," ujar Naufal sambil meraih tangan kanan Gia dan menciumnya.
"Pokoknya apapun yang menyangkut Vela atau selain Vela yang bisa membuat kamu cemburu, aku bakalan bilang sama kamu," ucap Naufal.
Naufal menarik tubuh Gia untuk dipeluknya di dada bidangnya.
Gia membalas pelukan Naufal. Naufal mengusap air mata di ke dua pipi Gia.
Gia tidur di pelukan Naufal.
Alarm ponsel Gia berbunyi, Gia segera bangun tapi Naufal tetap mendekap tubuh Gia.
"Mas, lepasin," ucap Gia sambil menjorok dada Naufal.
Naufal hanya senyum dan masih memejamkan matanya.
"Aku mau masak, lepasin gak!" ujar Gia.
Tidak ada respon dari Naufal, Naufal malah tetap memberikan senyum manisnya pada Gia.
Gia mencubit halus pinggang Naufal, tapi Naufal menghiraukan itu dan malah hanya merasakan geli.
"Mas...aku jorokin nih kamu," kata Gia sambil mengernyitkan kedua alisnya.
Naufal menertawakan Gia.
"Wkwkwkwkwk apa sih? Tuh kan sadisnya keluar, mulai nih," kata Naufal.
"Biarin, salah kamu nggak lepasin aku," rengek Gia.
"Untuk hari ini, kamu nggak usah masak, biar Bi Sarah aja, aku rindu momment ini Gi," ucap Naufal.
"Jangan manja ya kamu, udah ah," kata Gia tetap menjorok Naufal.
"Gi udah seharian loh kemaren kamu cuekin aku, ya kamu harus bayar Gi seharian ini, gantinya dong," goda Naufal.
"Apa-apaan kamu, mana ada kayak gitu Mas," keluh Gia.
"Ada lah, nyatanya ini aku yang baru bilang ke kamu hehehehe," kata Naufal sengaja mengerjai istrinya.
"Pokoknya seharian ini kamu gak boleh kemana-mana, kamu harus deket terus sama aku, apa perlu ruangan kerja kamu aku pindah satu ruangan sama aku," Goda Naufal lagi.
"Gak gak, kamu ada-ada aja deh," bantah Gia.
"Hehehe nanti malah aku gak bisa fokus Gi kalo satu ruangan sama kamu," ejek Naufal.
"Mending sekarang kamu balik tidur dan ka...," ucapan Naufal terpotong oleh Gia.
__ADS_1
"Tap..," kata Gia terbungkam oleh jari telunjuk Naufal.
"Hust hust hust udah gak boleh ngebantah Sayang," tutur Naufal.
Gia menarik tangan Naufal yang telah membungkamnya.
"Bukannya aku ngebantah Mas, tapi kan emang kewajiban aku," rengek Gia.
"Iya aku tau Gi, tapi kali ini aku pengen kayak gini yang lama banget sama kamu, lagian kan suami sendiri yang nyuruh kamu, kamu harus nurut dong," tutur Naufal.
Gia hanya mengedipkan matanya.
"Kamu gak mau? Ya udah sana masak," kata Naufal kesal dan melepaskan pelukannya dari Gia.
"Iya iya iya, kamu ih ngambekan," ejek Gia sambil menarik kembali tangan Naufal dan dipelukkan kembali padanya.
"Salahnya sendiri kamu ngeyel terus," rengek Naufal.
"Iya Ya Allah udah gak usah di bahas, tidur lagi," tutur Gia.
Naufal senyum-senyum sendiri.
"Istriku, gemes aku kalo kamu kayak gini," ucap Naufal seperti ingin menerkam Gia.
Akhirnya mereka kembali tidur.
Adzan magrib berkumandang.
Gia yang sangat nyaman tidur di dekapan Naufal, sedangkan Naufal pelan-pelan membuka matanya.
Naufal melihat istrinya yang tertidur pulas di pelukannya, dia tidak langsung membangunkan Gia, tetapi malah memandangi istrinya, sesekali Naufal membelai pipi Gia sambil tersenyum.
"Ini Gi yang buat aku gak bisa jauh dari kamu," gumam dalam hati Naufal.
Akhirnya Naufal membangungkan Gia pelan-pelan.
"Gi... Gia, bangun udah shubuh," kata Naufal sambil mengelus pipi Gia.
Gia malah semakin memeluk erat suaminya. Naufal semakin berdebar-debar hatinya.
"Kamu lucu banget sih Gi," ucap Naufal sendiri.
"Sayang bangun, udah shubuh ayo kita sholat, kalo enggak aku sholat sama Vela nih," bisik Naufal di telinga Gia dengan sengaja agar dia bangun.
Gia yang masih samar-samar mendengat kata-kata Vela akhirnya langsung membelalakkan matanya dan bangun.
"Kamu apa-apaan sih, gak lucu tau gak," ucap Gia sambil memukuli Naufal dengan bantal.
"Aduh aduh Sayang stop udah stop, wkwkwkwkwk," kata Naufal yang hanya terpukul lengan tangannya saja, bagi Naufal pukulan Gia tak terasa sama sekali.
"Males aku, kamu becandanya gitu," keluh Gia.
"Kamu ya, pukul-pukul suaminya, eh pokoknya setiap kamu mukul aku berarti itu tandanya kamu makin cinta sama aku dan 1 pukulan ke aku berarti kamu lagi bilang ke aku I Love You tapi secara tidak langsung, ya kan? Ayo ngaku," ejek Naufal sengaja menggoda Gia.
Gia kembali memukul Naufal.
"Tuh kan i love you too," kata Naufal.
"Kamu ini masih pagi udah romantis banget sih sama aku," goda Naufal lagi.
Wajah Gia semakin memerah lalu menggigit tangan Naufal.
"Aaww sakit Sayang," keluh Naufal.
__ADS_1
"Biarin, salahnya sendiri buat aturan ngaco itu, weeekkk, ya itu akibatnya, apaan satu pukulan berarti tanda I love you, mana ada kayak gitu tuh," bawelan Gia.
"Ya adalah, aku sebagai kepala keluarga malah yang buat, jadi kamu harus hati-hati tuh kalo mau mukul aku," kata Naufal.
Gia memukul kembali Naufal. Lalu turun dari ranjang untuk ke kamar mandi.
"Tuh kan lagi, I love you Sayang," teriak Naufal agar Gia mendengarkan.
Dalam kamar mandi Gia senyum-senyum sendiri, dan merasakan debaran jantungnya yang sangat cepat.
"Huuftt hufftt rileks Gia rileks," ucap Gia pada dirinya sendiri.
Gia tak langsung mandi tetapi malah memikirkan perang kecilnya dengan Naufal.
"Bisa-bisanya dia buat aturan gak jelas kayak gitu," gerutu dalam hati Gia.
"Naufal...Naufal beruntung aku bisa memiliki kamu," kata Gia sambil tersenyum.
Ternyata sedari tadi Naufal menguping Gia di dinding luar kamar mandi.
"Kok gak ada suara air sama sekali sih, dia mandi apa gimana sih?" gerutu dalam hati Naufal.
"Pasti dia sekarang lagi senyum-senyum, dia kan paling gak bisa banget kalo sama hal yang manis-manis wkwkwkw," ucap Naufal sendiri.
"Godain ah," kata hati Naufal.
Naufal menggedor pintu kamar mandi dengan sengaja.
"Gi, kok gak ada suara air mandi sih, kamu gak mandi ya? Kamu pasti mikirin aku ya sekarang? Hayo ngaku?" teriak Naufal sambil menahan tawanya.
Gia kebingungan mendengarkan teriakan Naufal, Gia langsung menyalakan kran airnya.
"Iiih PD banget sih kamu, ini ada kok bunyinya air," bantah Gia dengan salah tingkah.
Gia membuang-buang air di bathtub nya.
"Tuh kan bunyi," kata Gia membuktikan pada Naufal.
"Iya iya, wkwkwkwk," jawab Naufal menertawakan Gia.
Naufal berjalan meninggalkan kamar mandi.
Setelah beberapa menit Gia selesai mandi, Gia malu dengan Naufal. Karena ketahuan telah memikirkannya.
"Kenapa kamu nunduk-nunduk kayak gitu?" tanya Naufal.
"Mau tau banget sih, cepetan mandi, keburu shubuhnya habis tau rasa kamu," tutur Gia.
"Iya iya, dasar bawel," ejek Naufal yang langsung menutup pintu kamar mandi.
Sambil menunggu Naufal mandi, Gia menyiapkan kemeja, sarung dan baju koko Naufal.
Bersambung...
Terima kasih kakak semua yang sudah setia menemani Author.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya hehehe😁🙏
Nantikan kisah manis Gia dan Naufal😊🖤
Tunggu episode selanjutnya.
#Siap-siap di buat baper ya xixixixi
__ADS_1