Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 174 (Perjalanan jauh)


__ADS_3

Selesai aku mandi, aku kembali bersenandung dan membawa vas bunga nya ke balkon dan ku letakkan di atas meja disana.


Naufal menyusulku dan duduk di sampingku.


“Dari tadi bunga nya di gendong dibawa kemana-mana mulu,”


kata Naufal.


“Hehehehe, bilang aja kalo cemburu,” kataku sambil melangkah


meninggalkannya.


“Akum au ke Abay dulu, mau nemenin dia ngaji,” kataku.


.


.


.


.


.


Setelah aku menani Abay mengaji, aku kembali ke kamar untuk segera packing karena besok aku dan Naufal sudah berangkat menjadi relawan.


***(Di Kamar)


Aku menata beberapa gamis dan kemeja untuk Naufal ke dalam koper.


“Kamu bawa dua koper?” tanya Naufal yang duduk sila di


depanku.


“He’em Mas, gimana lagi?? Bawaannya banyak banget,” kataku.


“Kopernya kan lagian kecil-kecil Mas, kenapa?? Bawa yang


besar aja ya, satu,” ucapku.


“Iya bawa yang besar aja satu Sayang,” kata Naufal.


AKhirnya aku mengambil koper besar milik Naufal.


“Nah kalo ini pasti muat buat barang-barang kita,” kata


Naufal.


“Jangan lupa alat mandi Mas, ini nanti kamu harus bawa sendiri, kamu harus bawa tas ransel kecil,” tuturku sambil menutup resleting tepak kain yang berisi peralatan mandi untuk Naufal.


“Iya iya, aku nggak tau deh bakalan gimana kalo nggak ada


kamu,” ucapnya yang menatap ke arahku di depannya.


“Kenapa sih bilang gitu, aku kan selalu sama kamu Mas,


memangnya akum au kemana, nggak kemana-mana kan, jadi kebutuhan kamu pasti aku yang siapin,” ujarku.


“Heehehem, yak an kalo masalah ajal kita nggak bakalan tau,”


sanggah Naufal.


“Huuumm, kenapa sih Mas harus bahasnya sekarang ya,” kataku.


“Enggak-enggak, aku bercanda Sayang,” ucap Naufal sambil


mengelus-elus rambutku.


“Allahuakbar….Allahuakbar,” adzan magrib berkumandang.


“Cepet banget ya Mas magrib nya,” kataku.


“Iya lah nggak berasa, kamu dari tadi sibuk ini itu,” jawab


Naufal.


Aku bergegas untuk wudhu dan segera sholat dengan Naufal.


.


.


.


.


.


Setelah sholat, Abay menghampiriku di dalam kamar yang


sedang packing berdua.


“Ma, mala mini Abay tidur sama Mama sama Papa ya,”


rengeknya.


“Anak Mama kenapa ini, sedih ya mau di tinggal Mama sama


Papa, hehehem,” kataku.


“Kan besok Mama sama Papa udah pergi, jadi mala mini Abay


tidur sama Mama sama Papa, ya?” rayu Abay.


“Kalo Abay mau tidur sama Mama sama Papa ya silahkan aja


Nak,” sahut Naufal.


Abay tidur di pangkuangku.


“Jangan sedih gini dong,” candaku.


“Habis ini Mama ajarin PR kamu, bentar ya bentar lagi Mama


selesai packing nya,” kataku.


“Tadi Abay udah ngerjain Ma, Mama tinggal koreksi aja,”


jawab Abay.


“Waduh rajin banget ya anak Papa,” kata Naufal.


“Hehehem, anak Mama, kok anak Papa sih,” ujarku.


.


.


.


Selesai packing, aku dan Abay masuk ke kamarnya.


***(Di Kamar Abay)


“Mana PR Abay?” tanyaku yang duduk di kursi yang dekat


dengan meja belajar milik Abay.


“Ini Ma,” jawabnya sambil menyerahkan buku PR nya.


Aku mengoreksi nomor demi nomor soal matetika standart anak SD itu.


“Udah bener semua ini Nak,” kataku.


“Bisa ini kamu,” pujiku.


“Iya bisa Ma, soalnya kan Bu Guru itu kalo ngajarin Abay


pasti yang belum di ajarkan sama Guru sekolah Abay diajari duluan sama Guru les Abay,” ucapnya.


“Ya bagus dong Nak, Abay jadi bisa duluan kan,” kataku.


“Hehehem, iya Ma,” jawab Abay.


“Sini sini duduk di pangkuan Mama,” kataku sambil menarik


tangan Abay dan mengangkatnya duduk di pahaku.


“Abay besok nggak boleh rewel ya,” tuturku.


“Walaupun nggak ada Mama sama Papa tapi harus tetep tepat waktu, misal nih jamnya Abay belajar, ngaji, makan malam, ya,” tuturku lagi.


Jawaban Abay dengan anggukan kepalanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hingga keesokan harinya,


Aku dan Naufal berpamitan pada Abay.


“Abay, baik-baik ya di Rumah, jangan lupa, harus tetep jadi


anak rajin,” tutur Naufal sambil mengelus kepala Abat.


“Iya Pa, Papa sama Mama hati-hati ya, jangan lupa sampe sana Papa sama Mama video call Abay, nanti Abay kangen,” kata Naufal.


“Iya Nak pasti,” kataku.


“Bi, tiap malam nanti Pak Joko antar Abay ke rumah Mama, dia tidur disana, titip Abay ya Bi,” kata Naufal.


“Iya Mas Naufal,” jawab Bi Sarah.


“Naufal sama Gia berangkat dulu ya Bi,” pamit Naufal.


“Iya Mas, hati-hati kalo disana ya Mas, semoga saja Mbak Gia


betah,” kata Bi Sarah.


“Hehehehe, iya Bi, Insya’Allah,” sahutku.


“Assalamu’alaikum,” salam kami.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Sarah san Abay,


Aku dan Naufal masih sempat memeluk Abay.


Mobil sudah menunggu kami di depan Rumah, karena hari ini kami berangkat jam 5 shubuh dan di antar oleh Pak Joko.


.


..


.


.


.


.


.


Tibanya  di Rumah Sakit tepatnya di Aula.


Semua relawan sudah berbaris rapi disana, mendengarkan


beberapa informasi yang diberikan oleh Naufal.


Setelahnya Naufal memberikan pidato singkatnya pada semua


relawan, satu per satu dari kami masuk ke dalam bus yang sudah di sewakan oleh pihak Rumah Sakit untuk menuju ke bandara.


Kali ini aku duduk di samping, sangat jelas sekali akan ada


banyak pasang mata yang melirikku.


“Kamu sebelah mana?? Deket jendela apa mau di pinggir,”


tanya Naufal.


“Aku deket jendela aja,” jawabku.


Aku duduk di kursi nomor dua, seangkan Pak Bastian duduk


bersama Pak Anton tepat di kursi depanku.


Dokter Irene duduk di kursi belakang, sebenarnya ada kuarng


dari 10 orang yang duduk berpasangan, namun arah bola mata tetap menuju pada kursi yang ku duduki dengan Naufal.


“Mas, kita banyak yang lihatin ya?" tanyaku.


“Udah biarin aja Sayang,” jawab Naufal dengan lirih.


“Mereka semua itu pacaran Mas?” tanyaku.


“Enggak, emang urutan duduknya gitu Gi, tapi ada juga yang


cinlok,” jawab Naufal.


“huhuhum, lucu ya mereka, andai aja dulu kita bisa kayak


gitu,” ceplosku.


Naufal langsung menatap wajahku.


“Uuppss, eemm……..hehehe. maksud aku, bu.....kka…” kataku


terpotong oleh Naufal.


“Kita bisa lakuin sekarang kok, mana tangan kamu,” ucapnya.


“Jangan ah Mas, malu,” kataku.


“Hehehem, nggak usah malu-malu, kita kan udah halal, mereka


aja nggak malu yang masih pacaran.” Goda Naufal.


Langsung ku buang pandangaku kea rah luar jendela.


“Mass…..jangan mulai,” ucapku smabil menyelipkan tanganku di


antara kedua pahaku.


“Hahahha, enggak-enggak Sayang, takut banget,” ujar Naufal.


Teman-teman Naufal melintas melewati kuris kami, semua


tersenyum melihat Naufal.


“Gitu dong Fal,” kata salah satu teman Naufal yang duduk di


belakang kami.


Karena mereka jarang melihat kami duduk sedekat ini.


Semua sudah memenuhi kursi yang ada di dalam bus.


“Fal…Fal…tau gini Gue ngajak Susi,” ucap Pak Bastian.


“Ini relawan Bas bukan wisata,” sahut Naufal.


Pak Anton tertawa mendengar celoteh mereka berdua.


“Hehehem, dari awal masuk rumah sakit ini, selalu kalian


yang paling kompaj,” sahut Pak Anton.


“Emang Naufal yang gak bisa jauh-jauh dari saya Pak,” ujar


Pak Bastian.


“Yeeee, kebalik kali,” kata Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


Sampainya di Bandara, semuanya langsung chek-in.


Aku dan Naufal menunjukkan paspor serta menimbang


barang-barang kami.


Kemudian kami mengambil boarding pass dan menunggu panggilan keberangkatan pesawat yang akan kami tumpangi.


Tak lama kemudian, kami semua segera antri masuk ke dalam


pesawat kelas ekonomi premium, selama berjalan aku terus berjalan berdua dengan Naufal, Si Suster sempat milirikku dan senyum padaku.


Lagi-lagi aku duduk dengan Naufal.


Aku dan Naufal adalah penumpang pertama yang masuk dalam


pesawat.


“Pagi,” sapa Pramugari pada kita.


Naufal membalas dengan senyumnya dan aku pun juga.


Mata pramugari itu terus menerus melirik  Naufal hingga kami duduk berdua.


Ku pasang bantal leher, lagi-lagi, tempat duduk kami tidak


jauh dari Pak Bastian, namun bedanya sekarang Pak Bastian duduk dengan Dokter Irene.


“Para penimpang yang terhormat, selamat datang di


penerbangan………….”


“Deat passengers, welcome to………….”


Para pramugari atau cabin crew telah memeragakan beberapa instruksi dengan safety demonstration pada penumpang di dalam pesawat.


Namun, aku juga sedikit kesal, berhubung tempat berdiri


pramugari itu dekat sekali dengan Naufal, terus melihat Naufal, sebenarnya dia siapa sih, apa dia kenal dengan Naufal.


Tak lama kemudian, pesawat lepas landas.


“Mas, kok aku udah kangen sama Abay ya,” keluhku.


”Baru aja bentaran Sayang,” ucapnya.


“Emangnya kamu nggak kangen?? Kamu sih nggak pernah tau


rasanya di tinggal,” ujarku.


“ya elah Sayang, namanya juga anak kita, ya pasti aku juga


kangen lah, bukan hanya kamu,” sanggah Naufal.


“Andai ya cumankita penumpangnya, pasti romantic,” ucap


Naufal.


“Hehehem, ada-ada aja kamu, emang pesawatnya milik nenek


kamu Mas, hihihii,” candaku.


“Ya bisa aja dong, hehehe,” sahut Naufal.


.


.


.


.


.


.


Di pertengahan perjalanan, akhirnya aku tertidur di pundak


Naufal.


Namun makanan datang, dan Naufal membangunkanku.


“Sayang……..hey….Sayang….makan dulu,” ucap Naufal dengan


halus.


Aku tak kunjung karena terlalu nyaman berada di pundak


Naufal.


“Gi……Sayang, makan dulu gih,” tuturnya.


Aku pun terbangun.


“Uuuhhmmm…….apa Mas?” tanyaku.

__ADS_1


“Makan dulu, ini makanan nya udah dateng,” ucap Naufal.


“Nanti aja aku makan nya,” ucapku.


“Eiittss nggak boleh, harus sekarang,” ujar Naufal.


“Ngantuk Mas,” ucapku.


“Iya tapi dimakan dulu Sayang, dikit aja yang penting kamu


makan dulu, siapa nanti yang bakalan makan,” kata Naufal.


“Eemmm…iya iya,” kataku.


Aku menikmati masakan dari pesawat ini.


“Gi, aku coba yang punya kamu itu dong,” kata Naufal yang


mencoba mengusiliku.


“Ini,” ucapku.


“Ya suapin dong Sayang, kamu nggak peka banget,” tepis


Naufal.


Tanpa sungkan-sungkan aku menyuapi Naufal.


Pak Bastian sempat melirikku.


“Iiih Mas Naufal, untung aja samping kita tempat duduknya


Pak Bastian sama Dokter Irene,” kataku dengan lirih pas di telingan Naufal.


“Emangnya kenapa kalo yang lain?” tanya Naufal.


“Ya aku agak malu lah Mas, nanti jela di lihatin,” jawabku.


“Kalo sama Pak Bastian sama Dokter Irene kan kita udah biasa ngobrol sama mereka,” sambungku.


“Hehehehe, emang kenapa sih Sayang??? Wajar kali, kita jugabelum tua, jadi masih bisa dong,” kata Naufal dengan menyayat beef yang ada di atas piring cepernya.


.


.


.


.


.


Sampai akhirnya aku pun terbangun dari pundak Naufal.


Naufal masih anteng tidur dengan bantal lehernya.


Aku lihat di sampingku Pak Bastian dan Dokter Irene juga


tertidur.


Aku langsung melihat kea rah luar jendela untuk melihat


udara yang membentuk awan berwarna biru.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, pesawat akan landing di bandara yang kita tujuh.


“Para penumpang yang terhormat, saat mendarat sudah


dekat………….”


Tepat saat itu Naufal bangun disampingku.


“Uuughhmmm, udah nyampe aja,” kata Naufal.


“Kamu sih dari tadi tidur, nggak nikmatin pemandangan,”


ejekku.


“Kamu Sayang tidur terus, terus aku susulin tidur,” ucap


Naufal.


“Nggak ada ya, tidurku bentaran tadi,” ucapku.


Akhirnya pesawat tiba dengan membawa semua penumpang


selamat.


“Alhamdulillah sampe Mas,” kataku.


“Habis ini kita langsung video call Abay, pasti dia udah


pulang,” tutur Naufal


Dua orang pramugari menghampiri kursi duduk kami.


Dan di belakangnya di ikuti Pak Bastian.


“Fal, pramugari dua ini katanya mau foto sama Pak Direktur


nya, boleh??” tanya Pak Bastian.


“Dari atdi nggak berani bilang ke Lo langsung,” sambung Pak


Bastian.


Naufal bingung harus begaimana, apalagi dia seorang Direktur


yang harus welcome dan ramah pada siapapun.


“Eeeeemmmmm……gimana ya…hehehm,” kata Naufal.


“Saya juga sekalian minta fotonya sama istrinya juga Pak,


hehehem, kalo nggak keberatan sih, hehehem,” kata Dokter itu.


“Oh boleh, sama istri saya juga kan,” kata Naufal.


“Iya pak, dari tadi waktu Ibu nya ke toilet sebenarnya saya


mau minta foto berdua, tapi nggak berane, hehehe,” kata Pramugari itu.


Aku tersenyum pada mereka.


Akhirnya kami berempat pun berfoto di dalam pesawat.


Kami diapit dua Pramugari dan Pak Bastian yang memotret


kita.


“Bu Dokter, saya mau foto berdua,” kata Pramugari itu.


“Oh boleh boleh,” jawabku dengan ramah.


Setelah semua puas berfoto dengan kami.


“Makasih ya, ternyata ramah banget, hehehe,” puji Pramugari itu.


“Sama-sama,” jawab Naufal.


Penumpang pun turun satu per satu dari pesawat, lagi-lagi


salah satu pramugari itu terus melihat Naufal, meskipun Naufal menggandeng tanganku untuk turun, memang semenjak aku naik pesawat ini, cara menatap seorang pegawai itu tak wajar pada Naufal.


Disana kami langsung di jemput sebuah mobil yang hanya


untukku dan Naufal.


Mobil melintas di depan kami.


“Loh Mas…..kok…..ini buat kita berdua aja?’ tanyaku.


“Iya Sayang, buat siapa lagi,” jawab Naufal.


“Kenapa kita nggak naik kayak mereka Mas??” tanyaku.


“Ini itu fasilotas yang dikasih pihak rumah sakit, jadi


harus kita mandaatkan dengan baik, udah masuk aja,” ucap Naufal.


Naufal membukakan pintu mobilnya dan memaksaku masuk smabil melindungi kepalaku agar tidak terbentur atasan mobil.


“Nah terus Pak Bastia, Pak Anton sama yang lain??” tanyaku


klagi yang berada berdua di mobil dengan Naufal.


“Mereka juga naik ginian Sayang, kenapa sih?? Kamu nggak


nyaman sama aku berdua,” kata Naufal.


“Ya bukannya gitu Mas, aku takut aja salah mobil,” ucapku.


“Hehehe…..Gi Gi, ya nggak mungkin lah, ngaco kamu,” kata Naufal.


Saat kita agak sedikit geger di dalm mobil, namun mobil


masih berhenti, Pak Bastian nyelonong masuk menyusul kita dan membuka pintu mobil bagian depan.


“Hayyy kalian….” Ucap Pak Bastian.


“Aaassshhh….Lo semobil sama Gue?” tanya Naufal.


“Sebenarnya Gue semobil sama Irene, nah dari pada Susi


cemburu, mending Gue pindah sini kan, hihihihi, boleh kan?’ tanyanya.


“Nggak,” jawab Naufal.


“Boleh, boleh kok Pak,” jawabku.


“Nah gini nih, makasih yaaaaa Ibu Direktur yang sangat baik


hati dan mengayomi semua pegawainya, hihihi,” canda Naufal.


“Nggak usah centil-centil Bas, ingat Susi,” canda Naufal


dengan wajah kesalnya.


“Hahahaha, seneng deh Gue kalo Lo ngambek gini,” kata Pak


Bastian yang mengerjai Naufal.


Aku tersenyum melihat tingkah mereka.


“Udah sana Bassss ngadep depan, kasih kabar Susi sana, nanti khawatir dia nya,” tutur Naufal.


“Hahahahaha, iya iya Fal,” kata Pak Bastian yang berhasil


membuat Naufal bete.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2